Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
113


__ADS_3

Baru Erfan membaringkan Hira di tempat tidur, perhatiannya teralihkan pada ponsel Hira yang mendapatkan notifikasi pesan berkali-kali.


Ia mengambil ponsel Hira lalu membuka pesan-pesannya. Erfan menautkan alisnya melihat pesan yang masuk dari orang tidak dikenal. Nomor itu tidak bisa dihubungi lagi.


Jadi mereka sengaja ingin membuat Hira sakit hati. Erfan tersenyum miring, mencabut kabel televisi. Lalu meninggalkan kamar menuju dapur.


"Bi, saya mau keluar dulu, kalau Hira nanyain bilang saya ke kantor."


"Iya Den." Sahut Bi Atun sembari mengangguk.


"Satu lagi Bi, jangan ada yang buka televisi di rumah. Pesanin juga sama istri saya." Ucap Erfan kemudian berlalu dari dapur.


Bi Atun menatap bingung majikannya. Sejak kapan mereka dilarang menonton televisi. Apa karena ketahuan sering nonton sinetron ikan terbang. Eh, kenapa ikan bisa terbang ya. Sedang burung tidak bisa berenang. Au ah, Bi Atun jadi pusing sendiri.


Erfan memacu mobil menuju gedung EXTNET. Sesampainya di ruangan ia memanggil Galih untuk menemuinya. Pemuda yang lima tahun lebih muda dari Erfan itu segera menemui bosnya.


"Ada info yang didapat dari orang itu?" Tanya Erfan dengan tatapan tidak beralih dari layar ponsel istrinya.


"Gadis itu memilih tutup mulut Bos, tidak mau mengatakan apapun." Ucap Galih dengan ragu, wajah sang bos sedang tidak bersahabat.


"Dimana dia sekarang?"


"Masih saya tahan di Yayasan." Jawab Galih hati-hati, salah bicara nyawanya bisa terancam.


"Bawa dia ke sini." Titah Erfan, Galih mengangguk lalu beranjak dari hadapan sang bos.


Erfan memutar video yang masuk di ponsel Hira. Video itu diambil dari rekaman yang diberitakan salah satu stasiun televisi. Tidak terlalu jelas, intinya pemberitaan itu berisi tentang dr. Hira yang tidak mengakui orang tua kandungnya setelah jadi istri pengusaha kaya. Padahal orang tuanya susah payah membiayai agar Hira menjadi seorang dokter. Berita itu diperkuat dengan klarifikasi ibu tiri Hira yang membenarkan semua itu.


Erfan menggeleng pelan, terlalu pintar mereka memutar balikkan fakta. Ia tidak akan melepaskan siapapun yang berada dibalik fitnah ini. Kalau istrinya melihat berita ini pasti akan sakit hati.


Lelaki itu mengusap wajah gusar, Hira baru sehat sudah disuguhkan berita yang seperti ini. Sungguh sebuah rencana licik membuat Erfan murka. Ia tau pelakunya, tapi takut menduga-duga tanpa bukti nyata.


Sementara di kamarnya Hira berdecak kesal saat sang suami tidak ada di sampingnya. Ia tidak suka ditinggalkan Erfan tanpa pamit seperti ini. Bukan apa, tubuhnya bisa merespon gusar.

__ADS_1


Hira mencari ponselnya di tas, tapi tidak ditemukan. Tidak mungkin tertinggal di rumah singgah kan? Selama di sana ia tidak ada bermain ponsel.


Malas beranjak dari kasur, Hira memanggil Bi Atun dari penyalur pesan suara itu. Tidak lama perempuan paruh baya itu muncul di balik pintu kamar.


"Bi, Mas Erfan ada bilang pergi kemana?"


"Katanya balik ke kantor Non, Aden juga pesan Non Hira jangan nonton tv." Ujar Bi Atun, Hira mengernyit heran, "benar gitu pesannya Bi. Apa orang kaya itu takut bayar listrik." Ucap Hira sinis, Bi Atun tersenyum geli.


"Bibi gak tau Non, pesannya gitu."


"Hm, oh ya Bi tolong coba telponin hp aku dari tadi gak ketemu."


"Bentar Non, Bibi ambil hp dulu." Hira mengangguk, Bi Atun kembali memberikan ponsel jadulnya pada sang majikan.


Hira memasukkan nomornya di ponsel itu, angka-angka ditombolnya sebagian sudah lekang dimakan usia.


Tersambung, suara suaminya yang menjawab salam Hira di sana.


"Kenapa Sayang, hpmu kebawa Mas." Ujar Erfan dari balik telpon. Hira merasa aneh, kebawa? Jelas-jelas ponsel itu di tasnya. Bagaimana bisa kebawa kalau tidak sengaja di bawa.


Suamimya yang sedang berada di kantor juga heran.


"Kenapa?" Tanya Tian penasaran melihat tampang Erfan seperti syok.


"Hira minta belikan hp baru karena gak mau hpnya bekas kupegang."


Tian tertawa gelak mendengar penuturan Erfan. "Perempuan hamil memang semenyebalkan itu ya, minta belikan hp kayak minta belikan permen. Syukur suaminya kaya. Kalau cuma driver gojek, apa kata dunia."


Erfan hanya menggelengkan kepala. Tandanya dia juga tidak mengerti dengan pemikiran perempuan itu sepenuhnya.


"Kalau alasan lain sih masih masuk akal. Gimana kalau dia minta ganti suami karena merasa aku sudah memegangnya." Erfan mengetuk kepalanya yang mulai error.


"Haha, aku siap menggantikannya." Ucap Tian antusias yang berujung pelototan tajam dari Erfan.

__ADS_1


"Kita bunuh-bunuhan sekarang yok," ajak Erfan datar.


"Hayok, demi Hira aku siap mati di tanganmu." Pancing Tian dengan gelak tawa, dia tidak pernah merasa terintimidasi dengan tatapan elang Erfan itu.


"Dasar pebinor!" Desis Erfan.


"Baru niat itu belum resmi pebinor." Tian berdecak tak terima. Tampangnya masih menjual kalau cuma untuk mendapatkan gadis segelan.


Erfan menghubungi Galih agar sekalian membelikan handphone keluaran terbaru untuk sang istri. Dia tidak perlu repot-repot berdebat kalau cuma masalah ponsel baru. Kecuali Hira minta suami baru, baru Erfan ajak gulat. Tak peduli kalau istrinya sedang mengandung.


"Hari ini gue harus nutupin dua berita besar dari media." Curhat Erfan pada sahabatnya, "secara tidak langsung mereka berniat memeras gue. Gak sedikit duit yang harus gue keluarin untuk membungkam media."


"Kenapa gak dibiarin aja heboh, setelah itu baru bikin berita heboh baru yang bisa menutupi hoax itu."


"Kalau gak mikirin psikis Hira juga gue gak peduli mereka mau ngomongin apa. Hira baru stabil kesehatannya, gue menjaga itu."


"Beli aja dah saham mereka. Biar kita yang ngendaliin stasiun televisi."


"Lo pikir mereka mau menjual ladang uang dengan semudah itu. Mikir. Kalo lo disuruh jual saham EXTNET London mau gak?"


"Manusia banyak, pikirannya gak sama. Ada yang mau tenar, bikin sensasi dulu. Ada yang mau kaya, jual diri dulu. Ada yang mau sukses, jatuhin orang dulu. Terlalu sempit."


"Apa hubungannya, lo bikin gue tambah mumet." Erfan berdecak, pertanyaannya apa, jawabannya apa. Tian terkekeh kecil. "Pikirin sendiri aja sampai nyambung, kalau gak nyambung juga sambung pakai tali."


"Gue cerita sama orang yang salah!" Sesal Erfan, menyadari Tian yang tidak lebih waras darinya.


"Lo sebucin itu sama Hira? Kalo Galih bilang, bucin lo berkelas. Hira minta Yayasan lo bikinin, Hira minta open donasi, lo turutin. Harga 5 hektar lahan di Lembang harganya gak main-main woy. Pasti banyak uang pribadi yang lo alirin ke sana kan?"


"Apa artinya uang sih Yan. Dia hampir meregang nyawa berjuang demi mempertahankan janin yang dikandungnya. Apa ada alasan untuk gue gak menghargainya. Itu dia belum melahirkan. Begitu besar pengorbanannya untuk ngelahirin anak gue. Gue mah cuma nyumbang keenakan pas bikin, giliran sakitnya semua dia yang nanggung." Ucap Erfan, kalimat terakhirnya sedikit frontal.


Tian ingin tertawa, tapi semua yang Erfan katakan itu benar. Laki-laki memang selalu ingin enaknya saja, giliran sakit perempuan yang menanggungnya. Dia hanya bisa tersenyum bangga pada sahabatnya itu.


"Kalau gak ketemu Hira mungkin EXTNET sampai sekarang gak akan ada cabangnya di sini." Lanjut Erfan, semua keberhasilan yang ada pada dirinya itu berkat kekuatan sang istri.

__ADS_1


"Gue mau ngomong apalagi, selain membenarkan semua ucapan lo. Kalo Hira mau minta gendong lo keliling monas pun gue dukung." Ucap Tian diikuti tawa renyah.


"Sinting!" Desis Erfan yang juga ikut tertawa.


__ADS_2