Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
106


__ADS_3

"Bee!" Hira mendatangi suaminya yang masih bergelut dengan laptop. Ia duduk dipangkuan Erfan, lelaki itu menepikan laptopnya.


Erfan sangat hapal, kalau sudah seperti ini pasti ada maunya. Ia mengelus perut sang istri yang baru menginjak usia kehamilan minggu ke delapan.


"Mau apa, hm?" Ia membawa perempuan berusia tiga puluh satu tahun itu ke tempat tidur, memangkunya sambil bersandar di kepala ranjang.


"Aku mau minta donasi dari teman-teman kamu, Bee. Mereka kan kaya-kaya, uangnya pasti banyak. Kalau aku kumpulin bisa untuk membangun yayasan."


"Bukannya Mas gak mau bantu, sebulan ini aja kamu melanggar peraturan yang Mas buat, Sweety. Kamu gak kerja bukannya lebih banyak istirahat, malah gak bisa istirahat. Mas gak mau bikin kamu tambah sibuk lagi."


"Bee, aku kan pengen nolongin orang. Nolongin orang-orang kaya yang bingung cara ngabisin duit. Jadi mending di donasikan dari pada buat beli jas yang harganya ratusan juta, atau jam tangan yang bisa miliyaran, mubajir banget. Padahal jam harga ratusan ribu juga masih bisa untuk menunjukkan waktu." Ucap Hira menyindir suaminya secara tidak langsung. Erfan melongo hatinya tersentil karena baru saja membeli jam yang dimaksud sang istri itu.


"Kalau kamu sudah melahirkan dan anak kita lepas ASI baru Mas bantu." Putus Erfan, Hira menggeleng kecewa dengan mata berkaca-kaca.


Erfan lemah kalau sudah melihat istrinya mau menangis begini. Istri Erfan itu sudah tau kelemahan suaminya. "Ya sudah Mas bantu."


Hira tersenyum sumringah, mengecup pipi suaminya. "I love you, Daddy."


"Hm."


"Mas marah?" Tanya Hira, masih bergelayut manja dipangkuan suaminya.


"Enggak!"


"Kalau jawabnya gitu pasti marah." Ujarnya cemberut.


"Sudah tau nanya!" Erfan mencubit gemas pipi Hira lalu mengunyel-mengunyel dengan kedua telapak tangannya. "Susah banget dibilangin," ucapnya. Si empunya malah nyengir tanpa dosa.


***


Demi sayang istri yang katanya sedang ngidam ingin dibuatkan kawasan healing untuk para penyandang mental illness. Erfan membuat program mental care, donasi digulirkan ke Yayasan Kasih Erra. Semua sudah sesuai standar dan mendapatkan izin dari pemerintah.


Ia tidak ingin istrinya terjerat fitnah penyalah gunaan dana sosial. Setiap kali ada meeting, Erfan sudah dibekali sang istri berbagai wejangan untuk mendapatkan donatur.


Sungguh, posisinya sebagai pemilik EXTNET sekarang terhinakan. Beruntung, para rekan bisnisnya menyambut baik keinginan ibu hamil itu. Berat, kalau ngidamnya begini.


"Persiapan acara nanti malam bagaimana, Lih?" Malam ini Erfan membuat acara terbuka untuk para donator di Emeral hotel mengundang para rekan bisnisnya. Setelah satu bulan menggalang donasi untuk program mental care, Yayasan Kasih Erra akan membuat Healthful Land Project dari dana yang terkumpul.


"Sudah siap semua bos, lokasi yang pas juga sudah dapat di daerah Lembang. Sangat bagus untuk nature healing."

__ADS_1


"Thanks Lih, sudah banyak membantu." Pemuda itu hanya menanggapi dengan anggukan. Sungguh bosnya bucin berkelas.


Kini Erfan sudah berada di ruang kerja sang istri. Tapi istrinya itu tidak ada di tempat. Mau marah pun Erfan tak bisa.


Ia menyempatkan waktu menyapa para pasien yang ada di Yayasan Kasih Erra. Menanyakan kondisinya satu persatu.


Sungguh masih sangat banyak orang-orang yang kurang beruntung. Untuk makan saja susah apalagi biaya berobat. Jika ia melihat barang-barang yang dipakainya. Mungkin itu bisa untuk membiayai seumur hidup keluarga mereka.


"Adek sudah makan?" Tanya Erfan pada anak yang berusia belasan tahun. Anak itu terbaring lemah karena kurang gizi dan mengalami kelumpuhan.


"Sudah Om."


"Adek mau apa? Nanti Om kasih tau suster Sarah untuk membelikan." Tawar Erfan, hatinya terenyuh. Pantas saja Hira sampai uring-uringan kalau mendapati pasiennya lambat di tangani pihak rumah sakit.


"Mau burger dan pizza boleh Om?"


"Boleh, nanti Om belikan." Ujar Erfan lalu pamit dari sana untuk mencari Sarah.


"Sarah, kamu pesankan burger dan pizza buat mereka ya. Tapi saya gak bawa cash, uangnya saya transfer."


"Bee, kamu di sini. Kenapa gak ngabarin aku?" Hira mendekati suaminya yang sedang bicara dengan suster Sarah.


"Darimana, hm?" Erfan menyambut istrinya dengan pelukan. "Minta duit cash Sayang, tadi aku pesan pizza sama Sarah buat di sini."


"Baik Bu."


Hira menggandeng suaminya untuk masuk keruangannya diikuti sarah. Perempuan hamil itu mengeluarkan dompet dari tasnya dan memberikan lembaran-lembaran merah pada Sarah.


"Ini semuanya Bu?" Kaget Sarah, uang dua puluh lembar hanya untuk pizza dan burger?


"Sekalian beli makan siang atau makan malam nanti gak papa." Ucap Hira lembut, Sarah mengangguk lalu meninggalkan ruangan bosnya.


"Kamu belum jawab pertanyaan Mas tadi, Sweety." Erfan membawa istrinya duduk di sisi tempat tidur.


"Dari rumah sakit, Bee." Ucap Hira memelas, mereka sudah sering berdebat masalah ini.


"Susah banget ya dengerin ucapan Mas." Erfan menyandarkan kepala Hira ke bahunya. "Mas cuma pengen kamu sehat Sayang, nurut sama Mas." Tutur Erfan lembut.


"Gak bisa Mas, harus aku yang ngurus di sana. Aku gak bisa ngarepin Yeni yang ngerjain semuanya."

__ADS_1


"Oke, Mas akan cari orang yang bisa mengelola Yayasan ini. Kamu hanya mengawasi."


"Bee!"


"Gak ada bantahan, Sayang. Mas mau selalu dekat adek." Alibi Erfan, kalau tidak begitu Hira susah menurut.


"Iya-iya." Pasrah Hira, dia sudah senang di sini, banyak orang yang bisa diajak bicara.


"Sudah jangan cemberut, kita pulang istirahat. Nanti malam kita ada acara."


"Pulang ke rumah apa ke kantor?"


"Ke rumah Sayang."


"Ke kantor aja, Bee." Mohon Hira, ia ingin ketemu Galih menanyakan perihal tempat yang akan mereka bangun Healthful Land.


"Mau apa ke kantor Mas?" Selidik Erfan, apalagi kalau bukan membahas program mental care sama Galih. Ia sangat tau otak istrinya itu.


"Mau ketemu Galih," Hira nyengir kuda.


"Ya sudah, tapi bentar aja ngobrolnya. Sisanya istirahat."


"Siyaap sayangkuh." Hira memeluk suaminya dengan penuh kasih sayang. Suaminya itu selalu menuruti apa yang ia mau. Program mental care tidak akan bisa terbentuk kalau suaminya tidak membantu turun tangan.


"Katanya sayang tapi suka ngeyelan." Sindir Erfan dengan wajah cemberut.


"Ih, bukan gitu Bee. Aku gak ngeyelan. Aku cuma mengutarakan isi pikiran aku," bela Hira.


"Iya deh, terserah ibu dokterku aja. Nanti kalau gak diturutin ngambek." Goda Erfan, "iyakan Sayang, Mommy sekarang ngambekan." Bisik Erfan di perut Hira yang sedikit berisi.


"Aku gak ngambekan Bee." Hira memukulkan tangannya di dada Erfan.


"Ini kalau bukan ngambek namanya apa Sayang?" Erfan menaik turunkan alisnya, menggoda sang istri yang sudah cemberut masam.


"Pokoknya ini bukan ngambek." Ujar Hira ngotot, terserah istrinya sajalah. Erfan nurut saja, ibu hamil memang gak bisa dilawan.


"Iya deh bukan ngambek, hayoo kita pulang. Mau jalan sendiri apa di gendong?"


"Mau naik balon udara," jawab Hira cengengesan.

__ADS_1


"Dahlah, Mas bunuh diri aja kalo kamu ngidam itu, Sweety." Ucap Erfan frustasi, pasalnya ia mengalami phobia akan ketinggian. Jangankan balon udara, naik bianglala saja Erfan panas dingin.


"Eh, enggak kok, Bee. Aku gak bakalan tega liat suami ganteng aku ini pucat seperti mayat karena takut ketinggian." Ucap Hira sambil terkekeh kecil, Erfan memutar bola mata kesal. Sayang sih tapi ngeselin.


__ADS_2