
"Berdasarkan hasil pemerikasaan tes pap smear Ibu disarankan untuk menjalani tes lanjutan kolposkopi. Jika pada saat tes kolposkopi ditemukan kelainan, sampel akan kami lakukan pemeriksaan lanjutan." Hira menjelaskan hasil pemeriksaan pada pasien yang di duga menderita kanker serviks.
Kolpskopi merupakan tes yang menggunakan alat khusus bernama kolposkop. Ini dilakukan untuk memeriksa bagian leher rahim, ******, dan vulva secara langsung.
"Kapan saya bisa tes kolposkopi dok?" Tanya pasien.
"Minggu depan Ibu datang lagi untuk melakukan pemeriksaan. Silahkan Ibu tanda tangani surat persetujuan ini kalau setuju dilakukan pemeriksaan kolposkopi." Hira memberikan selembar surat ke hadapan pasien, kemudian melanjutkan penjelasannya.
"Beberapa hari sebelum pemeriksaan, Ibu tidak boleh melakukan hubungan seksual dulu baik secara vaginal, menggunakan tampon, maupun mengoleskan krim atau obat di area ****** 24 jam sebelum prosedur dilakukan. Silahkan nanti Ibu membawa pembalut untuk dipakai karena mungkin akan ada sedikit perdarahan atau flek yang keluar setelah dilakukan pemeriksaan. Nanti Ibu akan saya kasih obat pereda nyeri 30 menit sebelum kolposkopi dimulai untuk mengurangi rasa tidak nyaman, jadi jangan takut." Jelas Hira menangkap kekhawatiran di wajah pasien ibu-ibu itu. Memang, banyak orang yang takut bertemu dokter walau hanya sekedar untuk konsultasi. Semengerikan itukah image dokter?
Pasien itu mengangguk tanda mengerti kemudian membubuhkan tanda tangan di surat yang Hira berikan. Lalu meninggalkan ruangan Hira setelah mengucapkan terimakasih.
Hira mengisyaratkan pada asistennya untuk memanggil pasien selanjutnya. Ada beberapa pasien lagi yang akan melakukan konsultasi kehamilan yang bermasalah, Hira melewati hari ini dengan bersemangat. Walau cuma menjawab dan menjelaskan masalah kesehatan pada pasien itu sama melelahkannya dengan melakukan operasi.
Kesehatan jiwanya sedang bermasalah sekarang jadi Hira harus ekstra menjaga diri dari hal-hal pemicunya.
Alhamdulillah, Hira melemaskan otot bahunya sekarang sudah jam dua. Ia belum makan siang, pasien terakhirnya baru keluar. Sebentar lagi ia akan cari makan, Ressa sudah masuk bekerja kembali. Perlu debat panjang dulu sampai Hira jadi pemenang. Ia tidak mau membuat Ressa repot mengurusi hidupnya.
"Assalamualaikum." Hira hapal dengan suara itu, suara yang ingin dihindarinya hari ini. Tapi terlambat, Ringgo sudah duduk di depannya sekarang.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Hira dengan tenang, Ringgo menyodorkan kotak yang berisi ayam geprek.
"Makan dulu, kamu belum makan 'kan?"
"Makasih Go, kamu bawa aja balik. Gue mau makan di luar aja." Hira bersikap setenang mungkin. Bukan Ringgo yang salah, juga bukan mama Ringgo. Takdir yang menginginkan seperti ini.
"Ayo aku temani."
"Gue pengen sendiri Go, pahamkan?" Tekan Hira dengan nada sinis, Ringgo mengangguk.
"Maaf atas perlakuan mama ke kamu Ra. Maaf aku gak bisa mengendalikan mama malam itu." Ringgo berucap tulus, memohon agar Hira mau memaafkannya.
"Lupakan Go, tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang salah. Nyokap lo benar, gue hanya perempuan murahan. Erfan sudah puas memeluk tubuh gue." Sakit, sangat sakit saat ia mengucapkan kalimat itu. Hira juga tidak ingin dipeluk Erfan sembarangan, tapi saat ketakutan ia tidak bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
Hira juga tidak bisa menerima saat Erfan ingin bertanggung jawab dan menikahinya. Ia ingin menikah dengan Erfan, itu yang hatinya katakan. Tapi apa daya, orang tua Erfan tidak jauh berbeda dengan orang tua Ringgo. Mereka menganggap Hira perempuan murahan yang tidak pantas dijadikan pendamping. Itu sangat menyakitkan. Hira mengangkat wajah agar air matanya tidak terjatuh.
"Mempertemukanmu dengan mama ternyata membuatmu sesakit ini Ra, maafkan aku yang egois. Aku pikir bisa membujuk mama."
"Ringgo." Hira sudah bisa mengendalikan diri, matanya menatap Ringgo dengan tenang. "Lupakan semua ini ya, lupakan tujuan lo ingin menikahi gue. Kita cukup sampai di sini, kita tetap teman. Gue gak mau lo jadi anak durhaka." Hira tersenyum, karena bukan Ringgo lelaki yang ingin Hira jadikan suami. Hatinya memilih Erfan, lelaki menyebalkan yang selalu tidak sengaja bertabrakan dengannya.
"Bagaimana denganmu Ra?"
"Sama sepertimu, gue gak mau jadi anak durhaka juga." Ya mungkin itu keputusan terbaik, bukan Erfan atau Ringgo yang akan ia nikahi. Tapi pilihan orang tuanya.
"Kamu mau menikah dengan duda?" Ringgo meyakinkan dirinya. Berharap Hira tidak melakukan hal konyol itu.
"Akan gue lakukan agar tidak jadi anak durhaka."
Hira juga akan mengubur semua impian dan kebahagiaannya. Diusianya yang sudah tiga puluh tahun ini apalagi yang ia kejar. Membahagiakan ayah yang sangat jahat padanya, mungkin lebih baik begitu. Biar orang tuanya puas dan ia tersiksa dengan pernikahan paksa.
"Ra, kita bisa menikah tanpa restu mamaku, masih ada papa yang suka sama kamu."
Deg
Ucapan Hira yang sambil tersenyum sangat manis itu mampu menghujam jantung Ringgo, membuat dadanya sesak. Memang selama ini hanya Ringgo yang mencintai Hira. Hira tidak pernah mencintainya. Ia berusaha menampilkan senyumannya, menyimpan luka yang baru saja terbentuk lagi.
"Aku bisa apa kalau kamu sudah bicara seperti itu Ra. Kamu memaksaku untuk mundur kesekian kalinya."
"Lo terlalu keras kepala Go, gue udah bilang jangan berharap sama gue. Cinta lo akan menyakiti diri lo sendiri." Ucap Hira geram, ia membuka kotak ayam geprek lalu mencuci tangan di wastafel kemudian melahapnya.
"Akhirnya dimakan juga," Ringgo terkekeh geli.
"Ngomong sama lo bikin perut gue meronta-ronta. Lo ngabisin jadwal satu sesi gue konsultasi. Huaahh!" Hira mengipas-ngipas mulutnya yang kepedasan.
"Gue harus bayar waktu lo yang terbuang sia-sia dong." Ringgo tergelak, ia suka Hira yang seperti ini. Cepat menguasai diri saat suasana tidak menyenangkan.
"Tentu, transfer langsung aja." Ringgo mengamati wajah lucu Hira yang kepedasan. Ia diam sampai Hira menyelesaikan makannya. "Thanks Go, alhamdulillah kenyang." Kata Hira setelah membereskan mejanya.
__ADS_1
"Ra, lo kok bisa sejinak itu sama Erfan?" Hira mengendikkan bahu lalu tertawa, semua orang juga pasti menanyakan itu termasuk dirinya sendiri.
"Gue gak tau Ringgo, lo pikir gue sengaja menolak lo yang nenangin gue." Hira kembali duduk di depan Ringgo setelah mencuci tangan.
"Baru tau ada penyakit seaneh itu, mungkin gue harus benerin saraf di otak lo Ra biar gak konslet."
"Ide bagus Go, kapan lo bisa bedah saraf gue. Kalau bisa sekarang, biar gak kelamaan gila nih otak."
Salah Ringgo mengatakan hal gila pada orang gila, yang ada ia ikutan gila. Lagi-lagi Ringgo hanya bisa mentertawakan otak Hira yang gila.
"Gue serius go, lo malah tertawa. Eh Go, kok masih ada orang yang mau konsul sama orang gila kayak gue ya." Hira ikutan tertawa, baru menyadari kegilaannya.
"Kapan lo terapi lagi Ra?"
"Lusa deh kayaknya, kalau dr. Erika gak bosen ketemu pasien gila kayak gue." Hira menyeringai
"Lo gila aja cantik Ra, apalagi kalau normal."
"Secara tidak langsung lo mempatenkan kegilaan gue Go, mana ada teman yang jahat seperti itu." Hira memutar bola mata malas.
"Emang gue teman lo?" Tanya Ringgo usil, "jadi lo gak anggap gue teman?" Pekik Hira geram.
"Enggak." Ringgo tertawa gelak, ekspresi kesal Hira sangat lucu baginya.
"Jahat!" Hira mengerucutkan bibirnya.
"Gue anggap lo calon istri dari dulu." Kata Ringgo ditengah tawanya, Hira menghantamkan buku tebal ke kepala Ringgo sampai pria itu meringis kesakitan.
"Sakit Ra, kalau gue ikutan gila nanti orang bingung dokter saraf malah saraf." Hira tertawa puas, Ia tidak gila sendirian.
"Senangkan lo punya teman yang saraf, dah Ra capek ketawa nanti dikira gila beneran. Amit-amit." Ringgo bergidik, tidak sadar kalau otaknya sudah sedikit geser karena Hira.
Tawa Hira yang selalu Ringgo rindukan, kebahagian gadis itu yang utama. Walau sakit melepaskannya, Ringgo tidak boleh egois lagi. Ia tidak ingin melihat Hira histeris seperti semalam, itu sangat menyiksanya. Membiarkan Hira dibawa pergi dalam keadaan yang sangat kacau, sedang ia tak dapat berbuat apa-apa. Selain meruntuki kebodohannya.
__ADS_1