
Acara selesai sebelum memasuki waktu maghrib, Erfan tidak terima tamu lagi setelahnya. Ia tahu Hira sangat lelah, tenaga yang dikeluarkan Hira saat liburan saja belum tercharger. Ditambah acara seharian ini, Hira tergeletak di ranjang dengan tengkurap.
"Capek banget Ra?" Erfan mendekati Hira, membantu melepaskan alas kaki istrinya.
"Banget." Jawab Hira lemas.
"Bersih-bersih dulu baru sholat. Duduk, aku bantu bersihin make upnya." Hira menurut bersandar di kepala ranjang. "Tau kamu bakal kecapean gini, aku bikin acara akad nikah aja." Hira tidak menjawab celotehan Erfan, tenaganya sudah habis. Erfan bolak balik mengumpulkan jarum pentol yang menahan jilbab Hira.
"Banyak banget gini jarumnya, kalau kamu ketusuk gimana? Pengen ku pecat tuh MUA." Hira mengernyit, seenak jidat mau mecat pegawai orang. Erfan aslinya secerewet itu ternyata.
Erfan berhasil melepaskan jilbab Hira, selanjutnya menghapus make up. Ia bingung pakai apa sampai akhirnya Hira bersuara.
"Pakai make up remover dan kapas, ada dalam tas." Hira berucap, matanya terpejam. Sumpah Hira ngantuk dan pusing. Kepalanya tambah berat. Erfan mengikuti arahan Hira mengambil botol yang ada tulisan remover. Ia kembali duduk di depan Hira kemudian menuangkan make up remover ke kapas secukupnya. Dengan hati-hati Erfan membersihkan wajah Hira.
"Tebal banget gini, emang tadi dilapisi apa aja? Pakai tanah liat." Oceh Erfan, Hira malas mendengar suara berisik Erfan.
"Capek Fan, diam dulu. Tambah pusing dengar suara lo."
"Iya-iya maaf, lanjut aja tidurnya." Erfan ingin mengumpat melihat kapas-kapas kotor. Bisa-bisanya mereka dibayar mahal malah mengotori wajah cantik kesayangannya. Apalagi saat dibagian mata, Hira terlihat seperti kuntilanak.
Erfan bergidik ngeri. Lebih cantik istrinya yang natural. Bukan ia pelit buat beliin make up mahal untuk Hira. Didempulin gini setiap hari bikin wajah cakep kesayangannya iritasi nanti.
"Udah selesai, sekarang mandi dulu. Aku siapin makan." Hira membuka matanya lalu beranjak ke kamar mandi.
"Erfan..!!" Pekik Hira, pria itu langsung mendekat panik saat Hira berteriak.
"Ada apa Ra? Ada kecoa? Mana kecoanya sini aku bunuh, sudah bikin istriku ketakutan."
Hira memutar bola mata jengah, ia sedang lelah. Mendengar suara berisik Erfan tambah lelah. Mana suaminya yang ketus dulu, huh.
"Lepasin!"
Glek, Erfan menelan ludah saat Hira memunggunginya. Jangan salahkan Erfan kalau ia tidak dapat menahan diri memakan Hira malam ini.
"Mau sekalian dimandiin?" Tanya Erfan dengan dentuman jantung yang seperti bom meledak.
__ADS_1
"Gak. Cepetan, ngantuk!"
Ya Allah kenapa ini anak jadi mode garang gini kalau kelelahan. Erfan menarik risleting gaun Hira pelan. Hati meminta agar menutup mata, tapi matanya enggan melewatkan. Punggung mulus Hira tidak bisa dilewatkan.
"Lama banget."
Erfan menyentak risletingnya sampai ke pinggang. Ia tidak akan melewatkan kesempatan. Dilepaskannya kaitan bra Hira lalu mengecup punggung mulus itu sebelum gadisnya tersadar.
"Erfan!" Sentak Hira, "cari kesempatan banget." Erfan hanya nyengir, "mau dibantuin lepasin sekalian?"
"Gak perlu, sana keluar!" Usir Hira, Erfan menggaruk tengkuk. Kasian banget juniornya yang terlanjur bangun, terpaksa disuruh tidur lagi.
Erfan ke dapur mengambil makan malam untuk mereka berdua. Setelahnya ia mandi di kamar tamu yang biasa digunakannya agar lebih cepat. Erfan juga lelah, tadi malam tidak bisa tidur nyenyak pikirannya dihantui Hira.
Mereka selesai mandi hampir berbarengan, setelah sholat isya keduanya makan di kamar. Kemudian tidur, tidak ada ritual malam pertama. Hira lelah, Erfan juga lelah, tapi lebih lelah menidurkan juniornya yang enggan tidur karena ada Hira di sampingnya.
Erfan mendesah frustasi, hanya bisa memeluk Hira erat. Membelai rambut hitam legam gadisnya.
"Tidur yang nyenyak Sayang." Erfan mengecup kening dan bibir Hira singkat. Jangan lama-lama, nanti khilaf sama istri sendiri.
Ada beban berat yang berada di atas perutnya, Hira meraba-raba ada tangan melingkar. Ia mengerjapkan mata yang perlahan membuka. Hira menarik mundur tubuhnya, sedang Erfan terbangun karena pergerakan Hira.
"Kenapa tidur di sini?" Hira balik bertanya, Erfan mengernyitkan kening lalu tertawa. "Hira, kamu lupa?"
Gadis itu terlihat berpikir sejenak mengumpulkan nyawanya yang masih berterbangan dimana-mana.
"Astaghfirullah, maaf." Cicit Hira setelah sadar, Erfan menarik kembali Hira dalam pelukannya. "Tetap di sini, masih belum puas peluk kamu."
"Bentar lagi subuh Fan, nanti Abi nungguin lho. Siap-siap sana gih." Usir Hira, belum terbiasa pagi begini Erfan sudah manja padanya. Erfan bisa manja juga ternyata, huh.
"Lima menit lagi Sayang, boleh minta morning kiss." Erfan mengerling jahil. Hira memutar bola mata malas mengecup singkat pipi suaminya. "Di sini belum!" Erfan menunjuk bibirnya manja.
"Nanti aja!" Hira bergegas bangun menuju kamar mandi, takut khilaf. Erfan mendesah kecewa. "Ikut mandi Ra." Rengeknya dengan suara dimanja-manjakan. Hira mana peduli.
***
__ADS_1
"Fan, kapan aku boleh kerja lagi?" Erfan menatap lucu wajah istrinya yang merengut. Mereka sedang berkeliling di rumah baru. Rumah yang awalnya Erfan siapkan untuk bersama Bilqis setelah menikah, sayang kalau tidak ditempati. Mencari rumah baru juga perlu waktu.
"Hira, kamu lebih aman di rumah. Kita bisa bolak-balik London sekalian jalan-jalan."
Hira menggeleng, "aku mau kerja lagi." Rengeknya manja. Menyerah sudah Erfan kalau Hira bertingkah seperti ini.
"Kamu yakin tidak kumat lagi?" Erfan tersenyum tipis saat mendapati Hira tidak bisa menjawab, ia membawa Hira duduk di dekat kolam renang. "Kalau kamu kenapa-kenapa gak ada aku di sana gimana, hm?"
"Tapi aku pengen kembali ke rumah sakit Erfan."
Dasar keras kepala, tidak jauh beda dengannya. Kalau sama-sama keras kemana akhirnya pembicaraan ini.
"Oke, nanti aku hubungi Zaky." Akhirnya Erfan mengalah dengan wajah tidak senang. Hira menatap Erfan dengan wajah lugu.
"Kamu marah?" Erfan menggeleng, "terus kenapa gak suka?"
"Aku takut kamu kenapa-kenapa Ra." Jawab Erfan dengan wajah sendu, Hira mendekat bersandar di dada bidang Erfan.
"Aku akan baik-baik aja Fan." Erfan mengelus puncak kepala Hira yang tertutup hijab, "iya." Jawabnya tak yakin. Melepaskan Hira beraktivitas di luar rumah sama saja dengan membiarkannya menjadi mangsa. Ingin marah pada Hira tapi tidak bisa.
"Kenapa jawabnya hanya 'iya', pasti masih marah." Hira mengangkat wajahnya menatap tepat di manik mata Erfan.
"Terus mau dijawab apa Sayang." Erfan mengecup bibir ranum Hira singkat. Si empunya malah tambah memanyunkan bibir. Bikin Erfan gemas, dibawa ke kamar sekarang boleh gak sih. "Kenapa, hm?"
"Jangan marah." Cicit Hira manja, Ya Allah mana tahan Erfan dihadapkan dengan gadis manja dan menggemaskan seperti ini.
"Oke, tapi cium dulu." Kata Erfan jahil, Hira tambah mengengut. "Kalau gak mau biar aku yang cium gimana?" Dasar Erfan, cari kesempatan banget.
"Diam artinya setuju." Erfan menyeringai jahil.
"Ih mesum!" Hira beranjak sambil menghentak-hentakan kakinya. Tau rasa Erfan, nasib pengantin baru tapi belum dapat jatah.
"Sayang, kok kamu yang ngambek?" Erfan mengikuti Hira yang masuk ke rumah. Istrinya duduk di ruang tengah. Kenapa gak ke kamar sih, biar bisa diapa-apain Erfan menyeringai jahil.
"Ra, ke kamar yuk. Aku gendong." Erfan memasang wajah puppy eyes, Hira tidak menjawab matanya fokus ke depan layar. "Sayang, kangen jadi bayi kanguru gak?"
__ADS_1
Hira tak bergeming, pura-pura budek.
"Yah dicuekin." Erfan berdecak kesal mengambil toples kacang atom di meja lalu mengunyahnya. Kenapa jadi Hira yang minta dibujuk sih. Kan tadi Erfan yang kesal. Dasar dokter juteknya ini, perlu dikasih pelajaran nanti malam.