Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
97


__ADS_3

"Sweety!" Erfan menyambut istrinya yang dituntun perawat. "Disuruh diam susah banget, lagi sakit juga." Omel lelaki itu.


"Makasih Sus, biar saya yang urus." Ujar Erfan setelah Hira beralih ke gendongannya. "Ini istri saya, jangan khawatir." Jelasnya karena melihat raut bingung sang perawat.


Lelaki itu mengemasi perlengkapan Hira lalu membawanya pulang.


"Dikasih tau nurut, Sayang." Erfan membaringkan Hira di tempat tidur. "Sudah gak ada toleransi lagi buat kamu, mulai sekarang diam di rumah.


Hira tersenyum geli melihat suaminya yang masih mengoceh.


"Ketawa, kalau aku gak ada di sana tadi siapa yang gendong lagi. Ringgo? Suka banget digendong orang lain."


"Kamu kalau cemburu lucu dan nyeremin Bee. Aku cuma pusing dikit ini." Hira meletakkan kepala di pangkuan Erfan, tangan lelaki itu memijat kepalanya.


"Aku tuh sayang banget sama kamu Ra, kamunya aja susah diatur dan ngeyelan."


"Kok aku salah lagi, posesif banget." Hira mendelik sebal, bukan hanya wanita yang selalu benar. Kadang para lelaki juga maksaiin diri untuk selalu benar.


"Tidur, kalau gak mau aku gempur." Ancam Erfan, Hira langsung diam. Jelas ia tidak siap digempur saat seperti ini. "Eh, tapi itu bisa bikin sakit kepala hilang Sayang." Erfan menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Jangan macam-macam, Bee. Mijatnya jangan berhenti." Rengek Hira, pijatan Erfan bisa membuat kepalanya lebih ringan.


"Pijat plus-plus mau Sayang?" Lelaki itu mengerling jahil.


"Bee, berhenti godain."


"Sini Sayang, mana lagi yang mau Mas pijat." Ucapnya dengan nada manja, Erfan tidak akan berhenti menggoda sebelum istrinya mengamuk.


"Di sini yang sakit, Bee."


"Eh, jangan main-main Sweety." Kesal Erfan, karena Hira sudah membangunkan juniornya. "Kamu harus tanggung jawab."


"Aku pingsan Bee." Ujar Hira, tapi tangannya masih kelayapan dengan nakal.


"Sakit Sayang, tolong." Rengek Erfan yang tak dipedulikan Hira. Setelahnya Hira bangkit dari pangkuan Erfan lalu bergelung dibalik selimut. "Dasar istri nakal."


Siapa suruh mancing-mancing kenakalan Hira. Perempuan itu cekikikan di bawah selimut.


"Aku gak bakal biarin kamu selamat hari ini Ra." Kesal Erfan menubruk Hira, si empunya bergeming pura-pura tidur. Seraya menahan glenyar-glenyar aneh karena tangan Erfan tak berhenti traveling.


Kuat iman Hira, kuat.

__ADS_1


"Bee, nyerah." Beo Hira akhirnya, Erfan bermain licik membuat pertahanannya ambruk. Lelaki itu menyeringai, tak berhenti dengan aktivitasnya seraya mengendus-endus leher Hira.


"Kenapa Sayang, mau sekarang, hm?" Goda Erfan jahil, Hira hanya berdehem. Kemenangan dari kubu Erfan.


Selesai pergelutannya tadi siang Erfan langsung memboyong istrinya pulang. Hira terduduk lemas di jok mobil.


"Sebentar lagi kita sampai Sayang, tahan ya." Lelaki itu menenangkan Hira yang mengeluhkan pusing. Erfan menggendong istrinya masuk ke rumah setelah melewati perjalanan jauh.


"Istrimu kenapa Fan?" Btari tergopoh-gopoh mendekati putranya yang baru memasuki pintu utama.


"Sakit Mah, aku bawa ke kamar dulu ya." Pamit Erfan, ia membawa Hira ke kediaman orang tuanya. Kalau ke apartemen harus beres-beres lagi sebab lama tak terjamah. Tidak mungkin membawa istrinya ke kantor dalam kondisi seperti ini.


"Iya, nanti Mama susul." Ibu dan anak itu berpisah. Btari ke dapur membuatkan susu jahe untuk menantunya.


"Bismillah," Erfan membaringkan Hira di kasur. Istri Erfan itu tertidur damai dengan bulir keringat yang membasahi kening. Erfan menyeka keringat sang istri dengan tissue. Suhu badannya agak tinggi.


"Mama bawakan susu jahe buat istrimu Sayang." Ujar Btari masuk ke kamar putranya.


"Masih tidur Mah," Erfan mengambil gelas di tangan Btari meletakkan di atas nakas.


"Euugh... Mas...!" Panggil Hira, masih dengan mata terpejam. Tangannya mengambang di udara mencari sosok suaminya.


"Mas di sini Sayang." Erfan menangkap tangan itu dan duduk di sisi ranjang.


"Iya Mah." Wanita paruh baya itu meninggalkan kamar putranya.


"Mau apa Sayang?" Hira melingkarkan tangannya di pinggang Erfan. Lelaki itu sesekali menyeka keringat yang muncul di kening sang istri.


"Kita di mana?" Perempuan itu mengerjap membuka mata perlahan. Pusing masih melanda kepalanya. Akhir-akhir ini kepalanya sering pusing tak tertahankan.


"Di rumah Mama." Erfan membantu istrinya untuk bangkit. "Minum dulu Mama buatin susu jahe masih hangat nih." Hira mengambil gelas di tangan suaminya dengan gemetar. Erfan membantu istrinya minum.


"Mau makan, isi perut kamu dulu."


"Nanti aja Bee."


Erfan menarik tubuh Hira agar bersandar di dada bidangnya. Istrinya itu melanjutkan tidur lagi. Apa tadi cuma mengigau, gumam Erfan tak percaya bisa tidur lagi secepat itu.


"Fan dokternya sudah datang." Btari masuk kamar bersama seorang dokter laki-laki paruh baya. "Sudah ubah posisi tidur lagi." Btari geleng-geleng melihat menantunya yang tidur dengan nyaman dipelukan sang putra.


"Lagi ngidam?" Tanya dokter itu melihat pasiennya yang begitu lengket.

__ADS_1


"Belum dok, semoga segera." Sahut Erfan sambil tersenyum. Dokter itu meriksa suhu tubuh dan tekanan darah Hira.


"Sering ngeluh pusing ya? Tekanan darahnya rendah." Jelas sang dokter yang diangguki Erfan.


"Iya dok, beberapa hari ini pusing." Erfan masih membiarkan istrinya tidur dengan tenang. Wanita itu seperti tak terusik.


"Tebus obatnya sesuai resep, insyaAllah aman minum obat, masih belum ada tanda-tanda kehamilan." Dokter itu memberikan secarik resep yang diterima Erfan lalu mengucapkan terimakasih.


Seperginya dua orang paruh baya itu Hira masih tidur dengan damai.


"Maaf Sayang, bikin kamu sakit." Erfan membaringkan Hira, lalu membersihkan tangan dan kaki istrinya dengan tissue basah. Setelahnya ia menggantikan seluruh pakaian sang istri. Selesai mengurus istrinya Erfan beranjak ke kamar mandi. Tubuhnya juga lengket dengan keringat.


Sampai keluar dari kamar mandipun istrinya masih belum ada tanda-tanda bangun. Matahari sudah bergulir ingin kembali ke peraduan.


Tak sampai hati Erfan membangunkan istrinya yang betah dalam lelap. Erfan beranjak mendengar pintu kamar di ketuk.


"Masih belum bangun Fan?" Tanya Btari yang datang bersama suaminya.


"Belum Mah," Erfan kembali duduk di sisi istrinya.


"Menantu Papa pulang juga." Hardiyata mendekati menantunya, mengusap lembut puncak kepala Hira. "Bangunkan aja Nak, hampir maghrib, tidurnya sudah lama kan?" Tanya pria itu pada putranya.


"Iya Pah, sudah lama."


"Papa mandi dulu, kalian makan di kamar aja." Ujar Hardiyata sebelum mengajak istrinya meninggalkan kamar itu.


"Sweety bangun. Hampir maghrib Sayang. Kamu belum sholat ashar." Erfan menepuk pelan pipi Hira.


"Sudah maghrib Bee?" Tanya Hira seperti orang linglung.


"Belum, masih sempat sholat Sayang. Badannya lengket gak? Apa mau mandi dulu."


"Mandi dulu Bee, lengket banget."


"Masih pusing?" Erfan membantu istrinya duduk.


"Masih Mas, rasanya melayang-layang ini." Ujar Hira sambil memegangi kepalanya.


"Ayo Mas bantu mandi." Lelaki itu membawa tubuh mungil sang istri dalam gendongan menurunkannya dalam bathtub. "Mas siapin pakaian gantinya dulu." Katanya keluar dari kamar mandi kemudian kembali lagi.


Erfan cukup profesional, benar-benar membantu istrinya mandi tanpa tambahan embel-embel lainnya. Pertama kali untuk Erfan merawat orang sakit. Selesai Hira sholat Erfan menyuapi istrinya makan.

__ADS_1


"Habis ini minum obat, Sayang."


Erfan jadi merasa sangat bersalah mengabaikan Hira saat sakit dulu. Pasti istrinya sangat kesusahan melakukan semuanya sendirian.


__ADS_2