Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
65


__ADS_3

"Bee!!" Panggil Hira beberapa kali dengan lembut.


"Yes Sweety." Erfan langsung siaga, setelah membuka mata, di mesjid sudah terdengar suara qiroah.


"Maaf!"


Hira tiba-tiba minta maaf dan menangis dalam pelukan Erfan.


"Kenapa minta maaf, Sayang?"


"Maaf sudah membuatmu lelah."


"Kamu sadar, Sweety?" Hira menggangguk, "lalu?" Kepala istrinya menggeleng tanda tidak mengerti.


"It's okay gak papa Sayang, nanti besok kita ketemu dr. Erika ya."


"Jangan menangis." Erfan mengangkat dagu Hira pelan menyeka air matanya.


"Huek... huek... huek..." Hira merasakan perutnya mual hebat. Ia berlari menuju kamar tamu dan segera masuk ke kamar mandi. Erfan berlari mengikutinya.


"Kamu masuk angin Sayang." Erfan memijat tengkuk Hira, lagi-lagi istrinya itu muntah tapi tidak ada yang keluar. Tubuhnya lemas sekarang. Erfan menggendong Hira ala bridal style ke ranjang.


"Tunggu di sini ya Sayang, Mas ambilkan air hangat." Hira hanya mengangguk lemas.


Subuh-subuh begini Erfan meringsek ke dapur membuat ummi dan Attisya kaget.


"Erfan, ngapain?" Sentak Attisya mengarahkan sutil ke kepala pria itu.


"Mau ngambil air hangat, Hira masuk angin." Jawabnya sambil bergidik ngeri, emak Nasya itu bar-bar juga, kelihatannya aja kalem.


Ummi terdiam, pikirannya mulai berkelana jauh. "Sya, kamu masih punya test pack?" tanya ummi, Erfan yang sudah mau kembali ke kamar menghentikan langkahnya. "Itu kayaknya Hira aneh." Lanjut ummi menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Tunggu di sini Fan?" Attisya punya banyak di kamar buat jaga-jaga kalau kebobolan. Nasya sudah hampir dua tahun. Ia masuk ke kamar mengorek-ngorek isi laci.


"Nyari apa Sya?" Tegur Adnan yang baru selesai mengambil air wudhu.


"Test pack Mas."


"Kamu hamil Sya?" tanya Adnan dengan mata melotot pada Attisya, ia belum siap kalau punya anak lagi. Ada Nasya dan Key saja rumah sudah heboh.


Attisya menepuk jidat lalu memutar bola mata malas. "Bukan aku Mas, tapi Hira." Ia kembali meneliti laci, "ketemu," gumamnya senang.


"Alhamdulillah." Adnan mengusap dada lega.


"Kenapa Alhamdulillah?" selidik Attisya.

__ADS_1


"Belum siap kalau rumah kita jadi playgrup Sya," jawab Adnan asal. Attisya melengos keluar dari kamar, jawaban yang sungguh tak berbobot.


Emak Nasya ini kenapa sensi amat, batin Adnan mengikuti istrinya menuju dapur.


"Nih Fan, semoga beruntung." Attisya memberikan benda ajaib itu pada Erfan, si empunya mengambil dengan tampang bingung. Ia segera kembali ke kamar, sebelum air yang dibawanya jadi es karena udara subuh yang dingin.


"Sweety, minum dulu biar perutnya hangat." Erfan memberikan gelas ke tangan Hira, gadis itu langsung meminumnya. "Coba ini Sayang." Ia mengeluarkan test pack yang tadi di simpannya dalam saku.


Hira membulatkan mata, tak percaya Erfan menganggapnya hamil. Padahal ia baru selesai haid beberapa hari yang lalu walau tidak banyak.


"Bee, aku baru selesai haid. Kamu lupa?" Erfan cengengesan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Coba dulu ya Sayang. Itu ummi yang ngasih, gak enak nolak." Erfan mencari alasan agar istrinya tidak tersinggung.


"Baiklah," Hira beranjak ke kamar mandi, tidak ada salahnya menyenangkan hati ummi. Walau ia yakin tak hamil.


Tak ada rasa penasaran, setelah mencelupkan ke cairan urine yang ditampungnya. Hira memberikan kembali pada Erfan, malas melihat hasilnya. Ia kembali membenamkan diri di ranjang.


"Sweety!" Pekik Erfan dengan mata berbinar cerah, Hira bangun dari tidurnya menatap suaminya itu dengan heran. "Kamu hamil Sayang." Tubuh mungil itu Erfan peluk dengan erat lalu menciumi seluruh wajahnya. "Terimakasih Sayang!"


Hira membeku, sungguh ia tak percaya semua ini. Merebut benda ajaib di tangan suaminya itu dan menyaksikan sendiri tanda garis dua.


"Bee, aku gak merasakan apapun."


"Kemana aku harus membawamu Sayang, kamu sendiri dokternya." Goda Erfan dengan tersenyum. "Mas sholat dulu ya, Rara juga." Ucapnya setelah mengecup kening Hira.


Hira masih setia dengan diamnya, ia mengajak Erfan keruangannya. Dibantu asistennya Lela, Hira berbaring di atas ranjang yang biasa ia gunakan untuk memeriksa pasien.


Hampir saja Hira menangis melihat pemandangan yang dilihatnya pada layar.


"Bee, dua minggu." Hira menggenggam erat tangan Erfan.


Lela ikut tersenyum bahagia. "Selamat dok, sekarang merasakan jadi pasien juga," Ucapnya.


"Itu nyata La?" tanyanya kurang yakin.


"Itu nyata Sayang," sahut Erfan membantu istrinya bangun. "Sekarang masih mau kerja, nanti baby kecapean." Ucapnya sambil mengusap perut rata Hira.


Lela meleleh melihat pemandangan romantis di depannya. Harap tahan jantung, jangan minta nikah sekarang. Dari pada senam jantung mending kaboor.


"Bee!"


"Aku gak maksa kamu berhenti Sayang." Erfan memberikan pelukan hangatnya, tidak ingin hari bahagianya diakhiri dengan pertengkaran lagi.


"Aku mau di rumah asal gak sendirian Bee, aku takut." Erfan tersenyum simpul.

__ADS_1


"Kamu boleh kerja Sayang, tapi jangan kecapean ya."


"Aku maunya sama kamu Bee."


"Uh, manjanya bumilku ini. Mas kerja dulu ya Sayang. Nanti Mas jemput."


"Bee!!'


"Terus gimana dong kalau gak mau ditinggal. Mas harus meeting, Rara harus kerja. Kasihan kalau ada pasien yang mau melahirkan." Bujuk Erfan, akhirnya gadis manjanya itu mau mengerti jua. Walau merengek-rengek saat ditinggal. Hari-hari Erfan akan semakin berat menjaga Hira sendirian. Coba mami mau menyayangi Hira dan menganggapnya menantu.


Orang tua Hira juga tidak peduli, lima bulan sudah mereka menikah. Tak ada sekalipun menanyakan kabar. Mintanya cuma uang, huft. Erfan mendesah berat, saat seperti ini pasti istrinya itu minta diperhatikan lebih. Karena itulah ia lebih suka membawanya ke rumah abi, di sana ada ummi dan abi yang menyayangi Hira.


"Ressa..!"


Erfan baru sampai kantor, ia menemukan amplop tanpa pengirim yang ditujukan untuknya.


"Ya Boss!" Hira menyempil dari balik pintu.


"Masuk!" Ressa menurut, duduk di kursi depan meja Erfan. "Siapa yang mengirim ini?" Erfan mengipaskan amplop putih yang dipegangnya.


"Kemaren sore dari kurir Bos, tanpa nama." Erfan mengernyit.


"Selidiki pengirimnya Sa."


"Emang isinya apaan Bos?" tanya Ressa penasaran, dia bukan detektif tidak tau cara melakukan penyelidikan.


"Menyangkut hal pribadi Sa, bukan ibu suri yang bawa kemaren?"


"Ibu suri?" Ressa tampak berpikir. Ressa taunya cuma timun suri.


"Mami, Ressa. Huh, bikin mood gue jelek aja deh." Erfan berdecak sebal.


"Bukan bos."


"Oke, thanks infonya." Ressa mengangguk, lalu beranjak meninggalkan ruangan Erfan.


"Sa.." panggil Erfan lagi, Ressa menghentikan langkahnya padahal sudah diperbatasan pintu. Kebiasaan dari orok bosnya itu suka mengerjai.


"Apa lagi Bos?" Sahut Ressa kesal.


"Hira hamil."


"Apa?" Ressa kembali duduk di depan Erfan dengan berbinar-binar, si empunya hanya tersenyum simpul.


"Lo bisa lebih sering nemenin dia Sa, kasihan Hira kesepian."

__ADS_1


"Aku otw jadi aunty." Ressa heboh sendiri, Erfan geleng-geleng kepala. "Nanti aku sering-sering ke rumah kalian Bos, mau ketemu calon keponakan. Kok berasa kayak mau ketemu calon mertua ya, deg-degan."


"Gila!" Desis Erfan, "dah sana pergi." Usirnya, kok sanggup Hira punya sahabat seperti Ressa itu. Tapi kenapa Erfan juga mau jadikan Ressa seketaris. Au ah, seketaris gilanya itu bikin pusing.


__ADS_2