
"Sayang, ini masih pagi, kenapa kamu buru-buru berangkat?" Tanyaku saat melihat Arka mengancingkan kemejanya.
"Ada meeting sama direksi pagi ini dan tempatnya juga lumayan jauh dari sini. Biar nggak terlambat aja" Ucap Arka.
Padahal baru aja selesai sholat subuh. Dan di luar juga masih gelap. Tapi Arka sudah begitu rapi.
"Maaf ya sayang, aku nggak bisa nemani kamu sarapan lagi." Ucapnya. Arka mengelus pipiku dengan lembut.
"Iya nggak apa-apa" senyum manis aku kembangkan di sudut bibirku.
"Aku langsung berangkat ya" Pamitnya. Aku mengangguk dan kembali menyunggingkan senyum di bibirku.
Aku mengantarnya sampai di pintu kamar. Setelah dia pergi segera aku tutup pintu kamar. Dan kembali merebahkan tubuhku di kasur. Mataku terasa mengantuk. Bagaimana tidak. Semalam aku dan Arka masih sempat melakukan hubungan intim sebelum tidur. Meskipun dalam keadaan lelah sebisa mungkin aku harus tetap melayani suamiku.
Meskipun mata mengantuk tapi sulit sekali untuk terlelap. Membuat pikiranku berlari kesana kemari. Aku memikirkan mamah mertuaku, memikirkan mamaku sendiri, bahkan aku juga memikirkan suamiku yang sedang dalam perjalanan kerja. Baru saja di tinggalkannya tapi aku sudah merindukannya.
Memang terasa aneh, aku jatuh cinta pada suamiku sendiri. Padahal ini bukan yang pertama kali aku jatuh cinta pada lelaki. Tapi setiap aku dekat dengan Arka aku merasa ada yang aneh dengan diriku. Kadang salah tingkah, kadang merasa malu, dan yang pasti jantungku selalu berdebar.
Aku ambil handphone yang aku letakkan di , meja samping ranjang. Aku buka galeri fotoku aku perhatikan foto-foto ku bersama dengan Arka dan Luna. Seperti keluarga kecil yang sangat berbahagia.
Aku elus lembut permukaan perutku.
"Segeralah hadir di dalam perut ini, agar semakin lengkap keluarga ini" Gumamku lalu tersenyum.
Aku lanjutkan lagi melihat-lihat galeri fotoku. Ada juga video yang direkam oleh Luna. Anak itu memang jahil banget. Tapi bagus juga sih jadinya aku bisa mengenang hari-hari bahagia bersama mereka. Melihat video itu tanpa aku sadari aku tertawa sendiri. Seketika merasa kangen kebersamaan dengan Luna. Dan juga kangen sama suamiku sendiri.
Tanpa menunggu lama aku segera menuju kamar mandi dan mengganti pakaianku dengan pakaian yang rapi. Aku akan menemui Arka di kantornya sebelum jam makan siang. Karna aku yakin pasti dia sudah kembali ke kantor sebelum jam makan siang.
Setelah bersiap aku segera berangkat dengan taksi langgananku. Karna tadi saat bersiap aku sudah menghubunginya agar menjemputku di loby hotel. Saat aku sampai di loby ternyata pak sopir sudah menunggu disana.
"Maaf ya pak jadi nunggu" Ucapku saat berhadapan dengannya.
"Bapak baru aja datang neng." Jawabnya dengan senyum khasnya.
"Ya udah pak kita langsung berangkat aja ya. Tapi kita mampir cari sarapan dulu ya. Saya lapar" Ucapku.
"Baik neng"
Taksi pun melaju dengan santai. Jalanan kota Surabaya mulai padat. Tidak jauh beda dengan Jakarta. Macet di jam kerja.
"Neng mau sarapan dimana?" Tanya pak sopir.
"Dimana ya pak yang enak. Terserah bapak saja deh. Saya nggak paham makanan disini" Ucapku.
"Kalau nasi pecel neng mau?" Tanyanya.
"Ehm... boleh deh. Tapi nanti bapak temenin saya sarapan ya" Ucapku.
"Jangan neng, neng aja yang sarapan. Bapak ndak enak kalau nemenin neng sarapan" Ucap bapak sopir dengan malu.
"Kalau bapak nggak mau nemenin saya sarapan saya nggak jadi sarapan." Gerutuku
"Lho kok jadi gini? Nggak boleh gitu dong neng. Neng harus sarapan " pak sopir mulai kebingungan.
"Makanya temenin saya sarapan pak" Ucapku lagi.
"Baiklah kalau gitu nanti bapak ikut sarapan" Jawaban terpaksa keluar dari mulut pak sopir.
__ADS_1
"Yess... gitu dong pak" Ucapku dengan girang.
Taksi terus melaju sampai memasuki area parkir yang cukup ramai sekali. Setelah taksi terparkir dengan rapi kami berdua turun dari taksi dan berjalan menuju rumah makan nasi pecel yang sangat ramai sekali pengunjungnya.
"neng, duduk saja disana biar bapak yang pesan makanannya." Bapak sopir menunjuk meja makan dengan tempat duduk yang hanya beralas karpet hijau, lesehan gitu lah, jadi benar-benar di buat suasana kampung. Belum lagi terdengar musik khas orang Jawa.
"Iya pak. Saya tunggu disana ya" Ucapku.
Aku pun meninggalkan pak sopir yang masih berdiri mengantri. Duduk di tempat yang di tunjuk tadi. Tak lama kemudian datang seseorang menanyakan minuman padaku.
"Lemon tea satu, teh hangatnya satu, sama air mineralnya satu." Ucapku.
"Baik mbak, ditunggu ya" Ucapnya Dan dia langsung pamit pergi setelah mencatat pesanan ku.
Beberapa orang sedang menikmati sarapan dengan lahap disini. Lumayan rame banget mungkin disini salah satu rumah makan yang menyajikan makanan dengan rasa enak atau mungkin karena murah.
Tak lama kemudian pak sopir datang dengan nampan yang dia bawa dengan kedua tangannya.
"Ini neng makanannya." Satu piring nasi pecel dengan pelengkapnya di tambah lagi sepiring lauk sate usus, daging sapi dengan balutan kelapa yang di goreng dan juga telur asin.
Setelah meletakkan makananku, pak sopir kembali mengangkat nampannya.
"Pak, mau kemana? Makan sini aja" Ucapku.
"Mau duduk sebelah sana neng" Jawabnya.
"Sini aja pak. Kita makan bareng." Ajakku lagi. Tanpa menjawab lagi, pak sopir kembali meletakkan nampannya dan dia juga duduk di depanku.
"Bapak ndak enak sendiri kalau makan bareng neng disini. Liat aja neng banyak orang yang liatin." Ucapnya setengah berbisik.
"Udahlah pak jangan hiraukan mereka. Ayo kita makan." Ajakku.
"Hmmm... enak banget rasanya pak. Sepertinya saya harus ajak suami saya kesini lain kali. Biar dia tau kalau makanan disini enak banget." Ucapku.
"Iya neng. Siapa tau aja cocok juga di lidahnya." Jawab pak sopir.
Aku kembali menyantap makananku. Memakan sate usus, telur asin dan juga daging sapi yang di balut kelapa goreng. Rasanya enak semua. Sepertinya aku harus pesan buat di bungkus. Tapi kan untuk makan siang aku berencana makan siang bareng Arka.
"Pak, kalau buat nanti malam bisa nggak ini lauknya pak?" Tanyaku.
"Kalau sate ususnya nggak bisa neng, kayaknya bakal basi. Tapi kalau dendeng sapinya bisa neng. Ini tahan lama karena kering." Jawab pak sopir.
"Saya pesan yang ini saja pak. Buat oleh-oleh suami saya. Jadi bisa pake makan malam." Ucapku.
"Nanti bapak pesankan sama orangnya ya" Ucapnya.
"Iya pak. Habiskan dulu makannya. Kita santai aja pak. Jam makan siang masih lama. Lagipula suami saya masih meeting kok." Ucapku.
"Iya neng"
Setelah menghabiskan makanan kami segera pergi menuju kantor Arka. Tidak sulit pagi pak sopir taksi mencari alamat kantor Arka. Tepat pukul sebelas siang aku berada di lobby kantor. Seorang receptionis menyapaku. Aku mengatakan kalau aku mencari Arka. Receptionis tampak kebingungan sampai melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kenapa mbak, sampai segitunya liatnya. Boleh kan kalau saya nunggu di ruangannya." Ucapku.
" Tapi maaf mbak, pak Arka nya sedang tidak ada di tempat. Beliau sedang keluar" Ucapnya
"Iya saya tau mbak, makanya saya mau nunggu dia di ruangannya. Dimana ruangannya biar saya kesana sendiri"
__ADS_1
"Tapi pak Arka sendiri sudah berpesan kalau tidak boleh seorang pun masuk ke ruangannya tanpa seijin beliau. Jadi mohon maaf saya tidak bisa mengijinkan mbak masuk ke ruangannya. Saya nggak mau ambil resiko mbak karena tidak mematuhi perintah atasan saya"
Aku berpikir sejenak, benar juga yang di katakan receptionis ini. Dia hanya menjalankan tugasnya. Dia bisa kena sanksi kalau tidak patuh. Akhirnya aku mengalah.
"Ya udah kalau gitu saya nunggu di lobby aja." Jawabku sedikit kesal.
"Baik mbak silahkan" Receptionis itu menunjuk kursi tunggu yang tak jauh dari tempatku berdiri.
Aku hempaskan bokongku di sofa dan menyandarkan kepalaku agar sedikit rileks. Aku ambil handphone yang ku simpan di dalam tasku. Aku mainkan beberapa game agar tidak jenuh saat menunggu Arka. Beberapa kali mulutku menguap, mataku mulai mengantuk. Tapi aku berusaha bertahan agar tidak tidur di sofa ini. Aku lanjutkan game yang ada di tanganku.
..........
"Sayang, sayang" Terdengar suara Arka menyebut namaku dan sentuhan lembut tangannya menyentuh pipiku.
"Sayang" Ucapnya lagi.
Dengan berat sekali mataku memaksa untuk terbuka. Dan aku sangat terkejut saat berhasil membuka kedua mataku. Dan aku langsung duduk dengan posisi tegak sempurna.
" Ya ampun, maaf sayang. Aku ketiduran" Aku senyum menahan malu. Aku lihat Monika yang berdiri di samping Arka tersenyum melihatku.
"Kenapa tidur disini, kan kamu bisa nunggu di ruanganku." Ucap Arka
"Maaf pak Arka, tadi saya yang melarang mbak itu masuk ke ruangan pak Arka. Jadi saya menyuruhnya menunggu disini" Receptionis itu ikut bicara.
"Ini istri saya, lain kali kalau dia kesini biarkan dia masuk ke ruangan saya" Ucap Arka.
"Baik pak" Receptionis tadi langsung pergi kembali ke meja kerjanya.
"Sayang, kenapa kamu nggak bilang kalau mau kesini?" Tanya Arka
"Maaf, tadinya aku mau buat kejutan buat kamu. Tapi malah aku yang di kejutkan kayak gini." Aku pun cengengesan sambil menggaruk kepalaku yang nggak gatal.
"Kita ke ruanganku aja ya" Ajak Arka.
"He eh"
Aku pun berjalan berdampingan dengannya. Tanpa malu Arka merangkul pundakku. Tidak mempedulikan beberapa pasang mata yang melihat kami.
"Sayang, jangan gini ah di liatin staf disini" Ucapku
"Biarin aja, biar mereka tau kalau aku punya istri yang cantik banget" Bisik Arka. Mungkin saat ini pipiku sangat merah merona karena pujiannya.
"Kamu ini" Aku pun mencubit kecil pinggangnya dan membuatnya meringis.
Arka membuka sebuah ruangan yang ternyata itu ruang kerjanya. Aku melihat-lihat keadaan sekitar. Foto pernikahanku dengan Arka terpajang rapi di dinding dan sudut meja.
"Kamu pasang foto kita di sini?" Tanyaku.
"Iya, biar aku tidak lelah saat bekerja. Karena dengan melihat foto itu, rasa lelahku lenyap seketika. Dan membuatku lebih bersemangat untuk bekerja."
"Pinter banget ngegombalnya" Ucapku.
"Kok gombal sih, aku nggak ngegombal sayang. Ini kenyataan kok. Kamu tau nggak, kamu itu penghilang lelahku, penghilang badmood ku. Beneran deh" Ucapnya lagi
"Udah ah... gombal terus daritadi"
"Kok kamu nggak percaya sih. Kamu penyemangat ku sayang. Saat aku lelah aku tatap fotomu, dan seketika moodku berubah. Terserah kamu percaya atau enggak. Tapi memang itu kenyataannya." Ucapnya lagi
__ADS_1
"Iya, iya aku percaya. Aku juga tau kok kalau aku tuh orangnya juga ngangenin. Iya kan?" Ucapku menggodanya. Dan Arka mengangguk mengiyakan sambil tersenyum menatapku.