
"Selamat pagi Bu." Sapa Hira ramah pada seorang pasien wanita muda yang duduk di depannya. "Ibu sedang program hamil?" tanyanya setelah membaca berkas yang diberikan Lela.
"Iya dok, saya sudah menikah tiga tahun tapi belum diberi momongan."
"Sebelum ini Ibu dan suami pernah konsultasi ke dokter?"
"Belum dok, cuma pakai ramuan jamu penyubur kandungan, terus diurut sama bidan kampung."
"Maaf, sebelumnya Ibu pernah hamil atau keguguran?" tanya Hira sopan, tidak ingin menyinggung perasaan ibu muda itu. Ia juga pernah merasakan ingin memiliki momongan sampai suaminya bingung menghadapinya. Padahal mereka baru menikah satu bulan, Hira tersenyum mengingat itu. Belum lagi beberapa hari yang lalu, sikapnya sangat manja. Bersyukur punya suami yang sesabar Erfan.
"Iya," perempuan itu mengangguk sendu, dapat dilihat raut wajahnya yang langsung berubah. "Saya pernah dikasih tau teman untuk mengkonsumi provula, apa itu berbahaya dok?" Lanjut ibu muda itu setelah berhasil menguasai diri.
"Yang Ibu sebutkan itu merupakan obat untuk mengatasi masalah infertilitas pada wanita serta kondisi rendahnya jumlah ******. Fungsinya untuk merangsang pembuahan dan meningkatkan kesuburan. Karena ini obat keras dan tidak semua wanita memiliki masalah kesuburan yang sama, penggunaannya harus berdasarkan pengawasan dan resep dokter Bu, tidak dianjurkan kalau hanya rekomendasi dari teman." Jelas Hira dengan senyumannya, ibu itu mengangguk mengerti.
"Apa benar kata orang buah pepaya tidak baik untuk program hamil, dok. Karena saya sangat suka makan buah itu, apa mungkin karena itu jadi susah hamil?"
Hira tersenyum simpul sebelum menjelaskan.
"Pepaya mengandung vitamin A, B, C, E, K, serat, kalsium, potasium, folat, dan magnesium. Buah ini memiliki beragam manfaat. Pepaya yang sudah matang sangat aman untuk ibu hamil, Bu," jelas Hira.
"Namun buah pepaya mentah atau setengah matang sebaiknya dihindari ibu hamil karena mengandung getah yang bisa memicu kontraksi rahim. Sedangkan untuk wanita yang menjalani program hamil, maka buah pepaya aman dan boleh untuk dikonsumsi. Sebaiknya pilih buah pepaya yang benar-benar matang."
"Untuk mengidentifikasi masalah yang mungkin menjadi penyebab infertilitas pada Ibu sebaiknya kita lakukan tes kesuburan dulu ya, akan lebih bagus kalau suami Ibu juga melakukan tes." Hira mengakhiri penjelasannya lalu melanjutkan pemeriksaan pada organ reproduksi pasien.
Setelah selesai Hira melanjutkan pada pasien berikutnya. Hari ini lumayan banyak pasien yang harus Hira tangani.
Karena itulah suaminya sangat cerewet agar ia duduk manis di rumah. Itu sangat membosankan, kalau hanya menghabiskan waktu dengan nonton drakor.
Hira membaringkan tubuhnya di sofa setelah tidak ada pasien lagi. Akhir-akhir ini tubuhnya sering lelah. Dua jam lagi baru bisa pulang. Walaupun ia bisa pulang kapan saja kalau tidak ada urgent.
"Dok, ada yang nyari?" Ujar Lela, tumben ada orang nyari pakai izin segala. Biasanya pada nyelonong masuk ke ruangannya.
"Siapa La? Ringgo?"
"Bukan, Pak Erfan." Jawab Lela sambil nyengir lalu meninggalkan Hira. Ganggu aja deh, terpaksa Hira bangun dari tidurnya.
"Gak usah bangun Sweety, nih Mas bawain rujak." Erfan menahan tubuh Hira yang ingin bangun, ia duduk di sofa lalu mengangkat kepala Hira kepangkuannya.
"Capek Sayang?"
"Ho'oh." Jawabnya lalu memiringkan badan agar bisa leluasa memeluk pinggang suaminya.
__ADS_1
"Mau makan rujaknya sekarang?"
"Bentar Bee, pengen gini dulu."
Erfan menurut memijati lengan istrinya. Sekarang memang sudah tidak terlalu manja lagi di usia kandungan yang memasuki minggu ke enam. Kalau keinginannya tidak dituruti paling diam, tidak merengek lagi.
"Wooww, dikirain hilang kemana ternyata pacaran di sini." Guntur berdecak kesal, sebelah matanya berkedip pada Lela yang duduk di meja depan. Membuat Lela salah tingkah, Guntur baru melihat perawat itu ada di ruangan Hira.
"Berisik, Hira lagi istirahat." Erfan membenarkan belakang kemeja Hira agar tidak tersingkap.
"Rujak, siapa yang ngidam?" Guntur mencomot rujak yang ada di depannya.
"Guntur!" Geram Erfan.
"Nyobain mangga mudanya satu." Guntur meloloskan mangga muda ke mulutnya kemudian bergidik, "kecut!" pekiknya.
Hira bangkit dari tidurnya lalu bersandar di bahu Erfan.
"Kalian ngapain sih ganggu aja!"
Nah loh, Erfan juga kena omelan gara-gara Guntur sialan.
"Kangen." Jawab Guntur asal sambil cengengesan.
"Biarin aja Sayang, mau pulang sekarang?"
"Nanti dulu Bee." Hira mengambil rujak lalu memasukkannya ke mulut. Guntur yang melihatnya bergidik ngeri. "Ngapain di sini Tur?" tanyanya.
"Nemenin Ghani jagain Kha, bosan liat mereka pacaran di sana jadi ke sini, eh di sini juga sama liat orang pacaran." Curhat Guntur kesal.
"Sakit apa?"
"Melahirkan Sayang, kok kamu gak tau?"
"Gak semua pasien bisa kuhapal Bee, kalau aku hapal semuanya yang ada kamu gak kebagian jatah tinggal di otakku." Monyong Hira, Erfan tertawa geli.
"Iya-iya. Yang penting kamu hapal aku, Sweety."
"Yang lahiran tadi malam kali ya?" Guntur hanya mengangguk sambil mencomot irisan semangka. "Gak jenguk ke sana Bee?"
"Nanti kalau mereka sudah pulang aja Sayang."
__ADS_1
"Baiklah." Jawab Hira dengan anggukan.
Ku menangis
Membayangkan
Betapa kejamnya dirimu atas diriku
Kau duakan cinta ini
Kau pergi bersamanya
Ku menangis
Melepaskan
Nada dering ponsel Hira di mejanya berbunyi nyaring, Guntur tertawa gelak. "Ra, gak ada nada dering lain. Perlu gue downloadkan lagu yang keren."
"Bee, tolong ambilin boleh." Hira mengabaikan ocehan Guntur. Kan biar keren kayak sinetron ikan terbang lagunya itu. Sinetron yang gak ada habisnya dengan soundtrack yang sama. Erfan beranjak ke meja Hira, lalu mengernyit.
"Ayah sering telpon kamu Ra?" tanyanya setelah memberikan ponsel, panggilan telepon sudah berakhir.
"Enggak." Hira menggeleng pasti mencek ponselnya, ada satu pesan dari ayah. Hira membacanya dengan wajah cemberut. "Mau minta duit 200 juta. Mereka pikir aku punya pohon duit." Hira melempar ponselnya ke sofa dekat Guntur.
"Uang bulanan yang dikasih habis kemana sih." Erfan menarik istrinya dalam pelukan. Ia paling tidak suka kalau ada yang membuat istrinya terbebani.
"Mereka makin menjadi-jadi Bee, memanfaatkan aku. Uang sebanyak itu emang bisa dipetik dari pohon mangga. Uang bulanan yang kamu kasih aja lebih dari sepuluh kali lipat dari yang aku kirim biasanya."
"Gak usah dipikirin Sayang, biarin aja." Erfan mengelus sayang kepala Hira.
Ku menangis
Membayangkan
Betapa kejamnya dirimu atas diriku...
Ponsel Hira kembali berdering, Guntur memberikannya pada Erfan. Pria yang sedang memeluk istrinya itu langsung menjawab tanpa bersuara.
"Hira, bisa kirimin Ibu uangnya sekarang. Suamimu 'kan kaya, jangan pelit-pelit dengan orang tua yang sudah membesarkanmu."
Mendengar suara itu membuat Hira sangat kesal, jadi bukan ayah yang memerasnya tapi mak lampir itu. Erfan sudah tak bisa bersabar lagi menghadapi perempuan tua itu. Selama ini ia diam melihat Hira diperlakukan kurang baik.
__ADS_1
"Ibu lupa perjanjian kita!" Satu kalimat dari Erfan yang membuat sambungan telpon langsung terputus.
"Ternyata ada orang tua yang seperti itu ya." Komentar Guntur, Hira tak menanggapi semakin membenamkan kepalanya dalam pelukan Erfan.