Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Mataku terasa lengket saat Arka membangunkanku. Dengan sangat malas aku duduk dengan selimut yang masih menutupi bagian kakiku. Mataku masih terpejam. Antara sadar dan tidak. Yang jelas aku masih ingin melanjutkan tidurku.


"Sayang, bisa-bisanya ya kamu duduk sambil merem gitu" Tegur Arka.


"Aku masih ngantuk" Aku rebahkan lagi badanku dengan kasar. Dengan cepat Arka menarik tanganku agar aku tidak kembali tidur.


"Sayang, udah waktunya sholat subuh nih. Ayo bangun" Terpaksa aku buka mataku meskipun sangat terasa malas. Arka menyodorkan segelas air putih padaku. Aku menerimanya dan meneguk habis air di dalamnya.


"Makasih sayang" Aku berikan lagi gelas kosong itu pada Arka.


Aku singkirkan selimut yang aku pakai. Lalu berjalan menuju kamar mandi dengan gontai. Setelah itu aku dan Arka melakukan sholat subuh berjamaah seperti biasanya.


"Sayang, aku ada meeting pagi ini, kamu mau ikut atau mau diam disini?" Tanya Arka.


"Ehm.. Lama nggak?" Aku balik nanya.


"Nggak tau juga lama enggaknya. Atau gini aja. Nanti kamu kesana waktu makan siang. Alamatnya nanti aku kirim. Tapi naik taksi aja ya. Soalnya kan ini urusan pribadi." Jelas Arka.


Aku jentikkan jariku "Good idea. Tapi aku boleh lanjutin tidurku lagi kan sayang?" Ucapku dengan manja.


"Iya boleh, lakukan apapun sesuka hati kamu. Asalkan jangan lupa waktu sholat ya"


Aku angkat tanganku memberi hormat padanya " Siap bossku" Dan membuat tawa di bibir Arka yang imut itu.


Pukul tujuh Arka sudah berangkat kerja. Karna dia nggak mau kalau sampai terlambat. Apalagi mengingat pesan papa kalau Monika adalah orang yang disiplin dan selalu on time. Arka sendiri juga tipe orang yang sangat disiplin. Mungkin Arka dan Monika adalah partner kerja yang cocok.


Setelah Arka pergi. Aku langsung menghubungi mamah mertuaku dan menanyakan kabarnya. Mamah terdengar sangat senang sekali saat aku menghubunginya. Kata mamah setelah aku berangkat kedua temanku benar-benar datang menemani mamah. Bahkan kata mamah sekarang Firna sedang tidur nyenyak. Sedangkan Alda, dia habis jogging keliling kompleks lanjut lagi membersihkan bunga-bunga anggrekku.


Kebiasaan teman-temanku itu memang tidak berubah. Yang satu sangat malas dan yang satunya terlewat rajin.


Tadi malam aku memang nggak sempat menghubungi mereka. Karena setelah beres-beres aku langsung istirahat. Bahkan aku juga istirahat lebih dulu di banding Arka. Sampai larut malam Arka masih mengerjakan proposal untuk meeting pagi ini.


Niat hati ingin lanjut tidur setelah Arka berangkat kerja. Tapi aku urungkan niatku. Aku teringat sama mamaku sendiri. Sepertinya aku sudah mengabaikan mama beberapa hari ini. Aku lakukan panggilan melalui video call. Setelah beberapa saat mama menerima panggilan dariku.


"Hai ma, apa kabar?" Sapaku saat wajah mama terlihat di layar handphone ku.


"Kabar baik sayang, kata papa kamu sekarang di Surabaya bersama Arka?" Tanya mama.


"Iya ma, Caca ikut Arka. Arka yang minta untuk di temenin. Katanya sekalian jalan-jalan." Jawabku.


"Sekalian jalan-jalan atau sekalian honeymoon" Goda mama.


"Ah mama apaan sih. Masa iya honeymoon di Surabaya, sambil kerja lagi" Aku pun terkekeh. Aku dan mama saling bercanda. Sebelumnya aku dan mama nggak pernah seperti ini. Kalau pun aku menghubungi mama paling-paling hanya minta uang jajan atau minta sesuatu.


Hampir satu jam aku dan mama melakukan video call. Bahkan mama menunda pekerjaannya demi bisa bicara denganku. Mungkin sekarang ini lah saatnya aku dan mama harus lebih dekat lagi layaknya hubungan antara anak dengan orang tua. Saat aku mengakhiri panggilan, mama memberikan cium jauhnya. Benar-benar terharu dengan semua ini.


Ma, maafkan anakmu ini ma.


Aku belum bisa bahagiakan mama.


-batinku.

__ADS_1


Sekarang aku sadar kalau mama begitu menyayangiku. Hanya saja dulu mama terlalu sibuk dengan bisnisnya. Yang membuatku merasa sangat kesepian. Dan berpikir kalau mama tidak sayang sama anak-anaknya.


Tiingg... bunyi notif pesan dari handphoneku. Aku geser layarnya agar aku bisa membacanya. Ternyata dari Arka. Arka mengirim sebuah alamat rumah makan. Tempat untuk makan siang nanti. Setelah membalasnya aku segera beranjak ke kamar mandi. Karena waktunya sudah tidak lama lagi. Tadi sempat aku lihat sudah jam sepuluh.


Setelah bersiap pergi, aku meminta receptionist untuk memesan taksi agar bisa membawaku ke rumah makan yang dekat dengan tempat meeting Arka. Sebenarnya dari pihak hotel juga menyediakan akomodasi. Tapi kebetulan di hotel sedang kosong. Dan Arka meminta agar aku naik taksi saja.


Tak lama kemudian Taksi membawaku menyusuri jalanan Surabaya. Ingatanku pada Farhan kembali muncul saat aku melewati jalanan yang sama. Tidak banyak berubah dengan sekitar jalanan yang aku lewati. Setahun yang lalu aku masih sempat ke sini bersama Farhan. Waktu itu kami sedang menghadiri pernikahan teman Farhan.


Aku sudah tidak mau memikirkan tentangnya. Aku lebih memilih berbicara dengan sopir taksi. Panjang lebar aku bertanya tentangnya. Mulai dari asal daerahnya, keluarganya, sampai pendapatannya.


"Anaknya berapa pak?" Tanyaku


"Anak ada tiga neng, yang besar udah nikah, yang kedua masih SMA kelas satu, dan yang kecil juga masih sekolah SD." Jawabnya dengan ramah.


"Anaknya laki-laki atau perempuan pak?" Tanyaku lagi.


"Yang pertama perempuan, yang kedua dan ketiga laki-laki neng. Yang pertama begitu lulus SMA langsung nikah. Dan sekarang ikut suaminya di Kalimantan. Udah hampir setahun disana, udah empat bulan ini nggak pernah nelpon..." Saat menceritakan anak pertamanya suara bapak itu terdengar bergetar. Sehingga tidak melanjutkan kata-katanya lagi.


"Pak, bapak yang sabar ya. Mungkin anak pertama bapak punya kesibukan lain disana. Sehingga dia jarang kasih kabar. Bapak jangan berhenti berdoa buat anaknya supaya dia selalu baik-baik saja." Ucapku.


Aku lihat dari belakang tangan bapak itu seperti mengusap matanya. Mungkin bapak itu menangis karena merindukan anaknya. Setelah agak lama barulah bapak itu bicara lagi. " Selalu neng, bapak sama istri selalu mendoakan anak-anak bapak" Ucapnya .


Kami saling diam sampai mobil memasuki parkiran rumah makan.


"Pak, bisa minta nomer telponnya, kalau saya mau keluar dari hotel saya mau bapak yang mengantar saya" Ucapku.


"Oh boleh neng, boleh." Dengan cepat bapak tadi merogoh handphone yang di kantonginya. Aku sangat terkejut saat melihat handphone bapak itu, bukan Smartphone yang dia pakai, melainkan handphone jadul yang aku nggak tau keluaran tahun berapa.


"Iya neng, Bapak siap antar neng" Jawabnya.


Aku berikan uang tiga lembar seratus ribuan untuk ongkos taksinya. "Neng, ini kebanyakan. Ongkos taksinya cuma delapan puluh ribu"


"Udah nggak apa-apa pak. Ambil aja sisanya" Ucapku.


"Enggak neng, ini kebanyakan. Maaf bapak nggak bisa terima" Bapak tadi kembali menyodorkan uangnya.


"Pak, ambil saja. Saya ikhlas kok pak. Kalau bapak nggak mau terima. Saya berikan uang itu buat anak-anak bapak. Dan bapak nggak boleh nolak. Karna itu uang mereka" Ucapku lebih tegas.


Bapak itu terdiam, tidak bisa jawab lagi. Dan kemudian mengucapkan terimakasih berulang-ulang bahkan keluar doa tulus dari bapak itu. Sesaat kemudian bapak itu pamit pergi.


Aku segera memasuki rumah makan. Dan disambut pelayan dengan ramah.


"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Sapa pelayan itu.


"Saya mau nunggu suami saya. Sepertinya dia belum datang" Ucapku.


"Mari silahkan. Mau duduk di sebelah mana." Pelayan tadi mengantarku ke kursi kosong. Aku lebih memilih di pojok ruangan. Pelayan lain menyodorkan buku menu padaku.


"Mas, saya pesan makannya nanti aja ya, saya masih nunggu suami. Sekarang saya minta air mineral saja dulu ya" Ucapku dengan sopan pula.


Tidak lama kemudian Arka datang dengan beberapa orang yang berpenampilan rapi. Mungkin rekan kerja, karena Arka terlihat akrab dengan mereka. Arka menunjuk ke arahku saat dia melihatku.

__ADS_1


"Wah Pak Arka janjian sama pacarnya. Kalau gitu, kami duduk disana aja pak. Biar tidak mengganggu" Ucap salah satu dari mereka.


"Kalian bisa aja. Tapi sini dulu aku mau kenalin dulu cewek cantik ini. Ini bukan pacar saya" Ucap Arka.


"Yang benar pak. Terus siapa dia, adiknya? Boleh deh pak di kenalin, kan saya jomblo pak saya juga setia kok. Jadi nggak perlu khawatir punya adik ipar seperti saya" Ucap yang lainnya.


"Saya belum selesai bicara. Cewek cantik ini bukan pacar saya. Tapi dia adalah istri saya" Ucap Arka sambil tersenyum.


"Saya minta maaf pak Arka dengan ucapan saya yang tidak sopan tadi. Saya nggak tau kalau dia istri pak Arka. Sekali lagi saya minta maaf" Ucap lelaki tadi.


"Sudahlah saya tau kamu bercanda nggak usah diambil hati. Saya juga tau kok kalau lelaki normal akan tertarik begitu melihat istri saya" Mendengar pujian dari Arka membuatku tersipu malu. Mungkin saat ini wajahku merah merona.


Aku cubit pinggang Arka" Nggak usah berlebihan ah" Ucapku, Arka hanya tersenyum.


"Baiklah ayo kita makan" Ucap Arka pada teman-temannya.


"Kita makan disana aja pak Arka. Kita nggak enak kalau gabung disini"


"Ya sudah terserah kalian. Kalian pesan apa saja, nanti saya yang traktir" Ucap Arka pada tiga lelaki yang menemaninya.


"Wah makasih banyak Arka" Lalu ketiga lelaki itu pergi ke meja yang lain.


Aku panggil pelayan untuk memesan menu makan siang. Arka juga memesan beberapa minuman dan makanan untuk di bungkus.


"Kok banyak sayang yang di bungkus?" Tanyaku.


"Itu buat staf yang nggak bisa keluar kantor karena harus menyelesaikan tugas mereka. Nggak apa-apa kan?" Ucap Arka.


"Ya nggak apa-apa. Kamu ini selalu baik sama orang" Ucapku.


"Jika kita mau rejeki yang banyak, maka kita harus lebih banyak memberi pada yang lain. Dan jika kita kehilangan sesuatu, Bisa saja kita kurang sedekah. Dengan bersedekah kita tidak akan miskin, justru itu akan membuat kita kaya dunia akhirat" Ucap Arka lagi.


"Hmmm, suamiku ini memang bijaksana. Tambah sayang deh sama kamu" Pujiku. Dan ketiga lelaki itu menoleh ke arahku. Ya ampun ternyata bicara ku cukup keras. Seketika aku tundukkan kepalaku. Dan Arka hanya terkekeh melihatku yang salah tingkah.


Beberapa makanan sudah tersaji di hadapanku. Aku pun langsung melahapnya, karena aku benar-benar lapar.


"Pelan-pelan dong makannya" Ucap Arka.


"Laper" Ucapku pelan sekali agar tidak ada yang mendengarnya.


"Tadi kesini naik taksi kan? Gimana sopirnya sopan nggak sama kamu?" Tanya Arka.


"Sopan kok, sopan banget malahan. Aku juga udah minta nomernya, jadi kalau sewaktu-waktu aku pergi aku bisa minta dia yang ngantar" Jawabku.


"Kayak gimana orangnya?" Pertanyaan Arka seolah menunjukkan kalau dia cemburu.


"Orangnya, oh dia cakep kayak kamu gitu, tapi lebih tinggi kamu. Masih single juga" Sengaja aku bohong sama Arka ingin tau aja gimana reaksinya.


"Oh gitu, ya sudah besok kalau mau pergi nggak usah minta dia yang antar. Biar sopir dari kantor aja yang antar kamu" Ucapnya dengan sedikit kesal.


"Nggak usah sayang, kan kata kamu kalau buat pribadi nggak boleh pakai jasa kantor." Ucapku. Arka hanya terdiam melanjutkan makannya.

__ADS_1


__ADS_2