Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Kedatangan calon mertua


__ADS_3

Sudah lima hari ini Firna di rawat di rumah sakit. Kini keadaannya sudah mulai membaik. Dokter sudah menjadwalkan operasi untuk Firna yang akan di lakukan besok.


Meskipun awalnya Firna menolak melakukan operasi kini dia bersedia berkat Haris, dan juga sahabat-sahabatnya.


"Terima kasih ya, kalian selalu ada di sampingku, tidak hanya saat aku bahagia, tapi saat aku terpuruk pun kalian tetap setia mendampingiku" Firna berucap kala mereka bertiga sedang makan siang di dalam ruangan Firna di rawat.


"Udah deh nggak usah makasih-makasih. Kita kan sahabat memang sudah seharusnya selalu ada dalam situasi apapun. Jadi kalau diantara kita sedang ada masalah apapun masalahnya. please jangan lari, kita hadapi sama-sama. Kita akan selalu ada untuk saling menguatkan" Caca mengusap lembut baju Firna.


"Bener tuh apa yang di katakan Caca, jadi lu jangan sembunyi dari kita. Mau lu sembunyi di lubang semut sekalipun, tetap gua cari. Dan lu pasti ketemu juga"


Firna tersenyum menanggapi ucapan sahabat-sahabatnya. Matanya sudah mulai berembun, dia tidak menyangka jika mempunyai sahabat yang sangat peduli dengan keadaannya.


tok


tok


tok


Terdengar ketukan pintu dan juga salam dari luar.


"Siapa Fir?" Tanya Caca pada Firna.


"Nggak tahu ca, coba deh kamu buka"


Caca pun berdiri dan membuka pintu.


"Assalamualaikum" Terdengar lagi sang tamu mengucap salam.


"Waalaikumsalam, maaf ibu mau cari siapa?" Tanya Caca dengan sopan. Pandangannya beralih ke arah lelaki yang berada di samping wanita itu.


"Maaf dek, apa benar ini kamar Firna?" Wanita paruh baya yang mengenakan gamis itu bertanya dengan sangat lembut.


"Iya benar Bu, mohon maaf ibu ini siapa ya?" Tanya Caca lagi.

__ADS_1


"Perkenalkan saya umi nya Haris. Dan ini abinya" Wanita paruh baya itu menunjuk lelaki yang ternyata suaminya.


"Saya Caca Bu, temannya Firna" Mereka pun bersalaman, dan Caca juga mencium punggung tangan sepasang suami istri itu sebagai tanda hormatnya.


"Mari silahkan masuk Bu. Ah gimana ya manggilnya, apa saya panggil umi saja ya, biar enak di dengar " Caca menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena gugup.


"Apapun sebutannya umi terima. Tapi kalau mau panggil umi dengan sebutan umi pun, itu sangat bagus. Biar sama seperti yang lain"


"Oh ayo masuk umi, Abi. Firna ada di dalam. Kita lanjut berbincang di dalam saja" Caca pun mempersilahkan wanita paruh baya beserta suaminya itu masuk untuk menemui Firna.


Firna dan Alda yang melihat Caca kembali merasa heran dengan kehadiran dua orang asing yang berjalan di belakang Caca. Caca melotot ke arah Alda sebagai isyarat supaya Alda menurunkan kakinya. Alda yang masih menikmati makannya tidak menghiraukan Caca.


"Siapa?" Firna bertanya hanya dengan gerakan mulut tanpa bersuara.


"Fir, ini ada umi sama Abi nya Haris" Caca pun berucap. Seketika Alda menurunkan kakinya. Dan membereskan makanan yang ada di meja.


"Umi, Abi?" Firna terkejut dengan kedatangan kedua orang tua Haris, yang tak lain juga calon mertuanya.


"Assalamualaikum " Umi pun mengucap salam saat sudah berada di samping Firna.


"Tadi kami berniat berangkat bersama Haris, tapi dia masih ada urusan di kantor temannya. Mumpung di rumah tidak ada tamu, jadi Abi sama Umi langsung pergi kesini. Kalau nunggu Haris, kelamaan, bisa-bisa Umi sama Abi tidak jadi kesini lagi. Umi sama Abi minta maaf, baru bisa lihat kamu sekarang"


"Ya Allah Umi, Umi tidak perlu repot-repot kesini. Firna sudah lebih baik. Nanti kalau Firna sudah sehat dan sudah boleh pulang dari sini, biar Firna saja yang datang ke rumah umi" Wajah Firna bersemu merah, dia merasa tersanjung karena umi dan abinya Haris menyempatkan diri untuk mengunjunginya yang sedang sakit.


"Kamu tidak perlu sungkan Firna, anggap saja kami orang tua kamu. Haris itu anak kami satu-satunya, jadi apa yang membuat Haris bahagia, tentu kami sebagai orang tua ikut bahagia. Iya kan umi?" Abi nya Haris begitu bijak sekali. Umi pun mengangguk menyetujui ucapan suaminya.


"Terima kasih Abi, umi" Air mata pun menetes dari kedua mata Firna.


"Lho, kamu kenapa malah nangis?" Umi pun terlihat sedikit panik melihat Firna yang menangis.


"Firna terharu Umi. Firna nggak nyangka Umi dan Abi ternyata bersikap baik terhadap Firna" Umi pun memeluk Firna dan membuat Firna semakin terisak.


Caca dan Alda yang menyaksikan dari jarak yang sedikit jauh pun ikut terharu. Suasana haru menyelimuti.

__ADS_1


"Sudah ya nangisnya. Ini pertemuan pertama, tidak boleh sedih-sedih" Umi dan firna mengurai pelukan setelah mendengar ucapan Abi.


"Maaf Abi, Umi terbawa suasana. Melihat Firna nangis, Umi jadi ikutan nangis mungkin begini rasanya kalau punya anak perempuan Abi" Umi pun menyeka sudut matanya yang basah.


"Sekarang kan kita sudah punya anak perempuan umi, meskipun masih belum sah" Ucapan Abi mampu membuat pipi Firna merona.


"Assalamualaikum" Ucapan salam terdengar sehingga yang ada di dalam ruangan menoleh ke arah pintu. Haris dan Arka datang bersama.


"Abi? Umi? Kok sudah ada disini?" Haris yang menyadari kedua orangtuanya ada di samping Firna, sedikit terkejut. Karena kedatangan mereka tidak di ketahui olehnya.


"Nunggu kamu kelamaan. Makanya umi sama Abi datang kesini langsung, mumpung di rumah juga tidak ada tamu. Tadi pagi kan umi juga sudah bilang minta di antar ke rumah sakit. Tapi kamu malah bilang mau ke kantor teman kamu" Papar uminya.


Arka menghampiri kedua orang tua Haris dan menyalami keduanya dengan takzim.


"Abi, umi apa kabar?" Senyum mengembang di sudut bibir Arka.


"Ini ? Arka?" Umi yang mengingat wajah Arka merasa terkejut karena mereka sudah lama tidak bertemu. Apalagi sekarang penampilan Arka jauh berbeda.


"Iya umi, ini Arka" Jawab Arka .


"Masya Allah Arka, kamu berbeda sekali. Sudah lama Abi tidak melihatmu. Sekarang kamu terlihat sangat tampan sekali" Abi pun memuji penampilan Arka.


"Jelas berbeda Abi, sekarang Arka sudah menjadi bos besar" Ucap Haris.


"Ah kamu ini ngomong apa. Tidak ada yang berbeda, semua tetap sama. Aku ya tetap Arka yang dulu" Arka menyikut lengan Haris yang berdiri di sampingnya. "Oh ya umi, Abi. Kenalkan ini Caca istri Arka" Arka pun merangkul bahu istrinya.


"Umi sudah berkenalan, tapi umi tidak tahu kalau ini istri kamu Arka"


"Masya Allah, ternyata dunia ini sempit sekali ya. Kita di pertemukan dengan orang-orang yang sudah saling kenal" Ucap Abi.


"Padahal rencananya hari Minggu kita mau main ke rumah umi. Mau silaturahmi. Karena sudah lama tidak pernah bertemu"


"Main-main ke rumah umi, bawa istri kamu juga"

__ADS_1


"iya umi, nanti saja kita sama-sama kesana setelah Firna pulang dari rumah sakit" Caca pun ikut berpendapat.


Alda yang masih duduk di sofa, merasa menjadi obat nyamuk. Mau ikut gabung juga merasa tidak enak. Takut merusak momen bahagia mereka. Akhirnya dia tertidur di sofa dengan sendirinya.


__ADS_2