Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
92


__ADS_3

"Hira, lo di sini?" Sapa seorang pria yang Hira sangat kenal. Mampus. Satu persatu ia bertemu dengan orang yang dikenal. Entah ini kebetulan atau apa.


"Lo ngapain di rumah sakit ini?" Selidik Hira pada pria itu.


"Astaga Ra, lo gak tau ini cabang Emeral Hospital."


"What?"  Pekiknya kaget. Apa yang harus Hira lakukan sekarang. Kenapa ia tak sadar rumah sakit swasta ini cabang Emeral Hospital. "Lo dipindah ke sini Go?"


"Enggak, gue cuma beberapa hari aja. Sementara belum ada dokter saraf di sini. Lo kabur bikin heboh tau Ra. Gue yakin sebentar lagi Erfan jemput lo ke sini." Jelas Ringgo, Hira tersenyum miring. Mana mungkin Erfan susah-payah mencarinya. Lelaki itu sudah tidak peduli dengan hidupnya lagi.


"Gue duluan Go, ada jadwal operasi pagi ini." Pamit Hira, baru dua bulan bekerja di rumah sakit ini. Hidupnya sudah terancam lagi.


Argh. Kenapa para konglomerat itu bisnisnya ada dimana-mana sih, kesal Hira.


"Yo'i, pulang nanti kita ngopi-ngopi." Ujar Ringgo, Hira hanya menjawab dengan anggukan lalu beranjak keruangannya.


Sungguh nasibnya sangat tidak beruntung. Harusnya Hira kabur ke Papua biar tidak ada yang mengenalnya.


Baru Hira ingin mendaratkan bokong sudah ada panggilan emergency. Ia bergegas menuju ruang IGD dan melakukan penangan. Seorang gadis belia mengalami keguguran. Janinnya tidak dapat diselamatkan. Kejadian ini mengingatkan Hira dengan apa yang menimpa dirinya beberapa bulan yang lalu. Setelah selesai Hira keluar dari ruangan, keluarga pasien sudah menunggunya.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya keluarga pasien yang menunggunya di depan pintu. Hira membeku mendengar suara itu, suara yang sangat ia rindukan.


"Hira!" Erfan merentangkan tangan ingin memeluk sang istri. Orang yang sangat ia rindukan sekarang ada di depan mata.


Hira mundur satu langkah menghindari pelukan lelaki itu. "Pasien baik-baik saja, mohon maaf janinnya tidak dapat diselamatkan." Jelas Hira sambil tersenyum kemudian meninggalkan Erfan yang masih mematung di tempat.


Masih pagi mood Hira sudah buyar, lelaki yang sangat dicintainya membawa perempuan lain yang sedang hamil. Rumah tangganya sudah tidak bisa diselamatkan lagi.


Perempuan itu membenamkan wajahnya di atas meja. Apa kali ini ia akan pergi lagi mencari tempat yang tenang. Selama beberapa bulan ini kondisinya sudah lebih baik. Tapi bertemu Erfan di tempat ini membuat hidupnya terasa berat lagi.


"Dokter Hira!" Panggil asistennya, "dokter sakit?" Hira mengangkat kepalanya lalu menggeleng.

__ADS_1


"Ada pasien?"


"Belum, ada yang mau bertemu. Boleh masuk?" Tanya asistennya, melihat kondisi Hira yang tidak baik-baik saja.


"Boleh." Asistennya mengangguk kemudian memanggil orang yang ingin bertemu. Hira mencuci wajahnya ke kamar mandi agar lebih fresh. Kepalanya sedikit berat dapat dua kejutan pagi ini. Kenapa mereka muncul di waktu dan tempat yang sama.


"Assalamualaikum Sweety." Sapa Erfan yang sudah duduk di depan meja Hira. Istrinya itu baru keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sedikit lesu.


"Wa'alaikumsalam." Hira mengambil tangan suaminya untuk bersalaman. Ia masih menghargai Erfan sebagai suami terlepas dari semua yang sudah terjadi.


"Apakabar Sayang?"


"Baik." Hira sedikit canggung harus bersikap seperti apa. Lubuk hatinya mengatakan sangat rindu dan ingin memeluk suaminya itu. Tapi di sisi yang lain ia tak ingin menjadi penghalang hubungan Erfan dengan perempuan lain yang mungkin membuat lelaki itu lebih bahagia.


Apa ia menginginkan Erfan berbuat dosa dengan perempuan yang tidak halal. Tentu saja tidak. Hira masih belum tau ada hubungan apa Erfan dengan gadis itu.


"Kamu ke sini mau menceraikanku ya. Aku sudah siap." Ucapnya sambil tersenyum untuk menutupi keretakan hatinya yang tak terbaca.


"Maaf, aku gak bisa Mas." Jawab Hira tenang, tidak boleh menangis sekarang. Ia perempuan yang kuat. Hira meyakinkan hatinya lagi. "Sana gih temui istrimu, nanti dia nungguin," ujarnya lembut.


"Istri aku di sini, itu tadi bukan istriku Sayang. Aku cuma nolongin dia jatuh dari motor." Jelas Erfan, mendekati Hira. "Aku kangen banget, boleh peluk?"


Hira bergeming, ia juga rindu, sangat rindu malahan. Erfan merengkuh tubuh mungil itu membawanya dalam pelukan.


"Maaf Sayang, waktu itu aku cemburu. Ada yang kirim foto kamu sama Guntur seperti sedang ciuman. Aku gak bisa terima itu Sweety." Hira membulatkan mata, Guntur menyentuhnya pun tidak. Perempuan itu menarik tubuhnya dari pelukan sang suami.


"Maaf aku sudah jadi orang bodoh yang tidak bisa melihat kebenaran. Aku seperti orang gila mencarimu Sweety. Jangan pergi lagi." Mohon Erfan dengan sendu, butiran bening jatuh dari matanya. "Maaf, aku tidak ada disaat kamu terpuruk. Maaf sudah jadi suami yang tidak bertanggung jawab."


"Pulang ya Sweety."


Hira menggeleng sebagai jawaban, ia kembali duduk. Kakinya lemas, drama pagi cukup menyita semua energi yang ia miliki.

__ADS_1


"Aku boleh sama kamu di sini?" Bujuk Erfan, istrinya sudah di depan mata. Ia harus mendapatkan maaf dan membawanya pulang.


"Kamu pulang Mas, nanti pacarmu nyariin." Ucap Hira asal, ia tidak sanggup berlama-lama dengan suaminya. Pertahanan yang ia bangun bisa roboh seketika dan membuatnya jatuh dalam luka kembali.


"Aku gak punya pacar Sweety. Perempuan yang aku sayang cuma kamu." Erfan menggenggam erat tangan sang istri. "Please percaya, Sayang." Mohonnya dengan suara lirih.


"Maaf Mas, aku harus kerja. Kamu pulang sana, jangan cari aku lagi." Ucap Hira sebelum meninggalkan ruangan. Ia ada jadwal operasi, walaupun pikirannya masih belum bisa fokus Hira tetap professional.


Erfan menatap nanar punggung istrinya yang menghilang dari balik pintu. Sesakit itukah yang Hira rasakan sampai tidak bisa memaafkan.


Keluar dari ruang operasi Hira melewati ruang rawat. Matanya tidak sengaja melihat Erfan ada di sana. Itu ruangan gadis yang ditanganinya pagi tadi.


"Huft." Hira menarik napas panjang, melewati koridor rumah sakit. Sakit itu datang lagi, ia sudah belajar berdamai dengan keadaan namun kenyataan luka itu tetap hadir.


Ia izin pulang lebih cepat sebab tak enak badan. Juga tidak mau bertemu Erfan lagi. Luka ini harus diobati kembali. Sampai kamar Hira menghempaskan tubuhnya di kasur.


Bagaimana definisi ikhlas dan memaafkan yang sebenarnya. Hira sudah berusaha belajar ikhlas pada hati yang penuh dengan torehan ini.


Suara ketukan di pintu membuat Hira bangkit dari kasur. Siapa yang datang, dia tak punya janji dengan siapapun. Ringgo tidak mungkin tau rumahnya.


Saat membuka pintu Hira dikejutkan dengan Erfan yang tersenyum manis padanya. Tanpa disuruh masukpun lelaki itu sudah ikut masuk ke kamarnya. Mata Erfan meneliti setiap sudut ruangan. Kost'an itu tidak besar dengan kamar berukuran tiga kali empat meter. Perabotan seperti lengkap kecuali sofa.


Hira merebahkan tubuhnya yang lelah. Hari ini ia tak ingin banyak berdebat.


"Kamu sakit, Sayang?" Erfan meletakkan punggung tangannya di dahi sang istri. Tidak demam, mungkin istrinya lagi banyak pikiran.


"Enggak, aku capek. Mau istirahat." Jawab Hira dingin lalu memejamkan mata.


Erfan duduk di sisi ranjang, inisiatif memijat kaki Hira. Istrinya terlihat sayu dan lebih kurus dari sebelumnya.


"Gak usah Mas." Hira menyingkirkan tangan Erfan. Pertahanannya akan luluh kalau disentuh begini.

__ADS_1


"Aku kangen Sayang." Erfan pasrah menarik tangannya lalu ikut berbaring di samping sang istri. "Apa yang harus aku lakukan biar kamu maafin aku, Sayang." Jari-jarinya mengusap lembut pipi Hira, ia rindu dengan istrinya yang manja dan cerewet.


__ADS_2