
"Morning Sweety!" Erfan mengelus tangan Hira yang bengkak bekas jarum infus. Baru tadi malam istrinya bisa lepas infus. Dua hari ini Hira sudah bisa makan sedikit demi sedikit.
Hira menanggapi dengan senyuman dari bibir pucatnya. "Mau mandi Bee," pintanya.
"Mas siapin air hangatnya dulu ya Sayang." Ujar Erfan beranjak ke kamar mandi, mengisi bathtub mengatur suhu air agar panasnya pas. Kemudian kembali menggendong istrinya.
Ia memandikan istrinya cepat agar tidak kedinginan. Setelah selesai Erfan memakaikan daster yang berbahan dingin. Mendudukkan istrinya di depan cermin.
"Masih pusing Sayang?"
"Masih Mas." Erfan mengeringkan rambut Hira dengan cepat, usai menyisir ia menggendong tubuh mungil itu kembali ke kasur.
"Makasih Bee."
"Jangan bilang makasih, ini sudah kewajiban aku ngerawat kamu." Erfan mengecup singkat di bibir sang istri. Sudah lama ia tidak merasakan kehangatan benda kenyal itu.
"Mas hari ini harus ke kantor, ada meeting penting. Mama gak bisa nemenin kamu hari ini. Sama bibi di rumah, gak papa?"
"Iya, gak papa." Hampir dua minggu ini Erfan tidak berangkat ke kantor sebab menjaganya. Hira tidak bisa terus-terusan bermanja pada sang suami.
"Kalau mau apa-apa panggil Bi Atun. Jangan maksain bangun, kamu masih lemah." Pesan Erfan, Hira mengangguk patuh.
Erfan tidak bisa tenang meninggalkan istrinya di rumah. Kalau saja tidak penting ia tidak akan datang ke kantor. Ia tidak mau nama baik perusahaan tercoreng karena ketidakhadirannya dalam meeting ini.
Sampai kantor Erfan disuguhkan berkas-berkas yang sudah bertumpuk di meja. Meeting akan dimulai satu jam lagi, waktu itu ia gunakan untuk memeriksa berkas.
"Setelah meeting saya langsung pulang, tolong kamu kirim berkas yang belum saya periksa ke rumah seperti biasa Lih." Ucap Erfan saat asistennya masuk ke ruangan.
"Siap bos."
"Tian sampai kapan ke London?" Baru tadi malam Erfan dapat kabar temannya itu berangkat ke London karena panggilan Xeon.
"Perkiraan urusan di sana beres dalam dua minggu Pak."
"Yayasan gimana selama dua minggu ini?"
"Semua diurus Ibu Ratna dengan baik, jumlah pasien yang singgah juga bertambah. Jadi saya menggunakan satu rumah cadangan yang sudah kita siapkan itu. Healthful Land Project juga berjalan lancar sejauh ini."
"Manfaatkan sosial media juga untuk mendapatkan para volunter. Tidak hanya mental care giver tapi kita juga membutuhkan banyak pegiat sosial," ujar Erfan.
__ADS_1
"Kita juga perlu melaporkan kas Yayasan ke publik dan para donator. Termasuk uang yang kita terima dan uang yang keluar secara terperinci. Menurut saya go online tidak masalah. Saya minta tolong kamu yang pantau Yayasan dulu ya Lih."
"Siap Pak, saya akan rekrut admin khusus untuk mengelola media sosial. Kita akan membuat tim untuk mempermudah pelaporan. Pastinya kita juga perlu para kreator."
Erfan mengangguk setuju, lalu mengakhiri diskusinya. Mereka beranjak ke ruang meeting.
***
"Bi," panggil Hira pada asisten rumah tangga dari interkom. Perempuan paruh baya itu tergopoh-gopoh mendatangi kamar majikannya. Di rumah besar itu Erfan mempekerjakan tiga orang art. Hanya saja yang mengurusi semua keperluan pasangan itu Bi Atun.
"Iya Non."
"Bantu saya ke kamar mandi Bi," dengan sigap perempuan paruh baya itu membawa Hira ke kamar mandi. Hira merasakan perutnya sangat nyeri. Argh, ia mengalami pendarahan. Hira berusaha untuk tetap tenang kondisi kandungannya memang lemah. Bi Atun kembali membawa Hira di kasur.
"Bi bantu saya duduk dulu." Ujar Hira sebelum perempuan paruh baya itu membaringkannya. "Tolong ambilin obat di laci ya, Bi." Setelah ia berhasil bersandar di sandaran ranjang, kepalanya sangat berat.
"Ini Non." Bi atun memberikan obat dan segelas air putih. Itu obat penguat kandungan. Hira harus berjuang mempertahankan bayi dalam kandungannya. Ia tidak ingin membuat Erfan kecewa.
Setelah selesai minum obat, Bi Atun membantu Hira berbaring kembali.
"Udah Bi, tinggalin gak papa," ujar Hira.
Hira berusaha menyunggingkan senyuman lalu mengangguk.
Seperginya Bi Atun, Hira memiringkan tubuh. Perutnya terasa nyeri, ia memeluk erat guling untuk mengurangi rasa sakit yang ia rasakan.
"Allah, tolong kuatkan janin dalam kandunganku." Lirih Hira saat sakit sudah tak tertahankan lagi. Ia berusaha tetap tenang sambil beristighfar. Harapannya sangat besar bisa melahirkan anak untuk Erfan.
Keringat dingin sudah membasahinya. "Sayang, tenang ya, sebentar lagi Daddy pulang." Hira mengusap perutnya terus mengatakan kalau daddy sebentar lagi pulang. Perlahan nyeri pada perutnya mulai berkurang. Ia tertidur saat baby billionaire itu tenang.
Berkat hamil ini Hira dapat mengumpulkan uang ratusan Miliyar dalam waktu satu bulan. Itu rezeki baby billionaire untuk Yayasan Kasih Erra.
Pada saat meeting, Erfan tidak bisa tenang, hatinya gelisah. Berharap meeting cepat selesai. Ia merasakan panggilan untuk segera pulang.
Usai meeting Erfan tidak kembali ke ruangan. Menitipkan semua barang-barangnya pada Galih. Ia segera melajukan mobil menuju kediamannya.
"Sweety!" Erfan membuka pintu mendapati istrinya meringkuk memeluk guling dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh. Padahal suhu AC cukup dingin.
"Apa adek nyari daddy lagi?" Lelaki itu mengusap perut istrinya pelan agar tidak mengganggu tidur sang istri.
__ADS_1
Erfan melepaskan jas, setelah berganti pakaian ia melap keringat sang istri. Seberat itu perjuangan Hira untuk memberikannya buah hati. Ia berjanji tidak akan menyakiti istrinya sedikitpun lagi.
"Daddy sudah pulang?" Hira mengerjap perlahan, memutar posisi tubuh memeluk pinggang sang suami. "Tadi adek nyariin daddy," lirihnya.
"Sakit banget ya Sayang?" Hira mengangguk, "aku pendarahan, tapi dikit aja kok. Tadi sudah minum obat juga." Ucapnya, lalu meyakinkan diri kalau semua akan baik-baik saja.
Erfan menguatkan hatinya, "kita ke rumah sakit ya Sayang."
"Nanti dokter Yosi ke sini jugakan Bee." Erfan mengangguk. "Terimakasih sudah berjuang Sayang." Lelaki itu mengusap lengan istrinya dengan sayang. Ia tidak akan jauh dari Hira lagi, karena baby bisa protes kalau jauh dari sang daddy.
***
Karena Erfan jarang berada di kantor, Salwa jadi lebih mudah mengawasi asisten lelaki itu. Ia masih belum terima diperlakukan kurang baik oleh Erfan dan asistennya.
Seperti mendapat pencerahan selesai meeting gadis itu menemui perempuan paruh baya yang dulu berstatus sebagai orang tua Erfan.
Kediaman Wijaya itu sepi, hanya ada Reny dan asisten rumah tangga. Setelah dipersilahkan masuk oleh art, Salwa menunggu di ruang tamu.
"Salwa, apakabar?" Tanya Reny basa-basi, mereka saling melepas pelukan.
"Aku ke sini mau ngasih berita gembira untuk Mami," ujar Salwa antusias.
Reny mengernyit, "berita gembira apa?"
"Mami sudah dengar kabar kalau istri Erfan sakit sudah dua minggu ini."
Perempuan paruh baya itu menggeleng, lalu menanggapinya dengan berbinar. "Oh ya, bagus dong. Kamu bisa mendekati Erfan lagi."
"Tidak semudah itu Mami. Mami tau tiga minggu yang lalu mereka mengadakan acara untuk sebuah yayasan yang Hira bangun. Banyak pengusaha yang mendukung mereka."
Reny tau berita itu karena heboh di seluruh siaran televisi dan juga media sosial. Ia menganggukkan kepala, masih belum mengerti kemana Salwa membawa pembicaraannya. "Lalu?"
"Aku pengen bikin seluruh tanah air gempar dengan berita penipuan istri Erfan yang berkedok yayasan itu. Pasti seru kalau seluruh media heboh dan Hira tambah sekarat karena stress dengan berita itu."
"Bagaimana caranya?" Tanya Reny sangat penasaran.
"Mami akan tau nanti, kita tunggu kabar menggemparkan itu." Ucap Salwa tersenyum smirk. Reny ikut tersenyum dengan kecerdasan gadis di depannya ini. Tidak salah ia memilih Salwa sebagai alat untuk memuaskan pembalasannya atas suami dan anak-anaknya yang mendekam di balik jeruji besi.
Salwa tidak akan melepaskan Erfan begitu saja. Lelaki itu sudah membuatnya tertantang. Belun pernah dia menemukan lelaki seperti Erfan.
__ADS_1