Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
32


__ADS_3

"Alhamdulillah." Hira menghela napas lega, Ringgo sedang shift malam, jadi hari ia bebas dari gangguan lelaki menyebalkan itu. Selama dua hari tidak masuk Ringgo selalu datang ke apartemen.


Saatnya menjemput sesuap nasi, ucap Hira girang. Siang ini ia ingin makan ayam geprek di seberang rumah sakit seperti yang dibeli Ringgo biasanya.


"Erfan, kenapa dia masih di sini." Tanyanya dengan diri sendiri saat melihat Erfan duduk di taman. Hira memberanikan diri untuk mendekat.


"Erfan!" Hira menatap wajah lelaki yang sekarang sedang kacau seperti habis menangis. Lelaki itu terkejut melihat Hira duduk di sampingnya. "Siapa yang sakit?" Tanya Hira hati-hati.


"Bilqis, dia kecelakaan, mengalami pendaraahan di kepala, sekarang sedang operasi." Jawab Erfan dengan suara bergetar.


"Innalillah, banyak berdoa Fan. Semoga Allah memberikan kesembuhan untuknya."


"Ra, apa kemungkinan terburuk yang terjadi?" Hira tercekat mendengar pertanyaan Erfan, tidak mungkin ia mengatakannya saat seperti ini.


"Hira, jawab!" Hira tak bergeming, mulutnya masih tertutup rapat. Tidak berani mengatakan kemungkinan terburuk.


"Apa dia akan pergi?" Tanya Erfan lagi, Hira mencari kalimat yang tepat untuk menjawabnya. "Hanya Allah yang tau umur manusia Fan, jika Allah berkehendak mudah bagi Allah untuk memberikan kesembuhan." Ujarnya lirih, tak berani memandang wajah lelaki yang sekarang menatap tajam padanya. Kenapa skenario Allah seperti ini, saat ia terpuruk Erfan yang menemukannya, sekarang hal sebaliknya.


"Lo berusaha menghibur gue Ra," Hira menggeleng lemah.


"Mau ikut makan siang? Gue traktir." Hira mengalihkan pembicaraan, "butuh energi buat jagain calon istri lo. Kalau lo ikutan sakit siapa yang akan menjaganya." Erfan mengangguk.


"Bagus, kita jalan aja. Dekat kok di depan sana." Erfan menurut mengikuti gadis yang riang berjalan di sisinya, Hira sudah lebih baik sekarang, Erfan senang melihat itu hatinya sedikit lebih tenang melihat keadaan Hira.


"Hati-hati Ra!" Erfan menuntun Hira saat menyeberang jalan. "Gue gak mau saat kepala gue mau pecah begini, trauma lo malah balik lagi." Hati Hira menghangat mendengar itu, apa Erfan mengkhawatirkannya. Astaghfirullah Hira, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan.


Hira memesan dua ayam geprek dan es jeruk. Erfan menunggunya di meja. "Fan...!" Hira menepuk bahu Erfan yang melamun.


"Yaa...!"


"Lo gak biasa makan di tempat seperti ini ya? Biasa aja sih tempatnya tapi enak kok." Cicit Hira, Erfan tersenyum. "Lo itu bertanya tapi dijawab sendiri, gimana sih."


"Abisnya lo diam mulu, ntar kesambet gue yang bingung. Gue dokter kandungan, bukan ustadz yang bisa ruqyah orang kesambet." Celoteh Hira tanpa dosa, Erfan tertawa gelak. Padahal ia berkata jujur bukan sedang melawak. "Fan, lo gak kesambetkan? Kenapa ketawa sendiri." Cicitnya lagi.


"Lo yang bikin gue ketawa, ngomong gak jelas banget."

__ADS_1


"Tapi bagus deh kalau lo udah bisa ketawa." Kata Hira, sembari mengucapkan terimakasih pada seorang gadis belia datang mengantarkan ayam gepreknya.


"Lebih susah nunggu lo bisa ketawa tau gak Ra, sampai bikin semua orang panik."


"Maaf," Hira nyengir, "gue gak tau kalau otak gue ngandat bisa begitu Fan. Jadi ngerepotin lo dan banyak orang."


"Ngerepotin banget malahan." Erfan tersenyum manis, sangat manis membuat Hira kelebihan kadar gula siang ini.


"Bagus deh, kalau karena merepotkannya gue, lo jadi bisa senyum sama gue gak marah-marah terus. Ngeselin kalau denger lo marah tau gak. Males banget." Erfan tergelak dengan kejujuran Hira. "Lo gak sadar kalau Hira itu lebih menyebalkan?" Tanya Erfan di tengah tawanya.


"Sadar sih kata Ringgo gue menyebalkan, Ressa juga bilang begitu." Hira tersenyum acuh, ia suka Erfan bersikap seperti ini. Tapi sayang calon suami orang, bibirnya bergumam.


"Ra, Bilqis bisa pulih dalam dua hari gak?" Hira hampir tersedak es jeruk mendengar pertanyaan Erfan.


"Gue bukan Tuhan yang bisa memastikan kesembuhan orang Fan, Hira hanya seorang manusia biasa."


"Jelas gak mungkinkan, seajaib apapun kejadiannya tetap saja tidak bisa secepat itu."


"Hmm," Hira mendesah berat.


"Pernikahan gue dua hari lagi Ra, calon mempelainya terbaring di rumah sakit. Semua persiapan sudah matang. Undangan sudah disebar." Hira hanya mampu mendengarkan, apapun yang terucap dari mulutnya takkan bisa menenangkan pria yang duduk di depannya.


"Terdengar klise memang, tapi beginilah kehidupan. Kenyataan terkadang menghantam keras orang-orang yang lemah dan tak berdaya. Namun sebenarnya karena hantaman keras itulah mereka akan menjadi lebih kuat dari sebelumnya." Erfan tertegun mendengarkan ucapan Hira, gadis itu terus melanjutkan kalimatnya.


"Tak ada takdir buruk yang Allah berikan, hanya kita sebagai hamba yang belum bisa menerima setiap takdir dari Allah dengan baik."


"Teori selalu terdengar lebih mudah dari kenyataan. Tapi kita punya Allah sebagai tempat kembali, untuk mengadukan segala keresahan yang mengguncang jiwa." Hira menundukkan kepalanya, seperti sedang menasehati dirinya sendiri.


"Udah pantes belum kalau gue jadi psikolog." Hira terkekeh, "tadi cuma latihan. Mana mungkin gue nasehatin lo ya 'kan. Secara yang gak waras itu gue." Lanjut Hira, tangannya mulai menyuap ayam geprek dengan lincah.


"Lo bisa sebijak itu." Ujar Erfan ikut menyuap nasinya dengan tangan walau belum terbiasa.


"Kan gue bilang cuma latihan speak up. Lo aja nanggepinnya serius," Hira nyengir, "lo 'kan tau gue aja sakit mental." Ia tersenyum getir, "tapi lo punya banyak orang yang peduli sama lo Fan. Apapun yang terjadi jangan pernah merasa sendiri." Erfan mengangguk pelan.


"Enak. Gue baru tau ada makanan seenak ini." Puji Erfan sambil mendesah karena kepedesan.

__ADS_1


"Seperti yang gue bilang. Cocok dikantong buat anak kos." Lanjut Hira, "tapi gak cocok buat lo, orang selevel lo gak pantes makan di sini."


"Kenapa?" Erfan mengangkat sebelah alisnya menunggu jawaban.


"Hanya untuk kaum pribumi." Jawab Hira santai, Erfan mengangkat kedua belah bahunya tanda tak peduli.


"Fan...!"


"Yaa..!"


"Apapun yang terjadi dengan calon istri lo nanti, tetaplah semangat."


"Emang gue gak boleh sedih, gue juga manusia biasa." Sahut Erfan heran.


"Sedih boleh, tapi lo harus meluapkan kesedihan pada orang yang tepat, yang benar-benar peduli pada lo. Tidak perlu semua orang tau apa yang sedang lo rasakan. Tetaplah terlihat kuat di depan banyak orang."


Hira menjeda kalimatnya melanjutkan menyuap nasi ke mulut. Setelah selesai mengunyah ia kembali bersuara.


"Terkadang banyak orang yang ingin tahu tentang kita, hanya karena kepo, bukan benar-benar peduli."


"Apa pertemuan kita merupakan sebuah takdir?" Hira tersenyum getir dengan pertanyaan Erfan. Memang takdir, tapi ia tidak tau apa yang sedang Allah rencanakan.


"Tidak ada sehelai daun yang jatuh melainkan atas izin Allah." Jawab Hira sembari menyelesaikan suapan terakhir lalu melirik arloji di tangannya, masih dua puluh menit lagi. Hira belum sholat dzuhur.


Erfan tak berkomentar apapun, ia takjub pada Hira yang begitu dewasa saat seperti ini. Lagi-lagi ia melihat sisi lain dari Hira.


"Lo mau nambah?" Ujar Hira basa-basi, kalimat halus untuk mengakhiri sesi makan siang


"Sudah kenyang." Jawab Erfan singkat lalu mencuci tangan di wastafel, Hira beranjak ke kasir. Kemudian berjalan ke arah Erfan yang sudah menunggunya. "Makasih Ra, nanti gue ganti. Dompet gue ketinggalan di mobil."


"Gak perlu diganti Fan." Mereka kembali ke rumah sakit, menyeberangi jalan raya yang sedang padat.


"Sudah berapa lama lo kerja di rumah sakit ini?"


"Baru dua tahun." Erfan manggut-manggut tanda mengerti. Mereka berpisah setelah sampai di depan pintu utama rumah sakit.

__ADS_1


"Thanks Ra."


"Your welcome, fighting." Hira menggenggam tangan untuk memberikan semangat, kemudian meninggalkan Erfan. Ia berjalan menuju mushola.


__ADS_2