
"Sayang, sarapan dulu yuk. Itu makanan udah datang" Bisikku di telinga Arka yang masih tertidur pulas. Aku sentuh pipinya dengan lembut dan mencium bibirnya sekilas, supaya di bangun.
"Hmmm" Arka memeluk tubuhku dan mengeratkan pelukannya.
"Masih ngantuk ya?" Tanyaku
"He em" Arka menjawab hanya dengan gumaman.
"Tapi makan dulu ya" Bujukku.
"Nanti saja, sayang. Aku masih ngantuk" Arka menjawab tanpa membuka mata.
Bujukanku tidak mempan, tapi aku nggak habis akal. Aku turunkan tangan Arka dan menempelkannya di permukaan perutku.
"Kalau ini yang minta makan?" Aku tunggu ekspresi Arka. Dan dia langsung membuka mata.
"Baiklah, ayo.." Arka langsung duduk meskipun sebenarnya dia tidak mau, tapi dia tidak bisa menolak jika menyangkut calon anak kami. Arka mengurut pelipisnya yang mungkin terasa pusing.
Kami berdua sarapan bersama. Arka terlihat tidak berselera untuk makan. Sesekali mengaduk-aduk nasinya dengan sendok.
"Sayang, aku suapin ya" Tawarku.
"Aku..." Perkataan Arka terhenti ketika aku menyodorkan sendok di depan mulutnya. Sehingga dia tidak bisa menolak. Arka membuka mulut dan mengunyah makanannya. Aku lakukan berulang-ulang sampai makanan di piringnya habis.
"Sayang, kamu nggak makan?" Tanya Arka yang menyadari kalau makananku masih utuh.
"Gantian dong. Sekarang kamu suapin aku" Ucapku
"Oke" Arka menarik piring yang ada di hadapanku, lantas dia menyuapiku sampai habis.
"Uuhhhh.... kenyang..." Aku terkekeh sambil mengusap perutku.
"Udah nggak mual lagi?" Tanya Arka menoleh ke arahku.
"Mulai kemarin cuma mual aja,tapi nggak sampai muntah. Mungkin karena aku rutin minum vitamin yang di kasih dokter waktu itu ya" Ucapku.
"Syukurlah kalau gitu" Arka membereskan bekas makanan supaya mejanya kembali rapi. Tapi belum juga selesai, terdengar handphone Arka berdering.
"Hallo... Ada apa?"
"......"
"Kapan?"
"......"
"Baiklah. Atur aja schedule nya. Sebentar lagi saya langsung berangkat" Setelah menutup panggilan teleponnya wajah Arka terlihat lebih ceria.
"Sayang, maaf ya... aku harus ke kantor sekarang. Barusan Monika menghubungiku, Karena mendadak ada meeting penting. Nggak apa-apa kan kalau aku tinggal." Ucap Arka.
"Iya sayang, nggak apa-apa. Palingan juga habis Dzuhur aku langsung tidur" Jawabku dengan senyum yang semanis-manisnya.
"Makasih ya sayang pengertiannya"
"Kamu mau mandi lagi apa mau cuci muka aja?" Tanyaku.
"Mandi aja ah, biar seger"
"Ya udah mandi sana. Biar aku yang siapin bajunya" Ucapku. Lalu Arka menuju kamar mandi.
Aku siapkan pakaian kerja Arka, setelan kemeja putih dan celana bahan kain berwarna hitam. Tak lama kemudian Arka keluar dari kamar mandi. "Sayang, setelah aku pikir-pikir aku pengen ikut kamu. boleh nggak kalau aku ikut ke kantor?" Tanyaku dengan wajah memelas.
"Jangan sayang. Kamu diam disini aja ya. Katanya mau tiduran?"
"Tapi aku bisa bosan. Waktu Dzuhur masih lama, lima jam lagi. Nanti pas Dzuhur aku langsung pulang" Rengekku lagi.
__ADS_1
"Sayang, aku yakin kamu nggak akan bosan. Sebentar lagi Luna akan datang. Pesawat dari Jakarta udah take off jam tujuh tadi. Aku juga udah nyuruh sopir buat jemput dia di Juanda biar langsung menuju kesini."
"Beneran?" Tanyaku dengan mulut yang menganga karena masih belum percaya.
"Iya sayang, tadinya mau aku jadiin surprise kalau Luna datang. Kamunya keburu ngambek, jadi ya.... batal deh surprise nya"
Aku pun tertawa, wajah ngambekku seketika berubah bahagia begitu tau Luna akan datang. Aku peluk tubuh Arka dengan sangat senang " Makasih ya sayang" Ucapku. Lalu melepas pelukanku.
"Ya udah kalau gitu aku berangkat dulu ya. Tapi ingat kalau ada yang memencet bel, intip dulu siapa yang datang ya" Pesan Arka
"Iya sayang. Hati-hati ya."
"Iya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Balasku.
//*//
Ting tong....
Ting tong....
Terdengar suara bel yang terus-terusan berbunyi. "Itu pasti Luna" pekikku. Aku berlari kecil untuk segera membuka pintu. Sudah tidak sabar bertemu dengan Luna.
Tidak lupa aku intip dulu siapa yang datang, dan memang benar, ternyata ayah Luna berdiri di balik pintu.
Hatiku begitu bahagia sekaligus terharu begitu pintu kamar aku buka. Dan Luna berdiri tepat di hadapanku.
"Tanteeeee..." Luna menghambur ke pelukanku, dengan sangat erat pula aku membalas pelukan Luna dan menciumi pipi gembilnya.
"Tante kangen sama kamu sayang" Bisikku di telinga Luna.
"Luna juga kangen sama Tante" Seru Luna.
Kami saling memgeratkan pelukan untuk beberapa detik. Lalu melepas pelukan itu. Dan mempersilahkan mereka untuk masuk.
"Masih kerja sayang, bentar lagi pulang kok" Jawabku.
Aku ambil makanan dan minuman seadanya untuk di sajikan pada mereka.
"Jangan repot-repot non" Cegah ayah Luna. .
"Nggak repot kok pak. Ini seadanya aja" Jawabku lalu kembali duduk di samping Luna.
"Assalamualaikum" Terdengar seseorang mengucap salam. Kami menoleh serempak ke arah sumber suara.
"Tuh om Arka datang" Tunjukku ke arah Arka.
"Oooommm" Luna berlari sambil berseru memanggil Arka. Arka meletakkan tas yang dia bawa dan mengangkat Luna ke dalam gendongannya.
"Luna jangan gitu nak, om Arka baru pulang kerja, capek. Ayo sini" Panggil ayah Luna.
"Pak, nggak apa-apa. Kami malah seneng kalau ada Luna disini. Luna membawa kebahagiaan buat kami" Ucapku.
Lalu Arka duduk di sampingku sambil memangku Luna.
"Tapi non...." Arka langsung memotong pembicaraan ayah Luna.
"Pak, kami memang orang lain. Tapi hati kami seperti menyatu." Ucap Arka. Ayah Luna terdiam.
"Om, tadi Luna naik pesawat, buueesaarr" Tangan Luna memperagakan dengan gerakan memutar.
"Oh ya...?? Terus gimana, enak nggak naik pesawatnya?" Arka terus memancing Luna agar bisa terus mendengar celotehnya.
"Enak om, bisa liat pemandangan dari atas. Rumahnya kelihatan kecil-kecil. Terus, lautnya juga keliatan kayak kolam. Luna seperti terbang di atas awan. Luna seneng banget om" Luna terus menceritakan kebahagiaannya. Aku dan Arka menjadi pendengar yang baik untuknya.
__ADS_1
"Waaahhh... om pengen naik pesawat juga nih." Seru Arka, seolah dia belum pernah naik pesawat.
"Kalau pulang dari sini kita naik pesawat lagi ya om?" Pinta Luna.
"Tapi Tante bisa mabuk sayang kalau naik pesawat." sahutku. Padahal cuma ngebayangin aja tapi berasa mual. Biasanya juga nggak ada masalah. Apa karena hamil ini ya, pikirku.
"Yaaahhhh... Tante... Terus kita naik apa dong kalau pulang?" Tanya Luna dengan gurat kecewa di wajahnya.
"Gimana kalau kita naik kereta api aja?" Arka memberikan ide.
"Waaahhh... sepertinya seru nih naik kereta. Soalnya belum pernah naik kereta api" Ucapku.
"Apanya yang seru Tante, Luna bosan naik kereta. Tempat duduknya kecil dan sempit" Luna semakin kecewa.
"Tapi ini beda sayang, nggak sama kayak KRL di Jakarta. Kalau kereta jarak jauh tempat duduknya itu di buat senyaman mungkin, supaya penumpangnya tidak terlalu capek." Jelas Arka.
"Ooohh gitu .. ya udah deh, Luna mau naik kereta" Ucap Luna menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa jadi bahas soal pulang sih. Kan Luna baru datang juga. Belum jalan-jalan masa mau pulang" Sahutku
"Oh iya Luna lupa. Kan kita belum ke kebun binatang ya Om." Luna menepuk keningnya dengan telapak tangannya.
"Hari Minggu kita ke kebun bintang ya" Ucap Arka sambil mencubit pipi gembil Luna. Luna mengangguk bahagia.
"Oh iya om, kata Oma, Luna mau punya adek ya?" Luna bertanya dengan wajah polosnya.
"Iya sayang, Luna seneng nggak?" Jawab Arka.
"Luna seneng banget om, jadi Luna punya adek dua. Di rumah Luna dan juga di rumah om" Luna terkekeh dan kami pun ikut tertawa.
"Nanti kalau adek kecilnya udah lahir Luna mau bantu jagain nggak?" Tanya Arka lagi.
"Iya dong. Pasti Luna jagain adek kecil" Jawab Luna.
"Luna laper nggak sayang. Kita makan dulu yuk" Ajak Arka.
"Iya Luna laper. Soalnya tadi waktu berangkat Luna belum makan"Jawab Luna dengan polosnya.
"Tadi Luna nggak mau makan non, dia nggak sabar pengen cepet-cepet berangkat biar cepet bertemu Pak Arka dan juga non Caca" Jelas Ayah Luna.
"Ya udah kalau gitu kita makan di bawah aja ya." Ajak Arka.
"Tunggu dulu sayang, aku mau ganti baju dulu" Sahutku.
"Ya udah cepetan ya, aku mau ngantar Ayah Luna ke kamarnya dulu. Nanti aku kesini lagi, jangan keluar dulu ya." Ucap Arka.
"Iya sayang"
//*//
Sampai di resto kami memesan makanan dengan pilihan masing-masing. Luna begitu senang saat makanan yang dia pesan datang dan di hidangkan di hadapannya.
"Uuuhhhh.... baunyaaaaa... lezat sekali" Luna menghirup aroma udang bakar dan segera membuka mulutnya.
Arka menarik tangan Luna "Eeiittssss ... berdoa dulu" Ucap Arka.
"Oh iya.... sampai lupa.hehehe" Luna terkekeh. Lalu dia merapatkan kedua tangannya di hadapan mulutnya, mulutnya bergerak membaca doa tanpa suara lalu mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya.
"Mari kita makaaaann" Luna sangat bersemangat.
"Mari pak kita makan, kalau ada yang mau di pesan lagi. Bapak tinggal bilang aja sama pelayan" Ucap Arka pada ayah Luna.
"Oh.. ini sudah banyak. Sudah lebih dari cukup" Jawabnya.
Kami berempat menikmati makanan kami masing-masing.
__ADS_1
"Pelan-pelan dong sayang. Nggak ada yang minta kok. Nanti kalau kurang bisa nambah lagi. Tuh lihat, sampai belepotan bumbunya" Aku cabut tissue yang ada di depanku, lalu mengusap lembut ujung bibir Luna yang terkena bumbu. Arka melihat ke arah kami dan dia tertawa kecil. Arka melanjutkan makannya, sesekali dia melihat ke arah kami yang sedang bercanda.
Aku tatap wajah Arka lekat-lekat tanpa dia sadari. Wajah Arka begitu jelas terlihat kalau dia sangat bahagia. Entah karena kedatangan Luna atau karena masalah di kantor sudah teratasi. Tapi itu semua nggak penting bagiku. Yang terpenting adalah Arka sudah bisa tersenyum bahagia. Sehingga membuat hatiku tenang.