
Sudah satu minggu Hira kembali bekerja, banyak petuah yang diberikan Erfan sebelum mengizinkannya kembali ke rumah sakit. Ia kesepian di rumah, Erfan masih disibukkan dengan perusahaan barunya. Kadang baru pulang jam sepuluh malam, sampai rumah juga masih sibuk dengan pekerjaan.
"Pagi Beb!" Hira mencebik, mendengar Ringgo menyapanya begitu. Temannya itu memang tidak waras, ditolak Hira membuat sarafnya tambah banyak yang putus.
"Bab beb, bab beb. Emang gue babu!" Sarkas Hira, Ringgo terkekeh geli.
"Idih, tambah seram nih kunti setelah dibobol genderuwo." Ringgo tambah menggoda.
"Ringgoooooo!!" Pekik Hira, tidak terlalu nyaring takut mengganggu para pasien yang sedang istirahat. Ia mempercepat langkah kaki meninggalkan Ronggo yang puas cekikikan.
Setiap kali ia melihat ibu hamil. Hatinya menggebu-gebu ingin juga mengandung bayi yang lucu dan mungil seperti babi Key.
"Alhamdulillah janin Ibu sehat, vitamin dan susu hamilnya rutin diminum ya Bu." Hira memberikan amplop berisi foto USG dan selembar kertas berisi resep yang harus bumil itu tebus.
"Terimakasih, Dok." Kata suaminya, Hira mengangguk dan tersenyum manis. Setelah pasien keluar Hira mengelus-elus perutnya, berharap ada makhluk hidup yang hidup di dalam.
Jam praktek Hira selesai setelah membantu proses persalinan seorang ibu yang cukup beresiko. Beliau sudah melewati umur produktif. Alhamdulillah proses persalinan berjalan lancar.
Hira mencuci tangan di wastafel lalu merapikan pashminanya. Erfan sudah menunggunya di basemen, suaminya itu tidak mengizinkan mengendarai mobil sendiri lagi. Kalau bisa Erfan akan antar dan jemput sampai di depan pintu ruangannya.
"Lelah Sayang?" Erfan membukakan pintu mobil. Hira mengangguk, mengambil tangan Erfan untuk bersalaman setelah suaminya duduk dibalik kemudi. Erfan mencium kening Hira, rutinitas yang selalu mereka lakukan.
"Mau makan sesuatu?"
"Pulang aja Bee," ucap Hira sendu.
"Sweety, ada apa?" Erfan tidak melihat wajah ceria Hira seperti seminggu ini setelah pulang kerja. Istrinya itu akan sangat bersemangat kalau dijemput. Hira tak bergeming, Erfan mempercepat laju mobilnya.
Sampai rumah Hira langsung masuk ke kamar mandi, Erfan tidak jadi kembali ke kantor. Ia minta asisten untuk mengantarkan laptop dan perlengkapan kerjanya ke rumah. Itu lebih baik daripada meninggalkan Hira yang sedang dalam mode diam.
Lama Hira tidak keluar, akhirnya Erfan mandi di kamar sebelah. Masalah mandi, ia selalu mengalah. Istrinya suka berlama-lama di dalam kamar mandi.
"Sweety!" Erfan mengambil sisir di tangan Hira membantu menyisirkan rambut hitam yang wanginya sangat menggoda. Hira hanya menoleh, tidak menyahut.
"Cerita sama Mas, ada apa?"
Hira masih tak bergeming.
__ADS_1
"Sini, Mas gendong!" Erfan membawa tubuh mungil Hira dalam gendongan, bayi kangurunya sedang sedih. Berat sih, tapi ia juga suka posisi seperti ini. "Mau cerita?" Bujuk Erfan, membawa Hira ke balkon.
"Aku juga pengen hamil." Beo Hira, oh jadi ini yang membuat Hira diam. Erfan masih belum menanggapi, ia membiarkan Hira merasa nyaman dan tenang dulu.
Setelah lama saling diam baru Erfan bersuara. "Sayang, sabar ya. Kita baru menikah satu bulan, nanti kita coba lagi ya." Hira membenamkan kepalanya di ceruk leher Erfan.
"Mau makan di kamar apa dibawah Sayang?"
"Dibawah."
"Ayo!" Erfan membawa Hira menuju lemari untuk mengambil hijab kaos instan lalu mengenakannya. Ia masih dalam gendongan suaminya sampai di dapur. Bi Atun senyam senyum melihat kelakuan majikannya itu.
"Non Hira sakit Den? Mau saya buatkan bubur."
"Enggak Bi, cuma lagi manja." Erfan tersenyum, Bi Atun geleng-geleng kepala. Tidak hanya sekali dua kali ia melihat Tuannya menggendong sang istri seperti itu.
"Ya sudah saya tinggal Den."
"Iya Bi, makasih makan malamnya." Erfan sudah berulang kali bilang pada Bi Atun agar tidak memanggil dengan sebutan Aden dan Nona. Tapi tetap saja, katanya gak nyaman panggil nama walau mereka lebih muda.
"Sama-sama Den." Bi Atun, berlalu. Erfan mendudukkan Hira di kursi.
"Sayang! Bikin baby juga perlu energi." Hira yang dokter kandungan kenapa jadi Erfan yang sok tau, haha.
"Bee!" Hira tidak suka digoda begitu.
"Makan dulu!" Titah Erfan dingin, ia sudah lelah membujuk Hira untuk makan. Kepalanya juga pusing, kerjaan belum kelar. Pulang kerumah mendapati istri manja seperti ini.
Hira mengambil sendok menyuap nasi perlahan. Wajah Erfan sudah tidak bersahabat, ia terpaksa menurut dengan muka masam yang ditekuk.
"Hm, kok ngambek?" Tegur Erfan dengan nada sangat lembut. "Aku gak marah kok Sayang." Katanya menyuapi Hira perlahan. Ia sudah tidak mood makan.
"Kamu gak makan Bee?"
"Nanti aja, kamu selesaikan dulu makannya." Hira mengambil satu sendok lagi lalu menyuapi Erfan. Jadilah mereka suap-suapan, susah memang pengantin baru.
Sembari menunggu azan isya Erfan melanjutkan kerjaannya yang tadi tertunda. Banyak hal yang harus ia selesaikan. Kantor EXTNET Indonesia belum resmi dibuka. Erfan melakukan virtual meeting dengan Tian yang masih betah di kantor sampai malam.
__ADS_1
Matanya sambil mengawasi Hira yang gelisah bolak-balik dari ranjang ke meja rias lalu balik lagi ke ranjang.
"Sweety, sini." Panggilnya setelah mengakhiri meeting, tidak tahan melihat tingkah istrinya yang sudah seperti cacing kepanasan. Hira mendekat, duduk dipangkuan suaminya.
"Mau jalan malam ini biar gak jenuh?" Tawar Erfan, kepala Hira menggeleng. "Terus Sweety mau apa?"
"Mau baby Key!" Erfan mengernyit, mau baby Key atau mau ajak bikin baby. Otak mesum Erfan langsung menyambut antusias.
"Hm, mau ketemu baby Key apa mau bikin sendiri." Goda Erfan dengan senyuman yang ditahan.
"Beeee...!!" Kesal Hira, suaminya itu mesum sekali.
"Oke-oke, setelah isya kita ke sana." Erfan mengalah, keinginannya terpatahkan tanpa perlawanan.
Erfan menuruti keinginan kesayangannya bertemu baby Key. Sejak ia sibuk di kantor sudah jarang mengunjungi keponakannya itu.
"Bee, mampir dulu beli mainan ya?"
"Key bisa main apa Sayang?" Pertanyaan Erfan membuat Hira cemberut. Salah lagi deh, Erfankan cuma menegaskan bayi umur tiga bulan bisa main apa. Kenapa istrinya sangat sensitif sih. Melihat Hira yang tak bergeming Erfan memarkirkan mobilnya di depan toko dunia kado.
Ia bingung mau beli mainan apa, terserah istrinya sajalah. Perempuan memang selalu ribet. Mau bertamu saja pakai drama ngambek dulu. Untung sayang.
"Sweety, ayo. Mau beli mainan apa?" Erfan membuka pintu mobil dan mengulurkan tangannya. Hira tersenyum cerah kembali. Hm, semudah itu membuat Hira bahagia. Menuruti semua keinginannya.
Hira membeli beberapa mainan gantung yang berwarna cerah untuk baby Key. Juga boneka-boneka yang imut untuk Nasya.
"Sudah itu aja, mau yang lain lagi?" tanya Erfan mereka sudah di depan kasir.
"Ini aja Bee, bingung mau milih yang mana semuanya lucu."
"Beli aja semuanya. Suamimu ini kaya kok, Sayang." Erfan menggoda, Hira mencebikkan bibir kesal. "Belum sekaya Ghani!" Cetusnya.
"Jangan bandingin sama orang lain dong." Erfan tersenyum geli membawa barang belanjaan Hira ke mobil setelah selesai membayarnya.
"Enggak kok Bee, suamiku yang tertampan dan terkaya di dunia," bual Hira.
"Pasti ada maunya nih!" Erfan menepuk puncak kepala Hira dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"Gak ada kok Bee, cuma mau kamu."
"Jadinya aku lagi digombalin istri nih." Kadang Erfan masih bingung dengan tingkah Hira yang berubah-ubah begitu cepat. Terlalu banyak yang belum Erfan pahami dari istrinya ini.