Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
99


__ADS_3

Dengan santai Hira menemani suaminya yang sibuk pacaran dengan laptop. Ia juga tak mau kalah, sibuk pacaran dengan oppa-oppa Korea sambil berbaring di sofa.


"Ya ampun bos, istri ditelantarkan." Ujar Ressa dramatis. Meletakkan beberapa berkas yang dibawanya ke atas meja. Hira memutar bola mata malas menanggapi ocehan sahabatnya.


"Kerja, Sa. Atau gue pecat." Ujar Hira seakan ia yang punya hak memecat karyawan.


"Lo habis keselek apasih jadi tambah rese." Ressa mencomot tissue menggumpalnya lalu ia lemparkan pada Hira.


"Ganggu Sa." Kesal Hira, melempar balik tissue pada sahabatnya. Mereka saling lempar tissue, jadilah ruangan Erfan berserakan bola-bola tissue.


"Sudah main-mainnya?" Tegur Erfan dingin, "Ressa, Hira bereskan sekarang!" Titahnya yang tak bisa dibantah, dua perempuan itu bergegas mengumpulkan tissue yang mereka mainkan.


"Sekarang duduk!" Erfan menunjuk dua kursi yang ada di depannya. Tak ada bantahan keduanya duduk dengan wajah menciut. "Siapa yang suruh main-main di depan saya?"


Hira dan Ressa menggeleng bersamaan. Aura ruangan menjadi semakin dingin.


"Apa tissue dibeli dengan daun?" Tanya Erfan lagi dengan bahasa formal, yang menandakan ia sedang serius. Lagi-lagi keduanya menggeleng bersamaan.


"Kalian dihukum, gantikan kerjaan cleaning service hari ini tanpa ada jam istirahat." Erfan menelpon Galih asisten barunya, tidak berapa lama orang yang dipanggil datang.


"Galih, suruh cleaning service hari ini istirahat, tugas mereka digantikan dua orang ini."


Galih mengernyit melihat orang yang ditunjuk adalah istri bosnya sendiri.


"Tidak ada yang membedakan walau dia istri saya." Jelas Erfan, Hira tak berani bersuara. Suaminya dalam mode benar-benar serius.


"Baik Pak." Ujar Galih lalu membawa pergi dua orang itu. Erfan tersenyum geli setelah ketiga orang itu keluar dari ruangannya.


"Gila, muka lo serius gitu ngerjain istri sendiri." Protes Guntur yang menyaksikan dengan mata kepalanya bagaimana Erfan menyidang istri dan seketarisnya.


"Sekali-sekali dihukum dulu." Kekeh Erfan, "lo sendirian?"


"Yuhu, mau ngapel."


"Ngapel jangan jam kerja, Guntur."


"Gue kangen istri lo."


"Hayoo kita gulat dulu." Ujar Erfan melepas jas lalu melipat lengan kemejanya.


"Eee, lo kenapa sih, gak dikasih jatah jadi sentimen amat."


Erfan tersenyum kecut, sindiran Guntur tepat mengenai sasaran. Ia memang belum dapat jatah dari istri nakalnya itu. Sejak Hira sakit, Erfan jadi puasa. Uh kasihan Erfan.


Setelah satu jam, Erfan meminta Galih membawa istri dan seketarisnya kembali. Erfan tidak setega itu menghukum istrinya berlama-lama. Ressa kembali ke mejanya sedang Hira memanyunkan bibir mendekati suaminya.


"Capek?" Tanya Erfan setelah merentangkan tangan. Hira langsung melompat dalam gendongan sang suami. "Makanya jangan nakal, hm." Lelaki itu membawa bayi kangurunya melihat ke arah luar gedung dari balik kaca.


"Kamu nyeremin kalo seperti tadi, Bee."


Erfan menjawab dengan kekehan, tangannya mengelus lembut punggung sang istri.

__ADS_1


"Kita makan dulu baru sholat dan tidur siang." Hira hanya diam, tak menanggapi ajakan suaminya.


"Ekhem, yang sudah baikan. Gak ingat diri kalau lagi di kantor." Sindir Guntur yang kembali datang membawa makan siang. "Sa, panggil Galih dan Tian kita makan sama-sama," teriak Guntur. Ini kantor sudah seperti miliknya sendiri, jadi tidak perlu sungkan.


"Siyaaap." Teriak Ressa tak kalah nyaring.


Hira masih betah dalam gendongan suaminya. Sudah lama ia tidak bermanja seperti ini.


"Ayo turun dulu Sayang, kita makan."


"Nanti dulu Bee, masih nyaman gini." Rengek Hira di ceruk leher Erfan. Lelaki itu tak membantah.


"Mau makan cinta apa makan nasi?" Tegur Tian yang jengah melihat pasangan suami istri bermesraan itu. Mereka sudah siap makan, tinggal menunggu sepasang kekasih yang menganggap dunia hanya milik berdua, yang lain cuma ngontrak.


Galih hanya tersenyum, ia baru beberapa bulan bekerja di sini. Tidak pernah melihat adegan romantis seperti itu. Hanya tau wajah istri bosnya dari foto.


Erfan membawa Hira menuju sofa lalu menurunkan di sana. "Makan dulu Sayang."


Perempuan itu mengangguk malu-malu sebab semua mata tertuju padanya.


"Dah jangan malu-malu. Biasanya juga malu-maluin." Celetuk Ressa.


"Fan pecat seketaris lo ini. Biar gue yang nampung," ucap Guntur santai.


"Eh, ada yang lagi pdkt nih," komen Hira.


"Sa, nikah yuk." Ajak Guntur frontal. Hira mendengus kesal, tidak bisa digodain memang, main sikat aja.


"Itu pemerasan namanya." Tian mengetuk kening Ressa dengan ujung sendok.


"Duh, gue geger otak." Keluh Ressa dramatis, tangan kirinya memegang kepala yang sama sekali tidak sakit.


"Drama queen banget," ujar Galih ketus.


"Awas lo jatuh cinta sama gue, gue tolak detik ini juga." Kesal Ressa.


"Ngarep banget gue jatuh cinta sama lo. Jangan mimpi."


Erfan tidak ikut dalam perdebatan, "makan yang banyak Sayang." Ujarnya sembari membersihkan sudut bibir sang istri.


"Udah kenyang Bee."


Erfan menilik nasi di piring Hira yang hanya berkurang sedikit. "Mau makan yang lain, bubur atau minum jus." Tawarnya, istrinya harus dikasih asupan yang cukup agar benihnya bisa tumbuh dengan subur.


"Jus aja Bee."


"Kalian mau nitip jus juga?" Tawar Erfan sembari mengotak-atik ponselnya.


"Mau." Sahut Ressa semangat.


"Lo apa aja juga mau Sa."

__ADS_1


"Eh bos jangan gitu." Ressa mendelik, ia merasa ternistakan sendirian, tidak ada yang membela.


"Mau dihukum lagi, hm."


"Enggak deh bos. Jusnya beli sendiri aja." Ujar Ressa langsung menciut. Hilang harga dirinya kalau disuruh menggantikan tugas OB. Bosnya memang sadis sekale.


Tidak berapa lama jus pesanan Erfan datang. Semua berebut mengambil jatah masing-masing.


"Lo kalo ada pawangnya baik gini ya Fan." Ucap Tian mengambil bagiannya.


"Baik apaan, lo gak tau aja tadi dia nyidang istrinya sendiri sampe disuruh gantikan tugas OB." Seloroh Guntur menggebu-gebu, Hira dan Ressa ikut membenarkan. Sedang si empunya hanya tersenyum smirk.


"Wah gila lo Fan. Disuruh apa tadi Lih?" Selidik Tian pada asisten temannya itu.


"Bantu-bantu, nyapu, ngepel, nyuci piring." Jelas Galih santai.


"Penistaan lo Fan."


Erfan mengabaikan komentar Tian yang berlebihan. "Habisin jusnya Sayang." Ia memberikan jus alpukat pada sang istri. Lalu mengecup kepala Hira dari samping.


"Woi, bermesraan jangan di sini. Kita masih polos." Kesal Guntur, ia paling benci kalau dua orang itu berbaikan. Tidak tau tempat bermesraan di depan umum. Kan kasian nasib para jomblo sejati.


"Polos pala lu, yang dibawa ke hotel malam kemaren apa." Erfan mencebikkan bibirnya.


"Dilarang buka kartu woi," Guntur berdecak kesal. Bisa gagal dia dapetin Ressa kalau teman lucknutnya buka kartu.


Erfan memilih undur diri dari perdebatan yang tak ada akhirnya itu.


"Kita istirahat Sweety, bawa aja jusnya ke kamar." Ajak Erfan, Hira menurut melambaikan tangan pada semua orang yang ada di sana sebelum menghilang dibalik pintu.


Usai sholat Erfan menemani istrinya untuk tidur siang.


"Sweety, nanti malam Papa ngajak kumpul bersama keluarga besar. Kita ikutan gak ya Sayang?" Erfan meminta pendapat istrinya. Ia sungkan kalau nanti yang dibahas masalah warisan. Sedang ia masih merasa seperti orang luar dalam keluarga itu.


"Gak ada salahnya kenalan kan Bee sama keluarga besar kamu."


"Sungkan aja Sweety kita baru di sana."


"Kita ikut aja dulu Bee, kalau emang gak nyaman kita bisa cari alasan buat kabur. Nanti aku siap-siap akting sakit deh." Ujar Hira menghibur suaminya.


"Ibu dari anak-anak aku gak boleh bohong."


"Iya deh bapaknya anak-anak."


"Bercocok tanam yuk Sayang."


"Jam tidur siang, Bee." Ujar Hira dingin, langsung memejamkan matanya.


"Gak boleh nolak Sweety, dosa."


"Nanti ada yang gangguin Bee, gak enak." Hira berucap asal kena agar bisa lepas dari sang suami.

__ADS_1


"Ya sudah kita tidur aja." Erfan mengalah, mengeratkan pelukannya. Bukan waktu yang tepat berdebat dengan Hira sekarang. Ia hanya punya waktu satu jam untuk istirahat, sebelum nanti meeting.


__ADS_2