Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Aku berjalan berdampingan dengan Arka, melewati koridor klinik. Saling diam, tak ada kata-kata yang terucap. Larut dalam pikiran masing-masing. Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Arka. Aku sendiri masih memikirkan nasib anak-anak itu. Di usia sekecil ini harus di hadapkan dengan keadaan yang benar-benar sulit. Dan disaat seperti ini dimana ayahnya, kenapa dia tidak ada. Kenapa hanya ibunya saja yang ada disini, bersama kedua anaknya.


"Sayang, coba lihat" Suara Arka mengejutkanku, menyadarkanku dari lamunan.


Langkahku terhenti "Eh .. kenapa?" Aku pun menoleh, mengikuti arah yang di tunjukkan matanya.


Aku melihat ibu itu sedang menggandeng tangan anak kecil, anak yang tadi tertidur pulas di sofa. Mereka menghampiriku.


"Saya minta maaf karena sudah tidak mempercayai kalian. Saya baru sadar bahwa kalian adalah orang baik. Silahkan kalau kalian mau bawa anak saya. Kalian bisa membawa Luna, anak saya." Ucap ibu itu.


Sejenak aku terdiam, lalu aku menoleh ke arah Arka, dia tersenyum dan mengangguk. Aku balas senyuman itu. Aku tatap anak kecil di hadapanku. Aku bungkukkan tubuhku agar kepala ku sejajar dengannya.


"Jadi nama adik cantik ini Luna. Nama yang cantik, secantik wajahnya." Ucapku dengan senyum bahagia.


"Iya Tante, namaku Luna. Ini ibuku, namanya ibu Dina. Nama Tante siapa?" Celoteh suaranya sungguh menggemaskan. tidak seperti saat pertama bertemu.


"Nama Tante... Caca. Tante Caca. Dan ini suami Tante. Namanya om Arka" Aku pun memperkenalkan diri dengannya. Arka membalas senyuman Luna.


"Saya percayakan anak saya pada kalian, jika kalian tidak ada mungkin saya akan kehilangan salah satu dari mereka"


"Ibu jangan berkata seperti itu, ini hanya ujian, ibu harus tetap sabar dan ikhlas. Kita memang belum saling kenal, tapi kami bukan orang jahat, kami akan menjaga Luna baik-baik. Terima kasih ibu sudah percaya pada kami, dan saat adik Luna sudah bisa pulang, saya akan mengembalikan Luna pada ibu" Ucap Arka memberikan rasa percaya pada ibu itu. Senyum bahagia menghiasi bibir ibu Dina.


"Luna, Luna nggak boleh nakal ya nak, nggak boleh rewel. Harus nurut sama tante dan om, Luna juga nggak boleh menyusahkan Tante dan om" Luna pun mengangguk mendengar nasihat ibunya. Kami pun pamit untuk pulang.


Aku pulang dengan penuh kegembiraan, seakan lupa dengan rasa sakit yang aku alami. Kami bertiga berjalan menuju parkiran mobil.


"Sayang, aku sama Luna duduk di belakang ya?"


"Iya sayang, nggak apa-apa. siapa tau Luna mau tidur lagi". Jawab Arka dengan senyuman yang tidak di buat-buat.


Perlahan Arka menginjak pedal gas keluar dari parkiran klinik. Sedangkan aku berbicara berdua dengan Luna , menanyai Luna dengan berbagai pertanyaan. Dengan nada polosnya dia menjawab semua pertanyaanku.


Dia menceritakan tentang kehidupannya sehari-hari. Ibunya ternyata bekerja sebagai tukang sapu di tempat Luna sekolah, di sebuah taman kanak-kanak. Itu di lakukan di pagi hari. Sedangkan siang sampai malam ibunya bekerja di warung makan milik orang lain. Dia juga menceritakan bahwa sepulang dari sekolah dia juga ikut membantu pekerjaan ibunya mencuci piring, setelah itu dia menjaga adiknya yang masih berumur tujuh bulan itu. Nggak habis pikir diusianya yang masih enam tahun, diharuskan ikut kerja keras untuk keluarganya.


Padahal seumuran Luna seharusnya dia bermain sama teman-temannya sampai lupa waktu. Tapi yang di lakukan Luna bertolak belakang dengan anak-anak yang lainnya.


"Kalau ayah Luna kemana? Tante nggak melihatnya daritadi" Tanyaku


"Ayah jarang pulang" Wajah ceria Luna mendadak berubah menjadi sedih.


"Kenapa jarang pulang, memangnya ayah Luna kerja apa?"


"Ayah kerja jadi kondektur bis pariwisata"


"Kenapa Luna jadi sedih kalau ayah jadi kondektur, kan itu pekerjaan yang halal" Arka ikut menimpali. Ternyata dia memperhatikan dari kaca yang ada di depannya.


"Tapi Luna sedih, kasihan sama ayah. Kaki ayah cacat, tidak sempurna lagi Karena ayah pernah mengalami kecelakaan. Dalam keadaan seperti ini ayah masih bekerja..." Luna pun tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Terlihat jelas air mata itu menetes melewati pipinya.


Aku pun memeluknya dengan erat. Mencoba memberikan ketenangan buatnya. Luna terisak dalam dekapanku.


"Sayang, mungkin fisik ayah memang cacat, tapi hati ayah tetap utuh kan buat kamu, buat adek, juga buat ibu. Luna nggak boleh sedih lagi. Luna anak pintar kan, sayang sama orang tua. Luna terus berdoa buat ayah dan ibu supaya selalu sehat. Mau kan Luna berdoa buat orang tua?" Dia pun mengangguk setelah mendengar nasihatku.

__ADS_1


Sebelum sampai rumah, aku meminta Arka mampir ke swalayan yang buka nonstop dekat kompleks rumahku. "Tunggu sini aja ya, aku cuma sebentar aja kok" Ucapku pada Arka sebelum aku turun dari mobil.


Aku langsung mengambil barang yang aku butuhkan, yaitu pembalut wanita. Selain itu aku juga mengambil beberapa setel pakaian untuk Luna. Setelah selesai aku segera kembali ke mobil karna hari sudah mulai terang.


"Sayang, kamu kerja kan hari ini?" Tanyaku sambil meletakkan beberapa kantong belanja di kursi depan.


"Kerja, tapi aku sudah mengabari pak Adam kalau aku datang terlambat pagi ini . Aku bilang kamu lagi sakit, pak Adam malah menyuruhku libur hari ini. Dan dia bersedia menyelesaikan tugasku. Tapi aku menolaknya, aku nggak mau lepas tanggung jawab" Ucap Arka.


"Suami idaman" Godaku. Dia pun tersenyum melirikku.


Sesampainya di rumah, mamah sudah berdiri di teras rumah. Mamah menghampiriku saat mobil sudah terparkir di garasi.


"Sayang, kamu nggak apa-apa kan, kata pak hadi kamu sakit, kenapa nggak bangunin mamah" Mamah menanyaiku dengan panik.


"Nggak apa-apa mah, ini cuma nyeri haid biasa saja. Semalam Arka panik, makanya dia bawa Caca ke dokter, padahal Caca udah nolak" Ucapku sambil menggenggam tangan mamah.


Mata mamah menatap Luna yang baru saja keluar dari mobil "Itu... anak siapa?" Mamah tampak terkejut dengan kehadiran Luna.


"Sayang, salam dulu ya, itu mamahnya om Arka" Arka menunjuk ke arah mamah. Luna pun menurut. Dia mengulurkan tangannya dan mencium tangan mamah.


"Luna manggil apa?"


"Luna bisa manggil Oma" Ucapku dengan lembut.


"Nggak apa-apa kan mah, Luna manggil mamah dengan sebutan Oma?" Bisikku pada mamah. Mamah mengangguk tanda setuju. Tapi raut wajah mamah penuh dengan tanda tanya.


"Kita masuk saja dulu mah, Caca butuh istirahat. Nanti biar aku yang ceritakan sama mamah." ucap Arka dengan lembut.


Mamah pun menurut, dan kami pun berjalan bersama memasuki rumah.


"Bukan sayang, ini bukan istana. Ini rumah Tante sama rumah om Arka" Jelasku.


"Kayak istana yang ada di film-film" Aku terkekeh geli dengan ucapannya.


Arka duduk di sofa ruang tengah dengan mamah, karna Arka akan menceritakan kejadian yang baru saja kami alami, termasuk tentang Luna. Sedangkan aku membawa Luna menuju kamar atas. Kamar yang bersebelahan dengan kamar mamah.


"Luna mandi dulu ya sayang" Ucapku


"Luna nggak bawa baju"


"Luna pakai ini, bagus kan bajunya, ini semua buat Luna biar tampak cantik" Aku keluarkan pakaian yang tadi sempat aku beli sebelum pulang. Aku tunjukkan satu persatu pada Luna.


"Waahh bagus, ini semua buat Luna?" Suara bahagia terdengar jelas di telingaku.


"Iya sayang, ini buat Luna" Jawabku.


"Makasih ya Tante, Tante baik sekali. Luna aja nggak pernah di beliin baju sama ibu"


"Iya sayang, sama-sama. Cium dulu dong" Aku dekatkan pipiku, memudahkan nya untuk menciumku. Luna pun menciumku, tidak hanya satu pipi saja. tapi kedua pipiku juga merasakan ciumannya. Bahkan kening dan hidungku pun di ciumnya.


"Ayo mandi dulu, mau di mandiin atau mandi sendiri?" Tanyaku.

__ADS_1


"Mandi sendiri, tapi Luna pingin keramas, biasanya kalau keramas ibu yang ngeramasin" Ucapnya.


"Ya sudah, ayo Tante mandiin ya biar bersih" Aku pun membawanya ke kamar mandi.


Setelah itu Aku mengganti pakaiannya dengan yang baru. "Mau pakai baju yang mana dulu nih, mau yang kuning atau yang hijau?" Tanyaku.


"Eemmm... yang hijau" Jawabnya.


Aku membantunya memakai baju. Menyisir rambut basahnya, dan juga memakaikan bedak untuknya.


"Hmmm... udah wangi" Aku hirup udara yang ada di depannya, dia pun tertawa melihat tingkahku.


"Oke... sudah selesai. Luna udah cantik, udah harum. Kita keluar yuk. Kita temui om Arka" Ajakku. Luna pun menurut.


Baru saja mau keluar kamar, Arka sudah menghampiriku. Sudah dengan pakaian kantornya yang rapi.


"Luna udah mandi ya, cantik sekali" Puji Arka saat melihat Luna.


"Sayang, kamu mau berangkat sekarang?" Tanyaku


"Iya, ini sudah telat banget. Aku langsung berangkat ya"


"Nggak sarapan dulu?"


"Nggak usah deh. Nanti saja kalau sempat."


"Aku antar sampai depan ya" Arka mengangguk.


Aku biarkan Arka mengobrol dengan Luna, sesekali mereka bercanda dan tertawa. Entah apa yang mereka bicarakan, yang jelas aku melihat rona bahagia di wajah mereka. Bahkan saat akan menuruni tangga, Arka memberikan tas kerjanya padaku. Dia langsung mengangkat tubuh Luna untuk di gendong. Mereka masih saling bercanda.


Pikiranku seperti melayang saat melihat Arka begitu peduli sama Luna. Senyumku mengembang dengan sendirinya. Aku membayangkan seandainya aku sudah mempunyai anak, mungkin bahagia yang aku rasakan akan melebihi dari ini. Bercanda setiap saat dengan anak dan suami.


Wajar saja jika Arka menginginkan kehadiran seorang anak. Ternyata bahagianya tidak bisa di ungkapkan dengan apapun. Kehadiran Luna mampu mengubah cara berfikir ku.


"Sayang, aku berangkat dulu ya. Jangan lupa minum obat. Nanti kalau pekerjaan beres aku segera pulang. Kalau ada apa-apa hubungi aku langsung ya"


"iya sayang."


Seperti biasa saat berpamitan aku cium tangannya, Arka mencium keningku.


"om berangkat kerja dulu, jagain Tante ya.." Arka mengacak puncak kepala Luna. Luna pun mengangguk.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam ...Hati-hati ya sayang" Arka melambaikan tangannya. Setelah mobilnya menghilang dari pandangan, aku dan luna kembali masuk ke rumah.


"Kita sarapan dulu yuk, habis itu kita istirahat ya. Kan Luna belum tidur"


"Iya Tante, tapi temani Luna ya"


"Iya sayang" Jawabku

__ADS_1


Aku mengajak Luna untuk sarapan bersama. Mamah sudah menunggu di meja makan. Ternyata Mamah juga menyambut baik kehadiran Luna, meskipun di awal pertemuan mamah sempat terkejut dengan kehadirannya. Aku bisa melihat dari cara mamah saat berbicara dengan Luna, bahkan mamah juga mengambilkan makanan yang di inginkan Luna. Sudah seperti nenek dengan cucunya. Senyuman bahagia kembali mengembang di sudut bibirku.


Bersambung...


__ADS_2