Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
100


__ADS_3

Erfan dan Hira sudah siap menghadiri acara makan malam keluarga besar Hardiyata. Selesai makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Hardiyata mengumumkan pewaris tunggal keluarganya adalah Erfan, sebelum diurus sang pengacara.


Semua menuai pro dan kontra. Erfan hanya diam membaca situasi di sana. Berhubung orang tua kandung Hardiyata sudah meninggal. Jadi tetuanya adik kandung sang ayah Hardiyata.


"Kita baru mengenalnya Yata." Pamannya Hardiyata tersenyum miring pada Erfan. "Paman tidak yakin kalau dia benar-benar anak kandungmu."


"Kami sudah melakukan tes DNA, Paman." Hardiyata meyakinkan sang paman kalau memang Erfan anak kandungnya. Selama beberapa bulan bersama, anaknya itu tak pernah sekalipun membahas masalah harta warisan.


"Bisa jadi semua rekayasa. Istrinya kan bekerja di rumah sakit itu." Orang yang seharusnya Erfan panggil kakek itu tersenyum meremehkan. "Mudah saja semua itu mereka lakukan untuk mengelabui kamu," tambahnya.


Erfan tidak sakit hati karena warisan itu tidak menjadi miliknya. Ia merasa terluka karena dianggap bersandiwara hanya demi warisan. Ia tidak serendah itu.


Hira mengusap lembut tangan Erfan untuk memberikan ketenangan. Ia takut suaminya terpancing emosi sekarang.


"Kita bisa melakukan test DNA di rumah sakit lain kalau Paman ragu." Ujar Hardiyata memberikan solusi agar tidak terjadi perpecahan.


"Ya, sebaiknya kita lakukan test DNA ulang." Ujar adik Hardiyata.


Erfan tersenyum sinis, "maaf, saya tidak butuh harta dari keluarga kalian." Ujarnya tenang, "ayo Sayang, kita pulang. Biar anak buahku yang bawa mobilmu nanti." Erfan menggenggam erat tangan sang istri beranjak dari ruang keluarga.


"Sayang, jangan pergi Nak." Cegah Btari memeluk purtanya erat dari belakang. Erfan berbalik, menatap lekat mata Btari yang sudah berkaca-kaca. Ia selalu lemah melihat perempun menangis.


"Aku tidak pergi Mah, Mama bisa mencariku kapanpun. Nanti aku kirim alamatnya. Mama jangan sedih." Erfan membalas pelukan sang ibu lalu mengecup lama di kening. "Maaf, Erfan harus pulang Mah, ini bukan rumahku."


"Ini rumahmu Erfan." Seru Hardiyata, Erfan menanggapinya dengan senyuman.


"Biarkan mereka pergi, terlalu banyak drama." Ucap Paman Hardiyata, Erfan tertawa meremehkan lalu beranjak ke kamar mengambil barang-barangnya.


Sampai di mobil Hira hanya mengusap tangan suaminya. Mobil dilajukan Erfan dengan cepat menuju kantornya. Ia sudah membeli rumah, hanya saja belum memberi tahu Hira. Itu kejutan untuk hadiah pernikahan bulan depan.


"Sweety." Erfan bergelayut manja dipelukan istrinya. Hira paham suaminya sedang butuh pelepasan. Ia mengangguk menanggapinya.


"Sakit Sweety." Erfan masih membenamkan wajah dalam pelukan sang istri setelah melewati malam yang panjang. "Kamu gak merekayasa test DNA itu kan, Sayang?" Tanya Erfan dengan tawa kecil yang dipenuhi luka.

__ADS_1


"Aku udah bisa nerima kalau mereka orang tua kandung aku, Sweety. Tapi diragukan bagian dari keluarga mereka ternyata menyakitkan. Apalagi dituduh bersandiwara, Sayang."


Hira hanya mengusap punggung polos Erfan untuk menyalurkan kekuatan.


"Sweety, tangan kamu ada aliran listrinya ya. Nyetrum." Ucap Erfan bercanda untuk menghilangkan kesakitan yang dirasakan hatinya. "Aku gak papa kalo gak dianggap. Asal kamu selalu menemani aku di sini Sayang."


"Aku akan selalu menemanimu, Bee. Gak akan pergi lagi ninggalin kamu."


"Sweety aku mau main squishy." Rengek Erfan sambil ketawa lagi. Persis seperti orang yang mengalami gangguan kejiwaan, sebentar-sebentar tertawa lalu bersedih. Hira jadi prihatin dengan keadaan suaminya.


"Iya." Jawab Hira hampir menjerit karena Erfan memainkannya dengan keras.


"Ih, kenapa airnya gak keluar Sweety. Aku mau minum dari sini." Hira berusaha bersabar menahan siksaan dari suaminya sendiri.


"Aku buatkan susu hangat ya Bee." Bujuk Hira ingin mengakhiri penderitaannya. Asetnya itu sudah terasa nyeri dimainkan Erfan dengan kasar.


"Gak mau, aku pengen ini." Rengeknya manja, Hira hanya berdehem.


Cukup lama Hira tersiksa sampai Erfan akhirnya tertidur pulas setelah melakukan pelepasan dengan sempurna. Ia bangkit segera memakai segala atributnya. Di laci Hira menemukan banyak obat tidur.


"Sweety." Panggil Erfan, saat pertama kali membuka mata. Hira tak ada di sampingnya, sekarang baru pukul tiga.


"Kamu bangun Bee?" Ujar Hira keluar dari kamar mandi.


"Kamu gak aku apa-apain kan Sayang, tadi malam?"


"Kalo kamu gak ngapa-ngapain aku. Kamu gak bakalan polosan gitu, Bee." Ujar Hira dengan tersenyum lalu berbaring kembali.


"Bukan gitu, maksudnya apa cara aku kasar."


"Sedikit kasar." Hira membelai lembut rahang tegas milik Erfan.


"Maaf Sayang, aku suka lepas kendali kalo lagi emosi." Erfan memeluk erat istri tersayangnya. "Tetap bersamaku Ra, apapun yang terjadi. Jangan pernah tinggalin aku lagi."

__ADS_1


"Iya, ayo lanjut bobo." Ajak Hira. Mereka kembali terlelap dalam keadaan saling memberi kehangatan.


Walau matahari sudah bersinar terang. Erfan enggan beranjak dari tidurnya. Setelah sholat subuh mereka rebahan kembali.


"Galau gak boleh gini dong, Sayang. Nanti mereka malah senang lihat kamu yang kacau begini." Bujuk Hira, menarik suaminya untuk mandi kembali. Ia dengan suka rela dimangsa sang suami demi cepat memiliki buah hati.


"Kamu kok manis banget Sayang, dari tadi malam gak ada nolak, aku ajak." Goda Erfan setelah selesai mandi, ia duduk di kursi rias. Hira dengan telaten mengeringkan rambutnya.


"Biar cepat punya baby, Bee." Jawab Hira dengan menyunggingkan senyumannya. Erfan dapat melihat itu dari cermin di depannya. "Makasih istriku yang paling pengertian."


Hira mengangguk, "kamu harus jadi lelaki hebat, biar anak kita bangga punya daddy yang hebat." Ujarnya menyemangati Erfan. Hira tidak ingin melihat suaminya bersedih sebab tidak diakui keluarga. Karena ia sudah pernah berada di posisi itu.


Sejak ayahnya menikah, Hira sudah jarang berbicara dari hati ke hati dengan sang ayah. Mereka sudah berjarak, bahkan Hira seakan bukanlah anak kandung sang ayah.


"Semoga cepat isi ya Sayang. Kamu jangan makan-makanan yang gak sehat, Sweety." Erfan mendudukkan Hira di meja rias. Menyingkap piyama sang istri.


"Setiap kali lihat bekas jahitan ini aku selalu merasa bersalah. Berharap itu tidak pernah terjadi. Aku bahkan pengen ngelarang kamu keluar rumah kalau hamil nanti. JujurĀ  aku takut kejadian seperti itu terulang kembali." Hira menyisir rambut suaminya dengan jari jemari.


Hira mengerti dengan trauma yang Erfan alami. Ia cukup mendengarkan dan menurut sekarang. "Kita belajar untuk lebih baik lagi, Bee. Mungkin kita belum pantas menjadi orang tua makanya Allah mengambil calon anak kita. Kan kamu suka proses membuatnya." Goda perempuan itu, agar kesedihan suaminya teralihkan.


"Suka banget, bikin candu Sayang. Kalo sekarang boleh aku mau minta lagi."


"Eh, gak bisa dibaikin banget ya. Lupa diri gitu." Protes Hira kesal.


"Canda Sayang, tapi kalau kamu mau. Hayoo, aku gak bakalan nolak." Ujarnya genit, Hira mendengus kesal.


"Mending pesan makan, Bee. Calon ibu ini butuh asupan yang banyak dan istirahat yang cukup. Jangan dihajar terus, yang ada nanti sakit."


"Siyap, ibu anak-anakku." Erfan tersenyum geli, usai memesan makanan ia menenggelamkan kepalanya di perut sang istri yang masih duduk di meja.


"Candu banget, kalau 24 jam sama kamu gini aku gak bakalan bisa fokus kerja Sweety." Adunya dengan kekehan kecil.


"Otakmu terlalu mesum, Bee. Cuci sana gih pakai detergen anti noda."

__ADS_1


"Kamu mau gak bantu nyuciin Sayang. Bilasin sekalian biar bersih. Apapun yang kamu lakuin aku bakalan pasrah deh." Goda Erfan lagi, Hira beranjak dari duduknya.


Derita tinggal di kamar kantor ya gini. Gak bisa kabur kemana-mana. Erfan tambah bahagia bisa menjebaknya sesuka hati.


__ADS_2