Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
102


__ADS_3

Drama makan siang sudah berlalu. Erfan membawa istrinya istirahat di kamar. Ia selalu berusaha menyempatkan waktu mengeloni Hira sebelum tidur.


"Bee bosan di rumah sendirian." Rengek Hira, di apartemen tidak ada asisten rumah tangga. Ia tidak punya teman bicara.


"Kalau sudah punya baby gak sendirian lagi Sayang." Erfan ikut berbaring di samping sang istri, "kamu mau bikin rumah singgah atau yayasan kanker?" Tawar Erfan, ia tak tega melihat istrinya dilanda jenuh.


Hira berpikir lama, sebelum akhirnya membuat pilihan. "Rumah singgah dulu deh Mas."


"Mau dikasih nama apa, sekalian biar Galih urus." Lelaki itu menatap istrinya lekat, senyuman yang terbit di bibir Hira mampu menghipnotis siapapun yang melihatnya.


"Yayasan Kasih Erra." Jawab Hira setelah berpikir cukup lama.


Erfan mengernyit, "itu singkatan nama kita, Sayang?"


"Bisa dibilang begitu," jawab Hira sambil nyengir kuda, "tapi Erra itu dalam bahasa Skandinavia, artinya Dewi obat-obatan. Sedikit nyambungkan, kalo gak nyambung dipaksa nyambung deh." Lanjutnya, seolah menegaskan tak menerima kritikan atas nama yang ia pilih.


"Skandinavia? Baru dengar, masuk wilayah negara mana itu, Sweety?"


"Coba tanya google deh," ujar Hira iseng.


"Males, mau dengar dari kamu."


"Skandinavia itu merupakan semenanjung yang berada di bagian utara Eropa," jelas Hira.


"Terus, terus." Erfan antusias mendengarkan, perempuan butuh mengeluarkan minimal enam belas ribu kata setiap hari, maksimal dua puluh ribu.


Kebayang kan gimana cerewetnya perempuan, kalau harus menghabiskan jatah kata sebanyak itu setiap hari. Jadi Erfan akan belajar menjadi pendengar yang baik untuk istri tersayangnya.


"Skandinavia merupakan bagian dari Negara Nordik yang juga mencakup Islandia dan Finlandia. Nenek moyang dari Skandinavia sebagian besar berasal dari keturunan Jerman yang sempat berimigrasi 2000 tahun silam. Pegunungan Skandinavia merupakan salah satu pegunungan tertua di dunia."


"Kamu hapal Sweety."


"Enggak, nih aku baca di google." Ujarnya sambil cengengesan menunjukkan ponsel yang sedari tadi ia pegang.


"Dasar!" Erfan menggelitiki perut Hira, "tapi ingat peraturannya. Kamu cuma mengawasi gak boleh kelelahan."


"Iya bawel, iya."


"Aku gak bawel lagi kalo dikasih vitamin dosis tinggi, Sweety." Ujarnya mesum, sudah terbayang wajah Hira yang merengut karena selalu dimintai jatah. Erfan tersenyum geli, benar saja istrinya langsung meringkuk pura-pura tidur dengan wajah masam.


"Sweety." Goda Erfan lagi dengan suara yang dimanja-manjakan. Melihat wajah Hira masam itu suatu kebahagiaan tersendiri.


"Masih siang Bee. Malu diliatin cicak." Ucap Hira asal. Matanya langsung mencari-cari cicak. Tapi di kamar ini tidak ada cicak.


"Gak papa, biar cicak iri sama kita Sweety." Erfan mengikis jarak diantara mereka, Hira melotot sempurna. "Aku gak mau mandi lagi, Bee." Kesalnya dengan sorot mata tajam.

__ADS_1


"Vitamin aja, gak lebih." Bujuk Erfan dengan mengerling manja.


"Kagak ada vitamin-vitaminan. Kamu dikasih hati minta jantung. Dikasih ***** langsung namplok."


"Dikit aja, biar aku semangat nih Sayang."


"Dikit aja, biar aku semangat nih zeyeng." Ujar Hira menirukan gaya suaminya dengan mengejek. Erfan jadi tambah gemas.


"Iya zeyeng." Tanpa babibu lelaki itu langsung menangkup pipi Hira dengan kedua tangannya dan menyesap benda kenyal itu dengan lembut. Apalah daya Hira yang juga terbuai olehnya.


"Tadi nolak, sudah dapat gak mau lepas." Erfan mencebik setelah berhasil mendapatkan vitaminnya.


"Ih, bukannya terimakasih malah ngomel." Kesal Hira, sedetik kemudian ia menggigit bibir Erfan sampai si empunya meringis kesakitan.


"Nakalnya!" Erfan langsung mengungkung sang istri tanpa peduli protesan Hira. Suara ketukan pintu menyelamatkan Hira. Erfan bangkit dari tidurnya. "Awas, kamu sekarang selamat. Tapi harus membayarnya nanti malam. Akan kubuat kau tak bisa jalan," kesal Erfan.


Erfan membuka pintu dengan tampang berantakan.


"Meeting sepuluh menit lagi Bos. Masih sempat melanjutkan pergulatan." Galih mengingatkan sambil cekikikan. Erfan langsung menutup pintu dengan kasar. Beranjak ke kamar mandi lalu berganti pakaian.


Apa kata dunia kalau Erfan meeting dengan pakaian kusut gara-gara pergulatannya yang gagal.


"Udah dong zeyeng jangan cemberut." Goda Hira, puas melihat raut masam sang suami.


***


"Suruh masuk Sa." Ressa mengangguk memanggil tamunya untuk masuk.


Perempuan paruh baya itu dengan angkuhnya masuk ke ruangan Erfan lalu duduk di sofa.


"Di mana anak saya?" Tanyanya Tegas, Erfan tersenyum miring matanya menyorot tajam perempuan itu.


"Anak?" Tanya Erfan dengan setengah tertawa, "sekarang anda mengakuinya sebagai anak?" Ucapnya meremehkan. "Anda lucu sekali, padahal anda tidak punya hak atas Hira. Dia sudah sepenuhnya menjadi milik saya." Lanjutnya dingin, ekspresinya tak dapat terbaca. Galih yang masih berada di ruangan itu merasakan atmosfer yang berbeda.


"Hira masih anak saya." Perempuan paruh baya itu berkata dengan tenang. Walau sebenarnya ia sudah merinding melihat ekspresi pemuda yang duduk bersedekap di kursinya.


"Mungkin saya harus mengingatkan anda atas perjanjian yang sudah disepakati dulu. Atau nyonya mau main-main di pengadilan. Saya tidak perlu pikir panjang untuk memasukkan orang ke jeruji besi." Ujar Erfan dengan tatapan elangnya bertepatan pintu kamar yang terbuka.


"Sayang kenapa keluar?" Tanya Erfan lembut, menyambut Hira untuk duduk di pangkuannya.


"Apa perlu saya bereskan bos?"


Erfan mengangkat sebelah tangannya, "tidak perlu Galih. Saya bisa membereskan sendiri."


"Kenapa ada ibu di sini, Bee." Bisik Hira, Erfan mengangkat bahu tanda tak tau.

__ADS_1


"Hira, kenapa kamu tidak pernah mengirim uang lagi?" Tanya perempuan paruh baya itu tanpa mempedulikan ucapan Erfan. Erfan memang menghentikan mengirim uang pada mertuanya. Uang itu ia alihkan ke rekening Hira tanpa istrinya sadari.


"Aku udah gak kerja." Jawab Hira santai, bersandar dengan nyaman di dada bidang suaminya. Galih ingin sekali tertawa menyaksikan tingkah istri bosnya itu.


"Lebih baik anda pulang sebelum saya usir dengan tidak terhormat."


"Saya tidak akan pulang sebelum kalian memberi saya uang." Ucap perempuan paruh baya itu dengan percaya diri.


"Saya tidak akan mengeluarkan sepeserpun untuk anda. Tangan dan kaki anda masih berfungsi, bukan?"


"Galih, bawa keluar ibu tiriku tersayang itu." Perintah Hira, Galih mengangguk mendekati perempuan paruh baya yang memberikan tatapan nyalang.


"Anda bisa jalan sendiri atau perlu bantuan?" Ujar Galih dengan sorot mata tajam yang tak kalah menyeramkan.


"Saya tidak akan pulang." Kekeuh ibu tiri Hira, Galih tersenyum miring lalu menarik perempuan paruh baya itu keluar ruangan bosnya dengan paksa. Tak mempedulikan jeritan sang wanita tua.


"Bee, Galih bisa nyeremin juga ternyata."


Erfan terkekeh kecil, "harus Sayang, laki-laki gak boleh terlihat lemah di luar." Ujarnya membelai lembut kepala sang istri, "kecuali di ranjang." Bisiknya di telinga Hira.


"Bee, lagi tegang nih."


"Sama, aku juga tegang. Kalo kamu duduknya gini, Sweety."


"Dari mana mak lampir tau kantor kamu, Bee?" Tanya Hira mengabaikan godaan suaminya. Terserah, mau tegang. Tegang aja, gak ngerti situasi banget.


"Mungkin dari Ressa atau keluarganya."


Hira hanya manggut-manggut membenarkan. "Masih lama pulangnya, Bee. Mau jalan-jalan."


"Nanti ya Sayang, Mas masih ada kerjaan." Erfan memberikan pengertian pada istri manjanya ini. Ia jadi merasa dibutuhkan kalau Hira bersikap seperti ini.


"Aku mau naik bianglala." Rengek Hira dengan bibir yang dimanyunkan.


"Boleh, naik sendiri ya Sayang."


"Maunya ditemenin."


"Ditemenin Ressa gimana?" Tawar Erfan, ia tidak akan menyerahkan diri naik bianglala dengan cuma-cuma.


"Mau sama kamu, Mas." Rengeknya lagi. Hira tidak serius ingin naik bianglala, hanya menggoda suaminya saja.


"Ogah, Mas gak mau naik bianglala."


"Aku ngidam Bee." Ujarnya dengan dimanja-manjakan.

__ADS_1


"Jangan ngadi-ngadi, Sayang. Mas mau lanjut kerja dulu." Ucap Erfan untuk menyelamatkan diri. Istrinya itu tersenyum bahagia karena berhasil mengerjainya.


__ADS_2