
Setelah selesai berbelanja pakaian dan juga kebutuhan dapur. Kami pun langsung pulang. Dalam perjalanan pulang, Aku merasa sangat kelelahan dan mengantuk.
"Sayang aku mau tidur ya, nanti bangunin kalau sudah sampai." Ucapku.
"Iya, tidurlah" Sekilas Arka menoleh ke arahku, dan kembali fokus menyetir.
Arka menurunkan sedikit tuas kursiku dengan sebelah tangannya, agar aku bisa tidur dengan nyaman.
Dan aku pun terlelap......
Saat aku membuka mata, aku terbaring di sofa, ya sofa ruang tengah rumahku. Pasti Arka yang sudah mengangkatku kesini, batinku.
Aku segera duduk, dan mengedarkan pandanganku ke sekelilingku, sepi... tak ada satu orangpun yang terlihat.
Kemana mereka... batinku lagi.
Aku sandarkan kepalaku di sandaran sofa. Kembali memejamkan mata, tidak untuk tidur. Hanya mengumpulkan sedikit tenaga saja. Setelah habis jalan rasanya badanku terasa lelah.
"Masih ngantuk?" Tanya seseorang , yang sangat aku kenali suaranya, siapa lagi kalau bukan Arka.
"Hemm" Jawabku tanpa membuka mata, Dia duduk di sofa sebelahku, dapat aku rasakan karena ada sedikit gerakan yang aku rasakan di sofa.
Perlahan aku buka lagi mataku tapi tetap dengan posisi kepala menyandar, dan menengadah ke langit-langit ruangan.
"Darimana?" Tanyaku lirih.
"Habis ngeluarin barang belanjaan" Aku tak bergeming lagi setelah mendengar jawabannya.
"Sayang, besok boleh nggak kalau aku ngantar mamah sama Rani ke kampung. Soalnya ayah di minta menemani papa ke Surabaya." Arka berbicara dengan nada seperti memohon.
"Langsung pulang atau nginep?" Tanyaku.
"Nginep beberapa hari selama ayah nggak ada, karna ayah minta kebunnya di urus juga."
Aku tegakkan tubuhku, duduk setengah bersila berhadapan dengannya.
"Kamu mau pulang kerumahmu, selama beberapa hari terus kamu ngebiarin aku gitu aja sendirian disini. Apa kamu nggak mau ngajak aku ke sana?" Ucapku dengan sedikit kesal.
Aku lihat raut wajah Arka berubah.
"Bukan gitu maksudku" Jawabnya sedikit gugup.
"So what...?"
Arka meraih tanganku, dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Aku juga pengen ajak kamu, tapi aku ragu, takut membuat kamu nggak nyaman kalau tinggal di kampung, kehidupan disana jauh berbeda dengan disini. Itulah alasan kenapa aku ingin kesana sendiri tanpa kamu" Arka mencoba menjelaskan.
"Pokoknya aku ikut, Rani bilang disana lebih enak daripada disini. Aku mau nyoba. Aku ikut ya" Rengekku.
"Baiklah kalau gitu" Jawab Arka.
Aku pun merasa senang "Kapan kita berangkat? Mending sekarang aja." Kataku penuh semangat, karna aku sudah gak sabar pengen tau kampungnya seperti apa.
"Besok aja ya, sekarang kita istirahat saja, capek kan?." Ucap Arka dengan pelan. Aku pun mengangguk menyetujuinya.
"Mamah mana?" Tanyaku sambil celingak celinguk tapi yang aku cari tidak ada.
"Di kamar lagi istirahat" Lirihnya.
Aku lirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku. Sudah menunjuk angka lima lewat sepuluh menit.
"Sudah sore, mandi sana" Perintah Arka, karna dia melihatku melirik jam di tanganku.
__ADS_1
Aku sentuh pipinya dengan telapak tanganku.
"Renang yuk" Ajakku.
"Enggak ah, capek" Tolaknya. Seketika aku tarik lagi tanganku yang nempel di pipinya. Aku pasang wajah ngambek ku. Tapi dia tetap diam saja mengabaikanku. Biasanya kalau aku pasang wajah seperti ini dia langsung menuruti mauku.
Tidak berkata lagi, dia merubah posisi duduknya, duduk bersandar di sandaran sofa seperti yang aku lakukan tadi. Matanya terpejam. Dia tampak lelah benar-benar lelah.
Aku perhatikan wajahnya lekat-lekat. Tampak berbeda, tidak seperti biasanya. Seperti ada yang dia pikirkan, tapi entah apa itu.
Aku pun merubah dudukku, sejajar dengannya. Aku sandarkan kepalaku di lengan kirinya.
"Sayang, apa ada yang kamu pikirkan?" Kataku lirih. Aku ambil tangannya, dan aku genggam.
Dia membalas meremas tanganku. "Nggak ada" Jawabnya.
"Jangan membohongiku, aku tau kamu bohong. Biarpun kita belum kenal lama, aku sudah tau banyak tentang kamu. Tapi tidak dengan wajah kamu yang saat ini. Wajah kamu benar-benar terlihat jika menyembunyikan sesuatu." Protesku.
Dia tidak menjawab lagi ucapanku, tangan yang aku genggam dia lepaskan. Dan tangan itu menggeser kepalaku agar tidak lagi bersandar di bahuku. Lalu dia berdiri Terkejut aku melihat tingkahnya yang seperti ini.
Aku menegurnya saat dia akan melangkahkan kakinya. "Mau kemana?" Tanyaku heran.
"Sholat" Jawabnya singkat. Kemudian dia melangkahkan kakinya meninggalkanku. dia berjalan menaiki anak tangga.
Aku terus memperhatikannya sampai dia tak terlihat lagi. Aku kembali duduk dan berpikir apa yang terjadi sama dia. Kenapa dia berubah seperti ini.
"Haloooooooo" Ah suara ini mengagetkanku. Aku mendongakkan kepalaku. Melihat asal suara itu. Ternyata Rani sudah ada di hadapanku.
"Eh i..iya Rani ada apa?" Kataku terbata.
"Teteh lagi ngelamun ya, padahal sudah dari tadi loh Rani berdiri disini, manggil-manggil teteh tapi nggak di lihat" Jelasnya.
"Masa sih, maaf ya" Ucapku.
"Teteh kenapa, sepertinya teteh kurang baik" Rani langsung duduk di sebelahku. Mengahadap kearahku. Mataku beradu dengan matanya.
"Aku tau teteh sedang memikirkan sesuatu, apa itu teh?. Coba cerita sama Rani siapa tau Rani bisa mengurangi beban teteh." Jelasnya lagi.
"Aku bingung dengan perubahan sikap Arka. Seperti ada sesuatu yang di pikirkannya. Saat aku tanya, sikapnya berubah menjadi dingin. Aku nggak tau apa aku berbuat kesalahan atau gimana. Jadi aku bingung apa yang harus aku perbuat" Lirihku, Aku pun menceritakan yang ada di otakku sama Rani.
Aku tundukkan kepalaku, menghindari tatapannya, karna aku nggak mau dia melihat mataku yang mulai berkaca-kaca.
Rani menyentuh pundakku.
"Teteh yang sabar ya, ini bukan salah teteh. mungkin Aa' begitu karena ada masalah lain yang tidak ada sangkutannya dengan teteh. Sehingga Aa' nggak mau bercerita sama teteh. Mungkin menjaga perasaan teteh" Jelas Rani.
Aku pun langsung mengerti apa yang di katakan Rani. Meskipun masih SMA tapi Rani bisa bersikap dewasa, bahkan lebih dewasa dariku.
"Apa kamu tau apa yang terjadi sama Arka?" Tanyaku sambil menatap matanya. Rani kembali menurunkan tangannya yang ada di pundakku. Dia menggeleng perlahan.
"Ternyata kamu sama halnya dengan Arka, tidak bisa jujur, tapi tidak pandai menyembunyikannya" Aku menghela nafas dengan kasar.
"Darimana teteh bisa tau kalau aku bohong ?" Tanya Rani.
"Dari matamu" Jawabku.
"Maaf teh"
"So ... apa yang kamu tau?" Tanyaku lagi
"Tadi waktu kita di mobil perjalanan pulang. Aa' nerima telpon dari teteh Aisyah. Dia minta agar Aa' menjemputnya segera dan membawanya kabur dari rumah. Karna orang tuanya sudah menerima lamaran dari orang lain, sedangkan teteh Aisyah menolak lamaran itu" Rani menceritakan secara perlahan.
"Kenapa aku nggak dengar ya saat Aisyah nelpon Arka?" gerutuku sendiri.
__ADS_1
"Tadi kan teteh lagi tidur pulas" Jawab Rani.
Memang benar yang di katakan Rani, aku tidur di mobil segitu pulasnya sampai nggak dengar saat Arka ngobrol lewat telepon dengan Aisyah.
"Terus apa jawaban Arka?" tanyaku penasaran.
"Aa' setuju dengan permintaan teteh Aisyah, tapi mamah melarang, karena itu bukan urusan Aa'. Apalagi sekarang status Aa' sudah beristri. Mamah sempat kecewa saat Aa' melawan perkataan mamah" Sakit rasanya mendengar Rani bercerita demikian.
Meski pun kemarin aku pernah mengikhlaskan suamiku demi perempuan yang di cintai nya. Tapi sekarang aku sungguh sakit hati jika suamiku membela perempuan lain.
"Tapi teteh jangan khawatir, akhirnya Aa' menolak permintaan teteh Aisyah setelah mamah menasehatinya. Dan Aa' juga meminta agar tidak di hubungi lagi. Meskipun dengan berat hati Aa' bicara seperti itu" Rani kembali menegaskan. Seperti tau kesedihanku, Rani tersenyum di akhir kalimatnya.
Terasa lega saat tau suamiku menolak masa lalunya. Mulai sekarang aku nggak akan rela jika suamiku harus membela perempuan lain. Apalagi perempuan yang pernah di cintai nya. Aku harus memiliki suamiku sepenuhnya.
"Makasih ya Rani, kamu sudah mau bercerita" Ucapku sambil mengusap punggung tangannya.
"Ya udah teh, Rani mau ke atas dulu ya, mau lihat mamah" Pamit Rani.
Aku mengangguk dan dia segera berdiri untuk pergi menemui mamah.
Sedangkan aku pergi ke arah dapur, membuka kulkas dan mengambil sebotol air mineral dingin. Aku teguk air dingin yang aku pegang, rasa dingin menyegarkan tenggorokanku.
Aku berjalan menuju kamarku. Di lantai atas tampak sunyi, aku lirik kamar mamah, pintunya sedikit terbuka. Aku ingin menghampirinya, tapi aku urungkan niatku saat aku teringat dengan Arka.
Aku buka pintu kamarku perlahan. Aku edarkan pandangan ku ke setiap sudut kamar, tapi nihil, Arka tidak ada. Mungkin dia di kamar mandi, pikirku. Tapi saat aku buka pintu kamar mandi tak ada seorangpun di dalamnya.
Hanya satu tempat yang belum aku lihat, yaitu balkon. Aku segera menuju balkon. Dan benar aku melihat Arka sedang duduk di kursi rotan. Tangannya sedang mengurut pelipisnya perlahan. Aku hampiri dia, dan berdiri di sampingnya.
Sedikitpun dia tidak menoleh ke arahku. Raut wajahnya tampak murung, sampai- sampai dia tidak menyadari kehadiranku.
"Ehemm" aku mencoba mendehem.
Arka terkejut dan langsung menoleh ke arahku.
"Mikirin apa sih sampai nggak lihat ada aku disini?" Ledekku.
"Nggak ada, nggak mikirin apa-apa?" jawabnya mencoba mengelak.
"Aku tau kamu bohong, sudahlah nggak usah di tutupi kamu nggak pandai akting" Ucapku lagi.
"Sudah aku bilang nggak ada yang aku pikirin"
"Tapi aku nggak percaya, aku tau kamu memikirkan seseorang" Ledekku lagi.
"Aku nggak mikirin Aisyah. Aku sudah nggak mau tau tentang dia lagi" Jawabannya membuatku terkejut.
Padahal aku sama sekali tidak menyinggung tentang Aisyah. Berarti memang benar dia sedang memikirkan tentang Aisyah. Tanpa dia sadari yang dia pikirkan keluar dari mulutnya.
"Hah.. Aisyah... ? jadi bener nih lagi mikirin Aisyah, padahal aku nggak menyebut namanya lho" Tegasku. Aku langsung duduk di pangkuannya.
Arka tampak kebingungan dan salah tingkah.
"Apa kamu nggak mau cerita sama aku? Apa yang sebenarnya kamu fikirkan?" Ucapku perlahan, mencoba untuk bertanya lagi.
Arka terdiam tidak menjawab pertanyaanku. Dia menatapku, aku pun juga menatap matanya dari jarak yang cukup dekat sekali. Mata kami beradu. Aku lebih mendekatkan lagi wajahku ke wajahnya. Arka terus menatap mataku.
Tanganku bergerak merangkul lehernya. Sedikit aku tarik kepalanya agar lebih mendekat ke wajahku. Bibirku menyentuh bibirnya. Sesaat tidak ada gerakan apapun. Saling diam. Aku pejamkan mataku. Bibirku mulai bergerak bermain-main dengan bibirnya.
Tangan Arka bergerak memeluk pinggangku sangat erat. Lidahnya mulai beraksi menjelajahi mulutku dengan gerakan yang sangat lembut.
Sesekali aku buka mataku. Matanya menatap mataku dengan tajam. Aku kembali memejamkan mataku untuk menghindari tatapan matanya. Lidahnya terus saja bermain-main dengan lidahku.
Aku buka mataku, aku lihat matanya terpejam, mungkin dia sedang menikmati juga ciuman ini. Muncul ide untuk menjahilinya.
__ADS_1
"Aarrgghhh...." Arka mengerang kesakitan karena aku berhasil menggigit ujung lidahnya.
Aku langsung berdiri dan berlari meninggalkannya. Aku tertawa terbahak-bahak. Arka tidak berkata-kata lagi. Dia berdiri dan mengejarku. Kami pun saling kejar-kejaran di kamar.