Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Arisan Princess


__ADS_3

"Sayang, kamu nggak ada acara hari ini?" Tanyaku pada Arka


"Hmm... Tidak ada" Mata Arka tetap fokus membaca koran.


"Kamu nggak apa-apa kalau aku pergi sama mama?"


Arka melipat korannya dan menatap ke arahku.


"Nggak apa-apa sayang, pergilah. Tapi jangan lupa waktu pulang bawa oleh-oleh ya, bawain makanan yang manis-manis"


"Oke deh, nanti aku bawain seperti yang kamu minta"


Aku menyiapkan baju yang akan aku pakai untuk acara arisan mama. Gamis berwarna kuning yang berpadu dengan warna hitam.


"Sayang, kira-kira cocok nggak aku pakai ini?" Tanyaku sambil memperlihatkan gamis yang masih tergantung.


"Cocok sayang, kamu itu pakai apa saja sudah pasti cocok. Apalagi kamu pakai gamis, aura kecantikan kamu itu terpancar sempurna, dan akan membuat orang lain terpesona"


"Nggak usah lebay deh" Sungutku pada Arka yang malah cengengesan.


***


"Arka, mama pinjam istrimu dulu ya. Semalam mama lupa mau nelpon kamu buat minta ijin"


"Iya ma, asalkan nanti di balikin lagi ya"


"Tenang saja, pasti mama balikin lagi kok. Kalau kamu nggak ada teman, sana susul papa mancing" Ujar mama.


"Papa mancing? Dimana ma?" Tanya Arka


"Di kolam pemancingan, nanti kalau dapat mau di bakar katanya. Padahal tadi mama sudah bilang kalau mau ikan bakar tinggal beli di pasar aja terus di bakar. Atau kalau nggak mau ribet tinggal beli ikan bakarnya saja kan beres nggak capek-capek mancing, masih bersihin ikannya, belum lagi waktu ngebakarnya kan butuh waktu lama. Tapi papa nggak mau, ngeyel aja mancing" Mama mengungkapkan kekesalannya.


"Kalau mancing sendiri itu memang seru ma. Apalagi yang punya hobi mancing, bukan ikan yang di cari ma, tapi kepuasan"


"Puas apanya, ini kan udah mancing harus sabar, terus nanti dapat ikan juga ikannya harus bayar baru bisa di bawa pulang. Kan mendingan beli di pasar,nggak usah capek-capek mancing" Mama masih tidak bisa mengerti juga.


"Memangnya papa pergi mancing sama siapa?" Tanyaku yang daritadi hanya menyimak obrolan mama dan Arka.


"Sama pak Sony, tetangga di kompleks"


"Ya biarin saja lah ma, mungkin papa mau lepas penat. Lagian ini kan weekend biar papa cari hiburan sendiri. Siapa tahu papa jenuh, butuh suasana baru ma" Ucapku.


"Tapi kan..." Ucapan mama terhenti kala aku mengira tangan mama.


"Sudah ayo berangkat. Mama masih mau bahas papa apa mau arisan. Kalau masih mau bahas apa mending aku tidur nih sekarang. Tapi kalau mau arisan, sekarang juga kita berangkat" Aku mendelik tajam ke arah mama.


"Ya sudah ayo kita berangkat. Arka, mama pergi dulu ya" Pamit mama pada Arka.

__ADS_1


"Iya ma, hati-hati di jalan ya, nggak usah ngebut ma. Kalau ada apa-apa mama hubungi Arka ya" Arka memberikan pesan pada mama.


"Oke"


***


Setelah hampir satu jam perjalanan sampailah kami di tempat tujuan, sebuah cafe yang lumayan besar dan luas. Sepertinya cafe ini memang sengaja di desain untuk acara-acara tertentu.


Kami pun memasuki cafe. Mama berhenti sebentar saat berada di pintu masuk. Berbicara pada waiters yang berdiri di pintu masuk.


"Arisan Princess" Aku mengernyit saat mama menyebutkan nama arisannya. Norak sekali, anggotanya udah pada tuwir tapi di sebutnya princess.


"Ikuti tanda panah kuning ya Bu" Waiters itu tersenyum ramah saat menunjukkan lokasi yang sudah di booking.


"Terima kasih mbak" Ucapku.


Kami pun mengikuti arah yang sudah di tunjukkan.


"Nah itu dia teman-teman mama" Mama menunjuk segerombolan emak-emak yang memakai pakaian dengan warna senada.


Terlihat mereka sedang tertawa hahahihi sambil Selfi. Aduuhh kenapa aku bisa terjebak disini. Bersama orang-orang yang menurutku norak. Atau mungkin aku sendiri yang kurang berinteraksi dengan dunia luar.


"Eh jeng, ayo sini. Kita foto-foto dulu sebelum mulai" Seorang wanita paruh baya yang mungkin usianya tidak jauh berbeda dengan mama, memanggil mama saat melihat kami baru saja datang.


"Eh iya, sebentar" Mama terlihat sumringah "Ayo sayang kita kesana buat foto-foto" Mama berkata setengah berbisik di telingaku.


"Ya sudah mama gabung dulu sama mereka" Tidak perlu menunggu jawabanku, mama langsung berlari kecil dan bergabung bersama mereka.


Aku geleng-gelengkan kepalaku melihat tingkah mama beserta anggota gengnya. Kala di rumah mama sering mengeluh mengenai teman-teman arisannya. Katanya tidak menyukainya. Tapi disaat gabung dengan mereka, mama seolah lupa dengan apa yang sering di keluhkan.


Ahhh... dasar hati manusia tidak punya pendirian.


Tapi aku tidak boleh menjudge mereka dengan satu pemikiran saja. Bisa saja ini cara mereka membahagiakan diri sendiri. Toh kita tidak bisa memaksakan seseorang menjadi seperti yang kita mau.


Aku ambil air mineral yang tersaji di meja. Disana sudah tertata berbagai jenis makanan dan minuman. Anggota arisan yang tidak sampai empat puluh orang, tapi menyediakan porsi makanan dalam jumlah besar. Sungguh mubazir. Alangkah baiknya menyediakan makanan secukupnya saja. Makanan utama, makanan penutup dan juga minuman.


Ini yang terlihat sangat banyak sekali sepertinya cukup untuk seratus orang. Ada rawon, sup daging, capcay, bakso, kwetiau, ayam bakar, ikan bakar, sate, salad, beberapa buah dan minuman yang berwarna warni. Semua makanan dalam jumlah yang banyak. Sepertinya memang benar kalau arisan ini sebagai ajang bergengsi dan pamer harta. Itu menurut pemikiran ku.


Mungkin si empunya yang menang arisan menunjukkan kemampuannya dalam menghidangkan berbagai makanan.


Aku hanya berdecak melihat satu persatu makanan yang ada. Bukannya ngiler, tapi malah keburu neg duluan saking banyaknya makanan. Mau di kemanakan makanan ini kalau nggak habis.


Teringat ucapan Arka, jangan pernah menyia-nyiakan makanan. Karena di luar sana masih banyak orang yang kelaparan. Itulah kata-kata Arka setiap aku tidak mau menghabiskan makananku.


Terkadang setelah makan malam masih ada makanan yang tersisa,Arka membungkusnya dan memberikannya pada tukang becak atau tukang ojek.


"Sayang kamu mau makan apa?" Tiba-tiba mama datang menghampiriku yang masih berdiri di depan meja yang penuh dengan makanan.

__ADS_1


"Enggak ma, nggak mau apa-apa. Cuma mau ambil ini aja" Aku tunjukkan botol air mineral pada mama.


"Ambil saja apa yang kamu mau, jangan di tahan kalau lagi pengen. Biar anaknya tidak ileran." Seperti pemaksaan saja mama ini. Nanti kalau aku makan yang ada malah mual dan muntah disini.


"Enggak ma" Lalu aku tinggalkan mama yang masih berdiri mematung.


"Eh jeng, kayaknya saya pernah lihat model baju kayak gini deh"


"Iya, eh bulan kemaren kan Bu Sonya yang pakai model gini. Cuma beda warna ya"


"Iya ibu-ibu, padahal saya sudah mau pergi ke Dubai, eh gak taunya mantu saya bawain oleh-oleh baju yang saya mau. Nggak cuma satu Bu, tapi tiga sekaligus dengan warna berbeda" Mama menjelaskan pada teman-teman arisannya.


"Oh mantunya habis dari Dubai?" silih berganti yang bertanya pada mama.


"Bukan Bu, mantu saya tidak pergi ke Dubai. Dia habis dari Surabaya. Kalau ada yang dekat buat apa jauh-jauh ya kan" Mama sepertinya sedang menyindir seseorang.


"Baju boleh sama tapi kualitas jelas beda" Seseorang tampak sinis menjawab ucapan mama.


"Nggak masalah sih kalau menurut saya. Karna yang orang lihat pertama kali itu kan bagus dan cocoknya. Bukan melihat harganya terlebih dulu" Benar juga yang di katakan mama.


"Wah jeng, bilang sama mantunya kalau ke Surabaya saya mau di belikan seperti ini. Tapi motifnya berbeda ya"


Terdengar riuh yang memesan baju pada mama. Mama ini ada-ada saja. Sudah seperti orang yang jualan saja mencatat pesanan-pesanan temannya. Tidak hanya yang seperti di pakai mama, tapi ada yang memesan dengan model yang berbeda.


Aku bangkit dari duduk dan menghampiri mama yang masih sibuk mencatat.


"Ma, udah belum arisannya. Kalau udah buruan pulang yuk. Capek"


"Sebentar lagi sayang, arisannya juga belum di kocok. Tunggu dulu ya"


Aku kembali duduk di bangku yang aku duduki semula. Tidak lama kemudian arisan di kocok dan nama mama yang keluar.


"Sayang, mama dapat arisan" Mama menghampiriku dengan sedikit berjingkrak saking senangnya. Tapi aku hanya menanggapi dengan biasa saja.


Mama mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Dan Triingg... terdengar notifikasi di ponselku. Lalu giliran aku mengambil ponselku.


"Sayang, itu buat kamu ya. Kamu bisa jalan-jalan, shopping segala kebutuhan kamu. Nanti kalau kurang mama tambahin" Ucap mama.


Aku terkejut saat melihat nominal yang ada pada mbanking-ku. Seratus juta...


"Mama, ini seratus juta. Mama salah ketik deh, nolnya kebanyakan ma" Aku memperlihatkan layar ponsel ku.


"Enggak sayang, itu memang seratus juta. Itu buat kamu" Ucap mama lagi.


"Kebanyakan ma. Nanti Arka marah. Aku transfer balik ya" Dengan cepat Mama mencegah tanganku.


"Jangan, jangan di kembalikan lagi. Mama sudah berniat kalau dapat arisan Mama akan kasih buat kamu seratus juta, Bayu juga seratus juta. Sisanya masih banyak sayang. Kan dapatnya lebih dari lima ratus juta. Jadi kamu tenang aja. Terima pemberian mama. Kalau kamu takut Arka marah. Nanti mama yang akan bilang sama dia"

__ADS_1


Percuma berdebat dengan mama, mama akan tetap bersikukuh pada kemauannya. Lebih baik aku mengalah. Dan sampai di rumah nanti aku akan menceritakannya pada Arka.


__ADS_2