Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

"Sayang, sekarang kamu nggak ada kerjaan lagi?" Tanyaku


"Nanti bisa aku kerjakan" Jawabnya


"Kenapa nggak di kerjakan sekarang?"


"Udah nggak apa-apa nanti aja. Lagipula nggak mungkin juga aku cuekin kamu, ngebiarin kamu sendirian sedangkan aku malah kerja" ucap Arka


"Berarti kedatanganku ganggu kamu kerja ya? Padahal aku kesini juga mau liat kamu kerja sayang" Ucapku


"Enggak kok sayang kamu nggak ganggu sama sekali. Aku senang sekali kamu datang kesini. Tapi kalau aku boleh tau kenapa kamu datang kesini tanpa ngasih tau aku lebih dulu?"


"Aku mau ajak kamu makan siang bareng."


"Kamu udah sarapan?" Tanya Arka sambil menyingkap rambut yang menutupi sebagian wajahku.


"Udah tadi sarapan nasi pecel. Enak banget sayang makanan disana. Kapan-kapan kita makan disana ya. Tadi aku juga bungkusin kamu dendeng sapi. Bisa buat nanti malam."


"Oh ya ..? ya udah kapan-kapan kita sarapan disana. Tadi sarapan sama siapa?" Tanya Arka


"Sama pak sopir taksi. Tadinya dia nggak mau sarapan bareng. Tapi setelah aku paksa akhirnya dia mau. Katanya dia merasa nggak enak makan bareng aku." Gerutuku. Arka terkekeh mendengar ceritaku.


"Sayang, sekarang dia dimana?"


"Ada di parkiran. Aku ajak masuk nggak mau. Katanya dia mau nunggu di dalam taksi aja biar bisa tiduran katanya."


tokk


tokk


tokk


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Iya masuk" Seru Arka.


Monika memasuki ruangan Arka dengan beberapa map yang dia dekap. Monika menyapaku dengan senyum ramahnya.


"Maaf pak, ini ada file dari PT Makmur yang harus bapak tanda tangani. Dan ini dokumen yang harus bapak pelajari untuk meeting besok. Untuk rincian anggaran nanti saya kirim lewat email." Ucap Monika


Arka membuka satu persatu berkas yang di berikan Monika. Membacanya lalu mendatangani salah satu berkas itu.


"Baiklah, nanti saya akan pelajari ini." Ucap Arka.


"Pak Arka tidak makan siang? Kalau bapak mau biar saya pesankan makanan. Biar pak Arka dan istri bisa makan siang bareng disini?" Tawar Monika. Arka tampak berpikir sejenak. Lalu menjawabnya.


"Terima kasih Monika. Tapi saya nggak mau merepotkan mu. Biar nanti saya dan istri makan di luar saja" Jawab Arka.


"Tidak sama sekali pak. Saya kan bisa pesan lewat ojol atau go food pak. Jadi sama sekali tidak repot"


"Oh gitu... baiklah atur saja sama kamu" Akhirnya Arka menurut yang di katakan Monika. Mungkin pikir Monika agar Arka tidak perlu buang waktu keluar kantor sekedar untuk makan siang. Karena pekerjaan Arka sepertinya banyak sekali.


"Baiklah pak, saya permisi dulu." Monika keluar ruangan dengan membawa berkas yang sudah di tanda tangani Arka.


"Sayang, kamu mau makan siang sama apa? Nanti biar Monika yang pesan."


"Apa saja boleh. Tapi minumannya lemon tea hangat ya." Ucapku.


"Siap Bu bos" Arka mengangkat tangannya seperti memberi hormat padaku. Aku pun terkekeh melihat tingkah konyolnya.


Tidak lama kemudian Arka menekan telepon yang ada di meja kerjanya. Dan mulai berbicara tentang menu makan siang. Sepertinya dia bicara pada Monika. Lalu kembali menutup teleponnya dan menghampiriku lagi.


"Sayang, lanjutin aja kerja kamu. Aku nggak apa-apa kok disini, aku akan liatin kamu kerja" Ucapku. Tanganku meraih tangannya dan meletakkannya di atas pangkuanku.


"Beneran nggak apa-apa?" Tanya Arka .


"Iya sayang."


"Tapi aku disini aja ya kerjanya, di samping kamu." Bisik Arka.

__ADS_1


"Hmm.. terserah kamu aja" Jawabku dengan senyum genitku. Arka terus saja menatap wajahku.


"Sayang, jangan ngeliatin aku kayak gini ah. Katanya mau kerja tapi masih aja ngeliatin aku." Gerutuku


"Melihat wajahmu yang cantik ini tidak akan membuatku bosan. Biarpun berjam-jam lamanya."


"Mulai deh gombalnya. Udah ah... cepat di kerjain tugasnya." Kedua tanganku menangkup pipinya dan mengarahkan wajahnya ke arah berkas yang ada di meja. Agar tatapannya tidak lagi mengarah padaku. Jujur saja sikap Arka yang seperti ini membuatku salah tingkah.


Tidak lama kemudian Monika kembali datang dengan membawa makanan lengkap dengan perlengkapan makan.


"Maaf ya jadi ngerepotin gini" Ucap Arka.


"Sudah pak santai aja. Yang penting pak Arka nyaman kerja disini. Jangan di sungkan-sungkan sama saya ataupun staf yang lainnya." Ucap Monika dengan ramah.


"Kalau gitu ayo kita makan siang bersama disini. Kamu belum makan siang kan?" Tanya Arka.


"Maaf pak Arka saya makan siang dirumah saja. Anak-anak sudah nunggu saya di rumah." Ucap Monika.


"Oh gitu. Ya udah saya nggak bisa cegah kamu. Kalau gitu cepat pulang. Kasihan mereka sudah nunggu di rumah."


"Baik pak. Saya permisi dulu. Mari Bu Arka." Monika juga berpamitan padaku. Aku membalasnya dengan anggukan dan senyum ramah.


Setelah Monika pergi, aku dan Arka segera makan siang. "Sayang, kasihan pak sopir. Dia juga belum makan siang" Ucapku.


"Tenang aja, Monika sudah mengatur semuanya" Jawab Arka dengan santai.


"Sayang, Monika cekatan banget ya. tanpa disuruh dia langsung bergerak cepat." Ucapku.


"Sepertinya, aku harus banyak belajar darinya. Disini aku memang atasannya, tapi dia lebih senior dariku" Ucap Arka.


Setelah makan siang, Arka kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan aku sibuk bermain handphone. Sambil sesekali memperhatikannya yang sedang bekerja. Raut wajahnya tampak serius saat bekerja. Tapi meskipun begitu, tidak menghilangkan tampang wajahnya yang begitu tampan.


Muncul niat iseng dalam otakku. Sembunyi-sembunyi aku mencuri fotonya lewat handphone yang aku mainkan. Lalu aku buat story' WhatsApp ku. Dalam hitungan detik, masuklah komen dari teman-temanku. Aku hanya terkekeh menanggapi candaan dari teman-temanku.


Arka menoleh ke arahku "Eeehhh... kenapa ini kok ketawa sendiri?" Tanya Arka.


Tiba-tiba Arka menggeser duduknya lebih dekat denganku "Coba lihat"


Dengan sigap aku mengalihkan handphone ku darinya "Eits... nggak boleh ini urusan cewek" Ucapku lalu tertawa.


Arka menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu kembali melanjutkan pekerjaannya. Sedangkan aku kembali menanggapi candaan teman-temanku.


"Sayang, kita sholat Dzuhur dulu yuk." Ajak Arka.


"Tapi aku nggak bawa mukenah, sayang"


"Nanti, aku tanya staf yang lain ya, pasti mereka bawa." Arka menekan tombol telepon dan berbicara pada stafnya. Tidak lama kemudian ada yang mengetuk pintu. Arka menyuruhnya masuk. Dan ternyata staf itu membawakan mukenah untukku.


"Makasih banyak ya" Ucapku. Staf itu tersenyum membalas ucapanku. Lalu pamit pergi. Aku dan Arka sholat di ruangan kerjanya.


Setelah selesai sholat Arka kembali melanjutkan pekerjaannya sampai tak terasa waktu sudah sore. Itu artinya berakhir jam kerja Arka hari ini.


"Sayang, yuk kita pulang" Ajak Arka.


"Yuk" Aku berdiri dan menggandeng tangan Arka.


Kami berdua keluar ruangan dan Arka menghampiri meja kerja Monika. "Saya pulang duluan ya. Jangan lupa nanti kirim laporannya ke email saya. Biar segera saya pelajari." Pesan Arka pada Monika.


"Baik pak, segera saya kirim. Sedikit lagi selesai kok laporannya" Jawab Monika.


"Baiklah kalau gitu. Apa ada yang lembur hari ini?" Arka melihat sekeliling karena sebagian staf masih bekerja, padahal sudah jam pulang.


"Ada enam orang yang lembur hari ini pak, menemani saya menyelesaikan laporan keuangan perusahaan yang tidak jelas." Jawab Monika .


"Jangan lupa belikan mereka konsumsi biar semangat bekerja. Letakkan notanya di meja kerja saya besok. Karena itu akan menjadi pengeluaran pribadi saya, bukan perusahaan" Ucap Arka tegas.


"Baik pak"

__ADS_1


Aku dan Arka segera pamit pergi. Di luar kantor masih tampak terang karena waktu masih menunjuk pukul empat sore. Jam kerja di kantor Arka berakhir pukul tiga lewat tiga puluh menit.


Aku menghampiri taksi yang sedari tadi setia menungguku. Ternyata pak sopir sedang tidur di dalam taksi. Jadi nggak tega mau banguninnya.


"Sayang, kasihan kalau kita bangunin" Ucapku.


"Ehm... kita minum dulu disana sambil menunggu sopirnya bangun. Nanti jam lima kalau belum bangun kita bangunin ya"


"Oke" Jawabku sumringah.


Aku dan Arka menghampiri warung kecil yang menyajikan berbagai minuman.


"Sayang, kamu mau minum apa?" Tanya Arka.


"Lemon tea ada nggak?" Tanyaku. Dan pemilik warung menoleh ke arahku.


"Nggak ada sayang, yang lain aja ya. Teh, kopi, Soda, atau mau es sirup?" Arka memberikan pilihan minuman.


"Air mineral aja, yang dingin ada nggak?" Tanyaku lagi


"Ada, sebentar ya aku ambilkan" Arka mengambil minuman dari dalam lemari pendingin. Lalu memberikannya padaku.


Pemilik warung masih sibuk membuat kopi untuk pembeli lainnya. Sesekali dia melirik ke arahku. Entah apa yang ada di pikiran ibu pemilik warung itu.


"Mbak bukan orang sini ya?" Tanya ibu itu.


"Bukan Bu. Saya dari Jakarta" Jawabku


"Pantesan, Kelihatan dari cara bicaranya beda. Kerja di kantor ini?"


"Yang kerja disini suami saya Bu, saya hanya ngikutin aja" Jawabku.


",Oohh... kalian suami istri. Saya kira masih pacaran. Maaf lho ya... Pikiran ibu jadi jelek gini."


"Nggak apa-apa Bu."


"Sayang, pisang gorengnya enak nih masih anget. Cobain deh" Ucap Arka.


"Enggak ah" Tolakku


"Cobain deh enak kok. Manis banget" Ucap Arka lagi.


Karena Arka terus memaksa akhirnya aku memakannya juga. Dan rasanya benar-benar enak banget. Pisangnya manis balutan tepungnya juga tipis jadi terasa banget pisangnya.


" Ini pisang apa Bu?" tanya Arka.


"Ini pisang raja mas." Jawab ibu itu.


"Bu, minta di bungkus ya semuanya" Ucap Arka.


"Iya mas"


Arka menyukai pisang gorengnya sampai-sampai dia meminta agar di bungkus semuanya.


Bapak sopir menghampiri kami yang masih di warung. "Neng maaf bapak ketiduran"


"Nggak apa-apa pak. Lagi pula kami juga nggak buru-buru" Jawabku.


"Oh, yang bapak maksud itu mbak ini pak" Ucap ibu warung.


"Maksudnya apa Bu?" Tanyaku karena memang aku tidak mengerti yang mereka bicarakan.


"Tadi bapak ini cerita kalau dia ini dapat pelanggan muda. Orangnya cantik, masih muda, tapi baik banget. Punya suami cakep baik juga." Jelas ibu itu.


"Iihh.. bapak, jangan terlalu memuji gitu ah. Saya dan suami saya hanya orang biasa. Jangan berlebihan mujinya" Ucapku.


"Tuh kan bener yang saya bilang, mereka juga tidak sombong" Puji bapak sopir lagi. Ibu itu mengangguk mengiyakan. Aku jadi malu mendengar pujian mereka. Arka hanya tersenyum mendengar pembicaraan mereka.

__ADS_1


__ADS_2