Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
87


__ADS_3

Hari ini Hira memutuskan untuk datang ke kantor EXTNET Indonesia saat jam istirahat. Ia sudah kembali bekerja, terlalu lama diam di rumah membuat Hira bosan.


"Sa, Erfan ada?" tanya Hira pelan pada sahabatnya itu.


"Ada tamu di dalam Ra. Kalian ada masalah?" Selidik Ressa, sudah lama Hira tidak datang ke kantor. Erfan juga tak pernah keluar dari kantor kecuali makan siang bersama perempuan yang selalu datang itu.


"Gak tau Sa, Erfan berubah, sudah dua minggu ini sejak aku masuk rumah sakit. Lama gak mereka di dalam?"


"Gak tau Ra, tunggu aja di sini dulu." Hira hanya mengangguk, "kamu masih sakit?" Sahabatnya ini terlihat sangat lelah pasti kurang istirahat, pikir Ressa. Hira menggeleng lalu tersenyum.


"Tuh mereka keluar." Ujar Ressa melihat Salwa keluar dari ruangan bosnya.


"Aku susul Erfan dulu Sa." Ucap Hira dengan penuh semangat.


"Bee, kangen." Hira memeluk suaminya erat, tapi tak mendapat balasan. Erfan hanya diam, tak ada sapaan atau senyuman. Suaminya sangat dingin sekarang. Bagai frezeer yang bisa membuat daging menjadi beku.


"Aku mau makan siang di luar. Nanti aja kangen-kangenannya." Ujar Erfan dingin tanpa ekspresi menatap pun ia enggan.


Terpaksa Hira mengurai pelukannya. Kalau gak mau dipeluk ya gini. Ia tetap memberikan senyuman yang paling manis. Walau tak dihiraukan suami sendiri itu sangat menyakitkan.


"Mas, ayo."


Perempuan yang tadi keluar dari ruangan Erfan kembali lagi memanggil suaminya dengan manja.


"Iya." Erfan meninggalkan Hira dalam kebisuannya. Setelah Erfan menjauh Ressa memeluk sahabatnya.


"Perempuan itu sering ke sini Sa?" Ressa hanya bisa mengangguk setelah mengurai pelukannya. Kenyataan memang begitu, walau tak tau apa yang mereka bicarakan.


"Aku pulang dulu ya Sa, titip Erfan." Ujar Hira lalu tersenyum manis.


Senyuman penuh luka yang Ressa lihat. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Saat Hira sakitpun Erfan sudah tak peduli.

__ADS_1


"Kenapa ya Nak Papa berubah, apa karena tante cantik itu?" tanya Hira sepanjang jalan menuju rumah sakit. Yang ditanya tak ada wujudnya.


Hira kembali ke rumah sakit, berkutat dengan pasien-pasiennya. Tak ada tempat untuk mengadukan luka dan rindu.


Pulang ke rumah Hira habiskan untuk melamun. Ia sudah tak meminjam Bi Atun lagi setelah sudah sembuh. Mengerjakan semuanya sendiri seperti belum menikah dulu.


Erfan juga tak mengirim uang bulanan untuk orang tuanya lagi. Sampai ibu tirinya berulang kali mengirim pesan.


Lelah berpikir Hira lebih memilih tidur. Erfan sudah bahagia dengan perempuan barunya. Jadi ia tak perlu memikirkan kebahagiaan Erfan selain menyembuhkan hatinya sendiri.


***


Erfan sangat rindu dengan pelukan itu, suara manja istrinya yang mengucap kangen. Tapi sekarang rasanya suara itu membuat kepala Erfan ingin pecah.


Ia melihat kembali foto-foto saat Guntur menyuapi Hira apel. Istrinya terlihat senang, tak ada penolakan.


"Kenapa rasanya sesakit ini Ra, seminggu tidak peduli dengan keadaanmu itu sangat menyakitkan, Sayang. Kenapa kamu tega melakukan ini Hira. Apa cinta dan perhatianku kurang untukmu. Apa aku kurang kaya seperti Guntur," rintih Erfan.


Setiap malam Erfan tak bisa tidur. Saat Hira masih di rumah sakit ia bisa datang malam-malam ke sana. Melihat wajah istrinya yang tengah terlelap. Walau itu sangat menyiksa, dikhianati teman sendiri.


"Makasih Mas, sudah mau menemani makan." Ucap Salwa senang, ia sudah menang karena Erfan lebih memilih pergi dengannya dibanding istrinya.


"Salwa," panggil Erfan lembut.


"Ya Mas."


"Kamu kenal suara ini?" Erfan memutar rekaman suara dari ponselnya. Salwa mematung seketika, itu percakapannya dengan Mami Reny waktu di restoran. "Aku ingin mengingatkan, kalau kamu ingin mengikuti jejak Fany dan Azmi teruskan aktingmu ini." Ucap Erfan datar lalu meninggalkan rumah makan.


Argh, Salwa mengusap wajahnya gusar. Ia pikir sudah berhasil menaklukkan lelaki dingin itu. Selama dua minggu ini Erfan menyambut hangat dirinya. Tapi ternyata Erfan sudah mengetahui niat terselubungnya. Rencananya benar-benar gagal sekarang.


***

__ADS_1


Rutinitas baru Hira bangun tidur—berangkat ke rumah sakit, pulang ke rumah—tidur. Sebulan sudah aktivitasnya berubah jadi kamar dan rumah sakit.


Hira juga tidak menghubungi Erfan lagi. Suaminya itu tak suka diganggu. Apa itu artinya Hira siap dimadu. Tentu tidak. Ia siap melepaskan Erfan jika tidak diinginkan lagi. Bagaimana ingin menyelesaikan masalahnya kalau Erfan saja tak mau bicara.


Ia tak ingin masalah rumah tangganya di ketahui orang. Tapi mau bagaimana lagi sekarang. Erfan yang terang-terangan menampakkannya di depan orang lain.


"Ada masalah apa, Ressa bilang kamu udah jarang ke kantor Erfan dan susah dihubungi?"


Guntur ada dihadapannya sekarang, mengintrogasinya seperti polisi. Argh, sahabat lucknutnya ibu bikin hidup Hira tambah runyam saja.


"Gak ada masalah Guntur."


"Kamu sakit?" Lelaki itu meneliti wajah wajah perempuan yang tidak secerah biasanya. Kantung mata sangat jelas tercetak di sana dan wajah sayu yang tak dapat ditutupi.


"Gue gak sakit, sana gih pergi. Ganggu aja." Usir Hira, ia malas berdebat dengan Guntur.


"Kalo ada masalah cerita sini, gue siap jadi pendengar yang baik." Bujuk lelaki itu, ia sudah biasa diusir perempuan di depannya ini.


"Gue gak ada masalah, lo rempong banget deh ngalahin emak-emak yasinan yang suka ngurusin hidup orang." Ucap Hira sinis, Guntur mengernyit. Jelas sekali orang yang ada di depannya ini sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sama gue pun lo mau bohong Ra."


Hira menggeleng pelan, tak habis pikir dengan Guntur yang merecoki hidupnya. Masalah dengan Erfan saja Hira tidak tau apa penyebabnya. Ia memijat pelipisnya yang berdenyut nyeri.


"Aku capek Tur, lagi gak pengen berantem. Capek banget," lirih Hira. Ia lelah tak ingin mencari masalah dengan siapapun lagi.


"Oke, sorry. Sekarang lo cerita sama gue, lagi ada masalah apa. Lo juga gak mau cerita sama Ressa. Lo tinggal di apartemen sejak keluar rumah sakit. Ada apa?"


Hira menggeleng lemah, "aku gak tau Tur, Erfan berubah. Aku capek. Kamu pulang aja, aku lagi gak pengen ketemu siapapun."


"Kamu yang harusnya pulang Ra, istirahat sana tenangkan pikiran. Sebelum kupecat dari rumah sakit ini." Ucap Guntur geram, bicara dengan Hira gak bisa menggunakan cara lembut ternyata.

__ADS_1


"Oke, gue masih bisa kerja di tempat lain. Mulai besok gue gak akan datang lagi." Sahut Hira lalu mengambil tas untuk pergi. Sungguh ia sangat lelah. Orang-orang itu hanya memperumit hidupnya.


Guntur mendesah berat, ia salah bicara. Niatnya membuat Hira pulang untuk istirahat malah salah lagi. Berurusan dengan perempuan memang penuh dengan drama.


__ADS_2