Kesabaran Hati Suamiku

Kesabaran Hati Suamiku
-


__ADS_3

Arka membaringkan Luna yang tengah tertidur. Sepulang dari restoran Luna tertidur di dalam gendongan Arka. Mungkin Luna kecapekan.


"Sayang, gimana masalah di kantormu?" Tanyaku saat Arka menutupi tubuh kecil Luna dengan selimut.


Arka menoleh ke arahku "Masalah?" Arka merasa heran dengan pertanyaanku. Ups... aku lupa, aku keceplosan menanyakan hal itu.


"Eh ..maksudku, tadi kan kamu ke kantor secara mendadak aku pikir terjadi masalah disana. Apa baik-baik saja?" Huuff aku bernafas lega, untung saja aku punya alasan yang tepat jadi Arka tidak curiga.


"Oh itu bukan masalah sayang. Tadi ke kantor karena kedatangan tamu dari investor. Padahal sama sekali tidak mengajukan proposal padanya. Tapi secara tiba-tiba dia datang menawarkan diri. Awalnya sih aku tidak percaya, takut kalau dia menipu atau gimana. Tapi Monika memintaku agar aku percaya pada investor itu. Aku nurut aja yang di katakan Monika karena dia lebih berpengalaman di banding aku" Jelas Arka.


"Memangnya kamu punya proyek baru?" tanyaku berpura-pura.


"Iya sayang, tapi masih belum berjalan. Mungkin akan segera berjalan karena sudah ada investor" Jawab Arka. Tentu saja aku tau kalau dia berbohong. Tapi kebohongannya demi kebaikanku.


"Semoga berhasil ya" Ucapku.


"Aamiin, makasih ya sayang kamu adalah semangatku" Sahut Arka.


"Iya sayang, aku akan selalu mendukungmu selama itu dalam hal positif"


"Aku tinggal sebentar nggak apa-apa kan?" Ucap Arka.


"Kamu mau kemana?" Bukannya menjawab tapi aku malah balik bertanya.


"Mau ngobrol sebentar dengan ayah Luna."


"Oh, ya udah nggak apa-apa. Tapi jangan lama-lama ya" Ucapku lagi.


"Iya sayang." Arka menghampiriku dan mengecup keningku. Dan juga mencium kening Luna yang tengah tertidur pulas.


//*//


Aku sedikit kaget, saat sebuah tangan menyusup perlahan dari pinggang sampai perutku. Tapi saat menyadari kalau itu Arka senyumku mengembang dengan sempurna. Entah berapa lama dia di kamar ayah Luna. Karena tak lama setelah dia keluar kamar, aku ikut terlelap di samping Luna.


"Sudah selesai urusannya?" Tanyaku dengan suara berbisik karna tidak mau membangunkan Luna yang masih tertidur pulas di sampingku.


"hmm" jawabnya dengan menggumam.


Arka mengusap permukaan perutku dengan telapak tangannya. Lalu dia berbisik "Apa hari ini anakku nggak rewel?"


"Enggak"


Arka mencium tengkuk leherku yang membuatku merasa geli dan hembusan nafasnya membuatku bergidik.


"Sayang, jangan gini ah. Geli tau" Protesku.


"Aku hanya ingin memelukmu sayang" Bisik Arka.


"Tapi jangan cium-cium, kalau nanti kamu ingin lebih gimana, aku nggak mau tanggung jawab"


"Enggak sayang, aku cuma mau peluk sambil nyium aja. Nggak lebih kok" Jawab Arka dan bibirnya masih saja menciumi leher dan bahuku.


Tanpa mengatakan apa-apa lagi. Aku mendekap tangan Arka yang ada di perutku. Aku pejamkan mataku sampai akhirnya aku kembali ke alam mimpi.


//*//


"Sayang kamu nggak ke kantor?" Tanyaku pada Arka yang masih duduk dengan santai sambil membaca koran. Di meja sudah tersaji secangkir kopi lengkap dengan sandwich di piring kecil yang belum di sentuhnya sama sekali.


"Nanti saja" Jawab Arka tanpa menoleh.


"Sayang, bisa nggak kalau bicara itu menghadap lawan bicaramu" Kataku menekankan. Arka yang mendengar perkataanku, dengan cepat menghentikan kegiatan membacanya. Lalu dia melipat koran dan meletakkan di atas meja, di samping kopinya.


"Iya sayang maaf. Sini deh" Arka menepuk sofa di sampingnya agar aku duduk di sebelahnya . Dengan wajah cemberut aku tetap mengikuti perintah Arka.


"Kenapa sih istriku ini sekarang sering marah, sering ngambek, suka ngomel juga?" Arka menarik ujung hidungku dan dengan cepat aku menepis tangannya.


"Ke kantor nggak sih?" Tanyaku dengan kesal.


"Iya sayang, tapi nanti dulu nunggu kabar dari Monika. Soalnya akan ada meeting di luar kota. Nanti kami mau berangkat bersama dari sini. Dan sekalian juga ibunya Monika mau ngasih sesuatu buat kamu."

__ADS_1


"Hah, ngasih apa?" Tanyaku sedikit terkejut


"Aku juga nggak tau. Tadi sih Monika bilangnya gitu aja. Makanya nanti aku berangkat bareng dari sini"


"Weekend libur kan?" Tanyaku.


"Libur dong, kan kita mau bawa Luna jalan-jalan"


"Nanti kita mampir ke rumah Monika ya. Aku mau ketemu sama ibunya. Mau kan?" Ucapku sedikit memelas


"Tentu saja aku mau sayang."


"Makasih ya" Ucapku tersenyum manis di hadapannya.


Tangan Arka menyusup ke ke dalam bajuku. Tangannya mengusap perutku dengan lembut. "Udah nggak mual lagi?" Tanya Arka menatapku.


"Kalau pagi aja. Tapi kata dokter itu nggak apa-apa. Selama nggak berlebihan. Itu hal wajar yang di alami oleh hampir semua wanita hamil. Namanya... apa ya aku lupa" aku nyengir karena lupa dengan apa yang aku maksud.


"Morning sickness" Jawab Arka dengan cepat.


"Hah .. ya benar. Kok kamu tau sih sayang?" Ucapku sedikit manja.


"Aku kan juga sering tanya jawab sama dokter. Aku juga browsing apa saja yang berhubungan dengan kehamilan kamu" Jawab Arka.


Mataku membulat menatapnya, seakan tak percaya dengan yang Arka katakan.


"Aku tau, pasti kamu tidak akan percaya, ya kan?" Arka mencoba menebak yang ada di pikiranku.


"Gak nyangka aja kamu lakuin itu, lagipula kenapa kamu lakuin itu?"


"Setidaknya kan aku tau kalau terjadi sesuatu sama kamu di luar kewajaran" Jawab Arka.


"Iya iya suamiku yang tercinta, aku salut sama kamu. Makasih ya udah lakuin itu buat aku" Ucapku lembut, tanganku memeluk tubuhnya dan di balasnya dengan kecupan hangat di keningku.


"Tanteeeee..." Terdengar suara serak dari Luna. Aku dan Arka menoleh secara bersaman ke arah Luna. Perlahan aku lepas pelukanku.


"Ya sayang, udah bangun ya" Aku berdiri dan menghampiri Luna yang masih menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.


"Mau mandi sekarang?" Tanyaku.


"Iya" jawab Luna.


"Mau mandi air dingin apa air hangat?" Tanyaku sambil menggodanya.


"Air hangat"


"Kalau gitu, tante siapin dulu ya air hangatnya" Luna mengangguk. Aku beranjak menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat buat Luna.


Beberapa saat kemudian aku memanggil Luna dan memandikannya karena pagi ini dia minta di keramas rambutnya.


"Tante, nanti kalau adik kecil sudah lahir, biar Luna yang mandiin ya, boleh kan Tante?" Luna merengek seolah memohon.


"Memangnya Luna bisa?" Tanyaku.


"Bisa. Di rumah kan Luna juga mandiin adek"


"Oohh gitu, boleh nggak ya?" Ucapku menggodanya.


"Boleh ya Tante" Luna merengek lagi.


"Iya boleh sayang" Jawabku


" Yeee... asiiikkk" Luna tampak senang dengan jawabanku.


"Nah, udah selesai mandinya. Sekarang Luna pakai baju dulu, terus nanti Tante sisir rambutnya ya. Bisa sendiri kan, soalnya Tante mau buang air kecil dulu" Luna mengangguk lalu dia keluar dari kamar mandi. Setelah selesai aku menyusul Luna ke kamar.


Saat dikamar aku melihat Arka sedang menyisir rambut Luna dengan sangat lembut dan berhati-hati. Sesekali mereka bercanda dan tertawa. Aku berdiri mematung, memperhatikan keduanya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


"Mau di kuncir apa enggak?" Tanya Arka pada Luna

__ADS_1


"Jangan om, kan rambutnya masih basah. Nanti bau apek" Sahut Luna.


"Terus di apain lagi. Ini udah rapi rambutnya"


"Pake bando aja, itu ada di kotak warna pink" Luna menunjuk sebuah kotak yang ada di atas meja.


Arka menggeser duduknya untuk meraih kotak yang di maksud Luna. "Ini kan?"


"Iya om"


"Pake yang warna kuning ya biar warnanya sama kayak bajunya." Arka memasang bando di kepala Luna. Sehingga wajah Luna tampak terlihat cantik dan lucu.


"Bagus ya om"


"Bagus sayang, banyak juga ya bandonya"


"Iya om, itu di beliin Oma. Terus yang ini di beliin sama Tante Firna" Luna memamerkan bando-bando miliknya.


"Wah banyak ya bandonya. Kalau dari Tante Caca mana?" Tanya Arka.


Aku berjalan menghampiri mereka. "Nanti Tante akan beliin buat Luna ya" Sahutku.


"Kan yang dari Tante masih ada, ini kan dari Tante" Luna menunjukkan bando dengan hiasan kupu-kupu di bagian atasnya.


"Masa sih itu dari Tante?" Tanyaku.


"Iya itu dari Tante. Luna menyimpannya dengan baik biar nggk cepat rusak."


Ting .. Tong...


Ting .. Tong...


Terdengar suara bel dari luar. " Pasti itu Monika" Arka segera bangkit dari duduknya untuk membuka pintu.


Lalu dia kembali dengan Monika berjalan di belakangnya. "Hai anak siapa ini lucu banget. Siapa namanya?" Tanya Monika saat menghampiri Luna.


"Luna" Jawab Luna dengan malu.


"Uuhhh... namanya bagus"


"Makasih Tante" jawab Luna masih dengan nada malu. Monika mengangguk mengiyakan.


"Oh iya Ca, ini ada titipan dari ibu. Makanan sama jamu racikan biar nggak gampang capek." Monika memberikan paperbag yang tadi dia bawa


"Ya ampun, repot-repot banget sih. Makasih banyak ya udah di bawain."


"Itu jamunya ibu bikin sendiri, jadi aman tanpa pemanis buatan dan juga tanpa pengawet."


"Pinter banget ibunya bikin jamu" Pujiku.


"Ada jamu kuat buat lelaki nggak?" Tanya Arka tiba-tiba.


"Iihh... kamu ini apa-apaan sih sayang" Tegurku.


"Ya nggak apa-apa kan biar aku kuat sayang" Arka menatapku dengan tatapan menggoda.


"Ehemm... maaf pak, ada anak kecil disini" Monika berdehem.


"Iya ih, lagian kamu nanya kayak gitu. Emang biar kuat apa coba?" Sahutku ketus.


"Biar kuat kalau kerja sayang, biar nggak gampang capek. Gitu loh sayang... Ada kan Monika jamu kuatnya?"


"Ada kok, nanti aku bilangin sama ibu biar di buatin. Jamu kuat buat ehem juga ada kok" Alisku mengernyit mendengar ucapan Monika.


"Hehehe..." Arka terkekeh melihat raut wajahku yang menahan malu.


Monika ikut terkekeh "Udah Ca, santai aja kalau ngomong sama aku. Nggak usah tegang gitu"


"Ternyata kalian berdua sama aja ya" Aku mendengus kesal. Mereka berdua kembali terkekeh

__ADS_1


"Udah..udah.. sakit perutku ketawa terus. Lebih baik kita berangkat sekarang aja pak Arka. Biar nggak terlambat" Monika menimpali. Lalu mereka berdua segera pamit pergi.


__ADS_2