
BEBASKAN AZMI KALAU INGIN ORANG TUA KANDUNGMU TETAP HIDUP
Sulit Erfan untuk menyelidiki karena bukan tulisan tangan. Dalam amplop itu juga ada foto seorang bayi laki-laki, dibelakang foto ada tanggal lahir yang sama dengan tanggal lahirnya.
Apa Om Wisnu, ayah Azmi yang mengirimnya. Tapi Om Wisnu sudah tak pernah peduli dengan anaknya itu lagi. Ancaman belum berakhir, bisa saja mereka menjadikan Hira sebagai sasaran empuk kalau ia mengabaikan ini.
"Hira!"
Mereka tidak boleh menyakiti Hira lagi, istrinya sedang hamil sekarang.
"Sa, batalkan semua jadwal hari ini!" Teriak Erfan saat lewat di depan meja Ressa, ia memasuki lift khusus. Ya Allah lindungi Hira, kenapa pikirannya tak tenang seperti ini.
Erfan melajukan mobil dengan cepat, jalanan macet membuat pikirannya makin kacau. Kenapa Jakarta selalu padat seperti ini, geramnya.
Setelah berhasil melewati kemacetan selama tiga puluh menit Erfan berlari menuju lift. Pikirannya tidak bisa tenang kalau belum melihat Hira baik-baik saja.
"Hira...!" Teriak Erfan dari depan pintu ruangan Hira. Gadis itu menatapnya heran tanpa suara. Hira masih melayani pasien yang sedang memeriksakan kondisi kehamilan.
Erfan bisa bernapas lega sekarang, ia langsung menuju sofa tanpa mempedulikan tatapan tajam istrinya. Melihat dokter juteknya itu dalam keadaan baik-baik saja sudah membuatnya lebih tenang.
"Sus, masih banyak pasien yang antri?" tanya Erfan pada Lela, asisten Hira.
"Ada tiga orang lagi Pak," jawab Lela menghitung data pasien di depannya. Erfan memasang wajah gusar, ia kembali duduk manis di sofa.
Hira mencuci tangan di wastafel setelah pasiennya keluar. Sebelum Lela memanggil pasien selanjutnya, ia menyusul Erfan ke sofa.
"Ada apa Bee, kenapa sampai keringetan." Hira mengambil tempat di samping suaminya.
"Khawatir denganmu Sayang," Erfan menggenggam erat tangan Hira. "Maaf, aku gak bisa ninggalin kamu sendirian lagi. Kamu istirahat saja dulu ya selama hamil, nanti kita buka tempat praktek di rumah."
"Bee!"
"Please Sayang, dengerin Mas kali ini." Mohon Erfan, menggenggam kedua tangan istrinya.
"Iya," jawab Hira dengan penuh kekecewaan.
"Ini buat keselamatan kamu dan anak kita Sweety."
***
__ADS_1
Erfan mengeratkan pelukannya pada sang istri yang sudah tertidur pulas. Ia masih penasaran dengan pengirim surat itu. Perdebatannya tadi siang dengan Hira masalah pekerjaan perempuan itupun hasilnya sama. Ia terpaksa mengalah melihat wajah kecewa kesayangannya. Tidak ingin membuat istrinya tertekan dan stress.
Gini amat hidup, padahal Erfan gak pernah punya musuh yang neko-neko. Paling juga lawan gulat, lawan main kelereng waktu kecil. Adik yang sangat ia sayangi malah nekat ingin menyakiti istrinya. Keluarga tempat ia pulang seharusnya malah jadi begini.
Ia memang bisa memberikan perlindungan buat Hira. Tapi Erfan tak bisa memberikan cinta dan kasih sayang orang tua. Ia tau Hira butuh itu, butuh disayangi sebagai seorang anak. Butuh pelukan hangat dan perhatian ayah dan ibunya.
Pusing memikirkan cara memberikan pengertian pada Hira agar tetap di rumah. Tapi kalau dipaksa di rumah istrinya akan lebih stress. Erfan dilema.
Banyak berpikir membuat Erfan lelah, akhirnya ia tertidur dengan memeluk guling hidup kesayangannya.
Hira mengerjapkan mata saat alarmnya berbunyi, tangannya meraba-raba ke atas nakas mencari ponselnya yang tak berhenti bernyanyi. Bibirnya tersenyum mendapati suaminya yang tak mau melepaskan pelukan.
Setiap kali Hira geser tangan itu kembali melingkar di perutnya.
"Sweety jangan bergerak nanti baby bangun." Ucap Erfan dengan dimanja-manjakan, ia sudah bangun sejak alarm Hira berbunyi tapi enggan membuka mata.
"Baby yang mana nih Bee?"
Erfan tersadar dengan ucapan istrinya. Ia membuka mata dan nyengir. "Baby boy yang bisa bikin kamu keenakan Sweety."
Hira menutup wajahnya malu, masih subuh otak Erfan sudah on. Ia tak bisa lama-lama diam begini kalau tidak mau jadi santapan suaminya.
"Apa Sweety, apanya yang mau dilepasin. Sini aku bantu, sekalian aku mandiin."
Wajah tampan, muka bantal itu tersenyum jahil dengan mata mengerling manja. Hira mendengus sebal. Suaminya pura-pura oon, bikin repot. Huuhh.
"Bee, aku kebelet pipis." Bohong Hira demi bisa kabur dari suaminya.
"Dedek juga kebelet pipis nih Sweety, ayo bareng. Dedeknya pipis di sini aja." Tangan Erfan mulai nakal.
Tolong bantu lenyapkan suami Hira sekarang juga, dari bumi pertiwi ini.
"Beee, aku pipis di sini aja. Biar bau pesing!" Geram Hira, tetangga masih pada tidur, suaminya itu sudah membuat tensinya tinggi.
"Iya, iya Sayang. Ayo Mas gendong ke kamar mandi." Erfan berhenti menggoda istrinya, masih dengan senyuman nakal menegakkan posisinya jadi duduk.
Abaikan. Hira tidak ingin tergoda dan jadi perempuan lemah sekarang. Ia beranjak dari kasur sambil menghentak-hentakkan kaki ke kamar mandi.
"Sweety, jangan begitu. Nanti baby kira ada gempa bumi."
__ADS_1
Huuhh, tolong karungin suami Hira itu.
Erfan tertawa geli, kembali membaringkan badan dan menarik selimut. Enakkan punya istri, bangun tidur sudah ada yang digodain, enak lagi kalau mau dikelonin. Kenapa gak dari dulu aja ia menikah, kalau tau enak gini.
Dengan terpaksa Erfan beranjak ke kamar mandi. Setelah mendapat tausiyah gratis dari ibu yang sedang hamil muda itu.
Hira menyiapkan kemeja dan jas untuk suaminya. Ia memasukkan baju kotor ke dalam keranjang, tak lupa merogoh sakunya seperti biasa. Kali aja ada uang receh yang nyelip di saku. Kebiasaan Erfan menaroh uang berwarna merah dimana-mana. Kalau dapatkan lumayan buat beli siomay nanti.
Eh apa ini? Hira mengambil sebuah amplop yang terselip di saku jas suaminya. Jangan-jangan surat cinta yang belum sempat Erfan berikan. Dengan penasaran ia membuka isi amplop, lalu mengernyit setelah membaca isinya.
Apa ini yang membuat Erfan kemaren siang sampai ngos-ngosan menemuinya. Apa karena ancaman ini suaminya takut kalau dia kenapa-kenapa lagi.
Azmi? Itukan nama orang yang sudah.... tangan Hira gemetar memasukkan kembali surat itu kedalam amplop.
"Sweety!"
Erfan mendapati tubuh Hira yang gemetar luruh di lantai masih memegang jas dan amplop putih.
Astaga, Erfan lupa menyembunyikan amplopnya. Kemaren ia buru-buru pergi mencari istrinya itu. Awalnya ingin menyerahkan surat itu pada Guntur untuk diselidiki. Namun pikirannya terlanjur kalut mengingat keselamatan Hira.
"Sayang!"
Erfan mengangkat tubuh istrinya ke ranjang. Mengambil jas di tangan Hira lalu memasukkannya ke keranjang cucian kotor.
Hira tak bergeming, memeluk lututnya yang juga ikut gemetar.
"Hira, Rara, Sayang!"
Semua panggilan Erfan sebutkan, membawa tubuh mungil itu dalam pelukan hangatnya. "Jangan takut Sweety, Mas ada di sini menjagamu." Ia mengambil amplop yang digenggam Hira dengan erat.
"Rara Sayang, suamimu di sini." Elusan lembut membelai kepala Hira lalu turun ke punggung. Berulang kali Erfan melakukannya dengan lembut.
"Sweety, kamu bisa dengar Mas." Bisik Erfan dengan sangaat lembut, melebihi kelembutan sutera, wkwk.
"Iya Bee."
Erfan tersenyum menangkup kedua pipi sang istri, "alhamdulillah, apa yang membuat Rara takut, Sayang?"
"Azmi..." ucap Hira lirih seperti orang berbisik.
__ADS_1
"Dia tidak akan bisa menyentuhmu lagi Sayang." Ucap Erfan sama pelannya dengan Hira, yang mengisyaratkan kesedihan. Erfan marah, sangat marah melihat ada lelaki yang menyentuh istrinya dengan menjijikkan. Iya benci Azmi, sangat. Sangat membenci pria itu.