
Aku terbangun dari tidurku, karena rasa sakit pada bagian perutku. Sakit yang begitu sulit untuk di ungkapkan dengan kata-kata. Aku lihat tangan Arka melingkar di atas perutku. Aku menoleh ke arahnya, dia tengah tertidur pulas. Tapi rasa sakit yang aku alami bukan karena pelukan dari tangannya. Tapi karena sebab yang lain. Aku perhatikan jarum jam yang menempel di dinding kamarku. Jarumnya mendekati angka dua.
Secara perlahan aku turunkan tangan Arka dari atas perutku dan meletakkannya di atas guling. Dengan sangat hati-hati aku menuruni ranjangku agar tidak membangunkannya. Aku berjalan menuju kamar mandi sambil memegang perutku yang terasa nyeri. Aku tutup pintu kamar mandi dengan rapat, tapi tidak menguncinya karena aku hanya buang air kecil.
Aku terkejut saat melihat ada sedikit bercak merah di celanaku. Aku berpikir sejenak mengingat tanggal saat ini. Benar saja sekarang adalah waktunya aku menstruasi. Kenapa aku bisa lupa dengan tanggalnya, umpatku dalam hati. Gimana ini, aku nggak punya stok pembalut ataupun pereda nyeri. Sedangkan ini masih terlalu malam kalau mau membelinya.
Rasa nyeri di bagian perutku sangat terasa sekali, dan semakin sakit. Aku kenakan kembali celanaku. Dengan menahan nyeri, aku masuk ke dalam bathup yang kering dan meringkuk di dalamnya. Merintih kesakitan, itulah yang aku lakukan sekarang. Hawa dingin terasa menusuk tulangku, tapi aku tidak mempedulikannya. Aku terus mendekap perutku yang semakin terasa sakit.
Tookk
Tookk
Tookk
Terdengar suara ketukan pintu, mulutku terasa kelu untuk menjawabnya.
"Sayang, kamu ngapain di dalam" Suara Arka terdengar samar-samar.
Kembali terdengar suara ketukan pintu. Aku mengabaikannya. Tak peduli dengannya yang terus memanggil namaku. Sampai akhirnya aku mendengar suara knop yang di buka.
"Sayang, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama kamu?" Suara Arka terdengar sangat panik. Arka langsung mengangkat tubuhku keluar dari bathup ini. Tanganku masih mendekap erat perutku.
Arka kembali membaringkan ku di atas ranjang, menutupi tubuhku dengan selimut. Sedangkan dia masih berdiri di samping ranjang sambil menggenggam erat tanganku.
"Sayang, ada apa denganmu?" Suara Arka terdengar sangat lirih.
"Aku sakit perut" Rintihku
"Memangnya kamu habis makan apa, kok sampai sakit kayak gini"
"Aku nggak makan apa-apa, tapi ini nyeri karna aku sedang datang bulan" jawabku sambil meringis menahan sakit.
"Kita ke dokter ya" bujuk Arka.
"Nggak usah. Aku nggak apa-apa" Tolakku.
"Tapi aku nggak tega lihat kamu kesakitan kayak gini. Kita ke dokter sekarang." Arka langsung berdiri dan mengambil pakaian dari dalam lemari.
"Sayang nggak usah, aku nggak apa-apa"
Sama sekali Arka tidak menggubris ucapanku. Dia tetap mengganti pakaian dan juga mengambilkan sweater untukku.
"Sayang nggak usah ke dokter" Ucapku lagi.
"Kali ini dengarkan aku, kamu nurut sama aku, kita ke dokter sekarang" Suaranya tertekan dan terdengar sangat tegas.
Aku tak bisa berkata-kata lagi jika melihat raut wajah Arka yang sudah berubah. Yang bisa aku lakukan hanya diam dan menurut. Arka memakaikan sweater ke tubuhku. Lalu dia mengangkat tubuhku dalam gendongannya. Aku kalungkan kedua tanganku di lehernya. Kepalaku bersandar pada lengannya.
Pelan-pelan Arka berjalan menuruni anak tangga agar tidak menimbulkan suara yang nantinya akan membangunkan seisi rumah.
Pak Hadi yang melihat kami keluar dari rumah, berlari menghampiri. Dengan panik dia menanyakan hal yang terjadi. Tapi dengan perlahan Arka menjelaskan agar tidak perlu khawatir. Raut wajah pak Hadi pun berubah tenang kembali. Dia segera berlari membuka pintu gerbang.
__ADS_1
Arka menurunkanku di samping mobil bagian didepan, membukakan pintu dan menyuruhku untuk duduk. Aku pun masuk ke dalam mobil. Begitu juga dengan Arka, tanpa tunggu lama lagi Arka menginjak pedal gas perlahan sampai keluar gerbang.
Menyusuri jalanan yang sepi di malam hari. Sesekali mobil berhenti di pinggir jalan dan Arka menggeser-geser layar ponselnya. Entah apa yang dia lihat. Setelah itu dia meletakkan kembali ponselnya dengan keadaan tetap menyala dan kembali menginjak pedal gas perlahan.
Aku terus saja mendekap perutku yang masih terasa sakit. Sesekali Arka melirik ke arahku kemudian kembali fokus ke jalanan yang ada di depannya.
"Sayang, kita pulang aja ya. Jam segini praktek dokter masih tutup semua." Ucapku lirih.
"Ini ada klinik dua puluh empat jam, Tunggu sebentar ya. Bentar lagi nyampek kok."
Tak lama kemudian mobil berbelok memasuki area parkir, dan di depan pintu masuk tadi aku sempat baca neon box bertuliskan klinik dua puluh empat jam. Seperti yang di katakan Arka.
"Kamu tunggu sini dulu ya, biar aku ke dalam dulu sebentar. " Ucapnya saat dia mematikan mesin mobil. Aku pun mengangguk. Lalu dia menarik tuas handrem dan berlari menuju klinik.
Tak lama kemudian dia kembali datang menghampiriku. "Sayang, ayo kita kesana, dokternya sudah menunggu di dalam." Ucap Arka.
Arka hendak mengangkat tubuhku "Sayang disini banyak orang. Aku jalan saja, aku bisa kok jalan sendiri" Aku halangi tangannya dengan tanganku.
"Enggak, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Apa peduli dengan mereka yang melihat" Tanpa menunggu jawaban lagi Arka langsung mengangkat tubuhku. Dan menutup pintu mobil.
Saat berjalan di koridor klinik, banyak pasang mata yang melihat kedatangan kami. Semua melihat seolah tidak berkedip. Entah apa yang ada di pikiran mereka.
Seorang perawat menghampiri Arka dengan mendorong kursi roda. Dan perawat tadi menyuruh agar aku di dudukkan di kursi roda.
"Aku turun saja" Bisikku pelan.
Akhirnya Arka bersedia menurunkanku, dan dia mendorong kursi roda menuju ruangan dokter. Sebelum masuk ke ruangan dokter aku meminta Arka menghentikan langkah.
Arka menghentikan dorongan pada kursi rodaku. "Apa masalahnya? Tadi aku sudah tanya ke perawat, di suruh kesini. Lagipula aku sudah ngomong juga sama dokternya. Dokternya sudah nunggu di dalam" Tanpa menunggu jawabanku, Arka kembali mendorong kursi rodaku untuk memasuki ruangan dokter.
Dokter mulai menanyai riwayat nyeri yang aku alami. Lalu melakukan beberapa pemeriksaan. Dokter mengatakan bahwa itu memang hal yang wajar di alami sebagian wanita. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Hanya saja dokter menyarankan untuk lebih memperhatikan pola makan dan pola hidup sehat. Aku menoleh ke arah Arka, raut wajahnya mulai tenang, tidak sepanik tadi.
"Tuh dengerin kata dokter, aku nggak apa-apa, kamu terlalu berlebihan" Ucapku mengejek Arka.
"Aku kan khawatir takut kamu kenapa-napa" Ucap Arka.
"Itu artinya anda seorang suami siaga. Jarang sekali ada suami seperti bapak Arka yang siap siaga. Sikap seperti ini sangat diperlukan, apalagi di saat kehamilan sang istri. Harus selalu mengerti keadaan dan bisa melakukan pertolongan pertama saat di perlukan. Ini kartu nama saya, apabila butuh konsultasi atau tanya jawab, silahkan hubungi saya." Ucap dokter itu sambil menyerahkan kartu namanya pada Arka.
Arka menerima kartu nama itu dan menyimpannya di kantong kemejanya. Setelah selesai membahas beberapa persoalan dokter tadi memberikan selembar resep untukku. Dan kami pun pamit pulang.
" Kuat jalan?" Tanya Arka saat keluar dari ruangan dokter.
"Kuat kok" Terpaksa bohong, karna aku nggak mau di gendong lagi. Malu di lihat banyak orang.
Aku dan Arka pun berjalan berdampingan menyusuri lorong klinik. Tangan Arka melingkar di pundakku. "Sayang, makasih ya kamu sudah peduli sama aku" Ucapku
"Tidak perlu berterima kasih. Ini sudah jadi kewajibanku sebagai seorang suami. Yang akan menjagamu saat kamu sakit" Ucapnya lirih.
Mataku berkaca mendengar ucapannya. Beruntungnya aku mempunyai suami seperti Arka. Yang selalu ada buatku.
"Sayang, kamu tunggu sini dulu ya, aku mau ambil obatnya dulu disana." Aku pun mengangguk. Arka menyuruhku duduk di ruang tunggu. Sedangkan dia sedang mengantri untuk mengambil obat di apotek yang ada di klinik ini.
__ADS_1
Dari agak jauh aku melihat seorang anak kecil sedang memangku adiknya yang masih bayi. Anak itu tampak lelah dan mengantuk, matanya merah, dan sesekali dia mengerjapkan matanya agar tidak tertidur. Hatiku terenyuh melihat pemandangan ini. Aku lupakan sakitku, dan menghampiri anak kecil itu.
"Sayang, kamu sama siapa disini?" Tanyaku lembut padanya.
"Sama ibu" Jawab anak itu lirih
"Mana ibunya?"
"Itu disana" Anak itu menunjuk ke arah seorang perempuan berhijab yang sedang berbicara dengan seorang perawat.
"Siapa yang sakit?" Tanyaku lagi.
"Adik.." Anak itu tidak lagi melanjutkan kata-katanya. Anak itu justru menangis. Membuatku sedikit panik. Takut orang lain menyangka aku berbuat yang aneh pada anak ini. Beberapa orang memperhatikanku. Aku pun membujuk anak itu untuk tidak menangis lagi. Dan tak lama kemudian ibunya datang menghampiri.
"Maaf, saya tidak ngapa-ngapain anak ibu. saya hanya bertanya saja, karna saya tidak tega melihat anak ini seperti mengantuk"
Ocehan ku tidak di tanggapi sama ibu itu. Ibu itu mengambil alih anak bayi ke gendongannya. Dan saat aku lihat ibu itu seperti sedang menangis. Tanpa berkata-kata lagi, ibu itu meninggalkanku dengan menggandeng anaknya yang tadi aku tanyai.
"Ada apa?" Arka menghampiriku, aku sempat mengabaikan pertanyaanku. Aku berjalan mengikuti ibu tadi yang sudah berjalan beberapa langkah. Rasa ingin tahuku muncul secara tiba-tiba si otakku.
"Bu" Panggilku, dan langkahnya terhenti. Dia menoleh.
"Adek panggil saya?"
"I..iya" Jawabku gugup.
"Ada apa? Apa tadi anak saya berbuat nakal?"
"Enggak, bukan itu maksud saya, saya hanya mau tanya. Anak ibu sakit apa?" Tanyaku dengan hati-hati takut membuatnya tersinggung.
Arka yang ada di sebelahku hanya menggenggam erat tanganku tanpa ikut bicara.
"Saya nggak tahu. Anak saya demam tinggi. Tapi saya tidak mampu membayar biaya berobat disini." Jawab ibu itu, air matanya pun mengalir dengan derasnya.
Sakit rasanya hatiku mendengar ucapan ibu itu. Ternyata di sekitarku masih ada orang yang hidup seperti ini. Untuk berobat anaknya saja mereka tidak mampu, sedangkan aku... dengan mudahnya menghabiskan uang.
Aku menatap wajah teduh Arka. Seperti tahu yang ada di pikiranku, senyum menghiasi wajahnya. Arka pun memanggil perawat jaga yang ada di klinik ini. Dia meminta agar bayi itu segera diperiksa.
Setelah dilakukan pemeriksaan, bayi itu di haruskan menjalani rawat inap, karna kondisinya sudah sangat lemah yang di sebabkan terlambat penanganannya. Ibu nya tak henti-hentinya menangis mendengar penuturan dokyer.
Aku terdiam, Apa seperti itu kasih sayang seorang ibu ketika melihat anaknya sakit. Aku pun tak bisa menahan air mataku yang ikut menetes saat melihat bayi itu di tusuk jarum infus.
Anak yang satunya tengah tertidur pulas di sofa, di sampingku duduk. Aku pandangi lekat-lekat anak itu. Aku usap wajahnya yang tampak lesu dan kelelahan.
Arka berdiri di sampingku "Sayang, aku antar kamu pulang ya? Kamu harus istirahat" Ucap Arka.
"Boleh nggak kalau dia kita bawa pulang, kasihan kalau dia harus tidur disini" Bisikku perlahan pada Arka.
Arka berbicara pada ibu anak itu. Sepertinya dia tidak mengijinkan. Aku bisa mengerti, niat baikku di tolaknya. semua ibu pasti akan melakukan hal seperti itu bila berhadapan dengan orang asing.
Akhirnya aku dan Arka pamit pulang. Aku tatap wajahnya, kesedihan ibu itu terlihat di matanya yang sendu. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih atas pertolongan yang sudah kami berikan.
__ADS_1
Bersambung