Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
114


__ADS_3

"Kamu mau berkata jujur atau tetap bungkam?" Tanya Tian dengan nada rendah, tapi mampu membunuh lawan bicaranya. Lelaki itu sengaja meminta gadis itu duduk di tengah ruangan.


Erfan bergeming duduk di tempat dengan bersidekap dada. Lumayan energinya tidak berkurang karena Tian mengambil alih bagiannya. Galih mengamati dari sudut ruangan.


"Sepertinya saya harus mengajari kamu bicara dulu gadis kecil." Tian menepuk kepala gadis itu pelan sambil menyeringai iblis.


Gadis yang bernama Sella itu gemetar dengan wajah pucat pasi. Bibirnya bergetar hebat.


"Siapa nama kamu, Sayang?" Panggil Tian lembut, berjongkok di depan gadis itu. Kesannya bukan romantis tapi horor. Wajah tampan Tian tidak dapat mengelabui sikap iblis yang ada pada dirinya.


"Se—Sella." Jawab gadis itu dengan gagap.


"Kamu tidak bisu ternyata." Sindir Tian dengan tersenyum miring, membelai lembut pipi gadis itu lalu mencengkram rahangnya kuat, "jadi mau bicara sendiri atau dipaksa."


Sella sudah ketakutan setengah mati, cengkraman lelaki itu membuat rahangnya terasa panas.


"Jangan sakiti fisiknya Tian!" Erfan mengingatkan, melihat gadis itu meringis dia merasa kasihan.


Tian menghempaskan tangannya dengan kasar, "kalau aku sentuh dengan lembut boleh?" Ucapnya menyeringai licik mendekati wajah gadis itu, "siapa yang menyuruhmu?" Bisik Tian, yang membuat tubuh Sella meremang. Aroma parfum Tian menyegarkan hidungnya.


"Jawab Sayang!" Tegas Tian sete1lah memberikan belaian lembut di pipi. "Kalau kamu perlu sentuhan lebih dariku bisa ikut aku ke kamar." Ujarnya dengan menyeringai, melihat wajah gadis itu pias membuat Tian puas.


"Masih belum mau bilang, hm?"


"Apa kalau saya bilang, kalian mau melindungi saya?" Tanya Sella dengan gugup setengah mati, nyawanya terasa melayang ke udara sekarang.


"Tentu saja, aku akan melindungimu gadis kecil." Tian menepuk pelan kedua pipi gadis itu, "siapa yang mengancammu?"


"A—aku tidak tau namanya, tapi aku punya fotonya." Ucap Sella gelagapan, untung dia sempat mengambil foto diam-diam orang yang sudah mendatangi kostnya.


"Mana?"


"Hpnya sama Om itu," cicit Sella takut menunjuk Galih yang berdiri di sudut ruangan. Semua orang yang ada di ruangan ini ganteng-ganteng tapi sayang menyeramkan seperti iblis.

__ADS_1


Galih melempar ponsel pada Tian. Lelaki itu menyambutnya dengan piawai. Meleset sedikit saja ponsel butut itu remuk di lantai. Tian memberikannya pada Sella. Gadis itu memegang ponselnya dengan bergetar.


"Jangan takut!" Tian mengusap lembut puncak kepala gadis itu untuk menenangkan.


Semua itu tidak lepas dari tatapan Erfan dan Galih dari sudut yang berbeda. Sungguh pria tua bangka modus, batin Erfan. Tidak bisa lihat perempuan bening langsung cari kesempatan.


"Ini!" Sella menunjukkan foto buram pada Tian, tapi masih bisa dikenali orangnya siapa. Lelaki itu menatap Erfan dengan tertawa gelak.


"Ibu suri dendam kesumat sama lo." Tian memberikan ponsel butut itu pada Erfan. Dengan santainya lelaki itu duduk di atas meja.


Erfan menimbang-nimbang ponsel di tangannya, ia yakin kalau mau menambah aplikasi ponsel ini akan mengomel memory penuh.


"Galih, mana barang yang kamu beli tadi?" Tanya Erfan. Galih memberikan paper bag pada bosnya. "Berikan padanya," titah Ervan menunjuk Sella dengan dagu.


"Apa kostmu ada cctv?"


"Ada di luar Pak." Jawab Sella dengan menunduk setelah menerima paper bag yang entah isinya apa.


"Galih, ambil rekaman cctv di sana dan amankan gadis ini. Suatu saat kira butuh dia. Jauhkan dari jangkauan ibu suri."


"Orang yang ada dalam foto ini." Erfan memberikan ponsel itu pada Galih. "Bawa dia, jangan dilukai." Pesannya lagi, gadis itu tidak salah. Dia hanya diancam, Erfan tidak mungkin menghukum orang yang tidak bersalah.


"Kamu akan tau akibatnya kalau main-main dengan saya lagi." Ucap Erfan dingin pada Sella sebelum Galih membawa gadis itu pergi. Ia juga berpesan untuk dibelikan ponsel yang sama lagi. Istrinya bakal mengamuk kalau Erfan pulang tidak membawakan pesanan ibu hamil itu.


"Lo cari kesempatan sama perempuan bening." Erfan mengomeli sahabatnya, kini hanya tertinggal mereka berdua di ruangan. Kebiasaan buruk Tian yang suka bergonta-ganti pasangan tanpa mau berkomitmen dalam pernikahan.


"Gue lama gak main nih." Jawab Tian dengan cengiran.


"Lo bisa bayar perempuan manapun yang lo mau, jangan sampai merusak masa depan anak orang. Kapan sih lo tobat Yan. Masih ingat dosa gak sih lo, atau seenggaknya ingat mati."


Tian berbaring di sofa berbantal tangan. Satu kakinya di angkat ke atas lutut yang lain.


"Ingatlah, otak gue masih waras."

__ADS_1


"Kalau lo waras gak akan gonta-ganti teman tidur." Erfan berdecak, temannya yang satu itu susah dikasih tau sejak dulu. "Lo harus ingat, lo beda dengan Xeon, Tian."


"Apa bedanya, gue sama kayak dia, sama-sama bejatnya."


"Coba lo cari perempuan yang benar-benar bisa menerima lo. Cukup tidur dengan satu perempuan. Itu bikin lo lebih bahagia."


"Gue jadi ngantuk kalau denger tausiyah gini ya. Gak pernah ada yang dongengin gue sebelum tidur, yang ada juga belain belalai gue." Ucap Tian ngaco, Erfan menggeleng pelan. Dia harus tetap waras punya teman seperti Tian ini.


"Kalau mereka cuma bisa muasin belalai lo tiap malam buat apa. Apa lo gak risih belalai lo dimainin sama perempuan-perempuan yang berbeda. Rasanya pasti beda sama satu orang yang bisa muasin lo sepanjang malam dan kapan pun yang lo mau. Dan yang pasti rasanya tetap sama, menggairahkan." Sarkas Erfan frontal.


"Emang gimana rasanya?" Tian bangkit dari tidur menatap Erfan serius.


"Enaklah, pagi siang malam semua waktunya dibagi cuma sama gue. Gak dibagi-bagi sama lelaki yang gak jelas, tiap malam gonta-ganti. Cari satu orang dan belajar bangun komitmen. Lo bakal jadi orang yang paling bahagia karena merasa jadi orang yang dibutuhkan sama pasangan lo."


"Lo gak mikir pas lagi gituan terus kena azab di tempat tidur." Erfan bergidik ngeri, dia puas menatap wajah membeku Tian. Mungkin cuma kali ini ocehannya yang panjang lebar masuk ke telinga sahabatnya itu.


"Menikah itu menambah banyak masalah." Komentar Tian lalu berbaring kembali.


"Lo mati aja kalau gak mau punya masalah. Terus kalau lo ditanya malaikat dalam kubur. Kabur aja ke dunia lagi biar gak jadi masalah." Kesal Erfan, mulutnya lelah mengoceh.


"Ih mana bisa minta gitu."


"Itu, lo sudah tau masih aja numpuk dosa melulu. Gue gak mau ya nanti ikut-ikutan di sidang malaikat karena gak ngingetin lo buat tobat."


"Lo kan sahabat gue, jadi gak papa baik hati jawabin pertanyaan malaikat." Jawab Tian dengan kekehan.


"Males gue, tanggung aja sendiri dosa lo. Jangan ngajak-ngajak, yang nikmatin di ranjang lo bukan gue!" Telak Erfan.


"Boleh masuk?" Tanya Ressa setelah mengetuk pintu. Ia tak berani langsung nyelonong karena bos-bosnya sedang terlibat pembicaraan serius.


"Boleh, sini dulu Sa." Tian menepuk sofa di sampingnya sebelum gadis itu duduk di depan Erfan. Ressa menurut duduk di samping Tian.


"Kenapa bos?" Tanya Ressa, bosnya satu ini sedang bertingkah menggelikan.

__ADS_1


"Erfan tadi nyeramahin, gue disuruh nikah. Lo mau nikah sama gue?" Tian menyampirkan rambut panjang Ressa ke belakang telinga.


"Hah?" Kaget Ressa, "bos Tian lagi demam atau mabuk?" Gadis itu memeriksa suhu tubuh Tian tapi baik-baik saja.


__ADS_2