Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Usaha Haris


__ADS_3

POV Haris


Pagi ini Umi dan Abi kembali meminta diantarkan ke rumah sakit untuk menjenguk Firna. Umi ingin melihat kondisi Firna secara langsung selain itu umi juga ingin melihat seperti apa wanita yang selalu membuatku gila.


"Haris, setelah sarapan antarkan umi dan Abi menemui Firna" Ucap umi saat baru saja duduk di hadapanku. Karena kami bersiap untuk sarapan di meja makan.


"Tapi umi..."


"Alasan apalagi yang akan kamu berikan Haris?" Abi berbicara tegas dan memotong pembicaraanku.


"Maafkan Haris Abi. Haris masih ada perlu dengan teman haris, nanti setelah dari kantornya, kita pergi ke rumah sakit" Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi saat melihat sorot mata umi yang menatapku seperti mengintimidasi.


Abi menghela nafas panjang mendengar alasanku kali ini. Bukan membohongi Abi dan umi tapi aku memang masih ada perlu dengan Arka. Selain itu Firna juga masih merasa belum siap untuk menemui kedua orangtuaku. Dan aku tidak bisa memaksakannya.


Usai sarapan, aku pun berpamitan pada Abi dan Umi. Aku akan pergi ke kantor Arka. Niatku kesana karena aku ingin menjual kebun kopi peninggalan dari nenek. Sebenarnya aku tidak mau menjualnya tapi karena aku juga butuh uang untuk biaya operasi Firna, Maka dengan berat hati aku harus menjualnya.


***


"Ada hal penting apa yang membuat kamu datang menemuiku Haris. Kalau boleh aku tebak, sepertinya kamu sedang dalam masalah besar" Arka mencoba menerka yang ada di dalam fikiranku.


"Ah kamu selalu sok tahu" Cibirku.


"Hahaha... aku kenal kamu itu tidak sebentar haris, apa kamu lupa selama di pesantren kita selalu bersama-sama. Mulai kelas satu SD sampai lulus SMA, Jadi bukan hal yang aneh lagi jika aku tahu ada apa dengan kamu. Kamu berbohong saja aku tahu. Bener nggak?" Apa yang di katakan Arka memang benar.


Tumbuh dan berkembang bersama tidak mungkin dia tidak mengetahui karakterku. Begitu juga denganku, hanya saja aku tidak sepeka dirinya.


"Kamu benar Arka, aku memang sedang ada masalah dengan keuangan. Aku butuh uang untuk biaya operasi Firna. Aku berniat untuk menjual kebun kopi peninggalan nenekku. Tapi aku bingung harus menjual kemana dalam waktu singkat. Semalam, Aku baru ingat kalau kamu juga mengelola kebun. Maka dari itu aku ingin menjual kebun itu sama kamu" Paparku pada Arka. Tidak mau lagi menutupi kegelisahan hati ini.

__ADS_1


"Hmm, apa tidak sayang kalau kebun itu di jual. Itu kan peninggalan nenekmu"


"Sebenarnya aku sangat berat hati untuk menjualnya, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus mendapatkan uang dalam waktu cepat"


"Bukannya istriku dan juga Alda bersedia membantu biaya rumah sakit? Kenapa kamu menolaknya?" Arka memberikan pertanyaan yang menurutku sangat konyol.


"Kalau aku menerima bantuan istrimu dan juga Alda, lalu dimana letak harga diriku? Aku rasa kamu paham maksudku" Ucapku. Lalu Arka tersenyum ke arahku.


"Ini yang aku suka dari kamu. Kamu memang lelaki yang bertanggung jawab"


"Aku tahu itu" Ucapku dengan senyum tipis "Jadi gimana apa kamu bersedia membeli kebun kopi milikku?" Tanyaku lagi, karena aku tidak tahu lagi harus kemana menjual kebun itu, kalaupun ke orang lain pasti harganya jauh di bawah pasaran, mengingat sang pemilik sangat membutuhkan uang.


"Kalau aku membelinya, kamu tidak punya apa-apa lagi haris, apa yang akan kamu berikan untuk anak cucumu kelak?" Aku mendelik menatap Arka, apa dia lupa kalau aku menikah dengan Firna sudah tidak mungkin bisa mempunyai keturunan.


"Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, karena aku sendiri tidak pernah berpikir kesana. Yang aku pikirkan hanya kesembuhan Firna, dan kehidupan esok yang akan aku lalui berdua dengannya" Ucapku tegas.


"Oh maaf Haris, aku lupa kalau..."


"Kamu mau menjual dengan harga berapa?"


"Menurut orang sana, harga pasaran sekitar empat ratus juta, tapi aku tidak akan menjual dengan harga segitu padamu. Silahkan kalau kamu mau menawarnya, harga teman tapi jangan terlalu mematikan" Ucapku yang di sambut tawa oleh Arka.


"Tapi aku harus berunding dulu dengan istri dan juga mertuaku. Aku tidak bisa mengambil keputusan sebelah pihak, apalagi ini menyangkut uang yang jumlahnya tidak sedikit" Benar yang di katakan Arka, segala sesuatu harus di pertimbangkan, karena ini menyangkut jual beli tidak semudah membalikkan telapak tangan.


"Tapi kalau mereka tidak setuju bagaimana? Aku butuh uang untuk membayar biaya rumah sakit. "


"Soal itu kamu tenang saja. Aku punya simpanan bisa kamu pakai dulu. Kamu bisa mengembalikannya kalau kamu sudah punya uang"

__ADS_1


"Tidak perlu Arka, aku tidak mau berhutang budi sama kamu"


"Siapa bilang kamu hutang budi, kamu hutang uang padaku bukan pada budi." Arka pun terkekeh


"Ah kamu ini bercanda saja"


"Aku serius Haris, pakai saja uangku dulu. Kamu jangan anggap aku seperti orang lain. Anggap saja aku ini bayangan yang selalu mengikutimu kemanapun kamu pergi."


"Bagaimana dengan istrimu? Apa kamu akan bilang kalau aku pinjam uang padamu, sedangkan aku menolak bantuan darinya"


"Pasti aku cerita pada istriku, aku tidak mau ada yang di tutupi. Tapi nanti aku yang akan menjelaskan alasan kamu menolak bantuan darinya. Kamu tenang saja"


"Baiklah, terserah kamu saja" Aku pun bangkit dan berniat mau ke rumah sakit. "Kalau gitu aku pamit dulu ya"


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau langsung ke rumah sakit, soalnya Abi sama Umi kekeh minta bertemu dengan Firna"


"Bagus dong. Kalau gitu aku ikut denganmu. Istriku ada disana menemani Firna." Arka juga bangkit dari kursi gagahnya.


Sesampainya di rumah sakit betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang belum pernah aku lihat sama sekali, ternyata umi dan Abi sudah berada disana sedang berbincang dengan Firna.


"Assalamualaikum " Aku pun mengucap salam sebelum melangkahkan kaki masuk ke dalam.


"Abi, umi? kok sudah ada disini?" Tanyaku lalu aku pun menyalami kedua orangtuaku dengan takzim. Sedangkan Arka mendekat ke arah istrinya yang berada sedikit jauh dari umi.


"Nunggu kamu kelamaan. Makanya umi sama Abi datang kesini langsung, mumpung di rumah juga tidak ada tamu. Tadi pagi kan umi juga sudah bilang minta di antar ke rumah sakit. Tapi kamu malah bilang mau ke kantor teman kamu" Umi terlihat kesal padaku. Ternyata umi belum menyadari kehadiran Arka yang datang bersamaku.

__ADS_1


Arka pun mendekat dan menyalami kedua orang tuaku. Saat mereka tersadar mereka begitu tercengang melihat kehadiran Arka dengan penampilan yang jauh berbeda dengan Arka yang dulu.


Dulu Arka selalu berpenampilan seadanya berbeda dengan sekarang yang memakai setelan jas hitam dan sepatu yang mengkilat, rambutnya tertata rapi, kulitnya juga terlihat bersih. Terlihat sekali perbedaannya. Umi dan Abi saja sampai melongo saat melihatnya. Bahkan Umi tak henti-hentinya memuji penampilan Arka.


__ADS_2