
Siang ini sengaja aku menelpon Arka, ingin mengajaknya ke rumah Luna, sekalian mengantar kue bolu pandan kesukaan Luna. Berharap mendapat pujian dari suami karena sudah berhasil membuat bolu. Tapi justru dia bertanya seolah aku selalu gagal dalam segala hal.
Pengen marah rasanya saat suami meragukan kemampuan istrinya. Padahal sudah capek-capek aku berkutat di dapur. Belum lagi kena tumpahan telur saat memecahkannya, belum lagi wadah yang sudah terisi dengan tepung tersenggol siku yang akhirnya tumpah mengenai badanku bagian depan.
Jerih payahku seolah tidak ada artinya. Suami menyebalkan, kalau saja ada di depanku pasti sudah aku ceplokin telur di mulutnya.
Astaghfirullah, kenapa aku jadi bar-bar ?
Hari ini sengaja aku membuat bolu pandan yang lumayan banyak. Rencananya mau aku bagi-bagikan. Supaya orang lain bisa merasakan hasil karyaku.
Bagiku rasanya sudah cukup enak. Sudah seperti yang di jual di toko-toko kue. Hanya saja kalah di penampilannya. Aku masih belum bisa memberikan topping dan
Belakangan ini aku memang suka sekali membuat berbagai macam kue. Meskipun lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya. Kadang gosong, kadang bantat, kadang juga hambar karena lupa belum di kasih gula.
Apa mungkin karena sering gagal, makanya Arka meragukan kemampuanku?
Sepertinya bukan, Arka saja yang tidak bisa memuji kemampuan istri.
Entah kenapa belakangan ini Arka seperti berubah, sering sekali membuatku kesal, jengkel, dan marah. Tapi tak jarang juga membuatku tertawa lepas.
Apa Arka sudah mulai bosan denganku, apalagi sekarang aku dalam keadaan hamil gini. Sebentar lagi perutku akan membuncit, badanku melar, dan mungkin wajahku juga akan ikut membengkak.
Apa Arka akan berpaling kalau badanku sudah berubah bentuknya?
Aahh... memikirkan Arka, membuat kepalaku berdenyut.
Nanti akan aku tanyakan langsung padanya. Kenapa sekarang dia berubah? Kenapa sekarang lebih sering membuat aku kesal?
"Astaga, saking kesalnya nggak terasa bolu satu piring susah habis" Aku berbicara sendiri saat melihat piring yang ada di depanku sudah kosong tanpa isi. Padahal piring itu berisi bolu pandan yang cukup banyak. Serakus ini kah aku?
***
Terdengar suara mobil memasuki garasi. Aku berlari kecil ke ruang tengah untuk memastikan kalau yang datang adalah Arka. Aku intip dari balik jendela, dan ternyata benar itu adalah Arka. Aku lihat jam yang ada di ruang tengah. Ternyata masih pukul dua. Tapi kenapa Arka sudah pulang.
"Assalamualaikum" Suara yang selalu aku rindukan kala pergi mencari nafkah. Yang selalu aku tunggu kedatangannya. Siapa lagi kalau bukan suara suamiku.
"Waalaikumsalam" Jawabku lalu berjalan menghampirinya, mencium punggung tangannya. Dan kecupan di kening sebagai balasannya.
__ADS_1
"Sayang sudah makan?" Tanya Arka saat meletakkan tas di sofa. Dan dia juga duduk di sofa. Lalu dia mengendorkan dasinya dan melipat lengan bajunya.
"Belum"
"Kok belum makan, ini sudah lewat jam makan siang lho"
"Masih belum sempat. Daritadi aku masih sibuk bikin kue" Jawabku lagi.
"Mau dong kuenya. Masih ada kan?"
"Ada. Kan aku sudah bilang kalau aku bikin banyak. Jadi mana mungkin sudah habis. Memangnya aku rakus sampai-sampai kamu bilang aku yang habisin" Selalu saja bikin kesal. Dikiranya aku yang habisin semuanya. Meskipun sebenarnya aku sudah habis satu piring penuh. Jangan sampai Arka mengetahuinya.
"Sayang, aku nggak bilang kamu yang habisin kuenya. Aku kan cuma nanya saja masih ada apa enggak. Kalau masih ada kan aku mau juga makan kue buatan kamu" Selalu banyak alasan.
"Halah sama saja. Kamu itu nggak nanya tapi nuduh" Omelku.
Arka langsung terdiam. Mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu dia berdiri dan mengambil tas yang tadi di letakkan di sofa.
Tanpa bicara lagi, Arka berjalan menaiki anak tangga. Mungkin dia mau ke kamar. Benar-benar menyebalkan di ajak bicara malah pergi.
Arka menghentikan langkah kakinya saat mulai menginjak anak tangga. Dan berbalik lagi menghadapku.
"Sayang, aku nggak menghindarimu. Aku hanya mau ke kamar mandi. Badanku lengket semua, nanti kita ngobrol lagi ya. Sekalian bersiaplah. Sebentar lagi kita ke rumah Luna." Suara Arka begitu lirih, tapi aku masih mampu mendengarnya.
"Terus kenapa nggak bilang dulu kalau mau ke kamar mandi. Biasanya mau apa pun selalu bilang. Kok sekarang diam saja?" Gerutuku.
"Sayang, aku takut salah bicara, makanya aku memilih diam. Ternyata diam pun aku masih salah. Terus aku harus gimana?" Suara Arka terdengar pasrah sekali.
"Ya nggak... ya nggak gimana-gimana" Jawabku gugup.
"Apa masih ada yang mau di bicarakan lagi? Kalau nggak ada, aku mau mandi dulu"
"Ya sudah sana mandi" Lalu aku berbalik badan dan berjalan ke arah dapur.
Aku ambil kue bolu yang sudah jadi, aku beri topping parutan keju dan aku beri irisan strawberry di beberapa bagian. Setelah itu aku masukkan ke dalam box dan menambahkan hiasan pita di luarnya. Terlihat cantik sekali.
Dua box kue bolu pandan sudah tertata rapi di meja makan. Setelah itu aku pindahkan dan meletakkannya di meja ruang tamu.
__ADS_1
Aku bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Saat aku masuk kamar Arka sudah tampak rapi dengan setelan kemeja warna coklat polos dan celana bahan berwarna hitam.
Saat melewati ruang ganti rasanya mual sekali, pingin muntah "Duuuhh kalau pakai parfum tuh jangan banyak-banyak kenapa sih? Baunya sampai menyengat gini, mau muntah tau kalau nyium kayak gini" Omelku. Sedangkan Arka hanya melotot setelah aku omeli.
"Aku pakainya hanya sedikit sayang" Jawab Arka dengan lesu.
"Baunya itu lho sampai menyengat hidung, rasanya aku mau muntah, atau jangan-jangan kamu ganti merk parfum ya"
"Ya Allah sayang, padahal ini parfum kesukaan kamu. Ini saja kamu yang beliin. Biasanya kamu suka nempel kalau aku pakai parfum ini. Tapi kalau kamu nggak suka. Aku mau ganti parfum, tapi nanti kamu yang pilihin ya. Biar kamu merasa nyaman." Ucapnya lagi.
Sepertinya bukan Arka yang salah, tapi sepertinya memang hidungku yang bermasalah. Aku lihat deretan parfum yang ada di etalase mini, semua parfum itu adalah kesukaanku. Bahkan semua itu aku yang membelinya.
Apa karna hamil ini ya aku nggak suka bau parfum yang menyengat. Ah ada-ada saja bawaan bayi.
Setelah mandi aku poles wajahku dengan make up yang tipis. Terlihat natural tapi tidak membuat wajah pucat. Justru tampak lebih fresh.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan Arka berjalan menghampiriku. Entah darimana dia.
"Sayang, coba cium ini. Kamu suka nggak?" Arka menyodorkan roll on kecil ke arahku.
Aku hirup-hirup roll on itu, baunya enak sekali.
"Apa ini? Kok baunya enak sekali?" Tanyaku heran. Aku lihat lagi roll on yang ada di tangan Arka.
"Ini minyak oles, bisa buat perut kembung, kalau pusing bisa di oleh di pelipis, kalau di gigit semut juga langsung di olesi ke bagian yang di gigit. Kamu suka?"
"He eh " Aku mengangguk mantap.
"Ya sudah, sebentar ya" Lalu Arka membuka lemari, dan mengambil kemeja baru miliknya.
Kemeja yang tadi dia pakai, di ganti dengan kemeja baru. Tak lupa juga dia mengoleskan rollon itu di ke bagian leher, dada, perut, dan juga lengannya.
"Gimana, sudah nggak mual lagi?" Arka mendekatiku, memastikan aku merasa nyaman apa enggak dekat dengannya.
"Enak baunya" Aku pun tertawa senang.
"Ya sudah nanti aku beli satu lagi buat kamu ya. Sekarang kita berangkat ke rumah Luna" Arka menggandeng tanganku dan kami berjalan beriringan menuju garasi tempat mobil terparkir.
__ADS_1