
Dari sudut kamar Erfan termenung ditemani segelas kopi. Matanya belum bisa terpejam setelah Zaky dan antek-anteknya pulang. Ada keinginan untuk bisa segera menghalalkan Hira. Namun ada banyak pertimbangan, terutama psikis gadis itu.
Bosan dalam kamar ia memutuskan menonton tv di ruang keluarga sambil menyesap kopi. Pikirannya melanglang buana, bagaimana keadaan mami. Bukan Erfan tidak peduli, hatinya terlanjur kecewa. Belum lagi kenyataan tentang Fany yang masih tanda tanya.
"Belum tidur?"
Hira tadi kehausan mau mengambil air putih ke dapur. Langkahnya terhenti ketika melihat Erfan menonton televisi tapi matanya kemana-mana.
Erfan menoleh ke sumber suara.
"Hira! Gak bisa tidur?" Tanyanya lembut, Hira mengangguk lalu melanjutkan langkahnya ke dapur mengambil segelas air putih membawanya ke depan televisi. Melihat wajah Hira membuat Erfan semakin khawatir, hatinya terasa perih mengingat Fany yang mengincar nyawa Hira.
"Besok ke rumah sakit?" Hira mengangguk, Erfan geram hanya melihat Hira yang mengangguk. Apa bedanya sama hiasan mobil yang kepalanya bergoyang-goyang. "Kenapa sih cuma ngangguk-ngangguk aja, bikin pengen nyubit tuh pipi," ucapnya gemas.
"Mama lo gimana?" Tanya Hira, baru sekarang punya waktu bicara berdua sama Erfan. Pria itu mengendikkan bahunya. "Kok gitu sih, beliau orang yang ngelahirin lo. Susah payah berjuang melawan maut. Gak seharusnya lo belain gue Fan. Mama lo lebih berharga daripada gue."
"Lo gak perlu mikirin Mami yang sudah nyakitin lo Ra."
"Harusnya lo senang Fan punya orang tua yang peduli dengan kebahagiaan lo."
"Bahagia yang bagaimana maksud lo Ra?" Erfan mengambil tangan Hira dan menggenggamnya. "Kasih tau gue caranya untuk bahagia, kalau setiap langkah gue harus mengikuti kemauan mereka. Gue punya hati Ra, satu kesalahan gue meminta mereka mencarikan gue calon istri. Sekarang setelah gue menemukan, mereka terang-terangan memaksa gue menikah dengan orang lain. Kasih tau caranya biar gue bahagia Ra, gimana caranya?" Erfan berucap sangat lembut, itu sangat menyakitkan untuk Hira.
"Bertahun-tahun gue gak bisa move on, saat gue berusaha ikhlas untuk menerima orang baru tapi Allah mengambilnya. Sekarang gue menemukan pengobat luka gue, tapi dunia terlalu bercanda dengan hidup gue Ra." Erfan melepas genggaman tangannya beralih menangkup pipi Hira.
"Kenapa kita harus bertemu kalau pada akhirnya kita hanya saling menyakiti dan tidak bisa bersama Ra." Erfan melepaskan tangan, memalingkan pandangannya dari Hira. Ia harus bisa menahan diri jangan sampai membuat Hira tertekan.
"Allah selalu punya alasan untuk setiap pertemuan Fan, kalau bukan untuk mengajarkan bahagia berarti untuk mengajarkan luka. Tidak akan ada artinya manis kalau tidak ada pahit." Hira benci air mata yang begitu lancang menetes, ia mengusapnya dengan kasar.
__ADS_1
"Tidak bisakah lo tinggal di sini untuk memberikan bahagia Ra." Erfan memegang dadanya yang berdenyut, sesak seperti kekurangan pasokan oksigen.
"Gue pengen Fan tinggal di sana, gue pengen. Tapi gue gak bisa melakukannya." Hira terisak, hatinya nyeri. Mereka sama-sama menginginkan tapi tidak bisa bersama. Takdir membuat mereka merasakan kecewa.
"Ra, gue bisa kehilangan semuanya, gue bisa. Asal jangan kehilangan cinta gue lagi. Semua sangat menyakitkan Ra, sangat sakit."
"Sebesar apapun cinta yang kita miliki kalau Allah tidak mengijinkan kita bersama, kita tidak bisa berbuat apa-apa Fan. Lo punya garis hidup sendiri, begitu juga gue. Kita berada di jalur masing-masing."
"Fan, surga lo ada di telapak kaki ibu. Jangan karena gue lo menjadi anak yang Allah murkai. Fan, gue gak bisa bikin hati lo bahagia. Tapi gue akan selalu berdoa agar lo bahagia." Hira beranjak dari sofa, ia tidak kuat bersama Erfan di sana.
"Bahagia gue bisa bersama lo Ra." Lirih Erfan, air dari matanya yang memanas berhasil tumpah juga. "Baru gue mulai mencinta Ra, sekarang cinta itu malah menjauh. Lo menjauh dari gue Ra." Tepukan di bahu berhasil menarik kesadaran Erfan.
"Allah itu adil Fan, selalu punya caranya sendiri untuk membuat anak manusia bahagia. Mungkin tidak hari ini, bisa saja besok atau lusa."
"Gue benci rasa sakit ini Ken, tidak sesakit saat menerima kenyataan kalau Nana mencintai lo. Sekarang, kami punya rasa yang sama tapi takdir kami berbeda."
"Kita belum tau takdir kita sampai mana kalau masih bernafas, Erfan. Siapa yang bisa menduga kalau lo ternyata batal menjadi suami Bilqis. Hati masih bisa ditaklukan, keputusan masih bisa berubah. Tidak ada yang mutlak, yang sudah menikah saja kalau ditikung dengan doa bisa saja jadi cerai."
"Hm, asal jangan bunuh diri." Ken bergumam lalu kembali ke kamar, "tidur sana, pura-pura bahagia butuh istirahat." Ucapnya sebelum benar-benar masuk kamar.
Sekarang ia tau perasaan Hira padanya, lebih banyak peluang untuk mendapatkannya. Semua hanya masalah restu dan ketakutan Hira saja. Erfan bisa menerobosnya melalui jalur cinta.
"Ra, hari ini libur ya, tadi Zaky bilang lo istirahat aja hari ini." Ujar Erfan saat mereka ada di ruang makan, matanya melirik Adnan untuk meminta pertolongan.
"Benar Ra, hari ini di rumah aja main sama Nasya dan Key, yang berkuasa udah bilang begitu mau gimana lagi." Adnan menambahkan.
"Kalian memang ya mentang-mentang ada orang dalam." Hira berdecak kesal, Erfan tersenyum gemas.
__ADS_1
"Buat kebaikanmu Nak, turuti aja. Mereka pasti sudah mempertimbangkannya." Ummi memang pengertian, Erfan jadi tambah sayang.
"Baiklah, kalau yang berkuasa udah bilang begitu mau gimana lagi." Hira mengulang apa yang diucapkan Adnan, yang lain tertawa gelak kecuali Adnan yang kesal.
"Benarkan? Gak ada yang salah." Hira berujar dengan wajah sok polos.
"Iyain aja deh biar cepat sarapan." Erfan bergumam malas.
"Dasar menyebalkan." Oceh Hira, Ken tertawa, sekarang bukan istrinya lagi yang jadi sasaran jahil Erfan.
"Mi, sekarang ada yang punya lawan berantem nih." Goda Ken usil, "bikin jantung gue tenang." Matanya mengerling Elvina.
"Genit!" Elvina mencubit lengan Ken
"Genit-genit tapi suka 'kan?" Erfan ikutan menggoda.
"Aisshhh memang bapak-bapak genit."
"Aishnya gak ada di sini nih."
"Abaang!" Pekik Elvina, habis sudah kesabaran menghadapi suaminya, Ken dan Erfan tertawa gelak.
"Kalah dia." Erfan berseru senang
"Sya, beresin! Kita gak usah sarapan lihat orang berantem aja." Kalimat sakral ummi keluar, pasukan hanya bisa pasrah. Kembali fokus pada piring masing-masing.
"Gak ada yang berani menggoda Ummi?" Abi berujar dengan senyuman mengejek.
__ADS_1
"Nanti kelaparan Bi, menghadapi mamah muda perlu energi." Ken terkekeh pelan, saking pelannya hanya ia sendiri yang tau.
"Tuhkan Mi yang nakal itu bukan aku, tapi anak Ummi." Adu Elvina cemberut, Hira terenyuh melihat kebahagiaan di rumah Abi Nazar. Sudah lama ia tidak mendapatkan kasih sayang yang utuh. Hira rindu mama ada di sampingnya.