Kesucian Cinta

Kesucian Cinta
75


__ADS_3

"Papi? Jadi dalang semua ini Papi." Gumam Erfan tak percaya.


"Apa hubungan mereka, Bee?" Erfan menggeleng lemah. Ia sudah mengirim anak buahnya bersama anak buah Guntur untuk menyelamatkan Hardiyata dan Btari. Sesuai informasi yang ia dapat dari pengawal Ikbal.


Kalimat-kalimat yang diucapkan pengawal itu digunakan sebagai kode untuk penyerangan. Setelah mendapatkan kode 'kita dijebak' anak buah Erfan bertindak.


Benar kata Hira, asisten Haridiyata itu memang mencurigakan. Ikbal berhasil membawa Hardiyata ke lokasi tanpa polisi dan pengawal. Kecuali pengawal kepercayaannya yang sudah Erfan jinakkan.


Erfan masih mengamati rekaman yang terhubung ke kamera tersembunyi di kancing baju pengawal itu. Tak ada kalimat apapun lagi yang diucapkan Wijaya. Pria paruh baya itu masih menganggap para pengawal di sana berada dipihaknya.


Ada apa sebenarnya? Kenapa Papi Wijaya mengancamnya untuk membebaskan Azmi. Kenapa harus keluarganya yang melakukan ini pada Erfan.


"Bee..." panggil Hira, suaminya itu termenung sangat lama.


"Yes, Sweety. Ngantuk?" tanya Erfan, sekarang sudah jam sepuluh malam, istrinya belum istirahat. Hira menggeleng. "Yuk tidur, baby harus banyak istirahat." Katanya, mengusap lembut di perut Hira.


"Kita tidur di sini, Bee?"


"Iya Sayang, kita istirahat di sini dulu ya. Sampai mereka pulang."


"Bee, kita kayak anak gelandangan numpang tidur di sana sini." Ujar Hira sambil terkikik geli, Erfan mencubit gemas pipi istrinya. Kesayangannya ini ada-ada saja. "Jadi gelandangan sultan itu beda Sayang." Katanya lalu mengangkat tubuh mungil istrinya ke tempat tidur.


"Kamu tidur duluan ya, Mas mantau mereka dulu." Erfan mengambil laptopnya lalu duduk di samping sang istri yang tengah berbaring.


"Bee, aku takut." Hira memeluk erat pinggang suaminya. Erfan meletakkan laptop ke atas nakas lalu beringsut mensejajari tubuh istrinya. Mendekap erat sang kekasih.


"Apa yang kamu takutkan Sayang. Mas ada di sini."


"Takut kamu mereka sakiti." Erfan memberikan usapan lembut di punggung istrinya. Wajar jika Hira merasakan ketakutan. Keluarganya sudah kehilangan akal sehat. Dari mami, Fany, sekarang papi yang berulah.


"Mas akan baik-baik aja, Sayang. Tidur Sweety." Tidak hanya Hira yang tertidur, Erfan juga ikut terlelap dalam dekapan istrinya.


Suara ketukan pintu kamar membuat Erfan terjaga. Dilihatnya Hira masih tertidur dengan wajah tenang. Ia beranjak membuka pintu kamar.


"Erfan, kalian masih di sini?" Hardiyata memeluk tubuh putranya yang tiga puluh dua tahun hilang. Ia sangat yakin kalau Erfan putranya.


Erfan hanya mengangguk, membawa pria paruh baya dan istrinya itu masuk ke kamar. "Alhamdulillah kalian selamat." Kalimat pertama yang Erfan ucapkan.

__ADS_1


"Ini putra kita Pah?" Btari memeluk Erfan erat, Hardiyata tak berani mengangguk.


"Belum tau Mah, kita masih menunggu hasil test DNA."


"Kamu baik-baik aja selama ini, Nak? Kamu masih hidup." Ucap Btari dalam pelukan Erfan, Erfan membalas pelukan itu.


"Aku baik-baik aja, Bu." Tangannya mengelus lembut punggung sang ibu. Rasa tenang dan nyaman ia dapatkan. Ketenangan yang selama ini tak pernah Erfan miliki.


Hardiyata mendekati Hira yang tertidur lelap, mengecup samping kepalanya.


"Kamu benar Nak, semua yang kamu katakan benar." Tangannya mengelus sayang kepala perempuan yang sedang hamil muda itu.


***


"Aarggh..." Wijaya melemparkan benda-benda yang ada di dekatnya. "Bodoh Ikbal, anak didikanku itu sangat cerdas. Kenapa kamu sangat bodoh sampai terjebak permainanmu sendiri."


"Ini yang kedua kalinya rencanaku gagal, sekali lagi perempuan yang tengah hamil itu mengacaukan rencanaku. Akan kubunuh dia." Geramnya penuh kemarahan, waktu yang ditunggunya selama bertahun-tahun ini jadi sia-sia.


Ikbal terdiam menundukkan kepala, ia memang jahat tapi takkan sampai hati membunuh perempuan yang sedang berbadan dua itu.


"Kita masih punya cara lain untuk melumpuhkan Pak Hardiyata." Ujar Ikbal meyakinkan orang yang tengah murka di depannya ini.


Malam ini nyawa Ikbal masih bisa terselamatkan. Gara-gara pengkhianatan pengawalnya itu, rencananya gagal sempurna. Lawannya bukan orang sembarangan, dengan cepat bisa mengendus niat busuknya.


***


"Gimana tidurnya, nyenyak?" Tanya Hardiyata pada pasangan suami istri yang baru keluar setelah sholat subuh. Pria paruh baya itu duduk santai di ruang keluarga ditemani segelas kopi hitam.


"Bapak sudah pulang, gimana Ibu?" Hira malah bertanya balik, ia duduk di samping sang suami.


Hardiyata terkekeh, berpindah duduk ke samping perempuan itu.


"Ibu ada di belakang." Katanya, mengusap lembut kepala Hira, "Papa harap kamu benar menantu kami." Lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.


"Kalian sudah bangun?" Sapa Btari yang baru datang dari arah belakang, "pulangnya nanti setelah sarapan aja ya." Pintanya, Hira hanya mengangguk. Hatinya menghangat diperhatikan seperti itu. Ia sangat rindu dengan ibunya yang sudah lama pergi.


"Kamu kenapa sedih?" tanya Btari melihat wajah sendu Hira, lalu duduk diantara perempuan itu dan suaminya.

__ADS_1


"Kangen ibu," cicitnya. Erfan mengusap punggung tangan Hira yang sejak tadi ia genggam dengan jempol tangannya.


"Nanti kita pulang temui Ibu ya?" Bujuk Btari.


"Bu," Erfan menggeleng pelan mengisyaratkan orang yang dimaksud sudah tidak ada. Btari langsung paham lalu memeluk Hira erat. "Maaf, Ibu gak tau. Kamu bisa anggap saya seperti ibu kamu sendiri." Ujar Btari, ia jadi merasa bersalah karena sudah menyinggung perasaan ibu hamil itu.


"Gak papa, Bu." Kata Hira membalas pelukan Btari. Begini saja ia sudah senang.


***


"Kamu kerja Nak?" tanya Btari pada Hira saat sarapan. Perempuan paruh baya itu menatap perempuan yang tengah hamil mudah. Perhatiannya lebih banyak pada perempuan itu dari pada sang putra. Karena saking senangnya ingin punya cucu.


"Iya Bu, di rumah sakit."


"Dokter?"


Hira mengangguk.


"Wah anak Ibu pintar banget nyari istri." Puji Btari, Erfan hanya tersenyum. Sebenarnya ia masih agak canggung, tapi berusaha menyamankan diri.


"Huek ... Huek ..." Hira bangkit dari kursi lalu berlari ke kamar mandi. Perut sedang main obok-obok.


"Sayang." Erfan ikut mengejar istrinya, Hira hanya sesekali mengalami muntah-muntah kalau sedang kelelahan.


Erfan membantu memijat tengkuk Hira, "masih mau muntah, Sayang."


"Sudah, Bee."


"Hari ini istirahat aja ya, ikut Mas ke kantor." Hira mengangguk, ia bisa minta ganti jadwal piket. Badannya memang sedang kurang fit. Erfan membawa Hira kembali ke meja makan.


"Kamu gak istirahat aja hari ini, Nak." Ujar Hardiyata.


"Istirahat di kantor Erfan nanti Pak," jawab Erfan.


"Kenapa dibawa ke kantor, Nak? Tinggal di sini aja," ujar Btari.


"Mah, biarin. Dia gak bisa pisah suaminya." Hardiyata tersenyum, ia tau bagaimana manjanya Hira pada Erfan. Btari mengangguk paham. Si empunya malah tersipu malu menyembunyikan kepala di lengan Erfan.

__ADS_1


"Malu-malu nih," goda Erfan. "Makan dulu, Sayang."


__ADS_2