
Sayup-sayup terdengar suara memanggilku. Dan semakin lama suara itu semakin terdengar.
"Sayang, ayo bangun, udah mau Maghrib. Nggak baik tidur di waktu Maghrib" Suara Arka terdengar jelas di samping telingaku.
Aku pun menggeliat dan menatapnya "Jam berapa?" Tanyaku.
"Jam lima. Ayo bangun, sudah mau Maghrib" Arka kembali mengingatkan.
"Iya, ini juga sudah bangun kok. Tapi aku nggak mandi lagi ya. Tadi waktu pulang aku sudah mandi dan langsung tidur. Jadi badanku masih bersih"
"Iya sayang. Sekarang cuci muka terus wudhu ya. Siap-siap sholat Maghrib. Kita sholat ke masjid ya? Bareng papa sama Mama juga"
Aku pun mengangguk setuju dengan ajakannya
"Iya aku mau. Tungguin ya" Aku segera beranjak ke kamar mandi dan mengganti pakaianku.
Arka sudah tidak ada di kamar. Pasti dia sudah menunggu di bawah bersama papa dan mama.
"Ayo sayang kita berangkat" Ajakku saat sudah siap untuk berangkat ke masjid. "Mama sama papa kemana, kok nggak ada?" Aku masih celingukan mencari papa dan mama.
"Papa dan mama sudah berangkat duluan. Kalau nungguin kamu takut terlambat katanya. Tadi mbok Imah juga ikut sama mama"
"Oohh" Bibirku membulat menanggapi ucapan mama.
Kami pun berjalan keluar rumah dan mengunci pintu dari luar. Lalu Arka menyerahkan kunci itu pada security yang berjaga di pintu gerbang. Lalu kami berjalan menyusuri jalanan kompleks yang mulai sepi. mungkin karena sudah mau Maghrib.
"Sayang, tadi setelah arisan kamu pergi ke mana?" Tanya Arka
"Hmm tadi, aku ngajakin mama makan sate maranggi. Satenya enak banget sampai-sampai aku nambah beberapa kali. Baru kali ini aku makan dengan lahap banget" Aku pun mengingat kejadian tadi sore.
"Alhamdulillah kalau kamu bisa makan dengan lahap"
"Katanya tadi kamu pergi mancing, dapat nggak ikannya?" Tanyaku karena mengingat tadi siang Arka pamit untuk menyusul Papa ke kolam pemancingan.
"Dapat dong, dapat 2 kilo. Tadi udah dibersihin sama Mbok Imah. Katanya mau dibuat ikan bakar. Lumayanlah bisa untuk makan besok"
"Kenapa harus besok, kenapa nggak untuk makan nanti malam aja?" Aku kan juga pengen makan lagi. Apa mentang-mentang tadi aku makan banyak, terus nggak boleh makan lagi, gerutuku dalam hati.
"Habis sholat Isya' ada pengajian di masjid, Mbok Imah juga ikut hadir. Makanya nggak ada yang bakarin ikannya. Kita ikut pengajian dulu ya. Lagian nanti di masjid juga ada acara makannya kok. Nanti kalau kamu mau, bisa ikut makan juga. Tapi kalau nggak mau kita bisa makan di luar" Arka menjelaskan padaku.
Terlintas di dalam pikiranku arisan tadi siang. Kumpul-kumpul dengan makanan seabrek. Dan sekarang juga kumpul-kumpul lagi, tapi bedanya ini di masjid . Apa akan sama saja bakal ada berbagai makanan yang akan terbuang sia-sia. Enggak enggak enggak.... aku gelengkan kepalaku dengan cepat.
__ADS_1
"Kamu kenapa?" Tanya Arka yang menyadari tingkah anehku.
"Ah.. aku? nggak apa-apa kok" Sudah pasti aku menjawabnya dengan gugup.
Sampailah kami di halaman masjid. Setelah menaiki anak tangga yang hanya ada empat saja, kami pun terpisah. Aku mengedarkan pandangan untuk mencari sosok mama. Aaahh ternyata cukup sulit. Kebanyakan orang sudah duduk dengan memakai mukenah, sehingga tidak bisa di kenali. Apalagi aku tidak tahu bagaimana motif mukenah mama, berbunga apa hanya polosan saja.
Tak ambil pusing aku segera mengisi shaf yang masih kosong, karena sholat Maghrib akan segera di mulai. Banyaknya orang disini, satupun tak ada yang aku kenal. Jadi aku hanya diam sambil menundukkan kepala. Padahal ini masih satu kompleks, apa ini karena aku tidak pernah berinteraksi dengan mereka... Aahh ternyata hidup bertetangga itu perlu.
Selesai sholat Maghrib sebagian orang sudah mengundurkan diri untuk pulang, tapi masih banyak juga yang memilih untuk tinggal. Sedangkan aku masih seperti orang cengoh, celingak celinguk.
Tiba-tiba ada yang menepuk halus pundakku. Aku pun menoleh "Mama" Pekikku.
"Kamu darimana saja sayang?" Tanya mama tampak bahagia seperti orang yang sudah lama tak jumpa.
"Tadi Caca sholat di sebelah situ ma" Aku pun menunjuk tempatku duduk tadi. "Tadi Caca nyariin mama, tapi bingung, nggak ketemu juga. Jadinya ya sendirian disini." Jelasku
"Pindah duduk disana yuk" Mama menunjuk tempat yang akan kami duduki.
"Ya udah ayok"
Aku dan mama duduk dengan bersandar tembok. Sesekali mama ngobrol dengan orang yang duduk di sampingnya. Bahkan tadi mama juga sempat memperkenalkan aku pada temannya ini.
"Mbok Imah kemana ma? Tadi katanya ikut sama mama?" Tanyaku saat menyadari tidak ada mbok Imah di samping mama.
Setelah sholat Isya' tidak ada satu orang pun yang pulang. Mereka semua siap untuk mengikuti pengajian, begitu pula denganku.
Ternyata mengikuti pengajian tidak seburuk yang aku bayangkan. Bahkan aku kira mendengarkan ceramah itu adalah kegiatan yang membosankan. Ternyata aku salah, aku sangat menikmatinya. Sesekali aku ikut tertawa dikala ustadz itu sedang memberikan contoh yang lucu.
Cara berdakwahnya sungguh menakjubkan, mampu menyihir jamaah yang hadir. Termasuk aku. Padahal Sudah satu jam lebih dia ceramah tapi sama sekali tidak ada rasa membosankan. Malah aku berharap durasinya di tambah lagi. Dakwah yang bertemakan tentang "pengabdian istri"
Setelah ceramah dan sholawatan, acara selanjutnya adalah makan-makan. Semua jamaah yang hadir di minta untuk keluar dari masjid. Dan bisa makan di tempat yang sudah di sediakan yaitu di halaman masjid.
Arka menghampiriku saat aku kebingungan mencari sandalku.
"Cari sandal ya?"
"Iya, tadi aku lepas disini. Tapi sekarang nggak ada. Masa bisa ilang sih" Gerutuku sambil terus mencari.
"Ini lho sayang sandalnya"Arka meletakkan sandal itu tepat di depan kakiku "Tadi aku ambil, terus aku simpan"
"Makasih ya sayang"
__ADS_1
"Iya , sama-sama" Senyum yang manis merekah di bibir Arka. Untung saja ini masih di masjid. Kalau saja bukan di masjid sudah habis tuh bibir aku sikat.
"Arka, papa mana?" Tiba-tiba mama muncul di sampingku. Kehadiran mama menepis pikiran mesumku. Astaga Caca, sadar, ini masjid bisa-bisanya setan meracuni otakmu.
"Itu disana ma, kita duduk disana saja kumpul sama papa" Arka menunjuk ke arah papa yang susah duduk bersila di atas karpet.
"Sayang kamu mau makan apa? Ada gado-gado sama sate Maranggi, mau yang mana?" Tanya Arka memberikan penawaran.
"Emangnya nggak apa-apa kita makan disini?" Tanyaku agak ragu.
"Ya nggak apa-apa lah sayang. Kamu mau ambil sendiri apa aku yang ambilin?" Tanya Arka lagi.
"Aku ambil sendiri saja"
Aku pun mengikuti Arka mengambil makanan di meja yang sudah di sediakan. Makanan yang hanya terdiri dari dua menu ini jumlah nya juga tidak terlalu banyak. Kalau menurutku sih jumlah yang pas untuk jamaah yang hadir disini.
Aku ambil gado-gado yang sudah tersedia di piring hanya tinggal menambahkan sambal saja. Gado-gado siap di santap.
Awalnya aku mengira makanannya sama dengan waktu arisan mama. Akan ada makanan dalam jumlah besar. Ternyata aku salah, disini jumlahnya di sesuaikan jamaah yang hadir. Kalau pun ada lebihnya itu tidak akan lebih dalam jumlah banyak.
"Ini yang mama bawa tadi?" Papa memulai obrolan saat kami sedang makan.
"Iya pa, tadi mama beli waktu Caca minta. Jadi ya sekalian saja beli buat disini" Jelas mama.
"Iya nggak apa-apa ma, biar nambah pahala . Asalkan ikhlas lahir dan batin" Sambung Arka.
"Sayang kalau ada pengajian lagi, aku boleh ikut?" Tanyaku.
"Tentu saja boleh sayang. Aku nggak akan melarang kamu. Itu kegiatan positif jadi aku selalu mengijinkan. Kalau kamu mau, besok aku akan mengikut sertakan kamu di pengajian lingkungan rumah kita"
"Memangnya disana ada juga?" Tanyaku heran.
"Pasti ada sayang. Aku kan juga ikut pengajian disana Tapi khusus bapak-bapak. Khusus ibu-ibu juga ada."
"Kok aku nggak tahu kalau kamu ikut pengajian?"
"Aku kira kamu nggak akan tertarik untuk ikut"
Obrolan berlanjut dengan berbagai topik. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dan kami segera pamit pulang.
"Bu Hendra, terima kasih banyak untuk konsumsinya. Dan semoga di pengajian berikutnya bisa hadir semua seperti sekarang ini" Ucap ibu-ibu yang seumuran dengan mama.
__ADS_1
"Sama-sama Bu Jasmin. Ini kebetulan anak saya nginap di sini, jadi bisa mengikuti pengajian. Kalau nggak nginap ya nggak bisa ngikutin"
Tak lama kemudian kami pun segera pulang. Lelah, iya memang aku lelah tapi aku bahagia. Mendapat tambahan ilmu dari pengajian ini.