Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
36


__ADS_3

"Pagi Sayang." Ken memeluk istrinya dari belakang, "Abang, aku sedang nyiapin sarapan nih jangan diganggu dulu."


"Kangen, tadi malam kita gak tidur bareng." Bisik Ken lirih di telinga Elvina.


"Lebay, baru juga semalam." Elvina berdecak


"Ekhem, dapur juga jadi tempat bercinta ya sekarang." Erfan muncul di ikuti Ummi dan Abi, Ken nyengir pada tiga orang yang berdiri di dekat meja makan.


"Sirik aja lo." Ken meleletkan lidahnya. "Sini Abang bantu Sayang."


"Pagi Fan, are you okay?" Sapa Elvina sembari menyusun makanan di meja dibantu asisten rumah tangga.


"Yah begitulah, sedikit lebih baik." Sahut Erfan, Elvina berjalan mendekati Erfan kemudian menarikkan kursi "duduk." Titahnya, Erfan menurut. Adnan dan Attysa bergabung di meja makan.


"Ada yang cemberut nih karena cemburu." Ledek Attisya, Ken menyilangkan kedua tangannya di depan dada bersandar di dinding.


"Hmm, udah dikasih anak juga masih cemburu. Aku cuma narikin kursi buat Erfan lho. Itu gak akan bikin aku hamil." Cerocos Elvina, membuat meja makan riuh dengan tawa. Kecuali Ken masih cemberut.


"Bujuk dulu Na, ntar bayimu nambah." Adnan geleng-geleng kepala. Elvina tidak menghiraukan, ia sibuk menyiapkan sarapan Ummi dan Abi. "Mau aku ambilin juga Fan?" Tanyanya.


"Pasti dong Sayang." Jawab Erfan dengan tersenyum, "makasih Cinta." Ucapnya setelah Elvina memberikan sepiring nasi goreng.


"Yang satu cemburu buta, satunya lagi suka sekali menggoda." Ummi geleng-geleng kepala menyembulkan senyuman lebarnya.


"Kalau bisa istrinya itu dikurung di kamar Mi, buat layanin dia aja," Abi tertawa geli meledek Ken.


"Katanya cemburu tanda cinta Mi. Katanya sih begitu." Sambung Adnan.


"Sayang ayo sarapan." Elvina menarik tangan Ken mengajaknya ke meja makan. Tapi suaminya itu diam tak bergerak. "Sayang ayolah. Masa gitu doang cemburu." Bujuk Elvina.


Ken masih diam, ia ingin melihat seberapa sabar Elvina membujuknya. Dalam hatinya ingin sekali mentertawakan tingkah lucu sang istri.


"Abang, ayo. Aku suapin." Ken menggeleng, masih dengan tampang datar.


"Abang, aku capek bujuknya. Serah, mau sarapan atau enggak." Ken mengangkat satu alisnya, cuma segitu usaha istrinya membujuk.

__ADS_1


Cup, Ken mencium pipi sang istri kemudian berjalan ke meja makan.


"Nyebelin...!!" Elvina menghentak-hentakkan kaki, lalu duduk di samping suaminya. Ken tersenyum smirk. "Abang nyebelin," pekiknya.


"Abang siapa? Abang siomay, abang sayur, atau abang gojek." Goda Ken, sambil menyuap nasi gorengnya.


"Nyebelin...!! Aku gak mau makan."


"Terserah, yang lapar bukan aku kok," sahut Ken datar.


"Ken, udah ah godain istrinya," Ujar Ummi.


"Nanggung Mi, masih lucu liat wajahnya yang menggemaskan itu kalau lagi merajuk." Jawab Ken santai.


"Astaghfirullah, terlalu banyak makhluk aneh di rumah ini." Gumam Abi, semua mata tertuju pada Abi.


"Emang kami gaib Bi?" Attisya terkekeh.


"Ayo makan Sayang, udah berhentikan ngambeknya." Ken menyuapi istrinya dengan tersenyum lebar. "Makan yang banyak, biar ASI-nya lancar." Dengan telaten Ken menyuapi Elvina, padahal ia sendiri belum selesai makan.


"Kalau lagi akur, manisnya melebihi gula gak ingat tempat." Ken tidak menghiraukan ucapan Ummi, fokus memberikan asupan untuk istrinya.


"Lo ke kantor hari ini Fan?" Tanya Ken, semua orang sudah selesai makan, tinggal ia yang masih mengunyah nasi goreng.


"Iya, daripada bosan di rumah, tambah kepikiran. Mending dibawa kerja, biar waktu cepat berlalu."


"Hotel, catering dan lainnya sudah di cancel?" Tanya Abi.


"Sudah aman semua Bi, kalau hotel Erfan dapat gratisan jadi gak perlu dipikirin." Erfan tersenyum smirk.


"Kalau penyelidikan gimana?" Ken masih sibuk dengan sarapannya, sesekali memperhatikan wajah Erfan yang masih sendu tapi tidak menyedihkan lagi. Seperti ada kebahagiaan yang Erfan sembunyikan, Ken tidak mengerti.


"Diurus Papi, paling nanti gue mau ke rumah sakit. Mencari petunjuk di sana, kalau ada."


"Perlu gue temenin," Adnan menawarkan diri.

__ADS_1


"Sendiri aja deh, gue bisa hubungi Zaky atau Guntur nanti biar cepat kelar." Dan kalau bisa ketemu Hira, sambung Erfan dalam hati.


"Gak ada niat pulang ke rumah?" Tanya Ummi hati-hati, Erfan menggeleng lemah. "Pintu rumah ini terbuka lebar untukmu Fan, kapan pun ingin datang." Sambung Ummi.


"Asal jangan minta sertifikatnya." Celetuk Elvina sambil nyengir.


"Kalau minta hatimu gimana?" Goda Erfan cengengesan. "Boleh?"


"Najis ih." Elvina memasang wajah jijik, Erfan tertawa gelak.


"Jadi masih gagal move on nih?" Tanya Attisya, sambil melirik wajah suaminya.


"Menurut lo?" Erfan menunggu jawaban dari orang-orang yang menatapnya.


"Emang susah sih kalau mau move on dari aku." Elvina mengibas-ngibaskan ujung jilbabnya.


"Astaghfirullah." Ken mengusap dadanya, "ingat, sudah punya anak Sayang. Pedenya selangit."


"Mulai lagi, sekarang siapa yang mau jadi wasit?" Tanya Abi sinis.


"Haha, udah ah kita berangkat Ken. Gak ada habisnya ngurusin Nana sama Erfan yang gak jelas ini." Adnan menyalami Ummi dan Abi, diikuti Ken. Baru mereka kembali ke kamar masing-masing. Erfan menunggu di ruang tamu.


Ada ritual yang harus kakak beradik itu lakukan sebelum berangkat kerja. Erfan sampai takjub mereka masih bisa seromantis itu, gak kalah sama pengantin baru. Nasib jomblo, hanya bisa menelan ludah saat melihat para pasutri itu bermesraan.


Sebelum kerumah sakit Erfan menyempatkan mengunjungi makam Bilqis. Ia termenung di samping gundukan tanah yang masih basah. Hatinya teriris menatap nanar nama yang tertera dibatu nisan.


"Qis, kenapa tidak mau bersabar menunggu hari pernikahan kita. Kenapa meninggalkanku sendirian di sini." Erfan menggenggam segumpal tanah. "Aku harus melupakan sebelum memulai Qis, itu menyakitkan."


"Kepergianmu menoreh luka baru di hatiku. Sakit Qis, sakit." Erfan meluapkan segala sakitnya di atas batu nisan. "Harusnya besok menjadi hari bahagia kita, namun kamu lebih memilih untuk pergi. Tak pantaskah aku untuk dicintai Qis, sampai kamu pun lebih memilih pergi."


Erfan menguatkan hatinya, tak seharusnya ia menyalahkan Bilqis seperti ini. Allah sudah memberinya kesempatan bersama Bilqis walau sangat singkat.


"Kamu yang bahagia ya Qis, aku pamit. Jangan pikirkan aku. Aku akan mencari kebahagiaanku di sini. Titip salam buat Allah." Erfan membersihkan tangannya kemudian pergi meninggalkan pemakaman dengan sebuah senyuman.


Tabrak lari. Bagaimana bisa kejadian tabrak lari di depan sebuah taman yang ramai. Sampai tidak meninggalkan saksi seorang pun.

__ADS_1


Sebelum kecelakaan terjadi. Bilqis memang memberitahunya ingin pergi ke sebuah cafe di dekat taman untuk bertemu teman, sekaligus memberikan undangan. Tapi sebelum temannya datang kecelakaan terjadi.


Andai ia menemani Bilqis waktu itu mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi. Penyesalan memang selalu datang terlambat. Kenapa terlalu banyak penyesalan yang dirasakannya sekarang.


__ADS_2