Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
81


__ADS_3

Kediaman Hardiyata malam ini sangat sepi hanya ada tiga orang pelayan di sana. Tidak seperti beberapa waktu lalu saat Hira datang ke rumah ini.


Mereka disambut hangat Hardiyata dan Btari. Pikiran Hira untuk menjual rumah itu sepertinya sangat tepat. Malam inipun mereka tidak menginap di rumah lagi.


Sepulang dari rumah sakit tadi ayah mertuanya menelpon minta di kunjungi. Jadilah mereka sekarang ada di rumah ini lagi.


"Kalian tinggal di sini ya, temani Mama sama Papa." Pinta Btari, usai makan malam tadi mereka mengombrol di ruang keluarga.


"Mau ya Fan pindah ke sini." Bujuk Btari lagi, saat Erfan tidak memberikan jawaban.


Erfan menatap istrinya yang sangat semangat dan berbinar-binar. Tentu saja Hira bersemangat, istrinya itu ingin menjual rumah pemberian sang mami. Mengingat itu ia hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala.


"Kalau Hira nyaman tinggal di sini, aku ngikut aja Mah." Putus Erfan, walau ia masih canggung pada orang tua kandungnya yang baru bertemu itu.


"Hira maukan Nak, tinggal di sini?" tanya Btari yang diangguki Hira. Perempuan paruh baya itu berbinar girang memeluk anak dan menantunya. Hardiyata ikut terharu melihat kebahagiaan istrinya.


"Sekarang kalian istirahat gih, pasti capek seharian kerja. Kalau perlu apa-apa panggil pelayan aja," ujar Btari.


"Makasih Mah, kami ke kamar dulu." Pamit Erfan, membawa istrinya menuju kamar yang sudah disiapkan untuk mereka. Kamar itu sudah diisi perabotan lengkap.


Sampai ada kulkas kecil, dispenser dan microwave. Dari buah-buahan sampai susu hamil sudah ada di sana. Biar Hira tidak repot-repot harus ke dapur kalau tengah malam kelaparan, kata mamanya tadi.


Lemari juga sudah ada pakaian untuk mereka. Semuanya barang bermerk, Erfan menggeleng pelan. Seantusias itu orang tuanya agar mereka tinggal di rumah ini.


"Untung kamarnya sebesar stadion GBK Bee, coba kalau kecil, kita bakalan tidur mepet kulkas." Ujar Hira lebay.


"Jangan lebay Sweety, biar gak malu-maluin jadi menantu sultan." Erfan terkekeh membawa istrinya dalam dekapan.


"Mereka pasti kangen banget mau ketemu kamu, Bee."


Erfan hanya berdehem menanggapinya.


"Tidur, Sweety!"

__ADS_1


Hira tak bersuara lagi, suaminya itu selalu badmood kalau diajak bicara tentang orang tuanya. Selama mengobrol di ruang keluarga tadi, hanya Hira dan Btari yang mendominasi. Erfan hanya sesekali menimpali.


***


Perubahan Erfan membuat Hira bingung. Suaminya itu berubah dingin semenjak berada di rumah ini. Tiga hari sudah mereka tinggal di kediaman Hardiyata. Namun Erfan seperti kehilangan semangat. Bicarapun hanya sesekali, kalau ditanya baru menjawab.


"Bee, ada yang salah?" Erfan menggeleng lemah.


"Rumah sudah kukembalikan pada Mami, barang-barang kamu masih di mobil, Sayang. Malam ini aku nginap di kantor aja ya."


"Bee, ada apa?"


"Enggak ada apa-apa, Sweety."


"Kamu jangan diam terus begini dong. Aku jadinya bingung. Capek kalau gini."


Hira lelah, tubuhnya lelah setelah seharian bekerja di rumah sakit. Biarlah Erfan mau tidur di mana. Ibu hamil itu membaringkan badannya lalu menarik selimut.


Erfan ikut membaringkan tubuhnya, merasa bersalah pada sang istri. Harusnya ia tak membuat Hira bingung dengan banyak berdiam diri.


"Sweety maaf." Erfan menyusupkan tangan di tengkuk dan lutut Hira, menariknya untuk semakin mendekat. Lalu merengkuh tubuh yang lelah itu. "Maaf, Sayang. Maaf. Aku belum terbiasa di sini. Aku bingung. Aku gak bisa jadi diriku sendiri di depan mereka. Aku gak tau harus bersikap bagaimana."


Hira membalikkan badan memeluk erat suaminya.


"Kamu pasti kaget banget Bee, orang yang selama ini kamu sayang. Orang yang membesarkanmu dari kecil, menjadi orang yang paling kejam menghancurkan hidupmu."


"Tapi kamu punya aku, Bee. Kamu bisa cerita apapun sama aku. Jangan buat aku seperti patung yang hanya berguna sebagai pajangan."


"Maaf Sayang, aku akan belajar terbuka."


"Kalau mau tidur di kantor, hayoo kita sama-sama. Mama Papa pasti ngerti kalau kamu jujur. Jangan membuat mereka kecewa karena kamu bersikap seolah tidak peduli pada mereka."


"Ayo." Erfan membantu istrinya bangun, setelah berganti pakaian mereka berpamitan pada Hardiyata dan Btari. Dua orang paruh baya itu tidak menghalangi anak dan menantunya pergi.

__ADS_1


"Erfan masih terpukul, Mah. Orang yang dianggapnya orang tua selama ini malah membuatnya kecewa. Dia perlu waktu untuk menerima kita." Hardiyata menenangkan istrinya yang berubah sendu setelah kepergian anaknya. Padahal cuma izin menginap di luar bukan pergi lama lagi.


"Apa Erfan bisa menerima kita nanti Pah?"


"Pasti, dia hanya perlu waktu Sayang. Beri dia waktu agar tidak merasa tertekan. Kita juga harus dekat dengan teman-temannya. Biar dia tidak merasa kita seperti orang asing dihidupnya."


"Mungkin kita harus ketemu Nazar, Pah. Hira bilang mereka lebih sering menginap di sana."


"Ya, nanti kita ke sana. Sekarang kita istirahat dulu." Setelah mengunci pintu utama, Hardiyata membawa istrinya ke kamar.


***


"Rencana terakhir kita gagal sekarang kamu bilang Erfan sudah tidak tinggal di rumahnya. Kemana anak buahmu, masa tidak bisa menguntit Erfan. Dia tidak pernah menggunakan pengawal." Bentak Wijaya pada Ikbal, "kamu ingat Ikbal, kamu hutang nyawa padaku."


"Pengawal kita sudah berkurang bos, mereka berhenti karena bayarannya berkurang." Jelas Ikbal sambil menunduk. Siapa yang mau dibayar murah untuk pekerjaan yang berbahaya.


"Bayar satu orang dua kali lipat untuk menguntit kemanapun Erfan pergi."


"Baik bos." Ujar Ikbal, ia terjebak di sini. Bekerja dengan Hardiyata lebih baik, bonus selalu didapatkannya. Hanya karena satu kesalahan Ikbal tidak bisa pergi lagi dari sini dan sekarang jadi buronan polisi. Kalau keluar dari persembunyian ini, ia akan berakhir hidup di penjara.


Brakk


Sebuah mobil mengalami kecelakaan tunggal di duga karena rem blong. Kondisi jalanan sepi karena sudah lewat tengah malam. Hanya ada satu mobil yang lewat dan membantunya keluar dari dalam mobil yang sudah berasap.


Wijaya mengenali logo perusahaan yang tertera pada tanda pengenal dari orang yang di tolongnya. Kesempatan bagus yang tidak bisa disia-siakannya lagi.


"Aku akan membawamu ke rumah sakit, kalau kamu mau bekerja untukku?" Wijaya memberikan penawaran sebelum membantu korban kecelakaan itu keluar dari mobil. Ikbal hanya bisa mengangguk, kepalanya sangat berat karena banyak darah yang keluar dari luka di pelipisnya.


Ia tak bisa berpikir lagi, kalau tidak ditolong sekarang akan mati konyol di tempat ini. Ponselnya entah ada di mana. Mobilnya remuk menabrak pohon besar.


Ikbal mengingat kejadian kecelakaan enam bulan yang lalu. Ia tidak tau kalau bekerja yang dimaksud itu mengkhianati bosnya. Ikbal tidak bisa menarik kembali ucapannya. Wijaya mengancam membunuh kedua orang tuanya kalau ia menolak.


Andai Ikbal menolak dan minta perlindungan Hardiyata dari awal, pasti sekarang tidak perlu menjadi buronan seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur. Ia sudah tak bisa mundur.

__ADS_1


__ADS_2