
Erfan tidak tau harus bagaimana lagi memberikan penjelasan pada istrinya ini. Jawabannya memang iya saat diminta berhenti bekerja, tapi wajahnya tak menunjukkan persetujuan.
"Sweety berhenti dong cemberutnya." Bujuk Erfan, pagi-pagi istrinya itu sudah muntah-muntah. Ia jadi tak tega melihat Hira mengalaminya. Tapi setelah itu wajahnya cemberut masam.
"Sweety marah sama Mas?" Erfan merentangkan tangan, gadisnya itu langsung melompat dalam pelukan.
"Aku gak mau ditinggal kerja."
"Rara maunya gimana Sayang. Mau kerja atau ikut Mas?"
"Dua-duanya."
Mampus, Erfan tak tau lagi harus bagaimana mengatasi istrinya yang sedang hamil muda ini.
"Sekarang jawab Mas, Hira mau berhenti kerja atau enggak?" Erfan pusing tujuh keliling kalau begini ceritanya.
"Enggak." Jawabnya sendu, baiklah. Erfan harus lebih bersabar lagi dalam menghadapi bayi kangurunya ini.
"Okay, sekarang kamu siap-siap ganti baju ya. Sekarang sudah jam tujuh, baru kita sarapan, Mas antar."
Hira menggeleng, tak mau beranjak dari pelukan Erfan.
"Rara mau apa Sayang?" Lagi-lagi Erfan mengelus dada. Tolong berikan Erfan suntikan kesabaran pagi ini. Perempuan kalau lagi di luar strongnya minta ampun, tapi kalau sudah sama orang yang disayang ya gini. Manjanya gak ketolongan. Erfan sampai ingin membayar mamysitter kalau ada.
"Mau ikut ke kantor, Bee."
Oh Tuhan, tolong Erfan. Erfan menampilkan senyuman paling manisnya, untuk menyembunyikan rasa kesal.
"Iya, ayo Rara ganti baju dulu ya, Sayang." Hira mengangguk antusias mengurai pelukan Erfan. Untung tuh rumah sakit bisa negosiasi dengan Erfan.
Huhh, Erfan menghela napas kasar berulang kali untuk meredakan emosi. Baru dua minggu, masih ada sisa delapan bulan lagi menghadapi kelabilan Hira. Apakah drama pagi seperti ini akan berlanjut.
"Sayang, jangan rewel ya. Papa mau kerja dulu." Erfan mengusap perut Hira sangat lembut, lalu mengecup setelah membantu istrinya naik ke mobil.
"Bee, aku gak rewel." Rengut Hira, Erfan memberikan senyuman terbaiknya.
Gak rewel katanya, lalu pagi tadi apa namanya. Erfan harus curhat ke Mamah Dedeh setelah ini.
"Sabuk pengamannya kita pasang ya Sayang." Erfan memasangkan sabuk pengaman kemudian menutup pintu perlahan, biar baby gak kaget. Sesayang itu Erfan sama mereka berdua.
Erfan melajukan mobilnya menuju kantor EXTNET Indonesia. Harapannya Hira tidak membuat keonaran lagi setelah ini. Tuh anteng banget duduk di mobil. Kalau gak mau rewel lagi jangan digodain. Erfan menahan tangannya untuk tidak menoel kesayangannya itu.
"Mau beli sesuatu dulu Sayang buat cemilan?" Tawar Erfan, kalau banyak makanan mungkin istrinya bisa jinak. Kok jinakin Hira sesudah menikah susah banget ya. Erfan sampai ingin menyerah.
__ADS_1
"Enggak Bee, aku mau nonton aja." Erfan mengangguk setelahnya tersenyum manis. Asal jangan minta ambilin minum yang ada di depan mata sambil teriak, batinnya.
Tangan Hira digenggamnya erat. Erfan takut Hira berlari-larian. Duh kenapa pikirannya begini, ini gara-gara Hira minta gendong ke mall. Jadilah otak Erfan banyak pikiran yang tidak masuk akal sekarang.
Dalam lift Hira memain-mainkan tombolnya. Please ada apa dengan istrinya yang sekarang ini.
"Sweety jangan mainin itu ya." Lekas Erfan merengkuh bahu Hira dengan sayang. Kenapa lagi liftnya pakai lama, jangan sampai main turun naik di lift gara-gara kenakalan istrinya.
"Warnanya bagus Bee."
"Iya Sayang, bagus lagi kalau Rara diam. Nanti gak bisa keluar dari sini." Ucapnya lembut, si empunya hanya nyengir tanpa dosa.
Ting..
Alhamdulillah selamat, batin Erfan.
"Ressaaaa!" Teriak Hira melepas genggaman tangan Erfan dan berlari ke meja sahabatnya.
"Sayang, jangan lari." Erfan meringis melihat tingkah istrinya.
"Hira, jangan lari." Balas Ressa dengan teriakan keras, lalu berdiri merentangkan tangan. Si empunya cemberut berhenti lari.
"Jangan cemberut!" Ressa merengkut tubuh sahabatnya itu. Matanya melirik sang bos yang terlihat sedang pusing.
"Sa, ayo kita nonton drakor. Gue udah download episode terbaru." Hira menarik Ressa untuk duduk di sofa sampingnya. Mata Ressa membulat, bakal berkurang gajinya kalau menuruti keinginan Hira.
"Gue kerja dulu ya Ra, nanti malam kita nonton puas-puas."
Hira menggeleng cemberut, Erfan mengamati istrinya sambil memijat pelipis, pening.
"Apa jadwal gue hari ini Sa?"
Ressa mengambil ponselnya dari saku blazer. Matanya masih melirik Hira yang fokus pada layar ponsel. Pantas saja beberapa hari ini bosnya terlihat sangat lelah. Ternyata meladeni Hira memang semelelahkan itu.
"Jam sembilan meeting dengan Digitech Indonesia. Lanjut jam sebelas meeting dengan beberapa perusahaan yang tertarik dengan ERP," jelas Ressa.
"Temani Hira ya Sa." Pinta Erfan, matanya sudah fokus pada layar laptop melihat angka-angka yang menanjak naik. Senyuman terbit dari bibirnya.
"Siyap bos." Jawab Ressa.
"Sa, Sa. Lihat adegannya so sweet banget deh." Hira menunjukkan layar ponselnya pada Ressa.
"Hm, iya." Mata Ressa ternodakan, ini masih pagi. Hira sudah membuatnya tergoda nonton drakor.
__ADS_1
"Inikan Oppa-oppa kesayangan lo Sa." Pekik Hira nyaring.
"Ra, telinga gue bisa budek kalau lo teriak gitu." Ressa spontan menutup telinganya.
Erfan mengalihkan pandangannya pada sang istri yang sedang kegirangan. Keningnya berkerut kemudian menggeleng pelan. Biarlah istrinya begitu, sebelum rewelnya datang.
"Seru tau Sa." Kata Hira sambil nyengir.
"Bos, lima menit lagi meeting internal." Ujar Ressa mengabaikan celotehan sahabatnya yang tak berhenti mengomentari adegan drakor yang sedang ditonton. Erfan mengangguk, matanya masih fokus pada layar.
"Ra, gue tinggal dulu ya." Izin Ressa, bibir Hira mengerucut dengan pipi yang digembungkan. "Yah, sendirian dong nontonnya." Matanya mengiba pada Erfan.
"Sweety, Ressa nyiapin meeting bentar aja nanti balik lagi nemenin kamu." Bujuk Erfan, beranjak dari kursi mendekati istrinya. "Tinggal aja Sa, gue yang nemenin dulu."
"Siyaaapp bos." Ressa meninggalkan pasutri itu. Huuhh, matanya bakalan panas liat bosnya bermesraan seharian dengan sahabat sendiri. Nasib jomblo memang ngenes.
"Bee, mau jalan-jalan ke taman." Hira meletakkan ponselnya di meja.
"Nanti sore kita jalan ya Sayang."
"Beneran?"
"Iya, aku meeting dulu ya. Sampai siang nanti kamu sama Ressa nonton di sini ya. Kalau mau istirahat di sana." Erfan menunjukkan connecting door.
"Pintu apaan itu Bee?"
"Ruang istirahat Sayang, ayo lihat." Erfan membawa Hira melewati connecting door. Ia sengaja membuat ruang istirahat yang nyaman. Tujuannya untuk Hira kalau istrinya itu berhenti kerja ia bisa membawa ke kantor. Kasihan kalau kesepian di rumah sendirian.
"Kamar Bee, kamu gak bilang punya kamar di sini."
"Buat kamu Sweety, kalau bosan di rumah temani aku kerja di sini. Mau ganti piyama ada di lemari. Tapi jangan keluar kalau pakai piyama ya Sayang." Jelas Erfan dengan tersenyum.
"Aku ajak Ressa ke sini, boleh?"
"No Sweety!" Erfan menggeleng, "cuma kita berdua yang boleh masuk sini Sayang, paham?" Ucapnya dengan sangat lembut, Hira mengangguk mengerti. "Mau nunggu di sini apa di luar?"
"Di sini aja, boleh?"
"Boleh Sayang, Mas ambilin tas kamu dulu ya." Hira mengangguk, ini bukan tempat istirahat tapi kamar hotel, decak Hira dalam hati. Suaminya memang selalu menakjubkan.
"Nanti pintunya di kunci ya Ra." Erfan meletakkan tas Hira di atas meja, "doain Papa kerjanya lancar ya Sayang." Ia mengusap perut Hira lalu mengecupnya kemudian beralih ke kening dan berakhir di bibir ranum, dikecupnya singkat.
"Istirahat ya Sweety."
__ADS_1
"Iya, Bee. Peluk dulu."