
Selama tiga bulan Erfan mendampingi Hira bedrest. Tubuh perempuan hamil itu semakin kurus, hanya perutnya yang menonjol. Memasuki trimester ketiga, Hira sudah tidak mengalami muntah-muntah dan pusing lagi.
Ia sudah bisa melakukan aktivitas sendiri, tanpa perlu dibantu lagi ke kamar mandi. Hanya satu yang sulit Hira lepaskan, jauh dari suaminya. Ia akan mengalami nyeri yang hebat di perut kalau berjauhan dari sang daddy.
Erfan mengajak istrinya duduk di taman belakang rumah. "Gimana rasanya bisa lihat matahari lagi, Sayang?"
"Senang Bee." Hira bergelayut manja di tangan Erfan. "Pasti matahari juga senangkan Bee, selama tiga bulan ini dia gak punya saingan."
Lelaki itu tertawa kecil, bahagia bisa melihat istrinya sudah bisa tersenyum dan bercanda.
"Hm, tapi katanya Matahari mengalami kerugian besar, beberapa gerainya di tutup Sayang."
"Bee, itu bukan matahari nya ih. Matahari yang itu gak bisa menghasilkan cahaya untuk dunia."
Erfan terkekeh kecil, mengangkat dagu istrinya lembut, "kalau ini baru bisa memberikan cahaya untuk hidup Mas."
"Jangan lebay Mas." Hira memalingkan wajahnya malu-malu. Sial, dia masih saja blushing seperti anak remaja.
"Merah-merah ih pipinya, gemesin banget. Kangen Sweety." Erfan mengusap lembut bibir yang sudah tidak pucat lagi itu dengan jempolnya.
"Mas ih, mesum." Hira menarik tangan suaminya.
"Gak mesum Sayang," Erfan memeluk Hira dari belakang, "aku tiap hari mandiin kamu gak macam-macamkan. Itu artinya aku gak mesum. Cuma butuh aja." Bisiknya manja di telinga sang istri.
"Geli Bee." Tepis Hira dengan cemberut, ekspresi berubah-ubah seperti ini yang Erfan sangat rindukan.
***
__ADS_1
Di antar suaminya, hari ini Hira mengunjungi Yayasan Kasih Erra. Tadi pagi ia dihebohkan dengan berita fitnah penipuan berkedok yayasan.
"Bisa-bisanya, aku baru bangun langsung dapat berita gitu Bee."
"Mas kan sudah bilang, resikonya memang seperti ini kalau kamu melakukan open donasi." Erfan menggenggam tangan istrinya untuk memberikan ketenangan. "Jangan khawatir pemasukan dan pengeluaran kita semuanya transparan."
"Bukan itu, aku pengen tau siapa orang yang ada dibalik semua ini." Kesal Hira, punya salah apa dia sampai di fitnah seperti ini.
"Kamu tenang Sayang. Ingat kondisi kehamilanmu, semua ini bisa di atasi." Lelaki itu mengusap lembut pipi istrinya, satu tangannya memegang setir. Hira menarik napas gusar dengan bibir yang manyun.
Erfan memarkirkan mobil di depan Yayasan, di sana sudah ada Galih, Yeni dan Bu Ratna yang menunggu.
"Apapun yang kamu dengar nanti, kamu harus tetap tenang, Sweety." Pesan Erfan sebelum membukakan pintu mobil untuk istrinya.
"Apa kita akan melakukan audit ulang, Bee?" Hira menggandeng tangan suaminya, Erfan mengusap lembut tangan yang bergelayut manja itu. Mentransfer energi positif untuk sang istri.
"Bagaimana berita seperti itu bisa tersebar. Bukankah pemasukan dan pengeluaran kita umumkan secara transparan baik pada donatur maupun melalui media sosial?" Tanya Erfan dengan raut wajah datar, nyaris tanpa ekspresi.
Ia sudah membungkam seluruh media yang memberitakan hal buruk tentang istrinya. Erfan tidak ingin semua itu sampai terdengar di telinga Hira.
"Kami tidak tau darimana berita itu berawal Pak. Transparansi selalu kita laporkan di media sosial juga para donatur. Semua kegiatan juga selalu kita laporkan lengkap dengan jumlah pasien yang kita terima perminggu. Juga progres Healthful Land Project." Jelas Ratna, memberikan berkas-berkas laporan yang sudah dia kumpulkan.
Erfan memeriksa semua laporan hasil donasi juga semua pengeluaran untuk biaya tambahan pasien yang tidak ditanggung pemerintah. "Ada yang tidak beres dengan admin media sosial." Lelaki itu meletakkan ke meja berkas yang dipegangnya.
"Galih, pastikan orang yang kamu rekrut jadi admin itu bersih!" Erfan berdecak, berani-beraninya anak ingusan itu bermain-main dengannya. Pasti ada orang di belakang anak itu. Laporan yang tertulis dengan yang dikirim pada donatur dan publik itu berbeda.
Belum sempat Galih menjawab, Erfan sudah melanjutkan ucapannya. Sungguh, suasana ruangan itu jadi terasa mencekam.
__ADS_1
"Apa kalian tidak pernah mencek ulang apa yang di laporkan ke publik itu berbeda dengan yang tertulis di sini?" Erfan mengetuk-ngetuk berkas yang ada di atas meja. "Sangat ceroboh!" Desisnya.
Semenjak Hira sakit Erfan memang tidak bisa fokus pada yayasan. Ia mempercayakannya pada ketua yayasan. Selain ia sibuk mengurus pekerjaan di perusahaan. Erfan juga mengurus sang istri yang terbaring lemah. Semua ini terjadi juga karena kelalaiannya, tidak bisa menyalahkan orang lain.
Tidak ada yang berani menjawab, suasana ruangan hening. Malaikat sedang lewat.
"Sekarang saya kasih kalian waktu untuk memeriksa, dimana kesalahannya." Ucap Erfan dingin, Hira tak berani ikut bicara meskipun ia kasihan melihat wajah pias Bu Ratna dan Yeni.
Selesai memberikan tausiyah dan orang-orang yang Erfan percaya itu mengetahui kesalahannya. Ia mengajak sang istri pulang, tidak akan ada yang menuntut istrinya karena Erfan sudah mengendalikan para rekan bisnisnya.
"Bee kamu nyeremin." Protes Hira setelah mereka berada di mobil. Erfan menanggapinya dengan kekehan.
"Tidak semua orang bisa kita percaya Sayang. Mau orang kepercayaan sekalipun. Sudah banyak contohnya, itu cukup untuk kita belajar dari kesalahan orang lain." Jelas Erfan dengan lembut.
"Lihat Papa sama Mama, mereka hampir celaka karena terlalu percaya sama Ikbal. Lihat aku, aku terluka karena terlalu percaya pada orang yang aku anggap sebagai keluarga. Dari semua orang yang membuat aku terpuruk, aku harap kamu tidak ada dalam list itu." Ucap Erfan sendu menatap lekat netra sang istri sebelum mengemudikan mobilnya.
"Apa aku memiliki tanda-tanda seperti itu Bee?" Tanya Hira serius.
"Tidak," tegas Erfan. "Melihat kamu rela berjuang untuk melahirkan buah hati kita. Sangat picik jika aku berpikir kamu seperti itu Sayang. Terimakasih sudah berjuang untuk kebahagiaan kita." Senyuman mengembang dari bibir Erfan.
"Tentu saja, karena kamu segalanya untukku Mas suami." Hira mengecup tangan Erfan yang masih menggenggamnya.
"Manis banget ya, madu aja sampai kalah." Lelaki itu menepuk puncak kepala istrinya. Mana rela Erfan melihat kesayangannya ini bersedih karena berita tidak jelas itu beredar. Setelah mengantar Hira pulang ia akan menyelesaikan sendiri masalah ini.
Meskipun berita itu sudah Erfan tutup dari permukaan bumi, tetap saja ia harus tau siapa yang berada di balik semua ini. Mungkin bosan hidup jadi berani mencari masalah dengannya.
Tidak cukupkan bukti yang mereka lihat diberita kekejaman Erfan yang memenjarakan orang tua dan adik angkatnya. Harusnya mereka bisa berpikir dua kali sebelum mengajaknya bermain-main.
__ADS_1
Erfan melirik istrinya yang tidak bersuara lagi. Ternyata ibu hamil itu terlelap dalam tidurnya. Baru diajak bicara, belum sampai lima menit Erfan diam, eh sudah tidur aja.