Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

"Mah, mamah sudah sarapan?" Tanyaku saat menggandeng tangan mamah.


"Belum, nanti saja nunggu Arka" Aku melirik kilas mata teduh mamah yang berada di sampingku.


"Ayah sama Rani kemana mah?" tanyaku lagi.


"Ada di garasi, lagi ganti oli mobil" Mamah terus berjalan memasuki dapur.


"Mamah masih mau masak apa lagi?".


"Mamah mau nyuci perabotan yang tadi mamah pakai masak"


Aku lepas rangkulan tanganku di lengan mamah. "Mah, biar Caca ya yang nyuci?"


Aku langsung berjalan selangkah lebih cepat dari mamah.


"Sudah, biar mamah saja. Kamu duduk saja disana." Perintah mamah. Tapi aku tetap memaksanya dengan halus.


"Nggak apa-apa mah, pengen nyoba nyuci perabotan dapur" Jawabku dengan cengengesan.


Mamah pun mengalah. "Mamah duduk disana saja ya" Tunjukku ke arah sofa di samping meja makan.


"Mamah ke depan saja , mau lihat ayah. Kalau capek, nggak usah di lanjutin ya. Biar mamah atau Rani yang lanjutkan"


Aku pun mengangguk. Mamah langsung pergi ke luar.


Tinggal aku saja yang ada di dapur. Dan alhasil aku kebingungan harus mulai darimana. Aku singkirkan saja perabotan yang besar. Aku ambil perabotan yang kecil dulu, seperti mangkok dan piring.


Aku pencet sabun sebanyak-banyaknya, aku celupkan spon cuci piring ke dalam wadah dan aku remas spon itu, ternyata kebanyakan sabun. Aku terus meremas sponnya, aku mainkan busanya. Busanya keluar banyak sekali sampai memenuhi wadahnya. Terkekeh geli melihat tingkahku sendiri yang seperti anak kecil.


Aku remas-remas spon di tanganku. Lalu aku tiup busanya, dan busa-busa itu berhamburan menempel bebas di tembok dapur. Tak puas hanya dengan itu saja, aku tuang lagi sabun cair ke tanganku. Aku gosok dengan telapak tanganku, lalu aku tiup perlahan agar menghasilkan gelembung balon yang besar. Setelah terbentuk gelembung besar aku terus meniupnya agar tidak terjatuh ke lantai. Gelembung itu terus naik ke atas karena terdorong tiupan dari bibirku. Dan.....


Duugg...


"Aaahhh..." Teriakku. Sambil mengusap-usap keningku karena terbentur sudut meja dapur. Seketika aku juga mendengar suara tawa terkekeh.


"Sayang, kok kamu di situ?" Tanyaku menahan rasa malu. Sejak kapan dia berdiri melihatku.


Arka mendekatiku. Meraih kepalaku dan mengusap-usap keningku yang terbentur. Dia tersenyum seperti menahan tawa.


"Heh, sejak kapan berdiri disini?" Tanyaku lagi.


"Sejak tadi" Jawabnya. Aku pun melotot menatapnya.


"Apa aja yang kamu lihat?" Tanyaku memastikan.


"Aku liat kamu terbentur meja, aku lihat kamu buat gelembung, aku liat kamu meniup busa sampai nempel disana, disana, juga disini" Tunjuk nya ke tembok dan terakhir nunjuk kepalaku.


Aku merabanya, dan aku lihat telapak tanganku, memang benar di tanganku sekarang ada busanya. Aku pun meringis.


"Jadi dari tadi kamu disini?"


"hhmm" Jawabnya.


"Aahhh... kenapa nggak bilang sih, kan aku malu jadinya" Ucapku.


Arka langsung memelukku. " Buat apa malu sama suami sendiri" Hiburnya.


Aku lepas pelukannya, aku tatap wajahnya "Iya kalau kamu yang lihat,kalau tiba-tiba orang lain yang lihat gimana?" Ucapku dengan sedikit manja.


"Ya pasti mereka akan menertawakanmu, yang bermain-main seperti anak kecil" Tawanya pun pecah. Aku pun ikut tertawa.


"Ya ampun.... kenapa jadi seperti ini?" Tiba-tiba saja mamah masuk ke dapur.


"maaf mah, tadi..."


"Sudahlah ayo sarapan dulu, nanti saja di bereskannya" Mamah memotong ucapanku. Mamah terkekeh melihat dapur yang semakin berantakan.

__ADS_1


Kami pun berjalan menuju meja makan. Di sana sudah ada Rani yang menunggu untuk sarapan.


"Ayah kemana?" Tanyaku saat melihat hanya ada Rani saja disana.


"Ayah ngantar Aisyah" Jawab Arka sambil menarikkan kursi untukku.


"Lho bukannya kamu yang aku suruh untuk mengantarnya." Tanyaku heran.


"Nggak baik jalan berdua dengan perempuan yang bukan muhrim, apalagi pernah ada perasaan yang terikat"Jawabnya.


"Udah ayo sarapan dulu. Jangan bahas masalah itu" Celetuk mamah.


Aku hanya diam. Aku ambilkan nasi beberapa sendok ke piring Arka "Kurang nggak nasinya?" Tanyaku. Arka menggeleng. Lalu aku ambilkan juga lauk untuknya.


Aku ambil piringku mengambil lauk dan tentunya tanpa nasi.


"Teteh makannya nggak pakai nasi ya?" Tanya Rani.


"Enggak, kalau sarapan cuma lauk aja" Jawabku.


"oohh biar nggak gendut ya. Tapi seandainya gendut juga tetep cantik kok. Dan Aa' juga tetap sayang sama teteh" Celetuk Rani yang membuatku terkekeh. Arka dan mamah pun ikut tertawa.


Setelah selesai sarapan, kami masih berbincang di meja makan.


"Rani kapan mulai masuk sekolah?" Tanyaku pada Rani.


"Hari Senin teh" Jawabnya.


"Mamah disini saja ya mah, jangan ikut pulang" Pintaku.


"Mamah masih sakit, mamah nggak mau merepotkan kalian. Biar mamah tinggal di kampung saja, sama Rani juga sama ayah" Jawab mamah.


"Tapi mah, disini Caca nggak punya teman, apalagi sebentar lagi Arka juga mulai kerja. Jadinya kan sendirian disini, belum lagi kalau urus pabrik yang di luar kota" Rengekku.


"Sayang, kalau ke luar kota aku akan ajak kamu, kamu nggak usah khawatir ya" Jawabnya sedikit membuatku lega mendengarnya,ternyata Arka tidak membiarkanku sendiri disini.


"Tapi tetep saja, kalau kamu mulai kerja kan aku kesepian. Terus aku ngapain di rumah" Protesku.


Entah kenapa kali ini aku merasa sudah tidak seperti dulu lagi. Dulu hampir tiap malam keluar bareng teman-temanku. Kadang sampai nggak pulang beberapa hari. Tapi kali ini seperti tidak mau merasakan kebebasan seperti dulu, kebebasan yang mungkin tidak ada gunanya lagi.


"Kenapa teteh nggak kerja saja?" Celetuk Rani. Aku terdiam sesaat memikirkan ucapan Rani.


Ada benarnya juga yang dikatakan Rani. Dengan bekerja aku bisa menyibukkan diri dan tidak merasa kesepian.


"Boleh juga ide kamu Rani. Tapi..."


"Tapi kenapa?" Tanya Mamah yang dari tadi hanya diam saja.


"Kuliahku belum selesai" Ucapku lirih.


"Ya sudah kalau gitu, selesaikan dulu kuliahnya. Kan kamu nggak akan kesepian kalau kayak gitu. Gimana?" Arka ikut memberikan saran.


"Hmm, baiklah kalau gitu" Aku pun menyetujui sarannya.


"Berapa lama kuliahnya terhenti?" Tanya Arka.


"Dua tahun" Jawabku dengan cengengesan.


"Ya sudah besok ke kampus daftar lagi ya" Ucapnya.


"Nanti aku akan bilang sama papa, biar papa yang urus administrasinya" Ucapku.


"Kamu boleh bilang sama papa, tapi jangan bilang kalau kamu minta uang buat biaya kuliah. Sekarang kamu jadi tanggung jawabku. Aku akan membiayai semua keperluan kamu. Termasuk biaya kuliah kamu" Ucap Arka.


"Tapi biayanya nggak sedikit" Protesku.


"Berapapun biayanya, aku yang akan tanggung jawab. Kamu nggak usah khawatir" Jawab Arka dengan suara yang agak meninggi. Lalu dia berdiri meninggalkan kami yang masih duduk di ruang makan.

__ADS_1


Aku hanya diam, karna sepertinya aku telah menyinggung perasaannya. Sehingga membuat dia sedikit meninggikan nada bicaranya.


Aku menatap mamah dan Rani secara bergantian. Lalu aku pegang tangan mamah yang ada di atas meja.


"Mah, caca permisi dulu ya mah. Sepertinya Arka sedikit marah" Pamitku.


"Arka memang tidak suka kalau di sepelekan, tapi jangan di masukkan ke hati ya kalau Arka bicara kasar, Arka memang seperti itu. Tapi dia sebenarnya baik kok. Kamu susul Arka, minta maaf dan berjanjilah tidak akan mengulanginya lagi" Mamah memberikan saran padaku. Aku mengangguk dan pergi meninggalkan mamah dan Rani.


Di lantai atas, aku melihat Arka sedang berdiri di balkon yang ada di ruang tengah. Kedua tangannya memegang pagar besi pembatas. Matanya menatap pohon-pohon hijau yang ada di hadapannya.


Aku mulai mengatur nafasku, menarik nafas dalam-dalam dan aku hembuskan lagi. aku lakukan berulang sampai tiga kali. Lalu aku hampiri dia.


Aku lingkarkan tanganku ke lengannya. Aku sandarkan kepalaku menyamping di bahunya.


"Sayang, aku minta maaf ya. Aku nggak bermaksud menyepelekanmu. Aku hanya nggak mau menjadi bebanmu. Tapi aku sangat senang kalau kamu yang akan membiayai semua kuliahku dan juga semua kebutuhanku" Ucapku. Arka hanya diam tidak menjawab.


Perlahan dia menarik tangannya yang aku rangkul tadi. Tangannya berpindah merangkul pundakku. Dan menuntun kepalaku agar mendekat ke wajahnya. Dan dia mengecup keningku.


"Maafkan aku ya, aku bicara kasar tadi. Aku hanya nggak mau menjadi suami yang tidak bertanggung jawab" Ucapnya. Aku mengangguk dalam dekapannya. Suasana hening sejenak.


"Sayang, nanti kita jalan-jalan yuk" Ucapku memecah keheningan.


"Kemana?"


"Kita ke mall ya, kita belanja baju" Jawabku.


"Sayang, aku belum kerja, aku belum punya uang" Tolaknya.


"Pakai uangku, aku punya tabungan kok"


"Nggak usah, simpan saja uangmu. Kita belanja kalau aku sudah punya uang ya" Tetap dengan pendiriannya.


Aku lepaskan dekapannya


"Aku bosan di rumah aja, selama kita nikah. Kita tuh nggak pernah pergi jalan apalagi jalan sama keluarga, mumpung ada mamah sama Rani disini kita pergi jalan keluar" Gerutuku dengan nada suara yang tidak karuan karena nahan emosi.


"Ya sudah, ayo kita pergi. Tapi aku pinjam uangmu ya, nanti kalau sudah kerja aku ganti tiga kali lipat" Akhirnya dia mengalah.


"Nggak perlu di ganti, kita kan suami istri" Ucapku.


"Kalau nggak mau ya sudah nggak usah pergi" Ancaman yang membuatku kalah.


"Iya iya... aku ngalah. Ya sudah nanti di ganti kalau kamu sudah kerja" Ucapku yang terpaksa mengalah.


Arka tersenyum sambil mengusap rambutku kasar. Yang membuat rambutku menjadi acak-acakan.


"Ya sudah kamu ganti baju dulu, biar aku yang bilang sama mamah dan juga Rani" Ucap Arka.


Aku berjalan beriringan dengannya merangkul lengannya. Sampai di depan kamar aku lepaskan tangannya.


"Aku ganti baju dulu ya" Ucapku


Arka mengangguk, dan kembali berjalan menuruni anak tangga. Sedangkan aku, masuk ke kamar untuk mengganti baju.


Aku buka lemari pakaianku, aku tatap satu persatu.


"Hmmm.. pakai baju apa ya... " Gerutuku sendiri.


Mataku tertuju pada baju putih dengan setelan rok selutut. Baju kesayanganku... Baju berbahan satin ,tanpa lengan. Aku pilih baju itu. Dan memakainya.


Aku putar badanku ke kanan dan ke kiri di depan cermin besar. Sempurna, itu menurutku. Tanpa kusadari ternyata Arka sudah berdiri di belakangku dan memperhatikanku. Mungkin Arka terpesona melihatku yang tampak seksi dengan baju ini.


Lalu dia memelukku dari belakang, aku menatapnya melalui pantulan cermin di depanku. Dagunya bersandar di bahuku. Dan berbisik.


"Aku nggak mau orang lain melihat bentuk tubuhmu yang indah ini" Spontan aku menoleh ke arahnya, diam tak berkata.


Arka menatapku. "Hanya aku yang boleh melihatmu dengan baju ini" Ucapnya lagi.

__ADS_1


Aku mulai paham dengan ucapannya.


"Baiklah aku akan menggantinya" Dengan lesu aku kembali memilih baju yang menurutnya pantas aku pakai buat keluar bersama keluarganya.


__ADS_2