Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
61


__ADS_3

Hira merenggangkan otot tangan, hari ini cukup melelahkan. Tiga pasien operasi caesar sudah teratasi. Matanya mengantuk, setelah tidak ada pasien lagi. Ia membenamkan wajah di meja.


"Sweety!"


Dalam mimpi Hira merasakan suaminya datang memanggil dan membelai kepalanya. Ia menikmati, ternyata hidupnya dipenuhi dengan Erfan dan Erfan. Hira sebucin itu. Sampai dalam mimpi pun suaminya itu tidak hilang-hilang.


"Rara!"


"Sayang!"


"Hira!"


Semua panggilan Erfan ucapkan untuknya, semanis itu suaminya sampai hadir kedalam mimpi. Kecupan lembut di pipi membuat Hira tersadar.


Bukan mimpi! Erfan ada di sampingnya menyambut dengan senyuman lebar.


"Bee!"


"Lelah banget ya, sampai keenakan tidur. Dipanggil gak bangun-bangun. Mimpi apa, hm."


"Aku pikir cuma mimpi kamu datang, Bee."


"Nyata kok Sayang, ayo kita pulang. Kamu tidur sampai jam prektekmu selesai, Sweety." Hira hanya nyengir kuda, menyambut uluran tangan suaminya.


"Kamu ada urusan sama Guntur, Bee. Jadi nyusulin aku sampai ke sini."


"Bukan Guntur, tapi Zaky, Sayang. Mau jalan kemana?" Erfan menggandeng tangan Hira menuju basemen.


"Naik balon udara, Bee." Sejak tau suaminya takut ketinggian, Hira jadi suka menggodanya.


"Boleh, cuma naikkan? Gak diterbangin." Erfan menyeringai licik.


"Mana ada balon udara gak diterbangin Bee." Rengut Hira, Erfan membukakan pintu mobil sambil tersenyum geli.


Cup


Satu kecupan mendarat di pipi Hira.


"Bee, ini tempat terbuka." Kesal Hira karena dicium di depan mobil. Si empunya memasang wajah tanpa dosa.


"Halal Sayang, cium istri sendiri dapat pahala."

__ADS_1


Gak ada habisnya berdebat dengan Erfan, Hira lebih memilih diam sepanjang perjalanan pulang. Jangan salah, Erfan bukan ikutan diam tapi malah menjadi-jadi menggoda istrinya.


***


"Sweety malam ini aku tinggal bentar gak papa?" Erfan mendekati istrinya yang sedang menonton televisi sambil nyemil. Ia duduk di pinggiran sofa.


"Lama gak?" Hira menghentikan kegiatan mengunyahnya, menatap lekat netra sang suami.


"Kemungkinan agak lama Sayang, berani di rumah sendiri? Kalau gak, aku antar ke rumah Abi Nazar."


"Berani kok." Ucap Hira setelah berpikir lama, ia tidak boleh takut harus gagah berani. Mami Reny gak mungkin datang malam-malam beginikan. Lagian Hira sudah kebal dengan makian itu, walaupun ia tidak berani melawan.


Erfan tersenyum, sedikit demi sedikit Hira terbuka lagi. Gadis yang cepat berubah ekspresi itu kadang menimbulkan banyak tanda tanya di kepala Erfan. Sikapnya susah ditebak, kadang penakut, kadang jutek, kadang manja, bisa saja istrinya itu menjadi orang yang begitu absurd kalau diajak bicara.


Kalau tidak berhubungan dengan Fany mana mungkin Erfan meninggalkan Hira sendirian di rumah. Ia baru dapat kabar kalau tempat persembunyian adiknya itu sudah ditemukan. Polisi sedang menuju ke lokasi. Tak ingin kehilangan kesempatan Erfan langsung meluncur. Ia harus bertemu dengan adiknya.


Di tempat lain ada dua orang yang sedang mengawasi Erfan meninggalkan rumahnya. Kesempatan itu digunakan untuk menyusup masuk ke dalam rumah.


"Cepat bereskan perempuan itu Azmi, bermainlah dengannya sepuasmu." Fany menyeringai, setelah ini kakaknya akan menatap jijik perempuan itu.


Selagi Azmi menuju kamar Erfan, Fany menembak beberapa cctv yang terdapat dalam rumah. Masalah ART dan security mudah bagi Fany mengurusnya. Sehingga mereka bisa leluasa masuk.


"Seperti rumah pejabat saja banyak cctv." Gerutu Fany, membuang-buang pelurunya saja, demi menghilangkan barang bukti terpaksa tetap ia lakukan.


"Kamu siapa?" tanya Hira dengan ketakutan. Ia bangun dari tempat tidur, saat pria itu semakin mendekat. Kejadian saat di toilet beberapa bulan yang lalu berputar dalam benaknya. Ia melemparkan apapun yang ada di dekatnya dengan gemetar.


"Pergi!!" Teriaknya histeris, pria bernama Azmi itu semakin mendekat dengan menyeringai jahat. Hira tidak suka tatapan pria itu, ia melemparkan gelas yang ada di atas nakas tepat ke kepala Azmi.


Pria itu menghindari gelas yang melayang ke arahnya. Semakin mendekati Hira dan membanting tubuh mungil itu ke ranjang.


"Diam! Kamu tidak akan terluka kalau diam dan menurut." Hira tak peduli, ia menendang tepat di aset pria yang ingin menarik piyamanya.


"Bangs*at!" Teriaknya kesakitan, Hira gunakan kesempatan itu untuk keluar dari kamar. Saat menuruni tangga ia sudah di todong pistol oleh seorang perempuan. Hira menengok ke belakang, pria itu mengejarnya.


"Allah, apa yang harus kulakukan sekarang." Lirih Hira, ia tak bisa berbuat apa-apa.


"Kembali ke kamar atau kubunuh!" Teriak Fany semakin mendekat, kesempatan itu Azmi gunakan menarik Hira kembali ke kamar. Dengan tubuh gemetar, Hira berusaha memberontak.


"Sudah kubilang diam!" Azmi menghempaskan tubuh Hira lalu menindihnya sampai tak bisa bergerak. Hira menutup matanya dan berteriak-teriak histeris dengan menendangkan kakinya sebisa mungkin. Walau tidak merubah apapun. Azmi menatapnya dengan ganas. Sedang Fany menjaga di depan pintu dengan tertawa jahat.


Apa yang mereka lakukan, perempuan itu ingin melihatku disiksa.

__ADS_1


Air mata Hira terjatuh dalam ketakutan. Tenaganya sudah habis untuk memberontak. Pria brengsek ini melahap bibirnya dengan kasar. Tangan Hira dicengkram sampai terasa panas.


"Kalau diam beginikan aku tak perlu susah payah menghabiskan tenaga. Tugasmu hanya menikmati," Azmi tersenyum licik.


"Cepat lakukan Azmi!" Titah Fany


"Sabar, aku ingin menikmatinya dulu. Walau bekasan Erfan, tak apa."


Hira benci mereka, mulutnya sudah dibekap tak bisa berteriak lagi. Hanya air mata yang terus menetes. Ia jijik dengan sentuhan pria yang tak dikenalnya ini. Bagaimana nanti ia bisa menghadapi suaminya.


Buukkk


Hira tak berani membuka mata saat ada suara benda terjatuh. Apa lagi sekarang, ia takut, sangat takut. Siapa yang bisa menolongnya sekarang.


Tadi Erfan segera kembali ke rumah setelah mendapat kabar Fany tidak ada di tempat. Beberapa polisi sedang mencari mereka yang kabur ke arah komplek perumahannya. Hatinya tak karuan, langsung putar arah takut istrinya kenapa-kenapa.


Ia mendapati dua security yang menjaga gerbangnya tertidur. Entah tertidur atau apa, ia tak mengerti. Erfan sudah mulai was-was, segera ia menghubungi pihak kepolisian. Suara tembakan di dalam rumah semakin membuatnya kalut.


Sebelum masuk ia memeriksa cctv untuk memastikan berapa banyak orang yang menyerang rumahnya. Tapi tidak bisa, karena cctv-nya dirusak.


"Ya Allah, Hira!" Erfan nekat menerobos masuk ke rumah, berlari menaiki tangga. Menyaksikan istrinya ditindih oleh Azmi sepupunya sendiri. Ia membabi buta menghajar adiknya yang yang berdiri di depan pintu sampai terjatuh. Terlalu licik adiknya itu sampai tega menonton kakak iparnya dilecehkan.


"B*jingan Azmi!" Erfan menarik tubuh Azmi dan menghajarnya di perut. Azmi meringis menahan sakitnya hantaman Erfan. Ia balas menghajar Erfan di perut. Terjadi baku hantam antar keduanya. Wajah Erfan juga menjadi sasaran empuk Azmi, mereka imbang saling memberikan perlawanan.


Hira bangkit dari ranjang menutup tubuhnya dengan selimut. Ia meringis melihat suaminya kesakitan.


"Berhenti!"


Fany bangun menodongkan pistolnya ke kepala Erfan. Sesaat Erfan membeku, Hira tercekat dengan kejadian dihadapannya. Apa yang bisa ia lakukan.


"Aku sudah mengingatkanmu Kak, tapi kamu selalu mengindahkan peringatanku. Aku mencintaimu tapi kamu tak pernah peduli denganku. Kamu lebih peduli dengan Nana, lalu Bilqis dan sekarang dia." Fany menatap tajam ke arah Hira yang sedang berdiri di samping ranjang, ketakutan. "Aku ingin Kakak jijik melihatnya dan meninggalkannya." Ucap Fany dengan menggebu-gebu dan senyuman yang bergetar.


Hira tidak mengerti maksud perempuan yang memanggil suaminya dengan sebutan kakak itu. Ada apa sebenarnya.


"Kamu terlalu bodoh mencintai kakakmu sendiri Fany!" Erfan berucap dingin seolah tidak tau rahasia diantara mereka.


"Kamu yang bodoh Kakak, tak pernah menyadari kalau kita dari orang tua yang berbeda."


Erfan hanya tersenyum miring. "Setidaknya aku tidak bodoh memilihmu menjadi orang yang kucintai." Ucapan Erfan membuat Fany terbakar amarah.


"Lakukan sekarang Azmi, biar kakakku tersayang ini menyaksikan langsung!" Fany tersenyum sambil menahan badannya yang terasa remuk karena dihajar kakaknya tadi.

__ADS_1


Erfan tak mengerti pikiran gila adiknya yang tak kenal takut. Ia murka menyaksikan Azmi mengambil kesempatan kembali, mendorong tubuh istrinya ke ranjang.


__ADS_2