Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
Draft


__ADS_3

Tak bisa di pungkiri, hatiku merasa tenang setelah mendengar ceramah dan ikut bersholawat. Aku memang tidak tahu artinya, tapi mendengarkan lantunan sholawat mampu membuat hati merasa adem dan tenang. Tidak semua aku hapal, tapi jika di ulangi lagi mungkin aku masih bisa mengikuti.


Ternyata belajar agama bukanlah hal yang sulit, tergantung niat dan usaha kita untuk melakukannya. Jujur saja aku sangat bersemangat untuk lebih mengenal jauh agamaku. Ini bukan karna aku baru memeluk agama, tapi dari kecil aku memang tidak pernah belajar agama.


Apa di sekolahku tidak di ajarkan tentang ilmu agama?


Di ajarkan sih, tapi yang namanya internasional school tentu tidak sama pembelajarannya dengan MTs ataupun Mi. Bahkan dengan sekolah negeri pun juga banyak perbedaannya.


Tak bisa di pungkiri juga, kedua orang tuaku terlalu sibuk untuk hal itu. Hal yang di anggap sepele ternyata punya dampak besar dalam kehidupan.


Tapi Alhamdulillah, kini aku mendapatkan suami yang sangat penyabar, penyayang, bahkan sangat paham tentang ilmu agama. Dulu suamiku adalah seorang santri, lulusan salah satu pesantren ternama di Bandung.


Sekarang Arka lah yang akan menuntun ku menuju jalan yang lurus.


Setiap hari, setelah sholat Maghrib ataupun subuh, Arka selalu menyempatkan untuk membaca Al Qur'an. Aku tidak pernah bosan mendengarnya, suara Arka yang mendayu-dayu saat mengaji, membuatku seperti terhipnotis. Merasa tenang dan nyaman.


Tidak hanya berperan sebagai imamku, Arka juga berperan sebagai menantu yang soleh. Mengajak mertuanya menjadi manusia yang lebih baik lagi. Aku yakin, kelak dia juga akan menjadi ayah yang bertanggung jawab kepada anak-anaknya.


"Sayang, kamu belum tidur?" Suara Arka membuyarkan lamunanku.


"Eh, belum. Aku nungguin kamu" Arka yang sudah berada di sampingku mengusap lembut kepalaku.


"Maaf ya , soalnya tadi masih di ajak ngobrol sama papa. Nggak enak kalau tiba-tiba ninggalin papa gitu aja"


Tadi sepulang dari pengajian aku memang langsung masuk kamar sedangkan Arka masih menemani papa minum kopi di ruang tengah.


Satu jam berlalu, akhirnya Arka menyusulku ke kamar.


"Sayang, kamu pasti capek ya. Hari ini kamu ngikuti kegiatan sampai malam gini. Aku pijitin ya, mana yang pegel? kakinya kan?"


Tanpa menunggu jawabanku, Arka langsung menarik kakiku dan meletakkan di atas pangkuannya. Perlahan tangannya bergerak memijat kakiku.


"Udah nggak usah sayang, tidurlah. Pasti kamu juga capekkan?"


Aku berniat menarik kakiku yang ada di pangkuannya, tapi Arka menahannya.


"Aku nggak capek kok. Kamu tidur saja, biar aku yang pijat kakimu. Nanti kalau kamu sudah tertidur. Aku akan menyusul kamu tidur"

__ADS_1


Tidak ada gunanya berdebat, Arka akan tetap dengan apa yang dia mau. Lebih baik pasrah saja.


"Ya sudah kalau gitu aku tidur duluan ya" Pamitku padanya dengan kaki yang masih ada di pangkuannya, aku ubah posisiku miring ke kiri.


"Iya sayang"


Tangan Arka terus bergerak naik turun memijat kakiku. Tapi tak lama kemudian, tangannya sesekali berhenti. Lalu bergerak lagi, berhenti lagi dan bergerak lagi.


Mata yang ingin terlelap merasa terganggu dengan gerakannya yang kadang berhenti dan bergerak dengan tiba-tiba. Aku buka mataku dan...


Astaghfirullah, ternyata gerakan tangannya yang terhenti itu karena dia tertidur, dan begitu sadar tangannya mulai di gerakkan lagi.


Tangan yang berhenti bergerak itu aku raih dan menggenggamnya. Arka tampak terkejut melihatku yang sedang menatapnya. Matanya terlihat memerah.


"Sayang, kamu ... kamu terbangun?" Tanya nya dengan gugup.


"Aku belum tidur" Jawabku dengan lembut.


"Apa pijatannya nggak terasa sehingga kamu sulit tidur?"


"Sayang, tidurlah. Yang lelah itu kamu bukan aku. Ayo tidurlah" Ajakku dengan lembut.


"Sudahlah, aku tidak bisa tidur kalau nggak di dekat kamu. Cepatlah, biar aku juga cepat tidur"


Aku tepuk-tepuk kasur yang ada di sebelahku. Supaya dia segera berbaring di sampingku.


"Aku belum ngantuk" Masih saja dengan pendiriannya. Padahal terlihat jelas matanya memerah karena menahan lelah dan kantuk.


"Apa kamu mau, aku terjaga sepanjang malam gara-gara kamu menolak berbaring di sampingku?" Aku tajamkan ucapanku.


"Oh, ya sudah tunggu dulu aku mau ganti baju" Arka bergegas mengambil pakaian yang ada di lemari. Lalu membawanya ke kamar ganti.


Di dalam lemariku masih tersimpan pakaianku dan juga pakaian Arka. Untuk persediaan kalau tiba-tiba pengen nginap di rumah mama. Jadi tidak perlu repot membawa pakaian lagi dari rumah.


Arka membaringkan tubuhnya di sampingku. Menarik lembut tubuhku agar lebih dekat dengannya. Tangannya melingkar di atas perutku.


"Tidur ya sayang" Tangannya mengusap lembut permukaan perutku.

__ADS_1


Tak lama kemudian terdengar dengkuran halus yang menandakan kalau sudah terlelap.


Secepat itu dia terlelap. Pasti dia sangat lelah dan sudah tidak tahan menahan kantuk. Dalam kondisi seperti itu, Arka masih peduli denganku. Dia rela menahan kantuknya demi aku, istrinya.


***


Pagi ini aku membantu mbok Imah masak di dapur, Ikan bakar hasil pancingan papa dan Arka kemaren. Mama, papa, dan Arka berbincang di meja makan. Sekalian menunggu waktunya sarapan.


Empat ekor ikan gurame berukuran sedang susah selesai di bakar.


"Mbok, biar aku saja yang membawanya. Mbok lanjutkan bakar yang itu buat sarapan mbok sama yang lainnya ya" Aku pun mengangkat nampan tempat ikan bakar dan menyajikannya di meja makan.


"Waktunya sarapan" Ucapku.


"Waaahhh, ayo kita sarapan dulu. Daritadi cuma nyium aroma nya saja. Sudah nahan lapar daritadi ini" Papa menggeser cangkir kopi yang ada di depannya.


Sarapan di mulai dan kami mengobrol sambil sesekali tertawa. Momen yang selalu aku rindukan.


"Arka, pak Sony ngajakin kita mancing lagi. Tapi kali ini tidak di kolam pemancingan"


"Hah, terus dimana pa?" Tanya Arka yang masih melanjutkan sarapannya.


"Ngajak mancing di laut, nanti kita sewa perahu. Gimana? "


"Pa, udah deh, nggak usah aneh-aneh, pake acara mancing di laut. Nanti papa di makan ikan paus gimana? Kemaren mancing di kolam pemancingan sekarang mancing di laut. Besok dimana lagi?" Mama mulai menunjukkan kekesalannya.


"Nggak mungkin lah ma di makan ikan paus. Ikannya mikir juga, daging papa udah alot dan pahit. Yang di carinya daging fresh" Papa terkekeh.


"Lagian sejak kapan sih papa punya hobi mancing? Tanyaku


"Papa baru sadar ternyata mancing itu bisa membawa kepuasan sendiri, benar kan Arka?" Papa menoleh ke arah Arka.


"I-iya pa" Arka menjawab dengan terbata. Sambil melirik ke arah mama. Papa yang merasa puas karena mendapat pembelaan dari Arka.


"Pokoknya mama nggak ngijinin. Nggak usah macam-macam pa. Kamu juga Arka, nggak usah belain papa terus, besar kepala kalau di belain"


Mama melotot ke arah Arka. Aku hanya terkekeh melihat mama ngomel. Sedangkan Arka jadi salah tingkah.

__ADS_1


"Mama jangan nyalahin Arka dong, kan papa hanya minta pendapat saja " Papa menatap tajam ke arah mama.


Arka merasa serba salah, itu terlihat dari duduknya yang tampak gelisah. Sedangkan aku hanya tersenyum melihat papa dan mama bertingkah seperti anak kecil.


__ADS_2