Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
persiapan pindah rumah


__ADS_3

Aku membuka mataku perlahan. Aku meraba selimut yang menutupi tubuhku sampai batas dada. Ingatanku tertuju pada kejadian beberapa saat lalu. Aku menoleh ke sampingku, Arka sudah tidak ada. Sebelum terlelap Arka masih ada di sampingku. Kemana dia.


Aku kembali memejamkan mata, tapi tidak untuk tidur. Aku tersenyum sendiri mengingat apa yang terjadi antara aku dan Arka. Kejadian saat aku melepas keperawananku. Begitu pula dengan Arka, untuk pertama kalinya dia melepas gelar perjakanya.


Saat pikiranku berjalan mundur kebelakang, terdengar suara pintu kamar yang terbuka secara perlahan.


"Sudah bangun?" Sapa Arka


"Iya baru saja , Jam berapa sekarang?" Tanyaku padanya.


"Jam empat, mandi sana bersihkan diri dulu, terus kita makan. Aku sudah beli makanan" Ucap Arka. Aku mengangguk.


Aku lilitkan selimut yang aku pakai untuk menutupi tubuhku. Saat aku menarik selimut, benar saja yang di katakan Arka. Aku melihat ada bercak darah di sprei. Aku terdiam sejenak. Mungkin itu yang dinamakan darah keperawanan.


"Biar aku saja yang membersihkannya. Kamu mandi saja dulu ya." Arka menghampiriku dan menyentuh lenganku, agar aku segera membersihkan diri. Aku pun mengangguk.


Setelah mandi aku segera ke kamar. Ranjang sudah kembali rapi, dengan sprei yang sudah di ganti baru oleh Arka. Tapi aku tak menemukan Arka di kamar ini. Aku putuskan untuk mencarinya di luar kamar.


Saat akan menuruni tangga, terdengar sayup-sayup orang berbicara, aku terus menuruni tangga untuk mencari sumber suara itu. Suara itu terdengar semakin jelas, itu suara Arka. Dimana dia, pikirku.


"Sayaaanggg, kamu dimana?" Aku berteriak memanggilnya.


Tak lama kemudian Arka keluar dari dapur dengan melambaikan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya sedang memegang ponsel yang di tempelkan di telinganya.


Aku menghampirinya. Dan mendekatkan tubuhku ke tubuhnya. "Aku lapar" Bisikku, karna dia masih menelpon seseorang.


"Ya sudah Mamah hati-hati ya. Aa' tutup telponnya dulu ya. Assalamualaikum" Arka pun mematikan ponselnya dan meletakkan di atas meja dapur.


Arka mendekapku, dan merapikan rambutku yang sedikit menutupi sebagian wajahku.


"Aku lapar" Aku ulangi perkataan ku, dan mulai merengek seperti anak kecil.


"Ya sudah ayo makan, itu sudah aku siapkan" Ucap Arka sambil menunjuk ke arah meja makan. Kami pun berjalan menuju meja makan. Arka menarik kursi untukku, dan dia juga menarik kursi di sebelahku untuk dia duduki.


"Mau makan sama apa? Ini ada rawon, ada rendang, ada ayam bakar juga. Mau yang mana ?" Arka menyebutkan makanan yang tersaji di hadapanku.


"Mau coba rawonnya" jawabku. Arka mengambilkan mangkok dan mengisinya dengan kuah rawon. Lalu di serahkannya mangkok itu padaku.


Aku mulai menyuapkan makananku ke dalam mulutku. Dan mencoba menikmatinya.


"Hemmm enak banget rasanya" Ucapku


"Kamu suka?" Tanya Arka, aku mengangguk berulang-ulang dengan ritme yang cepat.


"Enak, beli di mana nih?" Tanyaku


"Di warung dekat pos security" Jawab Arka sambil menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Sayang, tadi yang ngobrol sama kamu siapa? Ibumu ya?" Tanyaku pada Arka.


"Iya, itu mamah. Mamah bilang mau datang dan sekarang masih di perjalanan." Jawab Arka.


"Kita tunggu disini atau di rumah papa?"


"Kita disini saja ya, lagian bentar lagi papa dan mama kamu juga mau kesini kok, daripada bolak balik mending disini saja."


"Sebelum mereka datang, kita keluar bentar ya?" pintaku


"Kemana?" Tanya Arka.

__ADS_1


"Beli baju dulu, soalnya disini kan nggak ada baju ganti."


"Nggak perlu , aku sudah pesan sama mbok Imah biar di bawakan kesini." Ucap Arka.


"Emangnya mbok Imah mau kesini juga?" Tanyaku lagi. Arka hanya menjawabnya dengan anggukan karna di mulutnya sedang penuh dengan makanan.


Aku meneguk segelas air putih yang tersaji di hadapanku dan menghabiskannya.


"Oh iya sayang, untuk acara besok sepertinya kamu perlu beli baju baru deh. Soalnya tadi aku nyuruh mbok Imah nyari baju di lemari kamu, tapi nggak ada satu baju pun yang cocok buat acara besok." Ucap Arka setelah menghabiskan makanannya.


"Tenang aja aku ada kok baju baru, yang cocok buat acara besok. Nanti deh aku yang bilang sama mbok Imah biar di ambilin." Ucapku pada Arka.


"Ya sudah kalau gitu." Arka berdiri dan membereskan peralatan makan yang kami gunakan tadi.


Beberapa saat kemudian ponselku berdering, aku lirik layar ponselku. Tertulis nama papa. Lalu aku geser tombol warna hijau.


"Iya pa, ada apa?" Ucapku saat mengangkat panggilan telepon.


"Papa sudah di depan nih, bukain gerbangnya ya" Ucap papa.


"Iya pa, tunggu bentar ya" Aku langsung mematikan panggilan teleponnya.


"Sayang mau kemana" Teriak Arka dari dapur ketika mengetahui aku melangkah ke ruang tengah.


"Papa di depan." Aku pun menjawab dengan teriakan juga.


Aku mengambil kunci gerbang yang tadi Arka letakkan di meja ruang tamu. Aku berlari menuju gerbang. Jarak antara rumah dengan gerbang lumayan jauh. Sampai membuat nafasku ngos-ngosan.


Gerbang terbuka dan mobil papa memasuki halaman rumah. Ternyata tidak hanya mobil papa saja. Ada mobil mama dan juga ada 3 mobil box yang mengikuti di belakangnya. Setelah semua mobil masuk, aku kembali menutup pintu gerbang tanpa menguncinya lagi.


Aku menghampiri papa yang baru keluar dari mobil diikuti mama juga. Sedangkan Mbok Imah keluar dari mobil mama.


"Ma, ini kok ada mobil box kesini?" Tanyaku dengan rasa bingung.


Arka keluar dari rumah kemudian menghampiri kami yang masih ngobrol di garasi.


"Arka, apa kamu sudah urus yang disini." papa bertanya pada Arka.


"Sudah pa, tadi sudah bilang sama ketua RT disini. Dan Ketua RT yang membantunya. Malah di tawarin pakai tenda. Soalnya disini ada tenda khusus buat melayani warga disini" Jawab Arka.


Aku nggak tau apa yang mereka rencanakan buat acara besok. Aku tidak mempedulikannya. Karna aku adalah orang yang cukup cuek dengan hal seperti ini.


Papa dan Arka terus berbincang. Sedangkan mama sibuk dengan urusan makanan dan minuman yang dibawanya menggunakan tiga mobil box.


Aku menghampiri mbok Imah yang juga sibuk mengeluarkan barang-barang dari mobil mama.


"Mbok, bajuku di bawain nggak ya?" Tanyaku


"Bawa kok non, sebentar ya non mbok keluarin dulu semuanya, sepertinya ada di tumpukan bawah" Jawab mbok Imah.


"Iya mbok" Aku mengangguk.


Aku menghampiri Arka yang berjalan berdampingan dengan papa. Dia masih berbincang dengan papa. Aku melingkarkan tanganku di lengan kirinya. Tangan kanannya mengusap punggung tanganku sekilas dan menatap wajahku sebentar aku pun membalas tatapannya dengan senyuman.


Tak lama kemudian mbok Imah menghampiriku. "Non, ini baju gantinya" Sambil menyerahkan sebuah kantong padaku. Aku pun menerimanya dan melihat sekilas isinya.


"Ya ampun tadi aku lupa bilang suruh bawain baju buat acara besok" Kataku sambil menepuk jidatku.


"Ya sudah, besok beli saja, gimana?" Ucap Arka sambil mengusap ujung kepalaku. Aku pun mengangguk.

__ADS_1


"Besok kan mbok masih kesini lagi, biar besok pagi mbok yang antar kesini ya non." Tawar mbok Imah.


"Nggak usah dah mbok, biar beli aja" Jawabku


Aku juga merasa sudah lama tidak pergi belanja selama menikah. Sebelum menikah hampir tiap hari aku pergi ke mall sama temanku, sekedar menghabiskan uang pemberian papa dan mama untuk beli baju, tas ataupun sepatu. Tanpa bekerja pun aku masih bisa menikmati hidupku.


Meskipun papa dan mama orang yang sangat sibuk, tapi papa dan mama selalu memanjakanku dengan menuruti semua permintaanku, termasuk menghabiskan uang mereka.


"Sayang, aku ke atas dulu ya mau ganti baju" Pamitku pada Arka. Arka mengangguk.


"Pa, aku tinggal dulu ya" aku juga berpamitan pada papa.


"Lho gimana ini, ada tamu bukannya di buatkan kopi dulu, malah main pergi saja" Celetuk papa sambil tertawa.


"Nanti biar mbok Imah yang bikin pa" jawabku


"Tapi Mbok Imah juga tamu di rumah ini sayang, kenapa malah di suruh buatin minum" Tiba-tiba mama datang dan ikut menyela obrolan kami. Arka hanya tersenyum melihat aku merasa di terpojok dengan ucapan papa dan mama.


"Ya sudah, kamu ganti baju saja, biar aku yang buatin minum." Ucap Arka membelaku. Aku pun tertawa merasa senang karena ada yang membela.


"Jangan terlalu di manjain istrimu ini, mau sampai kapan bergantung pada orang lain, biarkan dia belajar mandiri" Ucap mama lagi.


"Iya ma, semua butuh proses. Lagipula saya sebagai suaminya bisa kok menerima kekurangannya" Ucapan Arka begitu jelas membelaku.


"Ya terserah kamu saja, tapi jangan keterusan kayak gini. Ajarin dia jadi istri yang baik biar bisa urus rumah tangga dengan benar." Ucap mama lagi.


"Lagian mama ini apaan sih ma, anak sendiri kok di tindas kayak gini. Biasanya tuh ma, mertua yang kejam sama menantu perempuannya, ini malah anak perempuannya yang di tindas." Ucapku dengan cemberut.


"Sayang sudah. Sana dah ke kamar katanya mau ganti baju." Ucap Arka yang tidak membiarkan aku terus berdebat dengan mama.


Aku pun berjalan pergi meninggalkannya yang melanjutkan berbincang dengan papa dan mama.


Aku pergi ke kamarku, aku lempar kantong yang mbok Imah berikan padaku ke atas ranjang. Aku meraih tas kecilku, mencari rokok mentol yang sekarang sudah jarang aku hisap.


Aku bawa rokok itu ke balkon, Aku sulut rokok itu dan mulai menghisapnya perlahan. aku hembuskan asapnya secara kasar. Aku lakukan berulang-ulang. Sampai setengah batang, Aku biarkan abunya sampai panjang di ujung rokokku.


Ada bayangan menghampiriku., aku tak menolehnya karna aku tau itu adalah bayangan Arka. Arka menyodorkan asbak di hadapanku.


Arka mengambil kursi kecil dan duduk di sampingku, memperhatikanku yang sedang merokok.


"Kenapa melihatku seperti itu, kamu mau ini? ambil saja" Aku sodorkan rokok di hadapannya. Arka menerimanya tapi di letakkan kembali di meja.


"Maaf, aku nggak merokok" Ucap Arka.


"Oh"


Kami terdiam sejenak. Arka meraih tangan kiriku. Dan mengusap punggung tanganku perlahan.


"Sayang, ucapan mama jangan di ambil hati ya, maksud mama itu baik kok" Ucap Arka


"Ya aku tau" Aku mematikan rokokku dengan menekan ujung rokok di asbak.


Aku sandarkan kepalaku pada sandaran kursi. Menatap jauh ke langit yang tampak cerah berbintang. Arka masih menggenggam tanganku.


"Sayang, bentar lagi turun ya. Mamahku sudah mau sampai." Ucap Arka dengan lembut.


Aku pun menatapnya. diam sejenak dan aku pun mengangguk di sertai dengan senyuman.


Arka mengusap puncak kepalaku. "Makasih ya sayang" Dan bibirnya mengecup keningku.

__ADS_1


"Aku mau ganti baju dulu ya" Ucapku pada Arka.


Aku berdiri dan masuk ke dalam kamar. Mengambil kantong yang tadi sempat aku lempar ke ranjang. Memilih beberapa pakaian yang nyaman aku pakai malam ini.


__ADS_2