
POV mama
Tringg...
Ponselku berbunyi tanda ada notifikasi chat masuk.
(Untuk arisan besok di mohon untuk segera hadir, bagi yang tidak bisa hadir atau berhalangan untuk hadir di mohon menginformasikan sebelum jam delapan malam nanti. Dan untuk lokasi arisan bertempat di Cafe Merbabu. Terima kasih)
Itulah isi chat dari grub arisan. Aku ketik balasan dengan cepat.
(Mohon maaf untuk sebelumnya, untuk arisan besok apakah ada dresscode tertentu?)
Terlihat nama ibu Indri sedang mengetik , dan balasan kembali masuk.
(Seperti biasa ya ibu-ibu, pakaian yang sopan dan untuk warnanya kita gunakan warna kuning atau yang mendekati kuning asalkan tidak terlihat mencolok perbedaannya)
Pas sekali, baju yang di belikan Arka ada yang berwarna kuning. Besok bisa aku pakai waktu arisan.
(Ayo ibu-ibu bagi yang belum mempunyai warna yang sesuai bisa mampir ke butik saya, ada koleksi terbaru yang cocok dengan selera ibu-ibu)
Balasan dari Bu Isma yang mempromosikan dagangannya, dia salah satu anggota arisan yang punya usaha butik. Suaminya juga seorang pengusaha di bidang properti.
Lama berkutat di dalam grub membaca balasan dari ibu-ibu arisan membuat bosan. Aku tutup chat di grub lalu menghubungi Caca, ingin mengajaknya menghadiri arisan besok siapa tahu dia mau.
"Halo sayang, lagi apa?" Sapaku ketika panggilan sudah diterima.
"Lagi tiduran ma, ada apa kok tumben nelpon?"
"Besok ada acara nggak? Kalau nggak ada, temani mama arisan yuk" Ajakku
"Nggak ada acara sih ma, tapi nanti Caca ijin dulu sama Arka ya. Sekarang Arka masih belum pulang. Nanti Caca kabarin deh boleh enggaknya"
"Ya elahh Ca, pergi sama mama aja harus ijin dulu. Sudah jelas di ijinin lah"
" Iya ma, pasti di ijinin, Sekarang kan Caca udah punya suami ma, jadi kemana-mana harus ijin dulu. Kalau suami tidak mengijinkan, Caca nggak bisa pergi. Arka bilang haram hukumnya bagi seorang istri yang meninggalkan rumah tanpa ijin suami. Jadi Caca akan pergi kalau Arka memberikan ijin" Tambah pinter aja ini anak ngejawabnya.
"Ribet amat, ya udah ya udah nanti mama yang akan bilang sama Arka" Aku mendengus kesal. Lalu mengakhiri panggilan.
Memang benar yang di bilang Caca, haram hukumnya kalau istri pergi tanpa ijin suami. Ini pernyataan yang sama seperti waktu mendengar ceramah di masjid tempo hari. Tapi masa iya pergi sama orang tua sendiri harus ijin. Ada-ada saja.
Aku terduduk di sudut ranjang. Masih kepikiran dengan ucapan Caca dan juga ceramah dari ustadz.
__ADS_1
Apa benar ya yang di katakan Caca?
Kenapa tidak daridulu aku mempelajari ilmu agama? Kenapa baru setua ini aku mengetahuinya?
Sudah berapa banyak dosa yang aku perbuat kepada suamiku?
Ya Allah ampuni dosa-dosa hambamu ini...
Ijinkanlah hamba memperbaiki kesalahan hamba...
Tuntunlah hamba menuju jalan-Mu....
Tak terasa bulir bening menetes di pipi ini. Kini aku menyadari, bahwa harta bukan segalanya. Harta yang kami miliki memang melimpah, tapi hati merasa tidak tenang.
Hati ini terasa tenang kala mengikuti shalat berjamaah di masjid dan mendengarkan ceramah ustadz. Terkadang hati merasa tersayat kala mendengar lantunan sholawat. Begitu perih kala menyadari hidup penuh dengan dosa.
Apa yang akan aku bawa jika aku mati nanti?
Pahala apa yang akan aku berikan jika malaikat bertanya padaku?...
Ya Allah jangan cabut nyawaku sebelum aku melebur dosa...
Dosaku begitu banyak, berilah kesempatan untuk memperbaikinya....
Beruntung sekali aku mempunyai menantu yang paham agama. Apa jadinya kalau Caca menikah sama Farhan yang suka berganti wanita. Dulu memang aku sangat mendukung hubungan Caca dengan Farhan karena dia lelaki yang mapan, dia seorang pengusaha. Punya saham dimana-dimana. Jadi aku rasa Caca akan hidup bahagia jika bergelimang harta.
Aku tidak peduli berita buruk mengenai Farhan, aku tahu dia melakukan bisnis ilegal, Bahkan aku juga sudah tahu lebih dulu dibandingkan Caca kalau Farhan suka berhubungan dengan wanita-wanita tidak jelas.
Semua tidak aku pedulikan, yang penting dia adalah lelaki kaya dan seorang pengusaha.
Ternyata aku salah, harta bukan segalanya yang membuat bahagia. Sekarang aku bisa melihat kehidupan Caca sudah jauh lebih baik di bandingkan saat dia belum menikah dengan Arka. Caca terlihat bahagia meskipun bersanding dengan Arka yang hanya orang biasa saja.
Arka tidak hanya seorang suami yang bisa mengendalikan istri. Tetapi dia juga seorang menantu yang bisa mengendalikan mertua nya. Mengendalikan dalam hal positif, bisa menuntun kami ke jalan yang benar.
Meskipun Arka dari kalangan orang biasa yang masuk ke kalangan atas, Arka bukan orang yang sombong. Dia tidak mau memanfaatkan kekayaan keluarga istrinya untuk bersenang-senang.
Di awal pernikahan Caca dengan Arka, banyak sekali yang mencemooh begitu tahu latar belakang Arka. Apalagi teman-teman arisan banyak yang mengatakan berita miring tentang Arka. Sampai-sampai aku sendiri merasa malu untuk menghadiri arisan.
Tetapi setelah suamiku memberi penjelasan panjang lebar akhirnya aku bisa lebih mengerti. Dan tidak lagi merasa malu ataupun minder. Aku bisa menghadapi dengan lebih bijaksana dan menutup mulut mereka tanpa melakukan adu mulut.
Suara adzan menyadarkanku dari lamunan. Tidak terasa waktu magrib telah tiba. Segera aku letakkan ponsel yang dari tadi aku genggam. Segera aku ambil wudhu dan bersiap pergi ke masjid.
__ADS_1
"Ma, sudah siap?" Papa muncul dari balik pintu.
"Iya pa, sudah" Aku ambil tas mukenah yang ada di atas nakas. Aku ambil bagian atas mukenah dan memakainya. Lalu berjalan di belakang papa.
Saat sampai di halaman rumah papa menghentikan langkahnya.
"Mama kenapa?" Tanya suamiku tiba-tiba.
"Kenapa apanya pa? Aku malah tanya balik.
"Mama terlihat berbeda, apa ada yang mama pikirkan?" Tanya papa lagi.
"Nggak ada pa. Ayok jalan pa, nanti keburu telat kalau papa banyak nanya gini" Aku berusaha mengalihkan pembicaraan.
Baru beberapa langkah papa sudah mulai bertanya lagi.
"Ma, apa ada hal yang mengganggu pikiran mama? Apa mama tidak mau cerita sama papa?" Bukan papa namanya kalau dia berhenti bertanya sebelum mengetahui kenyataannya.
"Nggak ada pa, mama itu hanya berpikir kenapa kita sudah setua ini baru belajar agama. Itupun karena awalnya kita malu sama Arka. Bukan dari hati kita"
"Ma, kita memang terlambat menyesali semuanya. Tapi tidak ada salahnya kita memperbaikinya. Kalau pun awalnya itu semua karena Arka. Berarti Allah mengirim Arka untuk menuntun kita. Dan di terima atau tidaknya taubat kita itu urusan Allah dengan kita. Mumpung masih di kasih waktu untuk memperbaiki, mari kita lakukan ma" Aku mengangguk kala papa memberi penjelasan dengan baik.
"Iya pa, untung saja Arka yang jadi mantu kita ya pa"
"Dari awal papa sudah yakin kalau Arka lah orang yang bisa membuat keluarga kita jadi lebih baik. Meskipun dia orang sederhana, tapi cara berpikirnya sungguh luar biasa" Papa tak hentinya memuji kemampuan menantu lelaki pilihannya.
"Iya pa. Mama terlalu mencintai duniawi sehingga lupa kalau ada akhirat menanti"
Kami berjalan memasuki halaman masjid.
"Pak Hendra" Sapa seseorang yang berbadan tambun. Memberikan tangannya untuk bersalaman.
"Eh Pak Sony, apa kabar?" Papa membalas uluran tangannya.
"Baik pak"
"Ya udah pa, mama duluan ya pa. Mari pak" Aku meninggalkan papa yang sedang berbicara dengan temannya itu.
Semenjak rajin pergi ke masjid kami pun lebih akrab dengan tetangga lainnya. Saling bertukar pikiran, terkadang menceritakan kegiatan sehari-hari, kadang juga menceritakan anak masing-masing.
Aku pun mengikuti pengajian rutin setiap hari Minggu. Seperti halnya arisan di buat lot nama-nama anggotanya. Nama siapa yang keluar, maka pengajian berikutnya akan di adakan di rumah orang tersebut.
__ADS_1
Setiap pengajian di wajibkan membayar uang kas lima ribu. Uang itu akan di gunakan untuk kepentingan bersama, seperti ada anggota yang sakit atau ada keluarga yang meninggal. Bukan soal nominal nya yang sedikit tapi lebih ke solidaritas yang tinggi antar warga.