
"Kenapa jadi anak nakal, hm?" Suara berat yang sangat dikenal Hira, namun terdengar begitu lembut mampu mangalihkan atensinya. Jantungnya berdebar kencang, ia tau sudah membuat orang yang bersuara itu khawatir dan marah.
Hira membeku, tadi ia ke restoran karena sudah tidak sanggup menahan lapar. Kenapa Erfan bisa tau Hira ada di kota ini. Ah sialnya ia lupa kalau Erfan bisa melakukan apapun.
Serapi apapun Hira untuk kabur tetap saja akan tertangkap basah. Seniat itu Hira pergi sampai memberikan obat tidur pada pengawalnya untuk melancarkan aksi. Ia juga sudah meninggalkan ponsel dan jam tangan yang terdapat gps di kamarnya.
Saking semangatnya untuk kabur Hira rela naik kereta api ke Surabaya baru terbang ke kota ini, Balikpapan. Ya, sekarang ia ada di kota Balikpapan. Sulit kemungkinan untuk ditemukan kalau bukan oleh para kaum sultan seperti Erfan. Gagal sudah pelariannya.
Suara derit kursi yang ditarik menyadarkan Hira dari kebekuan. Erfan sudah duduk di sampingnya. Perut yang tadi menjerit kelaparan sekarang sudah tak bernafsu lagi.
"Makan dulu, laparkan?" Suara Erfan tidak mengisyaratkan kemarahan, tapi tetap mampu membuat Hira ketakutan juga merasa bersalah.
"Lo marah?" Cicit Hira gemetar, ia tak tau apa yang akan Erfan lakukan padanya setelah ini.
"Tentu." Erfan berucap lembut namun tanpa ekspresi, Hira dibuat mematung. "Kalau lo gak nakal gini, gue gak akan marah. Kenapa pergi tanpa pamit, hm? Lo bisa bilang mau kemana, gue akan antar. Lo sudah bikin gue khawatir, kalau kenapa-kenapa gimana? Kalau yang duluan menemukan lo musuh gue, gimana?"
Erfan mengungkapkan kegelisahannya dengan suara lembut dan tatapan teduh. Hira bukannya bahagia, ia merasa jadi orang yang paling bodoh karena sudah membuat Erfan khawatir.
"Tapi lo membeli gue 'kan Fan, lo anggap gue barang, lo samakan gue dengan perempuan ******!" Ingin Hira mengungkapkannya dengan berteriak tapi tidak mungkin. Erfan memperlakukannya terlalu lembut, ia tidak mau dihantui penyesalan nanti. Lagi pula sekarang mereka sedang di tempat umum dan belum pasti Erfan yang membelinya.
"Lo bisa tanya baik-baik sebelum pergi seperti ini. Lo bisa tanya alasannya apa, kalau sudah jelas baru lo boleh pergi sesuka hati." Erfan ingin merengkuh perempuan yang sedang duduk di sampingnya ini. Ia ingin meluapkan rasa rindu yang menggebu. Dua hari Guntur baru bisa meretas data pusat. Selama itu ia harus bersabar. Dua hari itu sangat lama bagi Erfan yang dihantui rasa takut dan rindu.
__ADS_1
"Kalau lo gak penting buat gue, gue gak akan melakukannya Ra. Gue pengen lo bahagia, pengen lo bebas, gak pengen lo tersiksa hanya untuk dijadikan lelaki sebagai pemuas nafsu aja. Gue melakukan itu agar lo terbebas dari perjodohan itu. Gak selicik itu memanfaatkannya untuk mendapatkan lo, walau gue bisa melakukan. Sekarang lo mengertikan."
Hira mengangguk, ia tidak tau apa yang sedang hatinya rasakan saat ini, bahagia, tenang, nyaman di dekat Erfan. Lelaki itu sudah membuat pertahanannya runtuh, tetesan bening itu jahat sekali jatuh begitu saja tanpa malu.
"Jangan menangis, lo bebas mau melakukan apa yang lo mau asal bisa memastikan diri lo selamat." Erfan mengambil tisu menyeka air mata di pipi Hira. "Lanjutin makannya, nanti gue antar ke kamar.
Hira menyuap hidangan yang sudah dingin karena menyaksikan drama antara ia dan Erfan.
"Jangan pergi tanpa ijin gue lagi." Ucap Erfan, mereka berjalan beriringan menuju kamar Hira. Sekarang mereka sudah berada di depan pintu kamar gadis itu. Erfan menatap teduh manik mata Hira. "Gue gak mau apa yang terjadi sama Bilqis terjadi juga sama lo Ra, sesederhana itu keinginan gue. Lo bisa mengabulkan keinginan gue dengan nurut apa yang gue bilang. Semua demi kebaikan lo."
Ugh Hira jadi baper, mana Hira yang garang sekarang jadi lemah begini. Hira tak suka jadi lemah.
"Gue gak suka setiap ucapan lo Fan." Tegas Hira dengan nada yang rendah, kalimat yang di ucapkan Hira bisa membius Erfan. Hira tidak memaksanya untuk menyerah sekarangkan?
"Lo bisa jadi diri sendiri di depan gue Ra, tidak perlu disembunyikan. Gue terima semua apa adanya diri lo." Erfan berucap setelah mendudukkan Hira di sofa.
"Gue benci lo Fan, gue benciiiii." Hira memukul-mukul dada Erfan di tengah air mata yang berkali-kali terjatuh.
"Benci gue sesuka hati lo Ra, gue memang pantas dibenci dari pada dicintai." Erfan membiarkan Hira yang meraung-raung. Sakit, melihat pujaan hatinya seperti ini sangat menyakitkan.
"Gue benci diri gue Fan, benci diri gue yang jatuh cinta sama lo. Gue benciiiii...!"
__ADS_1
Erfan tau Hira sudah jatuh hati padanya itulah sebabnya ia berani membatalkan perjodohan Hira.
"Cinta tidak pernah salah Hira, kadang hanya waktunya saja yang kurang tepat." Erfan berusaha menahan tangannya agar tidak memeluk Hira secara lancang lagi. Tangan mungil itu sudah berhenti memukuli dadanya.
"Apa ada alasan buat gue bisa menolak lo lagi Fan. Diri gue sudah lo beli, hati gue sudah lo rebut, cinta gue sudah lo miliki. Apa ada alasan buat gue nolak lo sekarang, hah?" Teriak Hira keras.
"Semua keputusan ada ditangan lo Ra, kalau lo ingin menolak gue, silahkan. Jangan anggap gue membeli lo, anggap gue menebus lo dari seorang penjahat. Gue tidak akan memaksa lo tetap tinggal di sini kalau lo gak mau." Erfan menekan dadanya yang berdenyut nyeri, ia tau betapa keras kepalanya gadis di depannya ini.
"Kalau lo mau pergi dari gue silahkan, kalau lo mau membunuh cinta gue silahkan. Lakukan yang bisa membuat lo bahagia. Lakuin yang bisa membuat lo merasa tenang, lakuin yang bisa membuat lo merasa nyaman." Erfan berucap dengan penuh kesakitan. Saat ia mengatakan itu, artinya sudah siap melepaskan Hira.
Hira menghambur kepelukan Erfan, ia sudah tidak kuat dengan sesak di dadanya. Lelah karena menangis. Maafkan Hira ya Allah.
"Sayangnya lo kebahagian gue Fan, lo yang bikin gue nyaman, lo yang bikin gue tenang, lo juga yang bikin gue merasa aman dan dilindungi." Lirih Hira pelan, wajahnya yang sembab mendongak, menatap manik mata Erfan yang berbinar dan menenangkan.
"Apa gue gak salah dengar Ra." Erfan menguatkan pelukan, netranya mengunci netra Hira.
Hira menggeleng pasti. "Kalau gak ada lo siapa yang menjaga gue Fan? Kalau gak ada lo siapa yang akan menyayangi gue. Kalau gak ada lo siapa yang meluk gue gini, siapa yang akan menjadikan gue bayi kanguru."
Erfan tersenyum sangat manis, hatinya lega sekarang. Dada yang tadi sesak karena ketakutan sekarang berdebar hebat.
"Kita nikah ya Ra, jangan di tolak lagi." Hira mengangguk, memberikan senyuman termanisnya.
__ADS_1
"Harus ke Balikpapan dulu ya biar lamaran gue di terima?"
"Maaf." Cicit Hira mengurai pelukan. Restu, satu hal yang Hira pikirkan di tengah keputusannya yang sangat membahagiakan hati ini. Mereka akan menikah tanpa restu dari orang tua Erfan.