
"Sayang, mamah buatkan jamu untuk kamu. Ini bisa meredakan nyeri haid yang kamu alami. Waktu mamah masih muda, mamah sering minum juga" Mamah menyerahkan segelas minuman berwarna kuning, entah dari apa itu.
"Apa ini mah?" Tanyaku dengan heran.
"Ini campuran rempah-rempah baik buat kesehatan. Manis kok, tadi mamah sudah menambahkan gula batu. Cobain" Ucap mamah.
Dengan terpaksa aku meminumnya, tapi rasanya tidak seaneh baunya. Tidak begitu pahit, rasanya bercampur aduk. Baunya terasa aneh mungkin karena aku nggak pernah minum jamu.
"Gimana, enak kan?" Tanya mamah.
"Enak sih, tapi kayak aneh gitu"Ucapku sambil sesekali menjulurkan lidahku.
"Aneh apanya, itu karna kamu tidak pernah minum jamu." Ucap mamah.
"Iya mungkin mah" Jawabku.
"Sekarang kalian istirahat saja. Ajak Luna istirahat di kamarnya. Nanti sore kita jenguk adik Luna sama-sama" Ucap mamah.
"Mamah mau ikut?" Tanyaku dengan heran.
"Iya, mamah juga ingin tahu keluarga Luna"
"Ya sudah kalau gitu mah, Caca mau ke atas dulu sama Luna" Pamitku.
"Cepat istirahat ya" Ucap mamah.
"Dahhhh Oma" Luna pun melambaikan tangannya ke mamah. Mamah tersenyum melihat Luna.
Sampai di kamar aku langsung merebahkan tubuhku. "Sini, bobok sama Tante. Luna pasti ngantuk ya, tadi malam nggak sempat tidur"
"Iya" Dia pun merebahkan tubuhnya di sampingku. Tak sampai lama, matanya sudah terpejam.
Aku tutupi tubuhnya dengan selimut. Aku pandangi wajah polos Luna, wajah tanpa dosa tapi ikut menanggung beban. Aku usap perlahan dan aku kecup keningnya.
"Tidurlah sayang, lupakan bebanmu sejenak" Lirihku.
Aku peluk tubuh mungil itu. Pikiranku kembali membayangkan, jika yang di hadapanku ini adalah anakku. Mungkin setiap saat aku bisa memeluknya, di saat akan tidur ataupun bangun tidur selalu mengecup keningnya.
Perlahan khayalanku memudar, sampai akhirnya aku terlelap.
Siang hari...
Aku terbangun karena merasakan kecupan hangat di keningku. Aku melenguh karena rasa kantuk masih setia di pelupuk mataku. Tapi rasa penasaran memaksaku untuk membuka mata secara perlahan. Wajah tampan Arka berada tepat di depan mataku.
"Kamu sudah pulang?" Kataku setengah terkejut. Dia menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya, yang tandanya aku nggak boleh berisik matanya mengisyaratkan agar aku menoleh ke sampingku.
Aku tepuk jidatku, aku lupa bahwa ada Luna di sampingku. Luna masih tidur terlelap.
"Gimana keadaan kamu, masih sakit?" Tangannya menyentuh bagian perutku. Aku menggeleng.
"Udah enggak padahal aku lupa minum obat. Tadi mamah memberiku minuman, baunya aneh, rasanya juga masih kayak nempel gitu di lidah."
"Pahit?"
"Enggak terlalu" Jawabku
"Itu jamu, kalau orang di kampung kan jarang minum obat kalau sakit" Ucap Arka.
"Om sudah pulang" Tiba-tiba terdengar suara Luna yang imut dari sebelahku. Aku dan Arka bersamaan menghadap ke arahnya.
__ADS_1
"Eh Luna sudah bangun, tau nggak hari ini om pulang cepat karena kangen sama Luna" Ucap Arka. Dia pun beranjak menaiki ranjang mendekati Luna.
"Jadi nggak kangen sama aku nih" Aku kerucutkan bibirku.
"yaahhh tantenya ngambek, liat tuh bibirnya panjang banget" Ledek Arka yang membuat Luna tertawa.
"Tentu saja aku kangen sama kamu, aku khawatir sama keadaan kamu. Tadinya selesai meeting aku langsung pulang. Tapi saat aku hubungi mamah, ternyata kamu sama Luna sedang tidur pulas. Jadi aku selesaikan dulu pekerjaan kantor. Lalu ijin sama pak Adam"
"Gimana pekerjaan hari ini?" Tanyaku
"Alhamdulillah, lancar. Aku membawa pulang beberapa file untuk di kerjakan di rumah. supaya besok tinggal menyerahkan ke bagian administrasi."
"Kenapa nggak nyuruh orang lain saja, kamu kan butuh istirahat" Ucapku.
"Biarpun sekarang aku pemilik pabrik, bukan berarti aku hanya duduk saja di kantor, sampai rumah tidur dengan nyenyak. Aku juga harus bekerja sayang. Mengelola dengan baik, supaya punya bawahan yang baik juga"
"Hemmm.. benar-benar suami idaman" Pujiku.
plokk
plokk
plokk
"Yeeee...om Arka hebat" Luna pun tepuk tangan ikut memuji Arka. Senyum mengembang di bibir Arka.
"Kita jalan-jalan yuk, mumpung masih jam dua nih. Habis itu kita ke jenguk adik Luna. Gimana?" Arka memberi saran.
"Ayo, ajak mamah sekalian ya. Soalnya tadi mamah bilang mau ketemu ibu Luna" Jawabku girang.
"Go..go..go.. let's go" Luna pun melonjak kegirangan.
"Kalau gitu, Luna mau bicara sama Oma, biar siap-siap" Ucap Luna.
"Hati-hati ya... nggak usah lari" Ucapku saat Luna sudah menuruni ranjang dan berlari kecil.
"iya" Teriaknya, karna dia sudah di luar kamar.
Aku terdiam menatap Luna yang sudah menghilang dari hadapanku. Kesedihanku kembali muncul. Memikirkan jika tawa itu tidak bisa aku dengar dan aku lihat lagi.
"Sayang, kamu kenapa melamun?" Arka menangkupkan tangannya di pipiku. Aku menoleh ke arahnya. Aku tersenyum dengan terpaksa.
"Nggak apa-apa kok. Aku mau siap-siap dulu ya" Aku turunkan tangan Arka yang menangkup pipiku. Arka menatapku heran.
Aku tinggalkan dia yang masih terbaring di ranjang. Aku masuk ke kamarku sendiri, Mengganti pakaianku, dan sedikit memberi polesan make up di wajahku.
Arka mendekatiku, berdiri tepat di belakangku. Aku menatap matanya dari pantulan kaca rias yang ada di depanku. "Ceritakan apa yang ada di pikiranmu, apa yang kamu pikirkan sama denganku" Ucapnya, di letakkan kedua tangannya di atas bahuku.
"Aku nggak tau apa maksudmu?" Aku berusaha mengelak dari perkataan Arka.
"Luna, tentang Luna." Arka menegaskan.
Yang di katakan Arka tepat sekali, aku terdiam, hanya menatap matanya dari dalam cermin.
"Pasti kamu sangat sedih jika Luna kembali pada keluarganya. Aku pun berpikir sama denganmu. Tapi kita harus sadar, kita nggak boleh egois. Luna masih punya ibu, punya ayah, dia punya keluarga. Kita nggak boleh merebut hak mereka untuk berkumpul kembali" Semua kata-kata Arka tepat sekali dengan yang ada di pikiranku.
Mendengar kalimat terakhirnya, air mataku terjun bebas melewati pipiku. "Kehadiran Luna tidak hanya merubah suasana rumah ini, tapi dia juga mampu merubah pendirianku" Aku sentuh tangan Arka yang masih menempel di bahuku.
"Pendirian apa yang kamu maksud?" Arka tampak bingung mendengar perkataanku.
__ADS_1
"Melihat Luna tertawa, tersenyum, tertidur dan semua hal yang di lakukannya membuatku berpikir dan membayangkan seandainya dia adalah anakku, anak kita. Pasti rasa bahagia itu akan melebihi bahagia hari ini. Dan aku sudah memutuskan tidak mau menunda untuk punya anak dari kamu" Ucapku.
Arka terkejut mendengar ucapanku. Dan dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya mengusapnya kasar. Wajahnya memerah matanya berkaca. Lalu dia memelukku dari belakang dan menciumi puncak kepalaku berkali-kali.
"Makasih sayang.. makasih.. kamu sudah punya niat membuat keluarga kecil kita menjadi lengkap."
Kebahagiaan itu terpancar di wajah Arka. Nggak habis pikir, hanya dengan niatku seperti ini saja mampu membuat dia terharu dan bahagia. Semakin mantap niatku untuk segera punya anak darinya. Dan tidak mau menunda lagi.
Suara ketukan pintu membuyarkan perasaan kami yang telah larut dalam bahagia. Arka melepas pelukanku dan berjalan membuka pintu.
"Kalian masih lama? Luna sudah menunggu di mobil" Suara mamah mengingatkanku kalau kami akan pergi jalan-jalan.
Aku raih handbag ku yang sudah aku siapkan di atas ranjang. Aku berlari kecil menghampiri mamah dan Arka.
"Iya mah, ini sudah selesai kok. Maaf ya mah jadi nunggu lama"
Kami pun langsung pergi. Selama perjalanan Luna tampak bahagia sekali. Layaknya anak kecil pada umunya, dia berceloteh menanyakan hal-hal yang belum dia mengerti.
"Kalian senang Luna hadir diantara kalian?" Tanya mamah di tengah candaan kami.
"Tentu saja kami senang mah" Jawabku
"Itu artinya kalian sudah siap. Kalian harus segera punya anak. Karna seorang anak akan membawa rasa bahagia yang tak ternilai harganya. Anak adalah harta paling berharga tidak bisa di bandingkan dengan apapun." Ucap mamah.
"Iya mah, doakan saja. Semoga setelah ini kami segera punya anak" Ucapku pada mamah.
"Aamiin" Kami serempak mengucapkannya.
Arka membelokkan mobil memasuki area bermain untuk anak-anak.
Luna mengintip dari balik kaca mobil "Waaahhh... bagus tempatnya" Luna terkagum melihat tempat bermain ini.
"Luna sudah pernah kesini?" Dia menggeleng menjawab pertanyaan mamah.
"Berarti ini pertama kalinya Luna kesini ya. Seneng nggak?" Tanyaku.
"Seneng banget. Makasih banyak ya Tante, om, Oma... Luna seneng banget. Luna nggak akan pernah melupakan kebaikan kalian" Aku pun langsung memeluknya penuh haru.
Mobil berhenti di area parkir. "Yuk, kita turun. Sudah sampai" Ajak Arka.
Kami pun berjalan bersama memasuki area bermain. Suasana tidak terlalu ramai, karena bukan weekend. Dengan leluasa Luna berlari kesana kemari "Jangan jauh-jauh ya" Teriakku saat melihat dia agak menjauh dariku
"Sudah biarin aja, aku akan mengikutinya dari belakang." Arka berlari mengejar Luna. Sedangkan aku menggandeng tangan mamah.
Mamah menceritakan banyak hal, termasuk tentang kehamilan pertamanya yaitu saat mengandung Arka. Mamah bilang, mamah banyak mendapat kesulitan di awal kehamilannya. Suka marah-marah nggak jelas, malas mandi, malas masak, bahkan nggak mau deket-deket sama ayah. Untung saja ayah orang yang selalu peduli dan selalu mengerti keadaan. Sehingga dengan sabar ayah bisa menghadapi perubahan sikap mamah. Jadi terharu mendengar cerita mamah, betapa beruntungnya mendapat suami yang selalu care sama istrinya.
"Semoga Arka seperti ayah ya mah, tetap peduli dan mengerti dengan keadaan istri" Ucapku.
"Kalau Arka, sudah pasti dia sayang sama kamu. Apalagi kalau kamu sudah melahirkan anak, pasti dia akan semakin sayang lagi" Mamah meyakinkan aku.
"Tanteeeee" Teriak Luna berlari menghampiriku. Di tangannya memegang sebuah boneka kecil.
"Ada apa sayang?" Tanyaku.
"Lihat ini, om Arka memberiku hadiah ini" Dia menunjukkan sebuah boneka barbie di hadapanku.
"Wow bagus sekali, cantik kayak Luna" Ucapku.
Aku pun mengajak Luna ke tempat permainan yang lainnya, membiarkan dia memilih permainan yang dia sukai. Disampingnya ada Arka yang selalu mendampinginya bermain. Suara tawa bahagia Luna dan Arka terdengar jelas di telingaku. Tidak lupa juga aku mangabadikan momen ini dengan foto ataupun video. Supaya kelak akan menjadi cerita indah yang tak terlupakan.
__ADS_1
Bersambung ...