
"Gak demam." Ujar Hira setelah memeriksa suhu tubuh suaminya. "Perusahaan ada masalah apa Bee?" Tadi ia sempat mendengar suaminya marah-marah, tapi tidak terdengar jelas. Hira tidak tau apa yang sedang suaminya bahas.
"Gak ada Sweety, kelelahan aja." Bohong Erfan, kalau ia menceritakan, istrinya bakal mengamuk pada Tian.
"Tunggu bentar, aku minta Galih belikan obat dulu." Kata Hira, ia tau suaminya itu sedang menyembunyikan sesuatu. Di kamarnya tidak ada persedian obat, kecuali kebagian kesehatan. Argh Hira tidak tau tempatnya dimana.
"Sa, boleh minta tolong. Gue perlu obat sakit kepala." Ujar wanita hamil yang perutnya membuncit itu kala tidak mendapati batang hidung Galih.
"Siapa yang sakit kepala, Ra?"
"Erfan."
"Sakit kepala bingung ngabisin duit?" Canda Ressa, "lo duduk dulu, kasian yang di perut kecapean kalo lo kelamaan berdiri. Ntar kaki lo varises."
Hira mendengus kesal mendengar ucapan asal sahabatnya itu.
Beberapa menit kemudian ada petugas yang mengantarkan obat atas permintaan Ressa. Setelah mengucapkan terimakasih, Hira melengos meninggalkan sahabat lucknutnya.
"Mas, minum obat dulu." Ucap Hira setelah kembali ke kamar, "yah tidur." Ibu hamil itu mendengus, sebentar lagi jam istirahat. Ia kembali keluar kamar, duduk di kursi kerja suaminya.
Hira tidak tau berkas apa yang berserakan di atas meja, layar laptop juga masih menyala. Ia membaca email-email yang masuk. Kalau dilihat dari kaca mata kedokteran, sepertinya tidak ada masalah dengan pekerjaan.
"Ressa," panggilnya, Hira penasaran penyebab suaminya tadi marah-marah.
"Iya Bu Bos," sahut Ressa cengengesan menarik kursi di depan meja bosnya.
"Siapa aja yang masuk ruangan Erfan hari ini Sa?" Selidik Hira, Ressa mengernyit. Ada urusan apa sampai sahabatnya ini kepo. "Tadi gue dengar Erfan marah-marah. Erfan marah sama siapa?"
"Lo salah dengar kali Ra, Erfan gak ada marah-marah perasaan."
"Ih lo gak bisa ditanyain, gue buka akses cctv aja deh." Ujarnya setelah mengingat benda seperti mata kucing itu.
"Jangan aneh-aneh Ra, gue gak mau nemenin lo dihukum lagi." Ressa mengalihkan perhatian ibu hamil itu, gawat kalau anak itu tau. Bukan hanya Erfan yang mengamuk. Calon emak itu juga bisa mengamuk sama Tian. Eh, ngapain juga dia mikirin perasan lelaki itu, duh otak Ressa.
Hira cemberut masam mengurungkan niatnya membuka akses cctv. Dia tidak mau jadi cleaning service dengan perut buncit begini.
__ADS_1
"Sa, gue lapar kita jalan-jalan cari makan yuk." Semudah itu Hira melupakan rasa penasarannya. Syukurlah, Ressa bisa bernapas lega.
"Kita pesan aja, gue gak mau ambil resiko ngajak lo keluar. Kalo ada apa-apa di jalan, pala gue bisa ditebas laki lo."
Ibu hamil itu hanya bisa menurut, beranjak dari kursi kebesaran suaminya mendudukkan pantat di sofa. Ressa meminta Galih membelikan makanan. Bosnya sudah mewanti-wanti, Hira tidak boleh memakan apapun yang diluar dari pengawasan.
Dalam kamar Erfan kehilangan sang istri saat terbangun. Tubuhnya bersimbah keringat, padahal air conditioner di ruangan berfungsi dengan baik.
"Argh," lelaki itu menekan kepalanya yang terasa berat. Ada obat yang tergeletak di atas kasur. Erfan mencari istrinya ke kamar mandi, namun tidak ada. Ia segera mengambil obat dan menelannya.
"Sweety!" Erfan melihat istrinya duduk santai di sofa sendirian. "Kamu di sini, Mas nyariin." Ujarnya dengan suara lemah, membanting tubuh di samping sang istri.
Hira menyeka keringat di kening suaminya, "obat sudah diminum?" Suaminya itu hanya mengangguk lemah bersender di bahu sang ibu hamil.
"Kita ke dokter yuk Mas." Ajak Hira, Erfan menggeleng dengan mata terpejam.
"Kita makan dulu," ujar Ressa, gadis itu menenteng makanan, diikuti Galih dan Tian.
Erfan merapatkan duduknya dengan tangan melingkar di pinggang sang istri. Hira mengusap lembut tangan suaminya, lelakinya itu memang bertingkah sangat manja kalau sedang sakit.
"Suapi." Ucapnya manja, Hira memutar bola mata malas. Setaunya Erfan mengeluh sakit kepala, bukan sakit tangan.
Tian memandang Galih meminta penjelasan atas apa yang terjadi dengan Erfan. Namun lelaki itu mengendikkan bahu, tanda tak tau.
"Sakit?" Satu kata yang tertuju pada Hira.
"Sakit kepala, katanya." Ujar Hira mengambil makanan yang sudah disiapkan Ressa. Dia tidak bisa banyak bergerak terkungkung oleh tangan Erfan.
"Permisi, pesanan Bapak Erfan untuk Ibu Hira." Ucap seorang kurir yang mengantar dua cup jus. "Sudah dibayar," katanya saat Ressa menyodorkan uang.
"Bos pesan jus?" Tanya Ressa, lelaki yang merasa sedang diajak bicara menegakkan tubuhnya lalu menggeleng. "Kamu yang pesan Lih?" Mata gadis itu beralih pada lelaki yang duduk di samping kanannya.
"Enggak."
Ressa mengeluarkan dua cup jus yang berlogo salah satu cafe. Lalu mengamatinya dengan tangan bertopang di dagu. "Jus alpukat dan jus mangga," gumamnya. "Ini ada sianidanya gak ya?"
__ADS_1
"Kayaknya enak diminum siang-siang gini." Ujarnya lagi karena tidak ada yang merespon ocehannya.
Hira mengambil jus mangga kemudian memutar-mutar cupnya. "Kayaknya aman deh," katanya lalu mengambil sedotan.
"Jangan diminum!" Cegah Galih, "biar Ressa aja yang minum. Kalau ada racunnya biar dia yang mati duluan." Lanjutnya berusaha menjadikan candaan.
Erfan merebut cup dari tangan Hira lalu mengembalikan ke meja. "Nanti kita beli sendiri, Sayang."
"Mubajir Bee."
"Kirim ke lab Lih, selidiki siapa yang mengirim." Ucap Erfan lalu kembali menyandarkan kepalanya di bahu Hira.
"Siap Bos," sahut Galih.
"Jadi merinding." Ressa bergidik menjauhkan jus di depannya.
"Paling juga mules Sa, kalo lo yang minum. Minum aja." Galih tersenyum miring, sedang Ressa sudah cemberut masam.
Itu bukan pencahar, pasti obat penggugur kandungan isinya, batin Erfan. Tangan lelaki itu mengelus perut Hira dengan lembut. Dia harus tambah ekstra menjaga istrinya.
Hira merasakan suaminya berubah sendu jadi bertanya-tanya. Apa sebenarnya yang sedang disembunyikan Erfan darinya.
"Saya mau tidur sebentar, nanti bangunin meeting ya Lih." Ujar Erfan selepas mereka makan siang.
"Siap Bos."
Erfan membawa istrinya ke kamar, jam dua nanti ada meeting. Masih bisa tidur setelah sholat.
"Istirahat Sayang, jangan kemana-mana lagi." Hira membulatkan mata, apa hidupnya hanya untuk istirahat. Ia tak mempedulikan suaminya, menyalakan laptop kembali, lalu duduk manis di kursi. Meja rias menggantikan posisi sebagai meja kerja.
"Sweety, temani sini." Panggil Erfan, Hira mendengus kesal. Baru juga laptopnya menampilkan cahaya di layar, suaminya itu sudah memanggil. Badannya bisa bengkak-bengkak karena kebanyakan tidur ini.
"Aku bosan rebahan, Bee." Rengek Hira.
"Sebentar Sayang, Mas perlu dipeluk biar bisa tidur." Hira mengalah sajalah pada bayi besar, kalau dibiarkan telinganya bisa panas mendengar rengekan Erfan.
__ADS_1