
Sampai sore menjelang Arka belum juga pulang, bahkan kirim pesan WhatsApp pun tidak ada. Tangan kananku menggenggam erat handphoneku sedangkan tangan kiriku mengusap perlahan rambut Luna. Dia sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Mataku ngantuk tapi tidak bisa terlelap. Rasa khawatir dan was-was bermain di pikiranku.
Apa yang sedang dilakukan Arka di luar sana pergi kemana juga dia tidak mau mengatakannya. Perasaanku mulai campur aduk. Berulang kali aku melihat layar handohone ku berharap ada notifikasi ataupun berdering. Tidak bisa menunggu lama lagi, aku menuruni ranjang dan berjalan menuju balkon kamarku. Aku geser layar handphone ku dan menekan nomer kontak Arka. Aku beranikan diri untuk menghubunginya.
Beberapa detik kemudian terdengar kalau panggilanku di angkat. "Halo, kenapa belum pulang sih?" Tanpa mendengar sapaan dari lawan bicaraku, aku langsung menyambarnya dengan ocehan.
"Ssssttt... pelan-pelan kalau bicara" Jawabnya berbisik. Terdengar sunyi di sekitar Arka.
Alisku mengernyit "Emang kenapa?" Ucapanku terdengar semakin kesal.
"Karna suaramu akan mengganggu gadisku" Tetap dengan suara berbisik, tapi kali ini jawaban Arka membuat darahku mendidih karena emosi.
"Hah...apa kamu bilang, gadismu? Jangan keterlaluan kamu ya" Teriakku dengan kesal. Kemudian tidak terdengar lagi suara, Arka mematikan panggilanku sepihak. Air mataku pun mengalir dengan derasnya. Tanganku menggenggam erat pagar besi yang ada di hadapanku.
Hancur, itu lah yang aku rasakan saat ini. Tidak pernah menyangka kalau dia akan berbuat seperti ini. Apa yang sebenarnya dia lakukan disana. Sama siapa. Tapi yang jelas tadi Arka mengatakan bahwa dia tidak mau kalau suaraku mengganggu gadisnya. Aku terisak dalam tangisku.
Tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangku sampai ke depan perutku. Aku tersentak. Spontan aku langsung menoleh dan membalikkan badanku.
Aku tercengang "Kamu..." Aku tidak meneruskan lagi ucapanku. Yang ada di hadapanku saat ini adalah Arka. Bagaimana ini bisa terjadi. Kenapa tiba-tiba dia ada di hadapanku. Aku tenggelamkan wajahku di dadanya. Aku luapkan rasa kesalku padanya.
"Kenapa nangis?" Ucap Arka.
"Kamu nggak mengkhianati aku kan?" Aku angkat kepalaku menghadap ke wajahnya.
"Tentu saja enggak sayang. Aku nggak akan pernah mengkhianati kamu" Tangannya mengusap pipiku yang basah karna air mata.
"Lalu, tentang gadismu?" Tanyaku lagi lirih
"Itu gadisku, sedang tidur nyenyak di dalam." Jari telunjuknya menunjuk ke arah Luna yang masih tertidur di dalam.
"Aahh kamu... Aku kirain kamu berselingkuh di luar sana" Aku pukul dadanya tapi pelan.
"Nggak mungkin aku mengkhianati kamu. Waktu kamu menelpon aku sudah ada di depan kamar. Saat kamu teriak aku ada di sebelah Luna, makanya aku takut Luna terbangun mendengar teriakanmu. Maaf ya aku jahilin kamu. Aku juga minta maaf, aku nggak ngasih kabar sama kamu. Soalnya tadi aku pergi sama papa. Jadi nggak enak kalau harus mengabaikan papa" Arka kembali menegaskan.
"Papa? Kenapa sama papa?" Tanyaku.
"Cepat turun kebawah, papa sama Mama sedang nunggu kamu" Ucap Arka.
"Mereka disini ? Ada apa?" Tanyaku penasaran, karna nggak mungkin papa dan mama datang kesini kalau nggak ada hal yang begitu penting.
"Makanya cepat temui mereka. Aku mau mandi dulu ya" Arka pun mengecup keningku, dan menepuk pipiku. Aku mengangguk dan segera berlari turun menemui orang tuaku.
"Mama, papa, apa kabar?" Aku memeluk dan mencium mereka secara bergantian.
"Kami baik sayang, kamu gimana?" Tanya mama.
"Baik ma"
"Lumayan lama ya papa nggak melihat kamu. Banyak yang berubah" Ucap papa.
__ADS_1
"Hah, berubah apanya pa?" Tanyaku.
" Kamu" Jawab papa singkat
"Apanya yang berubah. Nggak ada kok" jawabku.
"Sekarang kamu berubah, pancaran wajah kamu sudah tidak muram kayak dulu lagi. Arka menceritakan tentang kamu pada papa"
"Memangnya Arka ngadu apa sama papa?" Tanyaku, merasa sedikit kesal kalau sampai Arka bercerita yang bukan-bukan.
"Arka bilang kalau kamu sekarang menjadi penurut. Kamu juga mulai beribadah. Bahkan kamu juga mau masak buat dia. Apa itu benar?"
"Eh itu, i..iya..pa" jawabku gugup.
"papa nggak nyangka kamu bisa berubah dengan cepat. Papa nggak salah kan menikahkan kamu dengan dia, karna papa tahu dia adalah pemimpin rumah tangga yang baik buat kamu"
"Iya pa, Caca bersyukur punya suami seperti dia. Penyabar dan penyayang" Ucapku penuh malu.
Papa menyodorkan sebuah map di hadapanku. Alisku mengernyit, aku menatap papa dan mama secara bergantian. "Apa ini pa?" Tanyaku.
"Buka saja" Jawab papa.
Penuh ragu aku membuka map yang ada di hadapanku secara perlahan. Sebuah sertifikat tanah atas namaku. Aku terkejut, kembali aku tutup map itu dan menyodorkan kembali pada.
"Maaf pa, Caca nggak bisa menerima ini. Papa tidak perlu memberiku apa-apa lagi. Sekarang Caca menjadi tanggung jawab Arka. Aku nggak mau menyinggung perasaannya dengan menerima pemberian dari papa lagi. Karna dia sendiri yang mengatakan bahwa akan bertanggung jawab dengan semua kebutuhanku, papa nggak perlu khawatir aku nggak akan hidup kekurangan." Ucapku.
Tidak lama kemudian Arka datang dan duduk di sebelahku. Arka menjelaskan padaku tentang sertifikat itu. Papa memberikannya padaku agar bisa di gunakan untuk membangun cafe keluarga, seperti keinginanku. Dan nanti soal pembangunan di serahkan sepenuhnya pada Arka. Awalnya papa memang tidak mengetahui soal usaha yang aku inginkan.
Tadi pagi saat Arka dan orang properti melakukan pertemuan, secara tidak sengaja mereka bertemu dengan papa. Dan kebetulan orang properti itu kenal baik dengan papa, hanya saja orang itu tidak tahu kalau Arka adalah menantu papa. Orang itu menceritakan pada papa tentang niat Arka yang akan melakukan pembelian sebuah tanah di kawasan kota.
Papa membantu mengurus semuanya mulai dari penggantian nama sampai pembayaran papa yang melakukannya. Meskipun awalnya Arka menolak secara halus niatan papa. Tapi karena papa terus membujuk, akhirnya Arka menerimanya. Dan untuk selanjutnya Arka meminta agar papa tidak membantunya lagi.
Setelah mendengar penjelasan Arka, aku pun menerima pemberian papa. "Makasih banyak pa untuk semuanya. Tapi selanjutnya papa jangan seperti ini lagi. Biarkan kami melakukan usaha sendiri." Ucapku.
"Oke. Papa setuju. Papa benar-benar bangga dengan kalian. Tapi jika suatu saat kalian mendapat kesulitan jangan ragu meminta bantuan papa." Ucap papa. Kami pun melanjutkan perbincangan dengan santai membahas persoalan lain termasuk pekerjaan Arka di pabrik. Bahkan kedua mertuaku pun ikut bergabung untuk sekedar berbincang-bincang. Mamah mertuaku menawarkan agar ikut makan malam bersama, tapi mama dan papa menolak karena masih ada urusan lain.
Beberapa saat kemudian papa dan mama pamit untuk pulang. Aku mengantar mereka sampai di teras depan rumah. Setelah itu aku dan Arka kembali masuk ke dalam rumah. Sebelum menaiki tangga aku hentikan langkah kakiku.
"Kenapa berhenti?" Tanya Arka yang menyadari aku berhenti berjalan.
"Gendong" Ucapku manja. Tanpa banyak bicara Arka segera membungkukkan tubuhnya. Dengan cepat aku langsung loncat ke punggungnya. Terkekeh melihatnya menuruti kemauanku.
"Sayang, aku mau ngomong sesuatu, tapi jangan marah ya" Ucapku perlahan di samping telinganya.
"Hmm" Jawabnya dengan deheman.
"Aku mau menemui Joy. Bolehkan?" Tanyaku perlahan agar tidak memancing kemarahannya.
Tak ada jawaban yang aku dengar. Dia hanya diam membisu. "Kamu mau kan ngantar aku kesana, nggak lama kok, bentar aja. Mau kan?" Tanyaku lagi.
__ADS_1
Tetap sama, pertanyaanku tidak mendapat jawaban. Arka tetap membisu. Mungkin dia sedang menahan rasa marahnya. Aku pun tidak berani bicara lagi. Aku memilih diam saja sampai kami memasuki kamar.
Aku menaiki ranjang dan merebahkan tubuhku di samping Luna yang masih tertidur. Sedangkan Arka menuju kamar mandi. Tidak lama kemudian Arka kembali dengan pakaian yang begitu rapi.
Aku mengambil posisi duduk menghadap ke arahnya "Sayang, kamu mau kemana?" Tanyaku heran.
Arka menatapku tajam "Katanya mau ketemu Joy, kalau nggak jadi ya nggak apa-apa, aku mau keluar sendiri" Jawabnya dengan santai.
Terkejut dengan jawabannya, aku langsung meloncat kegirangan dan memeluknya. "Kamu serius...Sayang, makasih banyak kamu ini memang suamiku yang terbaik" Ucapku dengan histeris.
"Tante ada apa?" Terdengar suara Luna. Aku menoleh ke arahnya, Luna terbangun mungkin dia terkejut mendengar suaraku.
"Tuh kan jadi bangun" Ucap Arka.
"Aku lupa" Kataku.
Aku menghampiri Luna dan duduk disebelahnya. "Sayang, maaf ya kamu jadi terbangun gara-gara Tante" Ucapku sambil memeluknya.
"Emangnya ada apa?" Tanya Luna lagi.
Arka pun menghampiri kami dan duduk di sisi ranjang. "Om sama Tante mau jalan-jalan, Luna mau ikut apa enggak?" Tanya Arka menggoda.
"Ikut dong" Jawabnya dengan cepat.
"Sayang kita kan..." Tiba-tiba Arka memotong kata-kataku.
"Udah nggak apa-apa kok kita bawa Luna, lagi pula nanti disana kamu juga jangan masuk ke dalam. Begitu sampai di parkiran, kamu hubungi Joy agar menemui kamu di luar" Arka menegaskan ucapannya.
Apa-apaan orang satu ini. Acaranya kan di dalam club , masa iya aku di suruh menemui Joy di parkiran, nggak sopan banget. Nggak menghargai yang punya acara. Tapi nggak apa-apa lah aku mengalah saja, daripada tidak kesana sama sekali. Untung aja nanti aku bawa Luna, jadi punya alasan yang tepat kalau sampai ada yang menanyakan kenapa aku tidak ikut party.
"Kenapa ngelamun aja?" Tegur Arka.
"Enggak kok, aku nggak ngelamun. Aku cuma mikirin nanti pakai baju apa untuk kesana" Jawabku mencoba mengelak.
"Pakai baju apa aja bebas , asal sopan" Jawabnya.
Aku genggam tangannya, aku tatap matanya. Aku ucapkan terima kasih karena sudah di ijinkan bertemu dengan temanku. Arka membalas dengan senyumannya yang begitu mempesona. Dia juga menyentuh pipiku dengan telapak tangannya.
"Hmmmm... Luna mau ke Oma aja, Luna nggak mau ganggu" Luna pun menggeser tubuhnya hendak menuruni ranjang, tapi dengan cepat Arka meraih tangannya.
"Hayoo.. ngapain kesana, katanya mau jalan-jalan, ayo cepat mandi" Ucap Arka.
"Oh iya lupa" Jawabnya sambil menepuk jidatnya.
Aku hanya terkekeh melihat tingkah lucunya. "Kamu ini ya bikin gemes aja" Aku cubit kedua pipinya yang seperti bakpao itu. Dan Luna pun tertawa.
"Sudah bercandanya, ayo cepat mandi atau nggak jadi pergi nih" Ledek Arka.
"Iya om Arka ganteng. Luna OTWeee" Luna mengatakannya sambil berlari menuju kamar mandi. Arka tertawa dengan tingkah luna begitu juga denganku.
__ADS_1