Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

"Sayang, kamu darimana" Tanya Arka saat melihatku menutup pintu.


"Ini, tadi room boy ngantar pakaian" Aku tunjukkan bungkusan pakaian yang aku letakkan di samping pintu.


"Taruh aja di situ. Biar nanti aku saja yang ngangkat" Ucap Arka.


"Ya udah" aku tinggalkan pakaian yang masih terbungkus plastik dengan rapi lalu aku duduk di sofa.


"Sayang ... aku minta sama kamu. Jangan keluar kamar tanpa aku ya" Ucap Arka sambil memasang dasinya.


"Kenapa?"


"Aku nggak mau kamu ketemu sama mantan kamu lagi. Aku yakin pasti dia masih disini"


"Tenang aja, aku nggak akan keluar kamar. Karna aku juga nggak mau bertemu dengannya" Perkataanku simpel tapi mampu membuat senyum ketenangan di bibir Arka.


"Ya sudah kalau gitu. Aku berangkat kerja dulu. Nanti jam makan siang, aku akan pulang membawakanmu makanan, kita makan bersama disini ya"


"Iya"


Aku cium punggung tangan Arka saat dia berpamitan dan balasannya adalah kecupan di kening seperti biasanya.


Setelah Arka berangkat kerja, rasa sepi mulai membuatku gelisah dan salah tingkah. Bingung apa yang akan aku perbuat. Mau makan, tapi masih malas. Padahal Arka sudah menyiapkan sarapan dan juga susu. Aku ambil remote TV yang tergeletak di atas meja yang ada di depanku.


Tidak ada acara yang bagus menurutku. Benar-benar membosankan. Mau tidur tapi mustahil karena nggak ngantuk. Mau keluar tapi inget dengan pesan Arka. Lagipula aku juga nggak mau kalau sampai ketemu dengan Farhan lagi. Tapi aku masih penasaran kenapa sampai sekarang Farhan masih memakai cincin tunangan kami. Padahal punyaku sudah aku buang jauh-jauh.


Aaarrgghhh... kenapa aku jadi memikirkan Farhan, lelaki yang benar-benar membuatku sakit hati.


Aku coba untuk menghubungi Arka, siapa tau dia sedang tidak banyak pekerjaan. Sehingga aku bisa berbicara dengannya meskipun hanya sebentar saja. Tapi sampai nada panggilan habis, tak juga di angkat oleh Arka. Aku ulangi lagi sampai tiga kali panggilan, tapi hasilnya sama.


Rasanya ingin marah, nangis, bahkan aku juga ingin melempar semua barang yang ada di hadapanku. 'benar-benar menyebalkan...' Gerutuku sendirian. Aku remas rambutku dengan penuh kekesalan. Sungguh keterlaluan sekedar mengangkat telepon saja Arka tidak mau.


Aku hempaskan tubuhku di ranjang melempar bantal dan guling yang ada di sampingku, bahkan selimut yang tidak bersalah pun menjadi sasaranku. Aku tarik ujungnya dan melemparkannya ke lantai. Tubuhku berguling ke kiri, aku tekuk lututku sehingga tubuhku meringkuk seperti orang yang sedang kedinginan. Tapi bukan itu alasannya. Tidak sampai disitu saja. Aku terus menangis dan mulutku tak berhenti meracau mengeluarkan kata-kata kekesalan. Aku melakukannya antara sadar dan tidak sadar. Sampai akhirnya aku terlelap dengan sendirinya mungkin kelelahan karena sudah bersikap gila.


Entah berapa lama aku tertidur. Sampai aku merasa ada seseorang yang memelukku dan menciumi puncak kepalaku. Rasa nyaman yang aku rasakan dari pelukannya. Tapi tidak lama kemudian aku tersadar akan kekesalanku.


Aku buka mataku perlahan dan setelah mataku terbuka sempurna aku melihat wajah tampan Arka yang begitu tenang sudah berada di hadapan mataku, bahkan begitu dekat.


"Kamu kenapa sayang?" Tanya Arka lirih yang menyadari aku telah terbangun dari tidurku.


Aku dorong dadanya agar menjauh dariku tapi tenagaku tidak cukup kuat untuk melakukannya. Justru Arka semakin mengeratkan pelukannya.


"Sayang kamu kenapa? Apa kamu marah karena aku tidak menjawab panggilan teleponmu?" Tanya Arka lagi. Dengan mulut yang masih terdiam tanganku terus mendorongnya.

__ADS_1


"Sayang, jawab aku. Apa karena itu kamu marah. Aku minta maaf ya, tadi aku sedang meeting jadi tidak bisa menjawab telepon darimu. Maafkan aku ya" Arka mengecup keningku berkali-kali.


"Kamu jahat banget sama aku" Isak tangisku kembali pecah saat mengatakannya.


"Sayang, aku minta kamu bisa mengerti dengan pekerjaan ini. Jangan hanya dengan masalah sepele membuat kamu seperti ini. Aku tau kamu menghadapi masa sulit sendirian. Dan aku minta maaf tidak bisa selalu menjagamu dan juga tidak ada di saat kamu butuhkan. Kamu harus tau di luar sana aku tidak berhenti memikirkanmu. Di tempat kerja pikiranku selalu mengarah ke kamu. Aku tidak bisa fokus dengan pekerjaanku. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu selama aku nggak ada. Kamu juga harus tau, kenapa aku masih membawa pekerjaanku pulang? Itu karena aku lebih tenang kalau aku mengerjakan tugasku disini, di samping kamu." Arka menjelaskan semuanya padaku. Tak terasa air mataku menetes di ujung mataku.


"Maafkan aku, aku salah. Aku nggak bisa mengerti keadaan kamu. Aku hanya bisa menyusahkan kamu saja." Ucapku lirihku dan tanganku memeluk erat tubuh kekarnya.


Arka mengangguk dan mengusap air mata yang menetes dari sudut mataku. "Jangan lakukan ini lagi. Dan jangan menangis lagi, aku nggak mau melihatmu sedih" Ucap Arka lirih.


Aku benamkan wajahku di dadanya yang masih terbalut kemeja kerja. Sedangkan bibir Arka terus menempel di keningku. Kami saling mengeratkan pelukan. Tidak ada lagi suara yang keluar dari mulut kami suasana sunyi.


kruuukk...kruukk..


Suara itu membuat mata kami saling pandang lalu terkekeh. "Tuh kan lapar?" Ucap Arka. Suara itu berasal dari perutku. Mungkin saja cacing di perutku sedang mengadakan demo protes kelaparan. Karena tadi pagi aku belum sarapan.


"Iya aku lapar, aku belum makan sama sekali." Ucapku sambil meringis.


"Ya udah makan dulu yuk. Kasihan anak papa ini belum makan. Lapar ya sayang?" Arka mengusap-usap permukaan perutku.


Arka menyingkirkan sarapanku yang masih berada di meja. Lalu menyiapkan makan siang. "Kamu makan dulu ya sayang, aku mau hubungi Monica dulu. Sebentar aja" Aku mengangguk dengan senyuman.


Selama Arka berbicara di telepon aku melahap makananku dengan cepat. Rasa laparku sudah tak tertahankan lagi.


"Kamu nggak makan?" Tanyaku padanya.


"Kamu tau, melihatmu makan dengan lahap seperti ini membuatku sangat senang" Ucap Arka.


"Ini karena lapar."


"Lapar karena habis latihan perang" Ledek Arka. Aku hanya bisa mendengus kesal karena Arka menyindir kegilaanku.


"Kamu kok nggak makan?" Tanyaku lagi karena tadi belum mendapat jawaban.


"Nanti saja, aku masih belum lapar. Aku mau istirahat dulu" Jawab Arka.


"Memangnya nggak kembali ke kantor?"


"Enggak"


"Memangnya sudah selesai pekerjaannya?" Tanyaku lagi


"Belum sih, tapi siang ini nggak ada meeting jadi aku bisa sedikit santai. Tinggal memeriksa laporan aja. Tadi aku sudah minta sama Monika supaya di kirim via email. Biar bisa di kerjakan disini."

__ADS_1


"Makan aja dulu kalau gitu" Saranku.


"Kamu aja yang makan, aku mau mandi karena aku mau istirahat sebentar" Arka langsung berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara aku masih sibuk melahap makananku. Aku habiskan satu porsi luncbox milikku. Dan menyudahinya dengan meminum segelas air putih.


Aku tinggalkan bekas makanku di meja tanpa membereskannya. Aku berdiri untuk mengambil baju ganti untuk Arka. Tepat saat aku mengambil baju dari lemari, Arka baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya melilitkan handuk putih menutupi bagian bawah tubuhnya.


"Sayang, ini baju gantinya." Aku sodorkan celana boxer lengkap dengan celana dalam dan kaos dalam miliknya. Arka menerimanya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku merasa aneh dengan sikapnya yang berubah tidak seperti biasanya.


Aku tinggalkan dia di ruang ganti dengan berbagai pertanyaan dibenakku. Aku berdiri di samping jendela kaca menatap pemandangan di luar yang tampak dengan jelas berbagai jenis kendaraan memadati jalanan kota Surabaya.


Aku mendengar langkah kaki Arka keluar dari ruang ganti. Aku menoleh padanya, tanpa melihatku Arka langsung merebahkan tubuhnya dan menarik selimut menutupi setengah badannya.


Aku menaiki ranjang dan berbaring di sampingnya. "Sayang, kamu kenapa? wajah kamu tampak lesu sekali?" Tanyaku perlahan, menatap matanya yang terpejam.


"Hmm, gak apa-apa. Aku cuma mau istirahat bentar." Jawab Arka tanpa menoleh bahkan enggan membuka matanya. Melihat sikapnya yang seperti itu aku tak ingin bicara lagi. Aku hanya bergerak lebih mendekatkan tubuhku dengan tubuh Arka dan memeluknya. Tak ada balasan pelukan dari Arka. Mungkin Arka memang benar-benar lelah dan tidak mau di ganggu.


Aku turunkan tanganku yang berada di atas dadanya. Berniat untuk beranjak dari tempat tidur ini. Tapi baru saja kakiku menuruni ranjang tangan Arka meraih tanganku dan membuatku menoleh ke arahnya.


"Mau kemana?" Tanya Arka dengan mata yang sedikit memerah.


"Aku... aku mau duduk disana" Tunjukku ke arah sofa yang ada di dekat dinding kaca.


"Sini aja sayang, temani aku tidur" Ucapnya sedikit manja.


"Tapi kamu mengabaikanku" Jawabku.


"Maafkan aku sayang, aku benar-benar lelah." Jelas Arka.


"Baiklah" Kembali aku angkat kakiku dan berbaring di samping Arka. Kali ini salah satu tangan Arka menjadi tumpuan kepalaku. Dan tangan satunya lagi memeluk tubuhku. Aku tak mau tinggal diam. Aku letakkan tanganku di pinggang Arka. Kami tidur dengan posisi miring saling berhadapan.


Arka menatap wajahku dengan matanya yang tampak sendu. Seperti menyimpan banyak pikiran dan beban berat.


"Sayang, apa kamu tidak mau menceritakan masalahmu. Aku tau aku nggak bisa bantu kamu, tapi aku ingin kamu membagi beban berat itu bersamaku agar kamu tidak merasa terbebani" Ucapku lirih.


"Aku nggak ada masalah apa-apa sayang. Jangan pikirkan aku ya. Pikirkan kesehatan kamu dan juga anak kita. Aku nggak mau anak kita kenapa-kenapa. Sekarang aku mau tidur dulu ya biarkan aku istirahat" Ucap Arka lalu memejamkan matanya setelah mengecup keningku dengan lembut.


Aku benar-benar ingin tahu apa yang terjadi dengan Arka di kantor. Jika Arka tidak mau memberitahuku. Aku akan mencari tahu dari orang di sekitarnya. Tapi masalahnya aku nggak kenal dengan rekan kerja Arka. Apa aku harus bertanya pada papa, nggak mungkin. Papa nggak mungkin tahu permasalahan yang Arka hadapi disini. Lalu siapa??...


Otakku terus berpikir dan akhirnya aku menemukan jawabannya. Monika, ya Monika. Aku harus bertanya padanya. Lagipula dia juga seorang perempuan jadi bisa mengerti kondisiku saat ini.


Aku tatap wajah tenang Arka yang terlihat sudah terlelap. Karena pelukan tangannya sudah terasa ringan di atas lenganku. Nafasnya juga terdengar teratur. Aku geser perlahan tubuhku sampai menuruni ranjang. Aku raih handphone yang aku letakkan di meja samping ranjang. Aku cari nama Monika di daftar kontakku. Tapi nama itu tidak ada.


Aku ambil handphone Arka yang tergeletak di samping laptopnya. Langsung aku cari kontak Monika karena handphone Arka tidak terkunci. Segera aku salin kontak Monika ke handphone ku. Dan aku mulai melakukan chat pribadi dengannya. Awalnya aku mau bicara langsung melalui telepon, tapi aku takut Arka akan mendengarnya. Sekian detik sampai sekian menit tidak ada balasan dari Monika. Tapi aku tetap setia menanti balasannya. Mungkin Monika sedang sangat sibuk mengerjakan tugas-tugas di kantor. Aku kembali mengirim pesan Monika, aku meminta Monika datang menemuiku langsung di kamar hotel. Itu pun kalau dia benar-benar tidak sedang sibuk karena aku tidak mau mengganggu pekerjaannya.

__ADS_1


__ADS_2