
"Itu Fany adik gue." Erfan menutup wajah dengan kedua tangan, mengusapnya kasar. "Gue minta semua rekaman yang ini dan juga pengakuan perempuan tadi malam."
"Ada dendam apa dia sama lo?" Tomi mulai tertarik, permusuhan antar saudara selalu menjadi sebuah misteri.
"Dia jatuh cinta sama gue, berambisi menghancurkan perempuan yang dekat sama gue."
"Cinta?" Kaget Tomi dan Guntur bersamaan, Erfan hanya mengendikkan bahu malas.
"Salah satu dari kita anak pungut, gue baru tau dan males cari tau." Walau Erfan tau dia yang anak pungut, tapi belum ada niat mencari tau semuanya.
"Lo yakin gak mau cari tau, kita bisa bantu." Tawar Tomi.
"Apa untungnya buat gue, yang ada gue sakit hati menerima kenyataannya nanti. Gue sudah bahagia sekarang punya Abi Nazar, Ummi, Hira dan kalian." Tomi terdiam, dari dulu memang ia tidak mempunyai orang tua. Tetapi beruntung Papa Emran dan Mama Mira sangat menyayanginya.
"Kalau lo perlu bantuan kita akan selalu ada buat lo." Ujar Tomi lalu tersenyum, senyum yang jarang diberikannya pada orang lain.
"Gimana nyamannya lo aja, perketat penjagaan Hira." Tambah Guntur.
"Itulah masalahnya Hira gak mau diam di rumah, gue gak bisa jagain dua puluh empat jam." Erfan mendesah berat, Tomi dan Guntur pun tidak bisa memberikan solusi apapun selain perketat penjagaan.
Dering ponsel Guntur menjeda percakapan. Ia menekan tombol hijau di layar ponsel.
"Bentar Papa Rizal nelpon."
Guntur menganga sempurna mendengarkan kalimat demi kalimat yang diucapkan ayahnya. Matanya menatap Erfan penuh arti. Jantungnya berdetak cepat saat sambungan telpon terputus.
"Hira tertabrak!" Hanya dua kata yang mampu Guntur ucapkan. Masih syok karena kronologinya sama seperti yang ia lihat di rekaman barusan.
"Dan kejadiannya sama dengan yang baru kita lihat?" Tekan Tomi lalu mengikuti Erfan yang sudah berlari memasuki lift. Tadi hati Erfan sudah lega karena sudah mendapatkan bukti untuk menjebloskan Fany ke penjara. Tapi sekarang jantungnya hampir berhenti berdetak.
Hanya perlu sepuluh menit dari Emeral Corp menuju Emeral Hospital. Erfan langsung berlari menuju ruang UGD. Zaky sudah menunggu di sana, kebetulan pria itu baru selesai meeting di rumah sakit ini.
"Zak, gimana keadaan Hira?" tanya Erfan panik dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
"Lo tenang dulu." Zaky membawa Erfan untuk duduk, "dia gak parah, security sempat menarik tubuhnya saat mobil itu mau menyerempet."
"Ada yang ngejar mobilnya?" Erfan tidak ingin hilang kesempatan lagi, ini kali ketiga Fany berulah.
"Sudah diamankan anak buah gue." Jawab Zaky, Erfan bernapas lega sekarang. Tidak lama kemudian Hira dipindahkan ke ruang rawat. Tomi dan Guntur juga sudah bergabung di sana.
"Guntur, bantu gue proses pelaku ya. Bukti tambahan sudah gue kirim sama lo." Erfan berucap dingin, kali pertama Guntur merasakan hawa mencekam berada di dekat Erfan.
Guntur menurut membuka ponselnya, syoknya bertambah saat menyaksikan apa yang dilihat. Tomi dan Zaky hanya diam tidak bereaksi.
"Sekarang masih mau bilang bisa jaga diri dengan baik, hm." Erfan menatap Hira dengan tatapan yang tak bisa diartikan tanpa ekspresi. Tiga orang yang ada di belakangnya meneguk ludah kasar.
"Maaf." Cicit Hira, tidak ada luka serius hanya tubuhnya serasa remuk, tangan dan kaki lecet. Karena terjatuh saat ditarik security. Tadi Hira mau menyeberang jalan, tiba-tiba ada mobil yang mengarah padanya. Padahal ia masih berada di tepi jalan.
Erfan menggeleng tanpa mengucapkan apapun, masih menatap Hira. Gadis itu terlihat ketakutan dengan tatapan suaminya. Lebih mengerikan Erfan yang begini daripada pria galak yang pernah dikenalnya.
"Bee, maaf!"
"Bee!"
Erfan masih tak bergeming, tetap pada posisinya. Hira sampai berkaca-kaca, kalau suaminya marah sekarang kemana ia mengadu.
"Bee, maaf!" Ulang Hira dengan suara parau menahan tangis. Tak tahan akhirnya Erfan mendekat duduk di sisi brankar.
"Sweety, kamu tau. Aku takut, sangat takut kamu terluka. Aku takut kejadian yang terjadi pada Bilqis terjadi padamu. Aku takut." Ucap Erfan menggenggam tangan Hira kuat mengeluarkan segala ketakutan yang dirasakannya.
"Maaf Bee!" Air mata Hira akhirnya terjatuh juga, ia tau Erfan trauma dengan kecelakaan. Sebelum ini ia juga pernah hampir celaka.
"Apapun yang kamu minta bisa aku berikan Sayang, asal jangan buat dirimu dalam bahaya seperti ini lagi."
Hira mengangguk, biarlah impian dan cita-citanya terkubur asal tidak membuat suaminya khawatir dan marah.
Sore harinya Erfan membawa Hira pulang, tidak perlu menginap di rumah sakit karena tidak ada cidera yang serius. Hira juga menurut untuk berhenti bekerja di rumah sakit.
__ADS_1
Hari demi hari Hira semakin pendiam, tidak antusias kalau diajak bicara. Ketika ada Ressa pun reaksinya sama. Keputusan Erfan membuat Hira berhenti itu salah, benar kata Guntur, istrinya itu pasti bosan diam di rumah.
Kepalanya pusing sekarang, penangkapan Fany gagal. Bukan Fany yang menggunakan mobilnya saat menabrak Hira. Adiknya itu melarikan diri, di rumahpun tidak ada.
Erfan duduk di balkon sambil menatap layar laptop, membiarkan istrinya di kamar. Seminggu sejak dari rumah sakit Hira mendiamkannya. Segala bujukan sudah dilakukannya. Entah apa yang harus dilakukannya sekarang.
"Sayang sarapan bareng yuk!" Ajak Erfan, Hira hanya menjawab dengan gelengan tanpa suara. Ia terpaksa meninggalkan Hira, menitipkan pada Bi Atun setelah sarapan. Kepalanya semakin pening sekarang.
"Sa, Hira masih belum bisa dibujuk. Gimana dong, gue jadi bingung."
"Biarin dia kembali kerja aja Bos." Saran Ressa, Erfan tampak berpikir. Mungkin hanya cara itu yang bisa digunakannya untuk membujuk Hira.
Setelah meminta pada Zaky, Erfan bisa membuat Hira kembali bekerja di rumah sakit. Hatinya berat, Fany belum tertangkap. Tapi didiamkan Hira juga bikin hati tambah berat.
"Hira, besok kamu sudah bisa kerja di rumah sakit lagi." Erfan memberikan surat yang di dapatnya dari Zaky siang tadi.
"Beneran?" Erfan tersenyum kemudian mengangguk, lama tidak melihat senyuman Hira seperti itu. "Terimakasih Bee." Hira memeluk Erfan.
"Iya," sahut Erfan kemudian kembali fokus pada laptopnya. Hatinya kalut sekarang, takut ada apa-apa dengan Hira. Tapi untuk menjaga senyuman itu, Erfan akan berusaha menjaganya dengan cara lain.
"Bee, kamu marah?"
"Enggak." Jawab Erfan santai, ia tidak marah hanya takut.
Erfan menghabiskan waktunya di kantor. Entah kenapa tidak bersemangat pulang ke rumah. Hira juga sudah berubah, terlalu sibuk dengan pasiennya. Sampai rumah istrinya itu kelelahan.
"Bos, gak pulang?" tanya Ressa yang sudah siap-siap untuk pulang.
"Nanti, Sa. Lo aja pulang duluan." Ressa mengangguk, meninggalkan Erfan sendirian di kantor.
Seperti ada yang berubah, hubungan mereka makin hari semakin renggang. Suatu hari mami datang ke kantor. Entah darimana sang mami tau dengan kisruh rumah tangganya.
"Sekarang nyeselkan gak dengerin Mami, makanya cari istri itu yang jelas. Jangan perempuan murahan seperti itu yang dijadikan istri." Erfan hanya diam tidak menjawab, tak ingin adu argumen untuk membela Hira. Ia hanya mendiamkan mami sampai lelah berceloteh dan pergi.
__ADS_1