
Setelah dua hari berada di Lembang Erfan memboyong istrinya pulang. Ia menuruti keinginan Hira yang ingin jalan-jalan. Ibu hamil itu seperti tidak tau lelah saat berada di luar.
Lihatlah kalau sedang berada di sampingnya pasti merengek manja. Mengandu pegal, pusing, keram, segala macam. Tapi susah diatur, Erfan jadi gemas sendiri.
Erfan mengamati wajah istrinya yang terlelap dengan tenang. Mereka tiba di Jakarta tadi sore. Tangannya menyingkirkan rambut yang menutupi mata Hira. Lalu beralih pada perut buncit itu.
"Terimakasih Sayang, sudah pintar di dalam rahim mommy. Daddy sayang adek dan mommy." Ucapnya kemudian memberikan kecupan hangat di sana.
Ia selalu mengajak bicara calon anaknya. Erfan yakin makhluk yang sedang bersemayam di sana mengerti ucapannya. Buktinya Hira selalu lebih tenang kalau ia memberikan usapan lembut di perut itu.
Hira mengerjapkan mata perlahan, perutnya terasa berat seperti ada yang menindih. Ia meraba-raba perut bertepatan matanya terbuka sempurna. Pelakunya tangan kekar milik sang suami.
"Sweety, sudah bangun?" Erfan melirik jam yang hampir pukul lima pagi.
"Hoek... Hoek..." Hira berlari ke kamar mandi saat merasakan perutnya seperti diaduk-aduk.
"Sayang!" Erfan langsung melompat dari kasur menyusul istrinya. Memijat tengkuk sang istri yang masih muntah-muntah.
"Sweety!" Ia menangkap tubuh istrinya yang melemas.
Sepagian ini Hira muntah-muntah, tidak dapat memasukkan apapun ke dalam perut. Selalu dimuntahkan kembali.
Erfan melap tubuh istrinya dengan tissue basah lalu menggantikan pakaian Hira yang terkena muntah. Lelaki itu sampai tidak tega melihat istrinya yang terkulai lemas. Hira harus diinfus karena tidak ada nutrisi yang bisa masuk di tubuhnya.
Cukup sekali ini saja Erfan memaksa istrinya hamil, setelah ini tidak lagi. Ia tidak sanggup melihat Hira berjuang seperti ini. Memasuki usia kandungan trimester kedua ini istrinya benar-benar harus bedrest.
"Sayang, mau sesuatu? Kamu belum makan sejak pagi." Erfan mengusap lembut puncak kepala istrinya. Hira menggeleng lemah. Erfan tidak memaksa kalau dimasukkan makanan pun istrinya akan muntah-muntah lagi.
Erfan bekerja dari rumah, sambil menunggu istrinya yang sedang sakit ia membalas email dan memeriksa laporan-laporan yang dikirim asistennya.
Tidak ada lagi celotehan istrinya yang cerewet dan ngeyelan. Tubuh itu terbaring lemah dengan wajah pucat. Erfan sudah konsultasi dengan dokter kandungan, Hira bisa dirawat di rumah.
Terlalu lama di rumah sakit membuat Hira stress. Erfan tidak mau itu berdampak pada kesehatan anak dan istrinya.
Tubuh yang gempal itu sekarang terlihat sangat kurus. Sudah seminggu Hira tidak dapat melakukan aktivitas apapun. Untuk bangun sendiri saja ia tidak bisa. Dengan telaten Erfan merawat istrinya. Dari menggantikan pampers sampai memandikannya.
__ADS_1
Setiap makanan yang masuk pasti langsung dimuntahkan Hira kembali tidak terkecuali susu. Setiap sore dokter kandungan datang ke rumah memeriksa kondisi istrinya.
"Sayang, kalau bisa sakitnya dipindahkan aja sama Mas. Mas gak bisa liat kamu begini." Ucap Erfan dengan lirih di samping telinga Hira. Semingguan ini juga ia tak bisa tidur nyenyak karena mengkhawatirkan keadaan istrinya. Erfan selalu terjaga setiap malam.
"Aku baik-baik aja, Mas." Ucap Hira pelan sambil mengusap kepala suaminya dengan lembut. "Maaf sudah ngerepotin kamu." Erfan menggeleng, dia sama sekali tidak repot. Malahan Erfan akan merasa sangat bersalah kalau tidak bisa menjaga istrinya saat seperti ini.
"Adek, pintar-pintar Sayang, jangan bikin Mommy kesakitan. Makan ya Sayang, biar Mommy bisa cepat sehat." Erfan melingkarkan tangannya di pinggang Hira, membenamkan wajahnya di perut sang istri.
"Adek pintar Mas, kamu istirahat gih. Wajah kamu lelah banget. Kalau Mas sakit siapa yang jagain aku." Hira memberikan sapuan lembut kembali di kepala sang suami.
"Mau tidurnya gini aja." Ucap Erfan, berusaha mencari kenyamanan di perut istrinya sampai tertidur.
"Non Hira makan bubur dulu ya, sudah siang. Belum ada makan apa-apa dari pagi." Bi Atun masuk ke kamar majikannya membawakan semangkok bubur yang masih panas.
"Aku mau minum jus alpukat aja Bi," pinta Hira. Ia masih belum bisa mentoleransi bubur untuk masuk perutnya. Kalau jus buah, sedikit-sedikit masih bisa.
"Bibi buatkan dulu Non."
"Makasih Bi," ucap Hira pelan. Ia baru merasakan definisi sakit yang benar-benar sakit sampai susah bangun.
"Mau saya bantu bangun Non?" Tawar Bi Atun.
"Enggak Bi," Hira menunjuk suaminya yang tertidur memeluk perutnya. Bi Atun mengangguk mengerti lalu meninggalkan kamar majikannya.
Baru beberapa sedot, perut Hira kembali bergejolak. Ia memuntahkan isi perutnya dalam kantong khusus. Selesai muntah ia kembali memaksa minum jus. Ia tidak boleh lemah, janinnya butuh nutrisi. Setiap memasukkan jus ke mulutnya Hira kembali muntah. Sampai tubuhnya lemas.
"Ya Allah." Btari langsung nyelonong masuk ke kamar putra dan menantunya. Anaknya itu tidak mengabari kalau menantunya sakit. Ia tidak akan tau kalau tadi tidak ke kantor Erfan. Seketaris Erfan bilang kalau Hira sudah seminggu sakit dan selama itu juga Erfan bekerja dari rumah.
"Badannya panas Pah, Erfan juga." Ujar Btari pada suaminya setelah memeriksa suhu tubuh anak dan menantunya.
"Panggil dokter ke sini aja Mah." Hardiyata menyeka keringat dari kening putranya. "AC nya mati ya?"
"Sengaja dinaikkan suhunya Pah." Btari mengambil remot menurunkan suhu AC.
Erfan terbangun mendapati orang tuanya ada di kamar. "Papa Mama, kapan datang?" Tanya Erfan sambil mengucek mata, ia menyelimuti Hira hingga pinggang.
__ADS_1
"Sudah dari tadi, kamu ikutan sakit Nak. Makan dulu baru minum obat. Nanti dokter ke sini."
"Gak usah manggil dokter Mah, nanti dokter kandungan yang merawat Hira sore datang." Tolak Erfan, ia bangkit dari ranjang ikut bergabung di sofa.
"Kenapa gak ngabarin kalau istrimu sakit?"
"Gak kepikiran lagi Pah." Erfan terlalu sibuk mengurus Hira ditambah pekerjaan kantornya yang menumpuk. Asistennya selalu datang membawa dokumen-dokumen yang harus ia periksa dan tandatangani.
"Kamu istirahat, biar Mama yang bantu jaga Hira."
Erfan tidak akan menolak, seminggu ini sudah cukup kewalahan mengurus Hira sendirian. Itupun sudah dibantu asisten rumah tangganya.
"Makasih Mah, Pah. Aku tinggal mandi dulu ya, gerah banget." Ucap Erfan sambil mengipas-ngipaskan kaosnya.
"Iya, Mama masakin kamu dulu." Ujar Btari beranjak ke dapur. Ia selalu memasak dengan tangan sendiri untuk keluarganya. Asisten rumah tangga hanya membantu.
Btari membuatkan sup untuk menantunya, itu akan membantu mengurangi rasa mual. Ia jadi iba, anak perempuan biasanya selalu bergantung pada sang ibu kalau sedang hamil.
Erfan dan Hira sama-sama mandiri, karena merasa bisa berjuang dengan kaki tangan sendiri. Jadi sulit untuk meminta tolong pada orang lain, kalau tidak terdesak begini.
Cukup lama bergulat di dapur Btari membawakan menu makan siang ke kamar di bantu Bi Atun.
"Eh menantu Mama sudah bangun." Sapa Btari, "makan dulu Sayang, Mama buatkan sup. InsyaAllah gak akan muntah kalau makan ini." Btari meletakkan semangkok sup di atas nakas.
"Bisa bangun?" Tanya Btari, Hira menggeleng.
"Erfan bantu Hira bangun." Pinta Btari, Erfan menurut membangunkan istrinya, Btari menyusun bantal untuk sandaran Hira.
"Bismillah makan ya Sayang." Btari menyuapkan sup yang masih hangat itu. Hira memakannya sampai isi mangkok ludes.
"Mual?" Tanya Btari setelah selesai menyuapi Hira.
"Enggak Mah, enak. Perutnya jadi hangat."
"Alhamdulillah, cucu Oma pintar." Btari mengusap perut Hira lembut, "nanti Mama kasih resepnya sama Bibi. Kamu bisa makan itu biar tubuhmu dapat nutrisi. Sekarang kurusan banget." Hira mengangguk antusias, hatinya menghangat. Btari sudah menjadi sosok ibu yang penuh kasih sayang untuknya. Kasih sayang seorang ibu yang sudah lama tidak ia dapatkan.
__ADS_1