
Waktu begitu cepat berlalu, aku melirik jam yang ada di sudut ruang tamu, jarum pendeknya mendekati angka satu.
Kalau sebelum nikah jam segini masih dianggap sore. Tapi sekarang bagiku ini sudah larut malam. Mau nyuruh mereka pulang juga nggak enak, kalau nggak di suruh pulang aku merasa nggak enak juga sama Arka.
"Ini sudah malam, kalian nginap sini aja ya" Pintaku di sela candaan mereka.
"Nggak usah deh Ca, Gue pulang aja. Jenuh juga disini, sekarang suguhannya cuma jus jeruk, emang lu nggak punya stok bir gitu?" Tanya Joy.
"Sssstt... jangan keras-keras ngomongnya nanti bisa di dengar mertuaku" aku tempelkan jari telunjuk di bibirku.
"Ups sorry" Seketika Joy membekap mulutnya dengan telapak tangan.
"Ya udahlah kita pulang aja yuk, kasian tuh abangnya di kamar dah nungguin, tadi kan udah gagal sampai dua kali, masa iya yang ketiga gagal juga" Ledek Firna yang di sambut tawa oleh Alda dan Joy.
Aku pun malu, bodohnya aku tak seharusnya tadi aku menceritakan yang terjadi sama mereka. Sekarang malah aku jadi bahan ledekan mereka. Tapi ya sudahlah, sudah terlanjur mau gimana lagi.
"Sudahlah kalian pulang aja, panas telingaku dengar ledekan kalian" Ucapku sambil menutup telinga dengan kedua tanganku.
"Iya.. iya.. tuan rumahnya galak kita di usir guys." Alda mengambil handbag yang di letakkan di sampingnya.
"Ya udah ya kita pamit dulu" Seru Joy. Dan aku pun memeluk mereka satu persatu dan say goodbye.
Aku mengantar mereka sampai gerbang, karna aku harus menguncinya setelah mereka pergi.
Setelah memastikan pintu gerbang terkunci, aku kembali memasuki rumah, dan mengunci pintu ruang tamu. Mematikan lampu yang ada di ruang tamu. Saat akan mematikan lampu di ruang tengah aku terkejut melihat Arka yang sedang duduk santai di sofa.
"Sayang, kok kamu disini?" Tanyaku sambil berjalan menuju table kitchen. Mengambil segelas air putih dan meneguknya.
"Nungguin kamu" Jawabnya.
"Sejak kapan?" Karna aku takut dia mendengar semua candaan ku dengan teman-temanku.
"Sejak kamu bergabung dengan mereka" .
Deg, gelas yang aku pegang hampir saja merosot. Dengan sigap aku kembali mengeratkan genggamanku.
Aku terdiam mendengar jawabannya. Jangan-jangan dia mendengar semua pembicaraanku sama teman-temanku.
"Berarti kamu... ?" Ucapanku terhenti tidak berani melanjutkan lagi. Rasa malu dan takut campur jadi satu.
"iya aku dengar semuanya, kamu membicarakan ku sama mereka." Arka melanjutkan kalimat yang ingin aku ucapkan.
Matilah aku, aku harus bagaimana ini. Betapa bodohnya aku ini. Tak bisa berkata-kata lagi.
"Sayang, aku minta maaf" Lirihku.
"Kenapa wajah kamu berubah pucat gitu,Jadi benar kamu membicarakan aku dengan mereka?" Tanya dia lagi.
Bagaimana sih Arka ini, padahal dia bilang dengar semuanya, tapi kenapa balik tanya lagi sih. Aku jadi salah tingkah. Apa iya wajahku jadi pucat karena kebingungan.
Lama hanya diam saja, akhirnya aku mengangguk perlahan.
"Hahahaha.... Padahal aku cuma asal nebak aja. Tapi kamu kena juga" Aku memandang Arka yang masih tertawa.
Apa sih maunya nih orang. Sengaja ngerjain aku atau gimana. Karena jengkel aku letakkan gelas di atas meja dengan kasar, sampai air yang tersisa di dalamnya sedikit muncrat.
"Nggak lucu" Ucapku kasar saat melewatinya.
Arka menghentikan tawanya saat sadar aku sedang marah.
"Sayang,tunggu. Aku cuma bercanda. Jangan marah dong" Seru Arka.
Dia bangun dari duduknya dan berusaha mengejarku. Tapi aku tak menghiraukannya. Rasanya tenggorokanku mencekat karena menahan emosi.
Sampai di tangga Arka berhasil meraih tanganku. Tapi aku menepisnya dengan kasar. Aku melanjutkan jalanku menuju kamar.
Aku ambil bantal dan guling yang ada di ranjang. Aku lemparkan ke sofa.
__ADS_1
"Kamu tidur disana" Teriakku padanya.
Aku tidak bisa mengontrol suaraku.
Arka menghampiriku, membujukku agar memaafkannya. Aku semakin gusar, menahan amarah yang bercampur tangis, yang menyebabkan tenggorokanku semakin mencekat. Nafasku tersengal.
"sayang, maafkan aku. Tadi aku hanya bercanda. Aku beneran nggak tau kalau kamu membicarakan ku. Aku nggak marah kok meskipun kamu membicarakan ku. Maafin aku ya"
Arka berusaha memelukku. Tapi aku terus mendorongnya dengan sekuat tenaga.
"Kamu jahat tau. Kamu nggak tau rasanya kayak gimana, aku malu, aku bingung, aku takut. Semua campur aduk jadi satu. Kamu bilang itu hanya bercanda. Kamu keterlaluan" Tangisku pun pecah.
Arka kembali berusaha untuk memelukku, aku memberontak lagi, tapi dia semakin bersikeras sampai aku nggak sanggup lagi memberontak.
Aku biarkan dia memelukku dan menciumi puncak kepalaku.
"Maafkan aku...maafkan aku" Ucapnya berulang-ulang. Aku terus terisak tanpa membalas pelukannya.
Agak lama aku berada dalam pelukannya. Setelah Isak Tangisku sedikit mereda perlahan aku dorong tubuhnya agar sedikit menjauh.
"Aku mau tidur" Lirihku hampir tak bersuara.
"Aku temani ya" Pintanya.
Aku hanya menggeleng saja. Aku rebahkan tubuhku perlahan di ranjang. Aku tarik selimut agar menutupi tubuhku. Arka masih berdiri di sisi ranjang, memperhatikanku. Aku miringkan tubuhku, membelakanginya.
Sesaat kemudian, aku rasakan tangannya menyentuh kepalaku, di usapnya perlahan. Lalu di kecupnya sisi kepalaku, agak lama dia mengecupnya. Aku memejamkan mataku, mencoba untuk merasakan kehangatannya.
"Maafkan aku" Lirihnya, masih terdengar ucapan maaf darinya.
Kenapa aku harus semarah ini sama suamiku. Padahal jelas-jelas aku yang salah, dan dia juga sudah berusaha minta maaf. Kenapa aku bersikap seperti ini sih.
Sayang maafkan aku
Nggak seharusnya aku bersikap seperti ini sama kamu
-Ucapku dalam hati.
Aku mendengar langkah kakinya menjauh dariku. Kemudian lampu kamar yang terang di matikan, berganti lampu tidur yang redup.
Tidak lama kemudian, aku telah terlelap. Hanyut ke alam mimpi....
Aku mengerjapkan mataku. Tapi rasa kantuk masih bergelayut di mataku. Tanganku meraba-raba meja kecil yang ada di samping ranjang, berusaha mencari handphone ku. Saat mendapatkannya, aku tekan tombol power nya agar layarnya menyala.
Hanya sekedar melihat jam saja, angka yang tertulis pukul tiga dua puluh menit. Jelas saja mataku masih berat karna aku baru tidur sebentar saja. Aku melirik ke sebelahku, tempat biasanya Arka tidur. Kosong, aku baru teringat kalau aku menyuruhnya tidur di sofa.
Aku arahkan mataku ke sofa, meskipun minim cahaya, tapi aku bisa melihat Arka terbaring disana.
Aku singkap selimutku, dan berjalan menghampirinya. Arka tidur menghadap ke sandaran sofa , itu artinya posisinya saat ini membelakangiku.
Aku berbaring di sampingnya secara perlahan. Aku selipkan tanganku di bawah lengannya. aku peluk dia dari belakang. Menciumi punggungnya berulang-ulang. Dia mulai bergerak, karena merasa terganggu denganku.
Dia membalas dekapan tanganku di dadanya. Digenggamnya tanganku dan di ciuminya.
"Maafkan aku ya" Lirihku.
Dengan susah payah Arka membalikkan tubuhnya menghadap ke arahku. Di singkapnya rambut yang menutupi sebagian wajahku. Kecupan hangat Ku rasakan di keningku.
Arka kembali memelukku, cukup erat bahkan sangat erat sampai menyulitkanku untuk bernafas. Tapi aku merasa sangat nyaman dengan pelukan ini.
Aku tenggelamkan wajahku ke dada bidangnya yang polos tanpa baju. Aroma khas tubuhnya yang aku suka mampu menenangkan pikiranku.
"Kenapa kamu tidur disini?" Rengekku.
"Kan kamu yang minta" Jawab Arka .
"Maaf ya aku terlalu emosi sampai nggak bisa kontrol diri" ucapku penuh penyesalan.
__ADS_1
Arka mengangguk dan tetap memelukku dengan erat. Mataku masih sangat berat menahan rasa kantuk.
"Aku tidur sini ya" pintaku.
"Tidurlah" Arka kembali mencium keningku.
Tak lama kemudian nafasnya terasa berat dan pelukannya sedikit merenggang. Sepertinya dia sudah terlelap. Karna sama-sama tidur hanya sebentar. Aku pun memejamkan mataku dalam pelukannya. Dan terlelap...
Saat aku membuka mata Arka sudah tidak ada di sampingku. Aku edarkan pandanganku mengelilingi setiap sudut kamarku tapi tidak aku lihat bayangannya.
Aku duduk bersila di sofa, masih dengan selimut yang menutupi kaki. Tersaji semangkuk salad di meja yang ada di depanku berdampingan dengan segelas air putih. Ada secarik kertas kecil yang bertengger di gelas. Aku meraihnya.
Maaf aku pergi mengantar Rani ke stasiun.
Aku tidak mau mengganggu tidur nyenyakmu.
Jangan lupa di makan ya.
Isi pesan di kertas itu. Aku lupa kalau pagi ini Arka pergi ngantar Rani. Aku menoleh ke jam dinding yang ada di belakangku. Jam sepuluh lewat. Aku meneguk air minum itu sampai tinggal setengah gelas. Lalu menyuapkan sepotong buah ke mulutku.
Berjalan menuju meja kecil tempat aku letakkan handphone ku semalam. Aku buka layarnya dan aku cari kontaknya.
Ups, aku tepuk jidatku. Aku bahkan tidak menyimpan nomernya. Kembali aku letakkan handphone ku di atas meja. Kembali duduk di sofa menghadap semangkok salad.
Dengan rasa malas, aku menyuapkan salad itu ke mulutku. Sampai tersisa sedikit, aku sudahi makanku, dan meneguk sisa air di gelas sampai habis.
Aku berjalan keluar kamar dengan membawa nampan yang berisi mangkok salad dan gelas kosong. Rumah tampak sepi sekali. Mungkin akan seperti inilah kalau di tinggal Arka kerja, dan mamah kembali ke kampung. Ingin nangis rasanya membayangkan itu semua.
Aku bawa mangkok kotor itu ke tempat cucian piring. Aku cuci perlahan. Setelah selesai aku letakkan di rak tempatnya masing-masing. Sekarang aku sudah tahu ya guys tempat peralatan dapur. Tidak seperti waktu pertama kali tinggal disini.
Aku berjalan dan duduk di sofa ruang tengah untuk menonton acara TV. Aku pindahkan channel-nya untuk mencari acara yang bagus. Tapi yang ada hanya berita saja.
Perampokan terjadi di siang hari. Di saat sang suami bekerja di pabrik miliknya, sedangkan sang istri sedang terlelap di kamar. Karena tidak ingin di ketahui aksinya, para perampok itu membunuh sang istri dengan menusuk di bagian perut hingga tewas.
Langsung aku matikan siaran TV nya. Terdengar sangat menakutkan sekali berita itu. Aku letakkan kembali remote di atas meja. Aku berpindah ke meja makan untuk mengambil minum. Keringat dingin keluar dari tubuhku. Aku segera meneguk air sampai habis. Aku letakkan gelas kosong itu di meja. Dan tiba-tiba ada yang menepuk pundakku dari belakang, tanpa menoleh aku langsung histeris ....
"Hhhaaaahh" Aku berteriak sekencangnya dan menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
"Sayang, sadar , sayang kamu kenapa?" Suara yang sangat aku kenal. Suara Arka. Dia mencoba menyadarkan aku dengan mengguncangkan bahuku.
Aku langsung menghambur ke pelukannya.
"Aku takut"
"Takut kenapa, aku ada disini. Jangan takut" Arka mendekapku dengan erat. Aroma tubuhnya lagi-lagi membuatku merasa tenang.
Arka menarik kursi dan membimbingku agar duduk. Arka juga menarik kursi di sampingku.
"Coba cerita, ada apa sama kamu. Sampai kamu ketakutan begini. Hmm"
"Tadi aku nonton TV, trus acaranya berita perampokan dan pembunuhan. Karna takut langsung aku matikan dan aku ambil minum biar sedikit tenang. Malah kamu ngagetin aku, aku kira kamu perampoknya. Habisnya kamu datang nggak bilang-bilang." Aku pun menceritakan pada Arka tentang ketakutanku.
"Tadi aku sudah ngucap salam lho, tapi kamunya diam saja. Makanya aku pegang pundak kamu" Arka menjelaskan.
Rasa takut itu benar-benar menjalar ke otakku.
Bagaimana kalau aku di tinggal sendirian.
Bagaimana kalau ada rampok datang.
Bagaimana kalau nggak ada yang nolong.
Bagaimana kalau.....
Sungguh kacau pikiranku.
__ADS_1
Bersambung...........