
"Selamat pagi, Bu." Sapa Hira pada pasien terakhir yang antri siang ini. Kemudian membaca catatan kondisi pasien. "Ibu mengalami perdarahan ya dan nyeri di perut?"
Pasiennya mengangguk, "iya dok, kadang nyeri sampai pusing."
"Apa pernah keluar darah disertai gumpalan, seperti daging?"
"Enggak dok, hanya seperti darah haid tapi kental."
Hira mengangguk lalu menjelaskan. "Keluarnya darah saat hamil memang sering terjadi dan membuat kekhawatiran akan kehamilannya. Namun keluarnya darah saat hamil muda memang sering terjadi pada beberapa ibu hamil. Normalnya darah yang keluar bisa jadi merupakan pendarahan implantasi, yang merupakan pendarahan akibat terjadinya proses pelekatan sel telur yang telah dibuahi pada dinding rahim. Tanda-tandanya terdapat bercak darah atau keluarnya darah ringan dan hanya terjadi dalam beberapa hari sekitar 1-3 hari."
"Selain karena hal tersebut perdarahan bisa juga terjadi akibat hubungan seksual yang mengalami perlukan di ****** atau perubahan hormon. Itu hal wajar yang sering terjadi." Lanjut Hira.
"Itu tidak berbahaya, dok?
"InsyaAllah tidak berbahaya kalau hanya perdarahan sedikit dan berhenti dalam waktu beberapa hari tidak selama seperti menstruasi. Terkecuali darah yang keluar cukup banyak disertai dengan nyeri atau kram perut yang tak kunjung hilang dan keluarnya darah seperti gumpalan jaringan atau daging," jelas Hira.
"Untuk memastikan penyebabnya kita tetap akan melakukan pemeriksaan ya, Bu. Agar dapat dideteksi sedini mungkin jika ada gangguan."
Ibu itu mengangguk, Hira memanggil Lela untuk membantunya melakukan pemeriksaan.
"Untuk saat ini sebaiknya Ibu rileks, istirahat yang cukup, hindari melakukan aktivitas berat dulu, serta hindari juga sementra waktu melakukan hubungan, makan makanan yang bergizi serta konsumsi air putih yang cukup." Saran Hira setelah selesai melakukan pemeriksaan dan memberikan resep untuk memperkuat janin di dalam kandungan.
Hira merenggangkan otot-otot tangannya setelah pasien terakhirnya keluar. Sekarang waktunya istirahat. Ia tidak menyadari ada sosok yang mengawasinya sejak tadi dari sofa.
"Bu, ada tamu." Ujar Lela, Hira mengernyitkan kening, lalu melirik ke arah sofa.
"Tamu bukan pasien?" tanya Hira memperjelas, dalam hatinya ingin tertawa.
"Iya tamu Ibu, sudah nunggu lama tuh." Kata asistennya jahil. Hira hanya mengangguk, tak niat beranjak. Ia akan berakting pura-pura tidak sadar.
"Sweety!" Geram suami Hira itu, lama Erfan didiamkan. Istrinya malah pura-pura tidak melihat.
__ADS_1
"Eh, ada kamu Bee."
"Sudah puas aktingnya?" Hira hanya cekikikan, "kangen banget Sweety. Aku sampai harus kerja dari sini."
"Mau apa, hm?" Hira merentangkan tangannya, sekarang dia yang bertingkah seperti Erfan.
"Mau ini." Erfan menyentuh bibir ranum istrinya, Hira tersenyum geli. Membawa Erfan duduk di sofa, tak lupa ia menutup pintu ruangan.
"Sini Sayang." Hira menepuk sofa di sampingnya, Erfan menurut. Hari ini lelaki itu yang bertingkah manja. "Uh, ganteng banget suamiku ini. Jadi tambah ganteng kalau mau senyum." Godanya sebelum memberikan sesapan yang memabukkan bagi Erfan. Mereka sampai lupa tempat, kalau sekarang tidak sedang berada di kamar. Berjauhan dengan Hira hari ini itu rasanya membuat Erfan gila, ia sangat rindu kesayangannya.
"Gak mau pisah sama kamu hari ini Sweety." Rengek Erfan, tangannya merapikan pakaian Hira yang sudah dibuatnya berantakan.
"Suamiku ini sedang kenapa?" Hira menyandarkan kepala di dada Erfan, tangannya memberikan belaian lembut di sana.
"Temani tidur, Sweety." Erfan membaringkan tubuhnya di sofa lalu merentangkan tangan menyambut sang istri. Tidak ingin membuat suaminya kecewa, Hira menurut saja.
***
Ia sudah selesai memeriksa semua dokumen-dokumen yang dibawanya tadi. Setelah membubuhkan tandatangan di sana Erfan memeriksa laporan-laporan di emailnya.
Ressa tidak ada menelpon, itu artinya kantor aman terkendali. Erfan membalas satu persatu email yang masuk. Ia juga sudah memperkuat cyber security EXTNET. Kejadian yang menimpa Digitech membuatnya benar-benar membuka mata. Musuh bisa datang dari berbagai arah, tidak hanya orang luar. Keluargapun bisa menjadi musuh dalam selimut.
Netra bundar Erfan menangkap istrinya yang berjalan ke arah meja setelah melepaskan sneli dan mencuci tangan. Wajah cantik itu terlihat sedang lelah. Wajar, istrinya sedang hamil muda.
"Sweety..." dengan sigap Erfan memberikan pelukan hangat dari belakang kursi. "Lelah banget ya, Sayang." Erfan menggesek-gesekkan pipinya sebelum menghadiahkan satu kecupan.
"Iya Bee, aku ngantuk lagi." Keluh Hira, Erfan hanya diam memberikan kenyamanan untuk kesayangannya.
"Assalamualaikum, Beb." Suara itu terdengar bertepatan dengan terbukanya pintu. "Sorry gue ganggu ya." Ujar Ringgo tanpa dosa mendekati meja Hira. Walau matanya menangkap dua sosok yang tengah bermesraan di depannya.
"Lo kebiasaan bab beb, bab beb. Kalau Erfan salah paham gimana?" Kesal Hira, suaminya itu masih memeluk dari belakang. Hira tidak tau bagaimana tampangnya sekarang.
__ADS_1
"Beb. Beban maksudnya." Jawab Ringgo dengan kekehan, menarik kursi walau belum diizinkan duduk. Ia seolah tak perduli dengan makhluk yang bernama Erfan di sana. "Gue bawa rujak buat ponakan nih."
"Makasih," ujar Hira mengambil kresek yang Ringgo bawa lalu membukanya. "Lo nyuri mangga di mana?" Ibu hamil itu memasukkan irisan mangga ke mulutnya. Ia tau kalau itu bukan curian. Mana ada nyuri paket lengkap. Kecuali Ringgo mau manjat pohon semangka juga.
"Manjat di pohon depan parkiran motor noh, ngasih lo mah nyari yang gratisan. Ngapain ngeluarin duit buat istri orang." Ringgo melirik Erfan yang menatapnya tajam. Pria itu hanya terkekeh melihat kecemburuan suami Hira.
"Bee, mau nyoba?" tawar Hira.
"Buat kamu aja Sayang, rujaknya pasti spesial dibuatin khusus untuk kamu. Sampai Ringgo rela jadi monyet demi manjat pohon mangga." Ucap Erfan santai, mata Ringgo membulat sempurna.
"Bee, gak boleh gitu. Nanti dia dengar." Hira mengusap-usap perutnya. Bisa-bisanya Erfan menganggap Ringgo yang tampan itu seperti monyet.
"Maaf Sweety, Ringgo mancing-mancing sih." Kesal Erfan, makhluk yang disebutkan namanya malah terkekeh geli.
"Ringgo juga, gak boleh gitu." Ujar Hira sambil melotot tajam.
"Duh Ra, matanya jangan digituin. Kalau matanya keluar nanti gimana? Kalau saraf-saraf matanya putus gimana? Cukup saraf di otak lo aja yang putus, matanya jangan. Nanti gak bisa lihat wajah ganteng gue lagi."
Hira memutar bola mata jengah. Sedang Erfan sudah siap menimpuk Ringgo dengan buku tebal yang ada di meja Hira.
"Bee, jangan!" Tahan Hira lalu mengelus-elus lembut tangan suaminya. Erfan melotot karena Hira lebih membela Ringgo.
"Jangan Bee, kasihan bukuku nanti ikutan stres kalau dibuat mukul kepala Ringgo yang stres itu." Erfan yang tadinya ingin merajuk karena Hira lebih membela Ringgo malah tertawa gelak.
Ringgo memutar bola mata kesal. Ia selalu kalah gila kalau berhadapan dengan Hira. "Ra, ikut gue. Kita bedah saraf lo." Sarkasnya.
"Ogah, ngapain gue mau di bedah dokter saraf yang saraf kayak lo."
"Lo harus coba dulu, biar tau kalau kemampuan gue masih bisa diandalkan di ruang operasi." Hira hanya meleletkan lidah, lebih baik makan rujak dari pada menanggapi Ringgo yang bisa menambah rusak susunan saraf otaknya.
Erfan yang ada di sana ikut memijat pelipis melihat kelakuan dua orang bergelar dokter itu. Apa karena terlalu lelah belajar jadi sampai otak mereka mengalami gangguan, Erfan membatin.
__ADS_1